
Azzara Nissa Muzzaki
Hari ini statusku berubah menjadi seorang istri. Hari ini aku datang dalam sebuah keluarga. Aku akan mulai menggoreskan pena dalam lembar kehidupan baru ku. Mencoba merangkai setiap peristiwa walau tak pernah ku tahu akhirnya akan menjadi seperti apa.
Aku tahu, langkah yang akan kutempuh tak akan selalu mudah. Jalan yang kulalui tak akan selalu mulus. Tapi aku berharap ridho orangtua dan ridho Allah akan selalu mengiringi dalam kehidupanku dengan seseorang yang sekarang berstatus suamiku, imamku.
Meski dalam ikatan suci ini, aku dan suamiku ah rasanya masih terlalu canggung untuk menyebutnya suami karena yang ku tahu dalam ikatan suci ini kami masih sama sama dalam proses mencoba menerima takdir belum berdasarkan rasa yang biasa orang lebih mengenalnya dengan sebutan cinta. Karena kalimat sakral sudah berhasil diucapkan oleh dirinya tak salahkan jika aku berharap suatu saat rasa itu, perasaan itu, cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya.
Biarkan waktu yang akan menjawab.
Biarkan waktu yang akan membuktikan.
Arkhan Rafka Khairy
Hari ini kalimat sakral telah berhasil aku ucapkan. Buku berwarna hijau dan coklat berlambang garuda yang telah kami tanda tangani berhasil menjadi saksi bisu dimana kami sudah terikat.
Diusiaku yang genap 25 tahun ini tanggung jawabku kini tidak hanya sebatas diriku sendiri. Kewajibanku sekarang bukan hanya sekedar membahagian kedua orangtua ku. Sekarang ada seseorang yang aku minta dari keluarganya yang kini menjadi tanggung jawabku. Walau sebenarnya bukan sepenuhnya aku yang meminta karena sejak pertemuan hingga sekarang kami terikat adalah hasil perjodohan.
Selalu coba kuyakinkan dalam hati bahwa ini semua tidaklah buruk. Aku yakin pilihan orangtua adalah baik. Walau sebetulnya hatiku masih bimbang, egoku masih tinggi untuk bisa sepenuhnya menerima. Karena sejujurnya ada yang aku semogakan dalam do'a setiap shalatku. Namun yang ku ingin mungkin bukan yang terbaik dan yang ku mau mungkin bukan yang aku butuhkan.
Biarkan waktu yang menjawab mampukan aku benar benar menerima.
Biarkan waktu yang menjawab bisakah aku benar benar menjadi laki laki yang bertanggung jawab.
***
Di sepertiga malam disaat kebanyakan kawan seusianya memilih tidur lelap dibawah selimut. Gadis berusia 21 tahun tersebut sedang menengadah diatas sajadah mengadukan segala keluh kesah dan kebimbangan dihatinya memohon diberikan petunjuk pada Rabb-Nya agar ia tak salah melangkah dan tak salah mengambil keputusan untuk kejadian beberapa waktu lalu yang kelat menentukan arah hidupnya.
Berbisik pada bumi berharap didengar langit, ingatan Zara kembali pada waktu itu.
Flashback on
Matahari akan segera kembali ke peraduannya langit biru berubah menjadi jingga saat siang berubah menjadi senja, Zara baru kembali ke rumah setelah seharian menyelesaikan kewajibannya sebagai seorang mahasiswa.
Baru sampai di depan rumah Zara sudah disambut oleh suara ramai gelak tawa yang berasal dari dalam rumahnya. Tak ambil pusing, Zara langsung mengucapkan salam dan memasuki rumah. Tampak sambutan hangat dari beberapa orang yang ada di ruang tamu selain orangtuanya. Selesai menyapa dan menyalami orangtua dan tamunya Zara berpamitan untuk ke kamar.
