
" Ho fatto del mio meglio, ma se scegli ancora di andare, allora vai. Ti aiuterò a non tornare mai più. Arrivederci fratello e padre "
( Aku sudah melakukan yang terbaik, namun jika kau tetap memilih pergi, maka pergilah. Akan ku bantu dirimu agar tidak pernah kembali lagi. Selamat tinggal Kakak laki-laki dan Ayah )
Sebenarnya Sungkyuu akan tetap hidup jika Junghyun tetap tinggal bersama Grizzy. Namun, saat itu Grizzy sudah menetapkan keputusan, jika Junghyun memilih untuk tinggal bersama ayahnya, maka lenyap kan. Yang harus terjadi maka terjadilah, tidak ada yang bisa menyangkal apa yang ingin Grizzy lakukan. Tidak akan rugi, karena pada dasarnya dendam tidak akan tuntas jika targetnya masih berkeliaran dan menghirup udara bebas.
Dibalik itu semua, Goeun sendiri tidak merasa keberatan jika Junghyun mati di tangan Grizzy, bagaimana pun Goeun sendiri sudah berada di sisi Grizzy, apapun yang Grizzy lakukan Goeun akan ikut menikmatinya. Lagipula, waktu yang ia habiskan untuk menjaga Junghyun sangatlah sia-sia, jadi untuk apalagi mempertanyakan.
" Bahkan jika aku tahu hal ini akan terjadi, aku akan membunuhnya lebih dulu di rumah sakit saat itu! Lelaki tak berperasaan sepertinya memang sudah sepantasnya untuk mati! " gumam Goeun saat ledakan terakhir berbunyi.
Beberapa hari setelah itu, hasil evakuasi jenazah keluar. Namun, hanya mayat Sungkyuu dan para pelayan yang berhasil di temukan, selain itu mayat Junghyun tidak dapat di temukan. Bahkan, Grizzy sampai menyuruh orang untuk menyisir reruntuhan bangunan yang tersisa, dia terus menekan agar Junghyun bisa di temukan.
Namun, setelah sekian lama pencarian pun akhirnya di hentikan, tidak ada hasil yang Grizzy dapatkan. Padahal saat itu, kamera cctv normal dan tidak menangkap gerakan Junghyun terakhir kali, ada kemungkinan kalau Junghyun mati tak tersisa dan juga kemungkinan kalau Junghyun melarikan diri dan bersembunyi.
Pak Kim sudah kembali, kali ini giliran Grizzy dan Kangsoo pergi. Mereka akan kembali ke Italia untuk menjenguk seseorang. Taehyung dan Goeun pun ikut bersama mereka.
Sisilia, Italia
" Woah, cantiknya!! " ucap Goeun takjub.
" Ini hanya Sisilia, lain kali mari keliling dunia bersama! " balas Grizzy.
Selang beberapa menit mereka pun sampai di kediaman D'Angelo. Taehyung akan pergi menemui Kenzio di markas rahasia, sedangkan Goeun akan istirahat di temani kekasihnya, Kim Dong-Il. Hubungan mereka sudah terjalin diam-diam di belakang Junghyun, meski menyukai Dongil, Goeun tetap tidak bisa meninggalkan Junghyun. Alhasil, hubungan mereka hanya sekedar dekat saja sampai akhirnya Junghyun tewas dan Goeun baru memperjelas hubungannya dengan Dongil.
Grizzy sendiri pergi ke penjara bawah tanah untuk menemui seseorang yang sepertinya sudah lama menunggunya. Grizzy masuk dan melihat lelaki dengan wajah familiar, dengan kedua tangan dan kedua kakinya yang di rantai, di belakangnya hanya ada satu kursi, dan itu pun alasnya terbuat dari barisan pisau yang siap menyayat bokong siapapun yang berani duduk di atasnya. Laki-laki itu menyadari kedatangan Grizzy dan langsung memakinya.
" Kau, gadis cantik seperti mu bagaimana bisa kau seorang iblis! Membunuh tanpa henti bahkan menjadikanku perantara untuk membunuh ayah dan kakakku! BERANDAL! KEMARI KAU BEDEBAH! " Bentaknya.
" Kalian! Tidak kah kalian mengajari Hwang Ryeon ini berbicara? Bagaimana mulutnya sangat beracun seperti ini? Jika tidak bisa berbicara hal baik, maka bungkam lah! " ujar Grizzy.
