
Pertemuan tidak di sengaja antara Grizzy, Leon dan Ciel seolah menjadi awal baru dari kehidupan Grizzy. Dia yang mulai memperbaiki jalan hidupnya dengan meninggalkan kekejaman dirinya di masa lalu, kini menemukan titik awal dari lembaran barunya.
Meski belum bisa di pastikan, namun Grizzy menaruh harapan besar pada pertemuannya.
Sesampainya di toko buku, mereka bertiga mulai berpencar untuk mencari komik yang mereka inginkan. Di satu sisi, Grizzy mencoba menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan mereka, namun disisi lain, Leon terlihat berusaha mendekatinya.
Hal semacam ini akan sulit di hindari, terlebih jika terlalu di paksakan, Grizzy akan kembali seperti dirinya yang sebelumnya.
Setelah selesai dengan perburuan komiknya, Leon memimpin jalan lagi untuk mengganti lokasi. Kali ini, dia mengajak Ciel dan Grizzy untuk pergi makan sebelum pulang.
Sementara itu, karena Grizzy lupa memberitahu Kangsoo, dia membuat asistennya menunggu lama di sekolah. Berkali-kali Kangsoo mencoba menghubungi Grizzy, akhirnya berhasil saat Grizzy baru saja sampai di sebuah kedai.
"Tunggu Sebentar.." ujar Grizzy sambil beranjak.
Leon mengangguk sambil melemparkan senyumannya, sedangkan Ciel dengan tatapannya yang dingin terlihat mengekori kepergian Grizzy.
"Halo?"
"Nona, kau dimana? Sekolah sudah sepi.."
"Astaga! Aku lupa, aku sedang pergi bersama temanku, aku akan mengirim lokasinya, kau bisa menjemput ku setelah selesai makan.." jawab Grizzy.
"Baik"
Telepon berakhir.
Grizzy kembali duduk bersama dua teman barunya. Mereka baru memesan makanannya setelah Grizzy selesai bicara di telepon.
"Apa ayahmu mencari mu?" tanya Leon.
"Bukan, dia asistenku.. Aku lupa memberitahunya dan membuatnya menunggu lama di sekolah.." jawab Grizzy.
"Kau punya asisten pribadi? Itu keren!" ucap Leon.
'Entah mengapa, aku tidak mendengarnya seperti pujian..'
Gumam Grizzy.
"Grizzy, dimana kau tinggal?" tanya Ciel.
Pertanyaan itu tak hanya membuat Grizzy terkejut, bahkan Leon pun merasakan hal yang sama. Jarang dia berbicara jika tidak ditanya, namun, sekarang dia bahkan berani bertanya lebih dulu.
"Grizzy? Kau tahu darimana nama itu?" tanya Grizzy.
"Aku tidak tahu ada yang memanggilmu seperti itu, maaf jika kau tidak menyukainya.." jawab Ciel.
"Tidak, itu nama kecilku. Semua orang terdekatku memanggilku demikian, namun ini adalah pertama kalinya aku mendengar orang kampus memanggilku seperti itu.." ujar Grizzy.
Melihat dari raut wajah Grizzy, Leon cukup mengerti tentang perasaannya. Terlebih, Ciel yang kaku tidak mengatakan apapun lagi setelah mendengar jawaban dari Grizzy.
"Baiklah, mulai sekarang kami akan memanggilmu Grizzy, bagaimana?" tanya Leon.
Grizzy hanya melemparkan senyumannya sebagai jawaban.
"Aku tinggal di Mansion King Emeralda.. Bersama tiga asisten rumah tangga dan satu asisten pribadi.." ucap Grizzy menjawab pertanyaan Ciel.
"Wah, kau bangsawan ya? Apa marga mu?" tanya Leon.
Grizzy terdiam, dia tidak tahu apa nama itu masih menakutkan atau memang sudah menjadi sejarah. Namun, Grizzy merasa agak berat untuk menyebutkannya.
"Akhirnya tiba.." Ucap Ciel saat mendapati pelayan menuju ke arah mejanya.
Di saat itu juga, Leon mulai melupakan pertanyaannya, dia menaruh semua perhatiannya pada makanan yang ada di depannya. Sekilas, Grizzy melihat Ciel yang masih menatap dingin ke arahnya, lalu sudut bibirnya mulai terangkat.