Malam harinya selepas shalat isya keluarga kecil pak Akbar yang terdiri dari pak Akbar, bu Rifa dan 3 orang anaknya sedang makan malam bersama. Seperti biasa selesai makan malam mereka sempatkan untuk berbincang bincang bersama bagi mereka inilah waktu yang berkualitas setelah seharian sibuk dengan kegiatannya masing masing malam harinya keluarga mereka selalu menyisihkan waktu paling sedikit 30 menit untuk kualiti time. Seperti malam ini selesai makan Ayah membuka pembicaraan.
"Abang gimana hari ini di kantor kerjaanya?" tanya Ayah pada Ahkam yang tak lain adalah abang Zara.
"Hm Alhamdulillah yah lancar Abang juga baru aja tanda tangan kerjasama sama Arkan." jawab Ahkam.
"Alhamdulillah kalau begitu."
"Iya yah."
"Abang usia sekarang berapa?" tanya Ayah tiba tiba.
"Usia Abang 24 ada apa? Ayah mau Abang nikah sabar ya Abang belum siap." kata Ahkam menjawab dengan santai. Mendengar jawaban Ahkam, Ayah dan bunda hanya geleng geleng kepala.
"Kalau kakak Zara berapa?" Tanya Ayah pada Zara.
"Hm 21" kata Zara.
"Bunda waktu seusia Zara udah punya Abang Ahkam loh nak."
"Tuh Kak denger kata bunda. Mangkanya bergaulnya jangan sama buku terus haha." kata Abizar meledek kakaknya.
"Gak akan kakak bantu ya kalau ada tugas." kata Zara pada Abizar.
"Biarin masih ada Abang wlee." kata Abizar sambil meledek Zara.
"Adeeekkk." kata Zara kesal.
"Udah udah kalian ini." kata bunda melerai.
"Kak, Untuk ukuran usia wanita kakak udah cocok loh buat menikah." kata Ayah tiba tiba.
"Ayah kok tiba tiba bilang begitu?" tanya Zara sambil menatap Ayahnya.
"Bolehkan? Oh iya Zara udah punya pilihan sendiri belum?" tanya Ayah lembut. Zara hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Kakak tadi sore lihat ada tamu yang datang kerumah kan?" tanya bunda. Lagi lagi Zara hanya menjawab dengan gerakan kepalanya yang mengangguk.
"Mereka itu temen ah mungkin bisa dibilang sahabat Ayah. Namanya Pak Zainal sama Ibu Rani." kata Ayah.
"Terus hubungannya sama Zara?" tanya Zara.
"Jadi gini. Dulu waktu Ibu mengandung Zara, Kita itu sempat sama sama berjanji kelak kalau anak Ayah dan Bunda perempuan maka akan menjodohkannya dengan anak pertama mereka."
Uhukk uhukk... Zara yang sedang minum menjadi tersedak, hidungnya menjadi memerah dan perih pasti yang Zara rasakan di hidungnya itu. Ahkam dan Abizar pun sama sama kagetnya mendengar penuturan Ayah.
"Ayah..." kata Zara merengek dengan mata yang sudah berkaca kaca. Ahkam yang ada disampingnya seakan mengerti keterkejutan adiknya ia mengelus punggung Zara dengan lembut.
__ADS_1
"Boleh ayah lanjutkan dulu?" kata Ayah. Lagi Zara hanya menjawab dengan anggukan yang sangat lemah.
"Jadi begini, Tadi mereka kesini itu berniat untuk merealisasikan perjanjian kami dahulu, berhubung sekarang usia putra mereka sudah 25 tahun dan usia putri Ayah ini juga kan sudah 21 ayah rasa sudah siap untuk menikah." kata Ayah menjelaskan.
"Ayah Zara masih kuliah. Usia Zara juga belum telat telat banget buat menikah apa harus sampai di jodohkan begini. Zara juga belum tau sama siapa Zara dijodohkan Zara gak kenalkan siapa dia seperti apa dia." kata Zara dengan suara yang lembut tapi sedikit bergetar Zara menahan tangisnya.