Tak lama kemudian ada dua orang datang dan satu orang membawa satu ember oli. Kedua orang itu menahan kepala Yeon, sedangkan satu lainnya mulai menuangkan oli itu ke dalam mulutnya. Yeon yang berusaha meronta pun tak lagi bertenaga karena olinya berhasil melewati tenggorokannya.
" Hey, berhenti! Kalian akan membuatku di teriaki iblis lagi oleh orang gila ini! " ujar Grizzy menghentikan ketiga bawahannya itu.
Grizzy mendekati Yeon yang hanya memakai celana panjang warna hitam tanpa baju yang menutupi dada bidangnya. Melihat tubuh indah itu, membuat Grizzy sedikit senang, namun saat melihat wajahnya Grizzy menatap dingin.
Jika tahanan seperti Kenzio yang di penjara di kota berbahaya ini saja bisa Grizzy beli, apalagi Yeon yang di tahan di kota yang tunduk pada uang. Bahkan satu kantor pun mungkin bisa Grizzy beli dengan mudah. Tahanan eksekusi ini di beli Grizzy saat seminggu setelah masuk, dengan bantuan kekuasaan dan kekayaan memudahkan segalanya.
Kini Yeon berada di tangan Grizzy, namun Grizzy tidak membutuhkan tubuhnya, hanya satu nyawa saja cukup untuk membalas berapa banyak yang ia keluarkan untuk menebus Yeon.
" Tubuhmu sangat indah, tulang-tulang ini sepertinya sangat kuat, bagaimana jika aku menambahkan paku di sepanjang tulang belakang mu ini? " tanya Grizzy dengan suara berat lalu menjauh dari Yeon.
Lalu, beberapa orang lainnya masuk, seperti biasa, dua orang menahan tubuh Yeon, satu orang lainnya mulai memaku tulang belakang Yeon dari bawah ke atas. Yeon berteriak kesakitan pada paku pertama, paku kedua dia sudah mulai menangis, paku ketiga semakin keras teriakannya dan berangsur pelan sampai paku ke tujuh di bawah lehernya. Yeon tidak sadarkan diri, namun dia masih belum mati jadi mereka semua mencoba menyadarkan Yeon dan membuatnya mengucapkan kata-kata terakhir.
" Kau.. ib-blis.. "
Tepat saat Yeon menyelesaikan dua katanya, Grizzy menembak Yeon tepat di dahinya dan membuatnya tewas seketika. Pistol yang ia gunakan adalah pistol pemberian ayahnya.
Sekarang semuanya sudah tuntas, Grizzy pergi ke balkon mansionnya dan menikmati wine seorang diri di malam yang dingin. Malam itu terang bulan, dengan segelas wine di tangannya, Grizzy menatap pistol itu sejenak sebelum akhirnya menatap bulan.
" Di kehidupan selanjutnya, aku ingin menjadi bulan, di malam yang tenang, dia bersinar dan akan ada orang yang menatap sambil memujinya!
__ADS_1
Aku adalah gadis manis yang lugu saat itu, namun melihat apa yang mereka lakukan kepada kedua orang tuaku, pelayan ku, bodyguard ku dan seluruh yang ada di rumah itu, membuatku tumbuh menjadi iblis tanpa belas kasihan.
Lalu, saat aku membalas semua yang mereka lakukan, mereka semua menyebutku iblis tanpa tahu merekalah yang membentukku menjadi seperti ini. Tanganku bersih, namun di mataku banyak darah yang mengotorinya.
Dendam ku sudah usai, entah seperti apa aku mati nanti, setidaknya mereka yang membunuh keluarga ku beramai-ramai kini semuanya sudah mati di tanganku. Aku bisa tenang menikmati sisa hidupku! " gumam Grizzy sebelum akhirnya meneguk habis winenya.
Malam semakin larut, Grizzy masih sendirian disana dan tidak membiarkan siapapun mengganggu dirinya. Malam ini biarkan sama tenangnya dengan hati Grizzy, tak ada apapun yang mengusik.
" Alla fine tutto morirà, lo accorcio e lo faccio andare più velocemente nell'aldilà, avete ragione, io sono la piccola bellezza, il mostro, che ti prenderà la vita in mille e un modo mortale "
( Pada akhirnya semua akan mati, aku hanya mempersingkat dan membuatnya pergi ke akhirat lebih cepat, kalian benar, akulah si cantik kecil, sang monster, yang akan mengambil hidup Anda dengan seribu satu cara mematikan )
...-Grizelle Edard Viviana D'Angelo- ...
