
Brandon tidak menyadari permainannya, namun Grizzy tidak melepas pengamatannya, terutama pada permainan tim Ciel.
Poin mereka tertinggal jauh, permainannya juga membosankan, mereka nampak kewalahan menghadapi tim Cloe.
"Tidak ada harapan, mereka akan kalah.." celetuk Cloe.
Grizzy tidak menanggapi ucapan Cloe, dia juga tahu betul tim Ciel terdesak dan hampir tidak ada kemungkinan jika tertinggal sejauh ini.
Karena munculnya rasa bosan, Grizzy pun beranjak dari tempat duduknya, saat dia mulai melangkah, Cloe menahan tangannya hingga langkahnya juga ikut terhenti.
Namun, sebelum Cloe mulai berbicara, peluit kembali berbunyi hingga dia tidak memiliki kesempatan. Grizzy menarik tangannya kasar sebelum akhirnya meninggalkan tempat.
"Semakin dingin semakin menarik!" celetuk Cloe.
"Ku sarankan agar kau tidak mengganggu nya, jika dia sudah bergerak aku mungkin tidak dapat menyelamatkan mu!" ujar Brandon yang tak sengaja mendengar perkataan anaknya itu.
"Semua akan baik-baik saja, percayalah!" balas Cloe.
Sementara itu, Grizzy yang baru saja keluar dari gedung olahraga segera menuju kembali ke perpustakaan.
Dia sadar dia telah membuang-buang waktu dengan pergi ke pertandingan basket lalu menonton permainan yang membosankan. Jelas Cloe mengambil keuntungan dengan memanfaatkan kelemahan lawan.
Grizzy kembali membuka komiknya hingga larut ke dalam ceritanya. Hingga beberapa saat kemudian, Ciel dan Leon datang lalu duduk di hadapan Grizzy tanpa Grizzy sadari.
Saat Grizzy mengangkat kepalanya, dia baru sadar kalau mereka berdua tengah memperhatikannya.
"Ka - Kalian.. Sejak kapan kalian ada disana?" tanya Grizzy.
"Mungkin sejak sepuluh menit yang lalu" jawab Leon dengan nada santainya.
Wajah mereka nampak kelelahan, namun bebas dari bau keringat, padahal sebelumnya Grizzy melihat mereka berlari di lapangan dengan bermandikan keringat.
"Benarkah?" gumam Grizzy.
"Kau pergi sebelum pertandingan berakhir, kau juga terlihat dekat dengan kapten dari tahun ketiga.." ucap Leon basa - basi.
"Jangan memberi anggapan yang berlebihan, daripada dengannya, aku mungkin lebih dekat dengan Brandon.. Dia pelatih ku.." balas Grizzy.
"Pelatih??" gumam Ciel.
"Kau bisa bermain basket?" tanya Leon.
"Mungkin, iya.. Oh, iya.. Jika kalian senggang, sore nanti bisakah kalian datang? Aku akan bermain one-on-one dengan Cloe." ujar Grizzy tenang sambil melihat kembali ke arah komiknya.
"Ka - kau.. Menantangnya?" tanya Leon.
"Ini pertemuan kami setelah beberapa tahun, aku ingin memberi salam padanya lewat basket.." ujar Grizzy.
"Kami akan pergi! Jadi, jangan sampai kalah, ya!" ujar Leon.
"Kalian juga bisa mengalahkannya kalau mau, dia tidak serius namun sengaja mendesak kalian tadi, sayangnya tidak ada yang tahu kelemahan terbesar nya.." ucap Grizzy.
^^^'Kelemahan Terbesar, ya? Sepertinya dia tahu banyak mengenai Cloe, aku penasaran sedekat apa mereka..' gumam Ciel dalam hati.^^^
Hubungan antara Grizzy, Leon dan Ciel masih sama seperti sebelumnya. Setelah perbincangan berakhir, Leon sadar kalau Grizzy sama sekali tidak berpihak pada Cloe.
Leon tidak akur dengan Cloe, mereka sama-sama menyimpan sesuatu yang di sebut, benci.
Menurut Leon sendiri, sikap Cloe yang sombong, angkuh, ingin menang sendiri dan seenaknya membuat dirinya muak.
Meski Kapten basket terbaik, dia sama sekali tidak memenuhi kriteria sebagai panutan Leon.
Sedangkan Ciel sendiri menganggap Cloe adalah orang yang menyebalkan, namun berbeda dengan Leon, Ciel lebih bisa mengabaikannya dan menganggapnya tidak ada.