"Kakak, Ayah dan bunda gak akan maksa kakak buat mengiyakan. Tapi seenggaknya kakak jangan langsung menolak Kakak bisa pikirkan dulu." kata bunda menenangkan.
Zara hanya diam. Zara tak mau terbawa emosi untuk melawan kedua orang tuanya.
"Nak rencananya keluarga mereka akan datang lagi akhir minggu ini. Mereka akan datang untuk menanyakan jawabannya langsung pada Zara. Nak, keputusan ada ditangan Zara Ayah gak akan maksa tapi ayah cuman ingatkan apapun nanti keputusan Zara harus punya dasar alasan yang kuat jangan mengikuti emosi."
"Oh iya kalau Zara belum tau Ayah kenalkan sekilas ya. Nama anak dari pak Zainal dan bu Rani itu Arkan, usianya 25 tahun. Zara masih punya waktu sampai akhir pekan nanti."
"Baiklah nanti Zara pikirkan. Ada lagi yang mau disampaikan? Kalau cukup Zara permisi ke kamar duluan ya. Assalamu'alaikum." kata Zara langsung berlari ke lantai 2 menuju kamarnya.
Flashback off
Mengingat kejadian itu membuat Zara tak kuasa menahan air matanya. Tak terasa malam nanti keluarga mereka akan datang. Selama beberapa hari ini Zara terus terusan berdo'a memohon yang terbaik untuk dirinya agar tak sampai salah mengambil keputusan. Tapi satu yang masih menjadi pertanyaan Zara, Apa lelaki yang bernama Arkan itu ikhlas menerima perjodohan ini?
Lantunan suara penanda waktu subuh mengembalikan Zara dari lamunannya.
Tok tok suara pintu kamar Zara diketuk. Sudah pasti itu bundanya untuk mengajak Zara solat subuh berjamaah berdua karena Ayah, Ahkam dan Abizar pergi shalat berjamaah di mesjid.
Selesai shalat subuh berjamaah Zara mencium tangan bundanya.
"Kak.." Panggil bunda pada Zara.
"Iya bun."
"Kakak marah sama Ayah dan Bunda?"
"Jujur Zara sempet kecewa karena hal ini menyangkut Zara dan kehidupan Zara tapi Zara sama sekali gak tau apa apa tapi Zari dituntut untuk memberikan keputusan. Rasanya sangat sulit bun, Zara juga gak tau apa dia menerima ini semua? Apa dia ikhlas? Tapi untungnya Zara selalu ingat kata Ayah bunda kalau sesulit apapun kita masih punya Allah yang akan bantu kita. Selemah apapun Zara punya Allah yang akan selalu menguatkan Zara."
"Sayang.." bunda mengelus kepala Zara lalu membawa Zara ke pelukannya.
"Kak apa kakak udah punya jawaban buat disampaikan sama keluarga mereka malam ini?"
"Hm kalau Zara masih ragu apa Zara boleh minta waktu lagi?"
"Nanti Zara tanyakan baik baik sama keluarga mereka ya." kata bunda.
"Kak, bunda bukan mau pengaruhi kakak. Tapi selama kita kenal dengan keluarga mereka, mereka memang keluarga yang baik jiwa sosialnya tinggi Ayah sama pak Zainal itu dulu saling bahu membahu dan support untuk usaha masing masing hingga sekarang Ayah dan pak Zainal bisa sama sama dititik ini. Yang bunda lihat dari luar sih shalat 5 waktu selalu dijalankan. Bunda tau kakak pasti punya kriteria sendiri kan? Tapi kak kalau kakak selalu mencari yang sempurna tanpa celah kakak cari kemana juga gak akan dapat percaya deh sama bunda. Karena manusia pasti punya kelebihan dan kekurangannya sendiri sendiri." kata bunda.
"Bun, maafin Zara yaa. Zara sempet berpikir macam macam tentang Ayah dan Bunda Zara juga sempet kecewa sama Ayah Bunda. Maafin Zara."