...***...
( PROLOG S2 )
Dua tahun setelah kelulusan sekolah, Grizzy kembali ke Italia, namun setelah memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya, Dia kembali meninggalkan kota kelahirannya dan pergi ke London. Disana dia akan memulai hidup baru dan melupakan masa lalu kelam yang penuh darah dan penderitaan orang lain.
Satu tahun sebelumnya, hubungan antara Grizzy dan Taehyung berakhir. Grizzy juga memutuskan untuk memberi tunjangan pensiun untuk Pak Kim Dae-shim. Sehingga, selama satu tahun belakangan ini, Pak Kim sudah tidak berhubungan dengan Keluarga D'Angelo lagi.
Teman-teman yang membantu Grizzy masih ada, mereka semua menjalani aktivitasnya seperti biasa, namun akan selalu datang jika Grizzy memerlukan bantuan mereka.
Kenzio masih tinggal di Kediaman Gevda karena menolak untuk ikut bersama Frans Zeano yang selalu memaksanya untuk berkencan. Padahal, Kenzio sama sekali berbeda dengannya yang merupakan penyuka sesama jenis. Grizzy menyetujui keputusan Kenzio yang ingin tetap berada di kediamannya, dengan begitu Zeano tidak selalu memiliki hak untuk memaksa masuk ke kediaman.
Christ Danny atau Kim Dong-il , dia melanjutkan sekolahnya di Roma dan memilih untuk menyewa apartemen. Dia juga sesekali mengunjungi Kediaman D'Angelo untuk sekedar mampir.
Sementara itu, Daniel tetap berada di Korea untuk menjalankan perusahaan yang sempat di tinggalkan, karena keahliannya dalam bidan bisnis, kini nama perusahaannya menjadi terkenal semenjak masuk ke dalam salah satu perusahaan besar di negara tersebut.
Grizzy pun tidak sendiri, dia di temani Kangsoo sebagai asisten pribadinya. Kangsoo yang akan melayani Grizzy selama berada di London, dia juga bertanggung jawab atas keselamatan Grizzy.
Selama ini, Grizzy terus menunggu mengenai kabar dari Junghyun. Semakin tidak bisa di temukan, Grizzy semakin merasa kalau Junghyun masih hidup. Dia tidak khawatir kalau sewaktu-waktu Junghyun datang dan membalas dendam, dia hanya khawatir Junghyun masih belum bisa menerima kenyataan mengenai perbuatan ayahnya.
Grizzy puas dengan balas dendamnya, dia sama sekali tidak menyesal atau merasa bersalah. Pembalasan dendam itu adalah janjinya dua belas tahun yang lalu, dan berakhir tepat sebelum dirinya genap delapan belas tahun.
Walaupun Grizzy tahu betul, orangtuanya tidak akan kembali meski sebanyak apapun dia membunuh orang-orang yang merenggut nyawa orang tuanya. Namun, selama dia bisa memberikan perasaan yang sama pada mereka yang ditinggalkan dia akan tetap merasa impas.
Tidak ada janji untuk masa depan yang tenang, dosa besar yang telah Grizzy lakukan selalu mengikuti dirinya. Namun, selama hari kematiannya belum tiba, Grizzy ingin berubah dan melakukan hal baik seperti saat terakhir kali dia melakukannya.
Entah kapan tepatnya, namun Grizzy menginginkan hal itu lagi.
Hari-hari baru Grizzy di mulai, dia mulai menjalani hidup yang hampa tanpa seorang teman seperti beberapa tahun yang lalu.
Meski dia menginginkan hal itu, namun dengan komunikasi yang buruk Grizzy selalu menjadi target salah faham yang membuat orang-orang menjauhinya.
Dia mulai menjadi penyendiri, segala emosinya pun mulai memudar dan membuat dirinya kosong. Grizzy mulai terisolasi dalam kesendiriannya, masa lalu kelamnya perlahan muncul dan membayanginya, bahkan sampai mengotori mimpi indahnya.
Grizzy berubah menjadi sosok yang dingin dan murung, meski memiliki paras yang cantik, namun keahliannya dalam berkomunikasi mendadak hilang dan membuatnya sulit beradaptasi dalam lingkungan kampusnya.