Dengan ini Grizzy mengerti, Ciel tahu sikap dan sifat Leon, mungkin Ciel peka terhadap tingkah laku atau gerak-gerik seseorang hingga bisa dengan cepat menyadari situasinya. Sehingga, secara tidak langsung, Ciel menyelamatkan Grizzy dari pertanyaan tersebut.
Tepat setelah mereka bertiga keluar dari kedai, mobil jemputan Grizzy datang. Awalnya Grizzy menawarkan tumpangan pada mereka, namun Ciel lebih dulu menolak dan membuat Leon ikut menolak.
Pada akhirnya, mereka berpisah di depan kedai. Yang ada di pikiran Grizzy saat ini adalah kekhawatiran. Dia khawatir saat ia kembali datang ke kampus besok, semua kembali seperti semula. Terbayang saat dimana dia sendirian, lalu bertemu dengan Leon dan Ciel yang bersikap seolah hari ini tidak pernah terjadi.
"Nona?" panggil Kangsoo saat Grizzy tengah menatap kepergian Ciel dan Leon.
Grizzy menoleh dan segera masuk ke dalam mobil. Saat sampai setengah jalan, Grizzy baru menyadari tangannya kosong, dia mengingat kembali dimana terakhir kali dia menyimpan komik yang baru ia beli.
__ADS_1
'Tanpa sadar, aku melupakan teman yang bersedia mengisi kekosongan ku.. Komik ku yang malang..'
"Nona, apa kau melupakan sesuatu?" tanya Kangsoo.
"Iya, komik ku ketinggalan.." jawab Grizzy.
"Haruskah kita kembali?" tanya Kangsoo.
"Tidak perlu, sudah mulai gelap, aku akan membeli komik yang sama besok.." jawab Grizzy.
'Itu pun kalau sisa komik nya masih ada.. Aku dan Ciel mengambil komik yang sama dan kebetulan hanya ada tiga, sementara Leon tidak menyukai komik genre Action dan memilih komik komedi yang menurutnya menggelitik saat membacanya.. Entah kapan mulanya aku mulai menyukai komik, sementara saat aku mulai tertarik aku sampai menganggapnya teman saking suramnya masa kuliah Ku..'
Grizzy terus bergumam dengan hatinya sendiri sambil menatap jalan yang semakin lama semakin sepi. Letak mansion nya mirip seperti mansion terpencil nya saat menyembunyikan Min-seok.
Dari jalan raya masuk ke gerbang utama yang di jaga oleh dua bodyguard bertubuh ideal, lalu menelusuri jalan dengan barisan pepohonan, sebelum akhirnya melewati kebun anggur yang tak kalah luasnya. Setelah itu barulah memasuki gerbang kediaman yang memperlihatkan keanggunannya.
Tak jauh berbeda dengan gerbang utama, gerbang kediaman pun di jaga oleh dua bodyguard, sementara dua bodyguard lainnya berjaga di depan pintu masuk Mansion.
Halaman yang luas dengan tatanan taman bunga yang elegan, nuansa mansion bak istana negeri dongeng. Penjaga yang mengelilingi kediaman untuk menjaga keselamatan tuannya, kemewahan yang bahkan berada di bawah pijakan nya, serta harta melimpah yang tidak ada habisnya.
Semua itu ternyata masih belum cukup, bagi Grizzy yang sekarang, semuanya nampak membosankan. Hidup tanpa gairah ataupun ambisi, cita-cita yang musnah. Bayang-bayang tangan yang berlumuran darah membuat hidupnya suram.
Grizzy membanting tubuhnya ke atas ranjangnya, dia menatap langit-langit dengan tatapan kosongnya.
'Sebanyak apapun harta yang ku punya, tetap tidak bisa membeli sedikit pun kebahagiaan, mungkinkah ini karma? Cih. Siapa yang peduli? Aku adalah Grizelle Edard Viviana D'Angelo..Masa lalu ku yang suram semakin suram, ditambah suramnya kehidupan ku yang sekarang! Gadis suram!!!!'
Lelah bergelut lama dengan pikirannya, Grizzy pun tertidur.
Saat malam tiba, Kangsoo masuk untuk menutup tirai dan menyalakan lampu tidur. Dia juga memberi selimut pada Grizzy yang tidur sembarang tanpa melepaskan sepatunya. Setelah selesai, dia pun kembali dan membiarkan Grizzy berkelana di alam mimpinya.
Keesokan harinya, Grizzy terbangun saat Kangsoo mulai membuka tirai jendela kamarnya. Seperti biasa, Kangsoo juga menyiapkan pakaian yang akan di pakai oleh Grizzy untuk pergi ke kampus.