"Iya nak. Yaudah ah kok jadi haru begini. Yuk calon pengantin bantuin bunda buat sarapan yaa."
"Bunda ih Zara kan belum jawab apa apa main dibilang calon pengantin aja." kata Zara merengek sambil memanyunkan bibirnya.
"Haha udah ah ayo. Nanti keburu pulang mereka."
Dentingan sendok dan garpu seolah menjadi backsound disuasana pagi ruang makan keluarga pak Akbar. Mereka tak terbiasa berbicara saat makan, biarkan mulut mereka fokus menikmati rezeki yang Allah berikan dipagi ini yang berupa makanan. Alhamdulillah kata itu terucap setelah mereka selesai makan berharap apa yang masuk kedalam tubuh mereka dapat menjadi berkah dan memberikan energi yang positif.
"Kak, gimana? Kakak udah punya jawaban yang pasti?"
Zara tampak menarik nafas dalam lalu membuangnya.
"Waduh tarik nafas dulu berat banget ya kak?" tanya Abidzar.
"Adeek.. Jangan digodain terus kakaknya." tegur bunda. Zara yang merasa dibela langsung meledek Abizar dengan menjulurkan lidahnya pada Abizar.
"Dih dih. Liat bang modelan begini udah mau ada yang ngelamar. Hahaha." kata Abizar pada Ahkam.
"Hmm bener gak nyangka abang juga bocah begini masa mau dilamar ckckck." kata Ahkam ikut ikut menggoda Zara.
"Ihh bete, lagian siapa juga yang minta cepet cepet dilamar bukan Zara yang minta." kata Zara sambil pergi meninggalkan meja makan.
"Lah.." kata Ahkam dan Abizar saling menatap dan merasa heran dengan sikap Zara karena sebenarnya saling menggoda dan menjahili sudah biasa bagi 3 bersaudara itu.
"Abang , Adek. Tanggungjawab yaa." kata Ayah.
Sejak selesai sarapan Ahkam dan Abizar sama sama berusaha membujuk Zara yang sedang merajuk. Tak mudah memang membujuk Zara, Zara itu bisa menjadi gadis yang manja saat bersama abang dan adiknya karena mungkin karena ia perempuan satu satunya. Tapi juga disuatu kondisi Zara bisa menjadi gadis yang dewasa.
Hampir 1 jam membujuk Zara akhirnya mau juga Zara berhenti merajuk dengan iming iming pergi ke toko buku bebas membeli buku yang Zara mau.
***
Sementara itu di rumah yang berbeda tepatnya di rumah kediaman keluarga pak Zainal. Sepulang shalat subuh berjamaah di mesjid yang tak jauh dari rumah. Arkan langsung masuk ke kamarnya. Semenjak kurang lebih seminggu lalu sejak orangtuanya memberitahu tentang masalah perjodohan dirinya dengan anak dari sahabat papanya Arkan menjadi sedikit berubah ia menjadi dingin. Arkan sempat kecewa bagaimana pun ia merasa dirinya sudah dewasa berhak untuk bisa menentukan sendiri jalan hidupnya berhak memilih.
Tapi disatu sisi sebagai anak ia juga ingin membahagiakan orangtuanya. Arkan melihat jelas orangtuanya sangat berharap dengan perjodohan ini. Ingatannya kembali pada beberapa waktu lalu saat mata mamanya sangat berbinar penuh bahagia saat mendengar dirinya menyatakan iya menerima perjodohan ini.
Flashback on.
__ADS_1
Ketika itu Arkan sedang menikmati waktu liburnya dirumah, selesai berolahraga Arkan masuk kedalam rumah untuk membersihkan badannya yang lengket penuh peluh.
"Bang baru selesai olahraga?" tanya papa yang sedang duduk santai di ruang keluarga.
"Iya pa. Abang masuk dulu ya mau bersih bersih." pamit Arkan pada papanya.
"Bang.." panggil papa saat baru beberapa langkah Arkan meninggalkan ruang keluarga.
