Become A Protagonist 2

Become A Protagonist 2
Chapter. 19 - Pertemuan II


__ADS_3

Dengan jubah hitamnya, Jiu Meishan melangkah menuju sebuah kuil yang terbangun tak jauh dari tempatnya berada. Kuil tersebut adalah kuil miliknya yang dipenuhi dengan pohon-pohon persik yang sedang tumbuh bunga. Ia menatap seorang kakek tua penjaga kuil yang sedang duduk di atas terasnya.


”Kakek? Apa yang kau lakukan di sini? Kau adalah penjaga kuil ini?” tanya Jiu Meishan setelah ia berjalan menghampirinya.


Kakek itu mengangkat kepalanya dan menatap langsung ke wajah Jiu Meishan yang tertutup tudung kepalanya. ”... Ada apa anak muda? Bisakah aku membantumu?”


”Aku ingin tanya satu hal. Kau pasti mengenal siapa Inkarnasi Iblis hitam yang sekarang ini. Katakan padaku, dimana dia?” tanya Jiu Meishan yang mulai serius.


Kakek itu tertegun setelah ia mendengarnya. Bola matanya berputar seolah ia ingin mengatakan suatu kebohongan. Tiga Dewa penipu adalah pelayan setia rajanya termasuk para pelayannya. Untuk itu, dia merasa harus waspada jika seseorang mempertanyakan keberadaan Iblis hitam yang sekarang.


”Aku tidak bisa mengatakannya anak muda. Kami sangat setia untuk melindungi Raja kami.” jawab kakek.


Jiu Meishan tersenyum tipis dan berkata, ”Apakah kau yakin tidak akan mengatakannya padaku?” ucapnya sambil membuka tudung kepalanya dan menunjukkan wajah aslinya di depan kakek penjaga kuil.


Kakek itu tampak sangat terkejut. Ia pun langsung bersujud di hadapannya dan berkata, ”Maafkan saya, Yang Mulia! Saya pikir Anda ingin membunuh Raja kami!” kakek tampak sangat ketakutan ketika ia tahu bahwa orang yang selama ini berbicara dengannya adalah Jiu Meishan, Dewa Pohon persik.

__ADS_1


”Sebaiknya angkat kepalamu dan katakan padaku dimana inkarnasi Iblis Hitam itu berada?” tanya Jiu Meishan kembali.


Kakek itu langsung mengangkat kepalanya dan menjawabnya dengan penuh ketakutan, ”... Dia pergi bersama dengan seorang laki-laki yang mengaku kakaknya. Dia pergi ke arah Utara! Aku dengar mereka akan pergi ke desa Shaanxi.”


Jiu Meishan menjadi tidak berekspresi saat mendengarnya. Ia pun segera berjalan kembali meninggalkannya dan berkata, ”Terus awasi orang-orang yang ada di sekitarmu. Oh ya, mengenai kitab Iblis yang berada di kuil ini, kau masih menyimpannya 'kan?”


Kakek itu menjawab dengan penuh ketakutan, ”Tentu saja, Yang Mulia. Aku masih menyimpannya.”


Jiu Meishan berkata kembali, ”Untuk beberapa hari kedepan, aku ingin kau segera menyiapkannya.”


”Baik Yang Mulia.”


Sambil menatapnya dengan dingin dan perasaan yang sangat kesal, Xiao Ruo bertanya, ”Mengapa kami selalu bertemu denganmu? Apa tujuanmu mendekati adik Xuan bahkan sampai seperti ini? Sebenarnya, siapa yang tidak tahu diri di sini? Membunuhnya lalu mengajaknya untuk tetap hidup, aku benar-benar tidak bisa mengerti apa yang kau pikirkan saat ini.”


Liu Zhang Chen menjadi tidak berekspresi saat mendengarnya. ”Aku pernah mengatakan padamu, suatu saat jika kau bertemu lagi denganku, kau bisa membunuhku. Tapi, waktunya sangat tidak tepat. Masih ada beberapa hal yang harus aku selesaikan.”