Dalam suatu kesempatan, Grizzy pergi ke perpustakaan, tempat yang paling tenang dan membosankan, namun tetap di kunjungi dan di jadikan tempat menyendiri selama berjam-jam.
__ADS_1
"Bosan! Aku bosan! Tidak ada yang membuatku terhibur! Minimal, tunjukkan bagaimana aksi Bullying di sini! Tunjukkan di depanku, lalu aku akan datang sebagai pahlawan!" gumam Grizzy seorang diri.
Grizzy menghela nafas, sebelum akhirnya mulai meregangkan tubuhnya.
'Sialnya aku malah teringat pada momen dimana Danny di telanjangi, huftt aku merindukan kekerasan.. Namun, aku juga butuh bimbingan untuk melakukan hal baik, yaa minimal berikan aku teman agar aku tidak seperti makhluk asing yang menjalani hidup seorang diri!' gumam batinnya.
Saat sudah merasa begitu bosan, Grizzy memutuskan untuk pergi dan berjalan-jalan keluar kampus. Kebetulan sekolah nya berada di kawasan kota yang mana ada berbagai pusat perbelanjaan di sekitarnya.
Namun, begitu dia keluar dari pintu perpustakaan, seseorang menabraknya cukup keras hingga membuatnya terjatuh bersamaan dengan orang yang menabraknya.
Grizzy terjatuh dengan posisi siku yang menahan tubuhnya hingga membuat sikunya menjadi terluka.
"Maaf, maaf.. Aku tidak melihatmu, apa kau terluka??"
Grizzy memasang raut wajah kesal, dia mengangkat wajahnya dan melihat laki-laki yang mengulurkan tangan untuk membantunya. Namun, alih-alih membalas uluran tangannya, Grizzy malah memilih untuk bangun sendiri.
Satu orang meminta maaf adalah yang menabraknya, sementara yang mengulurkan tangannya adalah teman nya, mungkin.
"Tidak masalah, luka kecil!" balas Grizzy.
"Tapi, kau berdarah, ikutlah bersamaku, aku akan mengobati mu!" ujar laki-laki yang menabraknya.
Melihat ada darah yang keluar, Grizzy pun akhirnya mengiyakan dan bersedia untuk di obati. Mereka bertiga menuju ke ruang perawatan untuk mengobati luka Grizzy.
"Hei, Kalau boleh tahu, siapa namamu?" tanya laki-laki yang menabrak Grizzy sambil meneteskan antiseptik ke luka Grizzy.
"Grizzelle.."
"Itu saja kah? Namaku, Leonardo Yardley, kau bisa memanggilku Leon. Dan itu adalah temanku, Ciel Aethelred." ujar Leon.
Grizzy melirik ke arah Ciel, tampangnya jauh lebih dingin, namun tak bisa di pungkiri kalau dia tampan. Sedangkan Leon sendiri nampak lebih ceria dan murah senyum, cara bicaranya pun terdengar lembut.
Setelah selesai, Grizzy pun segera beranjak.
"Terimakasih, aku tidak bisa berlama-lama lagi karena harus cepat pergi.." ujar Grizzy.
"Kemana kau pergi.. Eh, maaf!" ujar Leon saat sadar dia kelepasan menanyakan hal pribadi.
"Toko buku! Hari ini ada komik baru, aku tidak ingin kehabisan.." ujar Grizzy.
Seketika raut wajah Leon semakin sumringah dan membuat Grizzy bingung.
"Kebetulan! Mau pergi bersama? Bagaimana Ciel?" tanya Leon sambil meminta pendapat Ciel.
Ciel terlihat terkejut, begitu juga dengan Grizzy.
"Terserah.." balas Ciel pelan.
"Kalau begitu, ayo berangkat..!!" ucap Leon bersemangat sambil menggandeng Ciel dan Grizzy keluar dari ruang perawatan.
"Tuhan? Kau mendengar ku, ya? Apa tidak berlebihan memberikan dua pria tampan sebagai teman?" gumam Grizzy dalam hati.
__ADS_1
Meski sedikit terpaksa, namun rasa senang Grizzy tidak dapat ditutupi dari hal tersebut. Senyumnya terukir untuk yang pertama kalinya. Kehidupan Grizzy seolah di mulai pada hari itu juga.