"Iya ada apa Pa?" tanya Arkan memutar kembali tubuhnya menghadap papanya.
"Nanti selesai bersih bersih kesini ya. Papa pengen ngobrol sama abang." kata Papa.
"Oh iya Pa nanti abang turun. Yaudah abang ke kamar dulu ya Pa." pamit Arkan lagi yang dijawab anggukan oleh papanya.
15 menit Arkan sudah selesai dengan kegiatannya. Ia langsung menghampiri Papa di ruang keluarga.
Di ruang keluarga rupanya sudah ada Mama, Adiknya dan keponakannya.
"Wah udah ngumpul. Ada apa ini?" tanya Arkan yang baru mendudukan dirinya disamping adiknya.
"Abang gimana kerjaan di kantor?" tanya Papa.
"Alhamdulillah sih pa lancar."
"Alhamdulillah kalau begitu. Begini bang maksud Papa mau ngobrol sama abang itu papa mau tanya sama abang, Apa abang udah punya calon yang mau abang kenalin ke papa dan keluarga setelah yang dulu?"
"Papa kenapa kok tiba tiba nanya begitu?"
"Bang ayolah yang lalu jadikan pelajaran aja. Jangan justru dijadikan penghalang buat langkah abang ke depannya."
"Pa bener deh maksud papa apa sih abang gak faham."
"Oke papa to the point, Setelah kejadian dulu ketika abang minta papa buat melamar Almira tapi tiba tiba dia pergi memutuskan semuanya secara sepihak bahkan sebelum abang datang buat melamarnya. Sejak saat itu abang gak pernah lagi minta papa buat melamar anak gadis orang kan? Apa abang belum bisa move on dari Almira? Papa jadi inget dulu Papa pernah berjanji sama temen papa ah mungkin bisa dibilang sahabat papa. Saat itu papa berjanji untuk menjodohkan abang dengan anak mereka tapi ternyata anak pertama mereka laki laki gak mungkin dong papa jodohin. Nah tapi beberapa tahun kemudian keluarga mereka dikaruniakan anak lagi dan Alhamdulillah anaknya perempuan. Disitulah Papa dan mereka setuju untuk menjidohkan kalian."
"Jadi inti dari obrolan ini papa cuma mau bilang sama Abang kalau abang itu udah papa jodohin gitu?" tanya Arkan.
"Enggak pa, Abang gak mau. Abang udah cukup dewasa buat bisa menentukan sendiri memilih yang terbaik untuk diri abang sendiri." kata Arkan lagi.
"Bang papa tau. Tapi mana buktinya sampe sekarang abang masih belum lepaskan dari bayang bayang masalalu abang. Bang papa juga gak semata mata menjodohkan abang asal abang menikah, enggak bukan begitu. Tapi lihat semenjak abang ditinggal begitu aja sama seseorang dimasa lalu abang abang jadi sangat tertutupkan. Apalagi sama wanita."
"Ya tapi bukan berarti papa bisa seenaknya gitu abang punya hak buat menentukan sendiri kehidupan abang." jelas Arkan tegas.
"Kalau papa seenaknya memaksakan papa gak akan ajak abang bicara begini. Mungkin papa akan langsung buat pesta pernikahan."
"Tapi ini juga sama aja. Papa buat keputusan tentang hidup abang tapi papa sama sekali gak minta pendapat abang. Udah pa abang gak mau abang menolak. Kalau memang papa gak seenaknya papa harusnya mengerti dan gak akan maksa abang."
"Bang, Mama papa bukan maksa. Tapi gak ada salahnya kan kalau abang coba pikir pikir dulu. Abang berdo'a deh minta petunjuk sama Allah gak ada yang tau kan siapa tau emang jalan ini yang terbaik buat abang." kata Mama penuh harap.
"Kalau begini kesannya mama papa itu maksain abang buat menerima." kata Arkan.
"Bang, kalau mama papa mau maksa mungkin abang udah dinikahkan sejak beberapa waktu lalu. Tapi kenyataannta enggak kan? Malah mama papa ikutin maunya abang waktu abang bilang mau lamar anak orang." kata Mama.