"Selamat Pagi, Nona.." sapa Kangsoo.
"Yaa, pagi.." jawab Grizzy dengan suara seraknya.
"Hari ini, putra dari keluarga Fez mengundang Anda untuk hadir dalam pertandingan basket di kampus.. Dia berharap Anda bisa hadir dan menikmati pertandingannya.." ujar Kangsoo.
"Huh? Anak Master Brandon satu kampus denganku?" tanya Grizzy.
"Oh"
Se-perginya Kangsoo, Grizzy mulai bersiap-siap, sebelum akhirnya keluar dari kamar dan menuju ruang makan untuk sarapan.
Mansion mewah ini terlalu sepi karena lebih banyak pelayan dan penjaganya di bandingkan dengan tuannya. Terlebih, aura kesunyian seolah menyelimuti lingkungan sekitarnya.
Setelah selesai sarapan, Grizzy langsung bergegas berangkat, dia masih enggan mengendarai mobil sendiri dan memilih untuk memakai sistem antar-jemput bak anak manja. Namun, sebenarnya Grizzy cukup mandiri, bahkan jauh dari kata manja.
Seperti biasa, lingkungan kampus yang membosankan dan terkesan tidak akur selalu membuat Grizzy merasa tidak nyaman di tempat terbuka. Setelah mengikuti beberapa pelajaran, dia kembali melakukan ritual mengusir kebosanannya di dalam perpustakaan.
Namun, tak lama setelah dia duduk di bangku, seseorang datang dan duduk di hadapan Grizzy. Saat Grizzy mengangkat wajahnya, dia hanya sedikit membuka matanya lebih lebar lalu bersikap seperti biasanya.
Tanpa membuka pembicaraan, dia menyodorkan komik yang kemarin di belinya bersama Grizzy.
"Ku pikir ini milikmu, tanpa sadar aku membawanya kemarin, maaf!" ujar Ciel.
"Ah, begitu rupanya. Aku kira aku meninggalkannya di kedai.. Syukurlah bisa kembali!" balas Grizzy sedikit terdengar dingin.
"Baiklah, hanya itu saja.. Aku akan pergi karena sepertinya Leon menungguku! Bye.." ujar Ciel.
"Okay, Bye--
Grizzy menghentikan kata-katanya saat menyadari Ciel datang dengan menggunakan pakaian basketnya. Seketika dia teringat dengan pesan yang di sampaikan oleh Kangsoo pagi tadi.
Tanpa berlama-lama lagi, Grizzy meraih komiknya dan langsung pergi menuju lapangan basket indoor.
Baru memasuki ruangannya saja sudah terasa sesak, sehingga Grizzy berfikir mungkin tidak ada bangku kosong saat ini. Namun, ketika Grizzy mencoba berbalik, seseorang menghentikannya.
"Nona Gevda?"
Grizzy membalikkan tubuhnya dan melihat siapa yang memanggilnya menggunakan nama itu.
"Master?" gumamnya.
__ADS_1
Yang di sebut 'Master' oleh Grizzy adalah Brandon Fez yang mana beliau adalah pelatih basket pribadi Grizzy dan Daniel. Namun, mereka berdua tidak menyangka kalau akan bertemu di negara selain Italia.
"Kau datang untuk menikmati pertandingan? Sepertinya tidak ada bangku kosong.. Bagaimana kalau duduk bersamaku disana, kita bisa melihatnya dengan jarak dekat.." ujar Brandon.
"Ide bagus, namun.. Tolong jangan memanggilku seperti itu, akan terdengar mengerikan di telinga yang paham.." balas Grizzy.
"Baik-baik.."
Grizzy mengikuti mantan Masternya dari belakang, seketika tatapan matanya bertemu dengan si pengirim pesan.
Cloe Dieter Fez, putra kedua dari sang master yang pernah melakukan one-on-one dengannya, tidak di sangka mereka akan bertemu lagi setelah lima tahun silam.
Tidak hanya itu, kecantikan Grizzy juga menyita perhatian dari rekan pemain Cloe, bahkan sampai ke penonton yang menyadari keberadaan Grizzy di antara para pemain basket populer di kampus mereka.
"È molto tempo che non ci si vede!"
(Lama tidak bertemu!), sapa Cloe.
"Jangan berbicara seolah-olah kita kenal!" balas Grizzy.