Sore harinya, Grizzy datang kembali ke gedung olahraga dan mendapati Cloe tengah bermain basket seorang diri disana.
Ciel dan Leon sudah duduk di atas tribun, sementara di kursi lain ada beberapa kelompok gadis yang mungkin adalah penggemar Cloe.
"Telat dua menit!" ujar Cloe.
Cloe berdiri di depan Grizzy, namun dengan mudah Grizzy abaikan. Dia berjalan melewati Cloe menuju ke kursi pemain cadangan tanpa menghiraukan perkataan Cloe.
Grizzy melepaskan Sweater nya dan memperlihatkan kaos putih dengan model crop top. Dia juga menggunakan rok pendek dengan warna yang senada seperti sweater nya. Hal itu memperlihatkan tubuh idealnya yang sedikit membuat beberapa gadis di tribun merasa cemburu.
Terakhir, Grizzy juga mengikat rambutnya sebelum akhirnya berjalan mendekati Cloe.
"Aku tidak punya banyak waktu, jadi aku hanya akan bermain selama dua puluh menit saja!" ujar Grizzy.
"Okay!"
Babak pertama, bola berpihak pada Cloe, namun dengan cepat Grizzy bergerak menyusul untuk merebut bolanya.
Kecepatan itu bahkan tidak mungkin untuk di tiru oleh Cloe, dia terkejut sampai lengah dan memberikan bolanya pada Grizzy.
__ADS_1
"Dunk? Hebat!!" gumam Leon di atas tribun.
Cloe yang merasa diremehkan pun langsung bergerak, dia mencoba merebut kembali bolanya dan mencetak poin. Meski Grizzy tak terlihat mengejarnya, namun saat dia melompat dan berusaha memasukkan bola ke dalam ring. Grizzy tiba-tiba muncul dan berhasil memblok bolanya.
'Sial!!! Apa dia secepat itu???' ucap Cloe dalam hati.
Bola kali ini cukup sulit, hingga membuat Grizzy terjebak dalam penjagaan Cloe yang membuatnya tidak bisa kemana-mana.
'Dia, selalu saja tidak menyertakan ekspresi.. Dia juga menjaga bolanya tanpa memberiku celah! Permainannya masih seperti dulu, hanya saja perkembangannya membuatku sulit memahami!' gumam Cloe dalam hati.
"Apa kau sedang bertanya-tanya mengapa permainan ku sampai sejauh ini?" tanya Grizzy.
"Huh?"
"Sebenarnya ini permainan biasa, hanya saja kau terlalu lemah untuk bisa mengimbangi ku!" ucap Grizzy.
Seketika, Cloe kembali memberikan celah karena pengaruh perkataan Grizzy. Sedangkan, poin Grizzy terus bertambah.
Hal itu terjadi berulang kali, hingga tiba di menit terakhir babak pertama. Cloe bahkan tidak mencetak poin sama sekali, hal itu membuat Grizzy nampak kesal.
"Jangan membuatku kesal! Aku tidak ingin menang karena kau mengalah!!" ujar Grizzy.
Terlihat Cloe juga menggertak kan giginya, dia seolah tidak setuju dengan apa yang Grizzy katakan.
'Sial! Kau yang mendesak ku seperti ini, berani sekali mengatakan aku mengalah! Aku akan menang! Lihat saja!!!' sarkas Cloe dalam hati.
Tepat, setelah Cloe selesai bergumam, sepuluh menit berakhir, mereka memiliki kesempatan untuk beristirahat sejenak sebelum akhirnya menuju ke babak terakhir.
"Zy!" panggil Leon.
Grizzy menoleh dan langsung menangkap satu botol minuman dingin dari Leon. Dengan ucapan terima kasih, Grizzy pun meminumnya.
Tak lama kemudian, teman-teman Cloe datang pada Cloe, mereka nampak menertawai Cloe yang kalah telak oleh seorang perempuan. Dengan ini, harga dirinya akan semakin terluka.
"Noioso!"
(Membosankan!), gumam Grizzy.
Setelah istirahat berakhir, mereka berdua kembali ke lapangan dan melanjutkan permainannya. Kali ini Cloe bahkan menatap tajam ke arah Grizzy, hal itu membuat Grizzy mengangkat sudut bibirnya sebelum akhirnya kembali merebut bola.
Saat Cloe berlari mendahului Grizzy, dengan cepat Grizzy kembali mundur dan melakukan shoot secara mendadak. Hal itu membuat Cloe terkejut saat mendapati bolanya masuk tanpa cacat.