"Sejak Abang kecil papa mama kan gak pernah nuntut apa apa sama abang sejak dulu papa selalu nurutin maunya abang mulai dari abang mau sekolah kemana aja, jurusan apa papa gak maksain abang semua ditangan abang. Betul kata mama bang, coba abang pikir pikir dulu abang berdo'a sehingga nanti keputusan apapun yang abang ambil abang melibatkan Allah di dalamnya." kata Ayah.
"Fine. Abang pikir pikir dulu. Tapi abang mohon apapun nanti keputusan Abang Mama Papa harus menerima. Abang permisi Assalamu'alaikum." kata Arkan sambil berlalu menuju kamarnya.
Tiga hari sudah Arkan berada dalam masa bimbangnya. Satu keputusan sudah Arkan ambil keputusan besar yang menentukan hidupnya kedepan. Pertimbangannya ia tak sampai hati menolak ketika mengingat bagaimana usaha mamanya untuk membujuknya juga binar mata penuh harapan dari mamanya ketika membujuk dirinya dan juga tak Arkan pahami apa alasannya tapi semenjak beberapa hari lalu Arkan selalu menyertakan nama dia dalam do'anya hatinya seperti meyakini untuk menerima. Entahlah mungkin memang ini jalannya untuk Arkan bisa membahagiakan orangtuanya. Arkan juga yakin orangtuanya pasti takan menjerumuskannya.
"Alhamdulillah Abang serius kan? Abang gak lagi becandain mama kan?" kata Mama sangat antusias.
"Enggak ma Insya Allah." jawab Arkan.
"Alhamdulillah makasih ya nak." kata mama lagi yang dibalas senyuman oleh Arkan.
"Yaudah kalau begitu biar nanti sore papa sama mama ke rumah keluarga pak Akbar untuk menyampaikan obrolan ini. Kemudian nanti baru deh kita sepakati untuk lamarannya." kata Papa memutuskan.
Sorenya Papa dan mama Arkan pergi ke kediaman keluarga Akbar. Perbincangan yang sangat menyenangkan bagi kedua keluarga itu hingga gelak tawa pun terdengar sangat bahagia.
Ucapan salam dari gadis yang sampai di depan pintu pun menjadi tak terdengar.
Telah ditentukan akhir pekan ini akan ada acara lamaran bagi Arkan dan Zara. Dua insan yang belum pernah bertatap muka, dua insan yang belum saling mengenal namun tampaknya belum apa apa sudah memberikan kebahagiaan bagi kedua keluarga.
Hari demi hari berlalu, Arkan melihat mamanya selalu tampak sumringah akhir akhir ini semangat juga menyiapkan ini dan itu untuk acara lamaran Arkan. Walaupun sejujurnya Arkan belum sepenuhnya menerima tapi semoga dengan berjalannya waktu keragu raguan itu bisa semakin terkikis. Karena bagi Arkan kebahagian orangtua itu syarat mutlak untuk keberkahan hidupnya terutama Mamanya yang Arkan yakini Mamanya adalah surganya.
"Mama bahagia sekali ya. Semoga keragu raguan yang masih ada di hati ini gak akan menyakiti oranglain nantinya." kata Arkan berdialog dalam hatinya.
Hari ini sudah sampai pada hari yang sudah disepakati oleh kedua keluarga. Malam ini keluarga Arkan akan pergi ke kediaman keluarga pak Akbar untuk acara lamaran secara resmi.
Macam macam spekulasi muncul dibenak Arkan. Apakah gadis itu akan menerima lamarannya? Atau justru menolak? Jika menolak Arkan sih terima terima saja tapi ia tak tega memupuskan harapan mamanya. Ah sudahlah apapun nantinya rasanya tak baik Arkan menerka nerka biar Allah yang tau apapun nanti yang terjadi.
***
Sampai Jumpa...
__ADS_1