"Kata-kata mu masih sama tajamnya, namun aku jadi semakin yakin kalau kau adalah teman masa kecil ku!" ujar Cloe.
"Aku tidak mengenalmu, apalagi menganggap mu sebagai teman!" balas Grizzy.
"Jahatnya, aku bisa menangis lho!" ucap Cloe memelas.
"Berisik! Sekarang, tunjukkan padaku kalau kau sudah berubah! Aku akan mematahkan dua ratus susunan tulang mu jika sampai kau kalah!" ujar Grizzy.
Meski tidak terdengar serius, namun perkataannya jelas membuat siapapun yang mendengarnya menjadi takut. Kata-kata itu seolah menjadi motivasi tersendiri untuk Cloe.
"Bagaimana jika aku menang?" tanya Cloe.
"Apa kau ada permintaan?" tanya Grizzy.
"Jadilah kekasihku.." jawab Cloe cepat.
"Aku akan mewujudkannya jika kau bisa mengalahkan ku juga.." ujar Grizzy.
"Aku akan membuatmu berubah pikiran setelah pertandingannya selesai!" balas Cloe percaya diri.
Tak lama setelah itu, tim lawan masuk ke area lapangan, namun Grizzy tidak pernah menduga kalau lawannya adalah tim yang di pimpin oleh Ciel.
Seolah situasi seperti masa lalu terjadi lagi saat ini. Grizzy tercengang hingga tubuhnya tak berkutik sedikit pun.
'Ini.. Seperti saat itu, saat Taehyung dan Na Yeon bertanding.. Mengapa semua yang terjadi belakangan ini terlihat begitu familiar di mataku? Apa ini, De javu?'
Grizzy tersadar dari lamunannya setelah mendengar bunyi peluit, dia memperhatikan lawan dari Cloe, yang ternyata Leon juga termasuk ke dalamnya.
Grizzy tidak mempertimbangkan keputusannya untuk mengabulkan permintaan Cloe, karena menurutnya memiliki pacar itu lebih baik daripada harus sendirian terus menerus.
'Cloe lumayan, dia tinggi dan memiliki wajah yang tampan, jika di perhatikan.. Gadis-gadis yang datang juga sepertinya mengagumi nya.. Hanya saja, aku masih belum tahu apa niat sebenarnya.. Selama aku mencari tahu, aku akan membuatnya lengah dan menahan diriku juga agar tidak jatuh ke dalam perangkapnya..'
Grizzy mengamati cara bermain kedua tim itu, perbedaan kualitas bermain yang beda jauh bahkan bisa di tangkap oleh Grizzy.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Brandon.
"Aku baru pindah kesini selama beberapa bulan, namun tidak banyak menghabiskan waktu untuk menikmati hal-hal seperti ini, namun.. Pertandingan ini nampak cukup membosankan.. Terlihat jelas tim Cloe menghajar habis-habisan tim Ciel.. Aku seolah melihat yang kuat menindas yang lemah.." jawab Grizzy.
"Kau mengenal Ciel?" tanya Brandon.
"Baru kemarin, hanya mengenal dan tidak dekat!" ujar Grizzy.
"Gadis cantik seperti mu tidak heran jika populer.." ucap Brandon.
"Tidak, Master. Koreksi kembali kata-kata mu.. Aku tidak populer, bahkan lebih cocok di sebut terbuang.. Tidak ada yang menganggap ku istimewa disini.. Setidaknya itu lebih baik untuk menjaga identitasku.." ujar Grizzy.
Mendengar hal itu, Brandon tentu saja terkejut. Gadis cantik dan tajir seperti Grizelle Edard Viviana D'Angelo tidak populer benar-benar mustahil.
Namun, jika diingat-ingat mengenai masa lalunya, memang sepertinya akan lebih baik jika tidak ada yang tahu.
"Aku ingin lebih baik dari hari kemarin, jika berkenan, mohon Master membantuku melindungi masa laluku agar tidak bocor.." ujar Grizzy.
Brandon terdiam sejenak, lalu mulai tersenyum.
__ADS_1
"Aku lega mendengarnya, aku tahu kau tidak akan selalu berada di jalan yang salah.. Aku pasti akan membantumu, maka berjuanglah.. Kau pasti akan lebih baik lagi!" balas Brandon.
Keduanya nampak akrab seperti terakhir kali di pertemukan. Karena asyik berbincang, tanpa sadar Grizzy melewatkan babak pertama yang di menangkan oleh tim Cloe.