"Three points!" gumam Leon.
Tanpa berpikir panjang, Cloe langsung mengambil kesempatan untuk merebut bolanya, kali ini dia lebih serius di bandingkan dengan sebelumnya.
Hal itu bisa di tunjukkan lewat fokus Cloe yang ia jaga baik-baik. Bahkan, Grizzy kehilangan bola setelah melakukan shoot.
Cloe berhasil mencetak poin pertama, dia masih harus mengejar ketertinggalannya. Permainannya kali ini lebih sulit, setidaknya tidak membuat Grizzy merasa bosan.
Pertarungan sengit antara Grizzy dan Cloe terus berlanjut hingga tersisa lima menit terakhir, Cloe masih terus mengejar, namun dengan sikap optimis Grizzy mengatakan kalau Cloe masih belum cukup untuk mengimbanginya.
"Masih terlalu jauh! Kau harus banyak berlatih untuk bisa seimbang dengan ku!" celetuk Grizzy sebelum akhirnya kembali mencuri bola.
Poin Grizzy bisa di katakan tiga kali lipat dari poin Cloe. Hal itu menunjukkan perbedaan level yang begitu jauh. Cloe bisa di permalukan di hadapan penggemar wanita yang mulai tidak mengeluarkan teriakannya.
Dia terlalu berambisi untuk memiliki Grizzy hingga tidak menyadari posisinya. Selain jengkel, Grizzy juga menganggap Cloe masih belum pantas dan tidak memenuhi kriteria untuk menjadi kekasihnya.
Permainan berakhir, Cloe kalah. Namun, Grizzy menghargai usahanya yang berusaha mencetak angka.
"Kau sudah berusaha.. Terus berlatih, sebelum bisa mengalahkan ku, pastikan kau tidak merendahkan lawan mu yang lebih lemah dari mu!" ujar Grizzy sebelum akhirnya melangkah menjauh.
Sementara itu, Kangsoo datang untuk menjemput Grizzy, dia membawakan tas dan juga beberapa buku milik Grizzy sebelum akhirnya keluar sambil berjalan di belakang Grizzy.
Disisi lain, Ciel dan Leon masih berada di tribun, mereka masih menikmati raut wajah kesal Cloe yang merasa terhina karena kalah dari seorang gadis.
"Dia hebat.. Sangat!!" ujar Leon.
"Sudahlah, aku mau pulang!" balas Ciel.
"Tunggu, Ciel. Bagaimana jika kita meminta Grizzy mengajarkan basket pada kita?" ucap Leon.
"Kau ingin Grizzy mengajarkan basket pada kita? Jangan mengatakan hal aneh!" balas Ciel.
"Aku serius!" ujar Leon.
"Huh?"
" Dia nampak hebat dan ahli dalam basket, mau dilihat dari manapun, Cloe tidak terlihat seperti sedang mengalah, dia terdesak oleh permainan Grizzy, aku tau kau pun berfikir kalau Grizzy hebat, ya, kan?" tanya Leon.
"Terserah saja, namun, kau tau aku adalah orang yang sibuk! Malam ini pun aku ada pekerjaan, jadi sepertinya aku akan pulang lebih awal!" jawab Ciel lalu beranjak.
Disisi lain, saat masih berada dalam perjalanan menuju ke Mansion King Emeralda, Grizzy menggunakan sesuatu yang di sadari oleh Kangsoo.
__ADS_1
"Kasus orang hilang semakin bertambah, aneh namun jejak mereka benar-benar seperti di telan bumi!" gumam Grizzy.
"Mafia disini benar-benar hebat, kan? Mereka benar-benar mempersulit pihak kepolisian untuk melacaknya!" balas Kangsoo.
"Mafia?" gumam Grizzy.
"Iya, belum ada kebenaran yang terbukti, namun selain mafia siapa yang dapat melakukan hal seperti ini?" ujar Kangsoo.
"Sebelumya aku mendengar tentang Si International Criminale.. Mungkinkah dia juga ada disini?" tanya Grizzy.
"Huh? Sepertinya sarangnya memang di negara ini.. Namun, keterampilannya dalam bersembunyi sangat baik, sampai-sampai orang pun tidak akan sadat kalau orang berbahaya sepertinya ada di sekitar mereka.. " jawab Kangsoo.
"Orang berbahaya, ya?"
"Sembra Interessante!"
(Terlihat menarik!) Sambung Grizzy.