__ADS_1


Xiao Ruo tampak kesal dan ia pun bertanya sambil berjalan dengan perlahan, ”Lalu? Apa hubungannya dengan adik Xuan? Mengapa kami selalu bertemu denganmu? Kau bahkan menyelamatkannya saat ia melakukan bunuh diri lalu, membawanya ke tempat yang sangat jauh dari keluarganya. Apa tujuanmu yang sebenarnya? Dia sudah banyak menderita karenamu. Kau membiarkannya terjatuh di lubang mayat, membiarkannya dirasuki oleh arwah pendendam, membuatnya hampir mati karena harus melindungimu dan yang terakhir, kau bahkan membuatnya harus menelan kematiannya sendiri! Bukan hanya itu! Semua orang menganggapnya sebagai pembawa masalah bahkan Ayahnya sendiri juga mengatakan hal yang sama padanya. Perceraian antara Ibuku dan Ayahnya, semua orang menuduh bahwa adik Xuan yang telah melakukannya! Apa yang bisa kau lakukan saat ini untuk membayar semuanya?!” teriaknya yang langsung menarik kerah pakaian Liu Zhang Chen.


^^^Nb: Ingat-ingat musim pertama. ^^^


Liu Zhang Chen menggigit bibirnya seolah ia tak percaya dengan apa yang selama ini dilakukannya. Ia tidak tahu kalau Xiao Qing Xuan begitu menderita karenanya. Mungkin karena selama ini ia tidak pernah melihatnya menangis dan selalu melihatnya tertawa. Ia selalu melihat seseorang dari luarnya saja.


Saat pedang menembus tubuhnya, Xiao Qing Xuan sebenarnya sudah mati dan ia tidak pernah hidup kembali. Secara fisik, ia tampak baik-baik saja namun, secara mental, dia benar-benar sudah terbunuh. Jika saja Xiao Qing Xuan hadir dalam pembicaraan ini, ia pasti tidak akan menyangka dan akan mengelak semua yang dikatakan oleh Xiao Ruo sambil berkata, semua itu adalah kebohongan. Xiao Qing Xuan tidak pernah menganggap Liu Zhang Chen sebagai penyebab penderitaannya. Namun, hal ini tidak akan sama dengan apa yang dikatakan dalam benaknya.


”Kau benar. Menurutmu, apakah aku harus membayarnya dengan nyawa?” ucap Liu Zhang Chen dengan pelan sambil melepaskan tangan Xiao Ruo yang masih menarik jubahnya. ”Semua orang pasti takut dengan kematian. Sehebat apapun orang itu, ia pasti sangat takut dengan kematian yang mendatanginya. Haah,... Aku benar-benar seperti orang yang tidak tahu diri. Seenaknya membunuh orang lain namun, aku sendiri takut mengalami kematian. Suatu saat, ketika semua sudah terselesaikan, apakah kau bisa membunuhku?”


Xiao Ruo sempat terkejut ketika mendengarnya. Namun, ia berusaha untuk tetap tenang meskipun pikirannya tengah berantakan karena amarahnya. ”Membunuh satu nyawa tidak berarti apa-apa bagiku. Seharusnya kau katakan ini pada adik Xuan. Aku hanya menyampaikan bahwa aku sangat membencimu. Tapi, adik Xuan tampaknya sama sekali tidak membencimu. Dia tidak akan melakukan apapun jika kau belum mengatakan hal ini padanya. Setidaknya kau sudah tahu jawabanku yang sekarang. Dan sekarang kau hanya perlu meminta jawaban pada adik Xuan.”


”Tentu saja aku sangat membencinya! Aku sangat benci orang yang sudah membuatku menderita.” ucap Xiao Qing Xuan yang datang dari atas dahan pohon bersama dengan Zhi Shuang yang berada di sebelahnya.


Keduanya tampak terkejut setelah melihatnya. Ia pun segera turun dari atas pohon dengan menarik kerah pakaian Zhi Shuang agar ia bisa mengangkatnya. "... Kenyataannya, aku memang sangat membenci seseorang yang sudah membuat hidupku menderita. Jika menerimanya begitu saja, bukankah itu sama saja dengan melakukan bunuh diri secara perlahan? Tentu saja, waktu itu aku benar-benar terbunuh dan tidak tahu harus berkata apa lagi. Tapi, aku lebih membenci orang yang membohongi dirinya sendiri. Wajah yang terlihat sedih itu, terus dipaksa untuk tertawa layaknya orang biasa. Bukankah itu lebih menyakitkan dan membunuh secara perlahan?”

__ADS_1


Keduanya tampak tidak mengerti sama sekali.


”Yang Mulia benar sekali. Tak ku sangka kau akan memaafkannya meskipun dia sudah membuatmu menderita. Apakah karena dia itu adalah Guru besarmu?” ucap Jiu Meishan yang muncul secara tiba-tiba di belakang mereka.


__ADS_2