Grizzy sampai di Mansion nya, kali ini dia tidak langsung tidur, melainkan mengisi waktu luangnya dengan berlatih beladiri sampai waktu makan malam tiba.
Dia tidak sendiri, Kangsoo menemaninya sambil mengoreksi gerakannya yang mulai terlihat aneh karena sudah lama tidak berlatih.
Grizzy bahkan tidak memakainya saat ajang balas dendam, masa itu dia lebih sering menggunakan senjata api dan juga bom.
Hanya sesekali saat seorang penyusup datang ke Mansion Lee, Grizzy menggunakan keahlian beladiri nya untuk melawan penyusup yang saat itu adalah, Hwang Ryeon alias Na Yeon.
Setelah itu, detik-detik akhir dari pembalasan dendamnya mulai terlihat.
Grizzy sendiri masih memegang keahliannya sebagai penembak jitu atau sniper. Keahlian itu seolah warisan turun-temurun dari ayahnya. Namun, hal ini hanya di kuasai oleh Grizzy, sedangkan Daniel bisa di bilang kurang berbakat dalam menembak.
Seperti yang di ketahui, Mafia D'Angelo sudah menjadi sejarah dalam dunia pembantaian semenjak meledaknya mansion mewah di Australia yang menewaskan Lee Sungkyuu beserta para pelayannya.
Tetapi, sampai detik ini pun keberadaan Lee Junghyun masih menjadi pertanyaan besar bagi Grizzy.
Bahkan, Grizzy membayar banyak orang untuk menemukannya, jika ada yang bisa memberikannya informasi atau bahkan bisa membawa Junghyun ke hadapannya, Grizzy menjanjikan hadiah yang besar.
Meski terdengar mustahil, namun perkataan Grizzy adalah mutlak selama dia menginginkan hal tersebut.
Hingga tawaran seperti ini seolah menjadi kesempatan besar untuk orang-orang yang ingin mendadak kaya.
Kalaupun Junghyun ternyata masih hidup, bisa di bilang dia tidak akan selamanya baik-baik saja.
Karena di luar sana, banyak pasang mata yang mengintai menunggu kemunculan dirinya.
"Nona, sepertinya kau melupakan dasar-dasar nya.. Kau harus memulai dari awal agar gerakan mu sempurna.. " ujar Kangsoo menegur Grizzy.
"Dari awal????"
"Iya, dari kuda-kudanya!" balas Kangsoo.
"Huh????"
"Kau akan kalah di menit pertama jika tidak menyempurnakan gerakan mu, meski memiliki tenaga namun bisa bahaya jika semua serangan mu meleset! Aku menyarankan untuk mengulang dari awal.." jelas Kangsoo.
"Baik-baik, aku akan melakukannya besok, untuk sekarang tolong siapkan airnya, aku ingin mandi!" ucap Grizzy.
"Bene!"
(Baik) Jawab Kangsoo.
Grizzy masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya sejenak sambil menunggu kamar mandinya siap.
Sementara itu, dia masih terus bertanya-tanya mengenai International Criminale yang sempat ia bahas dengan Kangsoo.
Ada banyak kemungkinan dalam hilangnya orang-orang. Jika hal ini berkaitan dengan Mafia, beberapa kemungkinan yang paling kuat adalah, orang dijual dalam perdagangan budak dan perdagangan organ tubuh manusia.
Meski bukan termasuk urusannya, namun entah mengapa Grizzy sangat tertarik ke dalam hal ekstrim tersebut.
Jika ada perdagangan budak, mungkin dia bisa masuk dan mencari informasi disana.
Namun, hal ini belum ia ketahui keberadaannya. Sangat berbeda dengan Italia yang mana informasi bisa ia dapatkan dengan mudah melalui seseorang.
Seketika Grizzy terbangun dan mengingat sesuatu.
"Nona, bak mandi mu sudah siap!" ujar Kangsoo dari luar kamar.
Grizzy beranjak dan melangkah keluar, sejenak dia berhenti untu menyampaikan pesan pada Kangsoo sebelum akhirnya melenggang.
"Per favore chiama Kenzio per me! Ho un lavoro per lui! Cerca di venire prima di dopodomani!"
(Tolong hubungi Kenzio untukku! Aku punya pekerjaan untuknya! Usahakan datang sebelum lusa!) ujar Grizzy.
"Bene!"
__ADS_1
(Baik!) jawab Kangsoo lalu mulai melakukan perintah dari Bosnya.