
Happy Reading...
Zara sekarang sedang menyendiri di taman samping rumah keluarga Arkan. Pikiran Zara melayang mengingat setiap perubahan yang terjadi pada Arkan. Zara mengingat kembali saat terakhir mereka berada di RS.
Flashback on..
Saat itu Zara seorang diri sedang menjaga Arkan.
"Mas Zara keluar dulu ya sebentar." kata zara.
"Mau kemana?" tanya Arkan.
"Zara mau beli buah sebentar takutnya nanti ada yang jenguk mas, kan gak enak kalau gak ada suguhannya." kata Zara.
"Tapi sebentar saja."
"Enggak usah berperan seolah jadi suami posesif deh. Zara tahu mas belum bisa nerima Zara. Yaudah Zara keluar ya." kata Zara sambil mencium tangan Arkan.
Zara keluar ruangan lebih lama karena tadi sempat berbincang dulu dengan suster mengenai kondisi Arkan. Saat sampai di depan pintu, sayup sayup Zara mendengar obrolan antara Arkan dan seorang lelaki dari dalam ruangan. Awalnya Zara ingin langsung masuk hanya saja Zara lebih tertarik mendengarkan obrolan mereka diam diam. Alhasil Zara hanya mematung di depan pintu.
"Kan, aku udah ketemu sama Almira." kata Dirga yang merupakan sahabat baik Arkan juga sekretaris Arkan di kantor.
"Hah dimana?" tanya Arkan kaget.
"Gak sengaja kemarin pas abis mewakili kau meeting di Resto abc." jawab Dirga.
"Terus kalian ngobrol?"
"Enggaklah cuman gak sengaja ketemu." Arkan mengangguk anggukan kepala. Sesaat terjadi keheningan antara Arkan dan Dirga sedangkan Zara masih setia berdiri di depan pintu menunggu bagaimana kelanjutan obrolan kedua sahabat itu.
"Kau bagaimana dengan Zara? Apa kau sudah mulai mencintai Zara? " tanya Dirga.
"Hm Zara baik, dia sangat baik malah. Mangkanya aku jadi gak enak kalau gak bener bener usaha buat nerima dia." jawab Arkan.
"Hah maksud kau, kau masih belum yakin penuh sama Zara? Terus sikap sikap yang kau tunjukan pada Zara akhir akhir ini itu tandanya apa? Aku pikir kamu udah mulai jatuh cinta sama Zara."
"Itu semua aku lakukan karena tanggungjawabku sebagai suami. Sebagai suami aku kan harus memperlakukan istriku sebaik baiknya. Nah itu yang sedang aku terapkan."
"Jadi semuanya hanya karena beban tanggung jawab?" tanya Dirga menatap Arkan serius.
"Ya mungkin bisa dibilang begitu. Melupakan masalalu itu sulit ga. Aku mencoba tapi tak ada yang menjamin usahaku akan berhasilkan."
"Wah kurang ajar kau Arkan. Aku ingatkan ya kalau memang kamu belum mencintai Zara. Gak perlu bersikap manis berlebihan. Zara itu perempuan, yang bermain dalam dirinya adalah perasaan. Kalau sampai Zara mengira semua perlakuan kami itu tulus dan Zara benar benar jatuh cinta pada kau. Tapi kemudian dia tahu kalau sikap kau selama ini adalah kebohongan, apa dia gak akan hancur? Tolong Arkan bijaklah dalam bersikap." kata Dirga sangat serius. Sekarang keduanya sama sama diam dan Zara yang masih dibalik pintu ia semakin tak kuasa menahan air matanya. Ternyata yang selama ini Zara takutkan yang selama ini menjadi dasar keragu-raguan Zara pada Arkan memang benar benar terjadi. Arkan tak benar benar berusaha. Arkan hanya menganggap Zara sebagai beban tanggungjawab. Perlakuan baik Arkan pada Zara selama ini pun hanya atas dasar tidak enak hati. Cukup sudah Zara tak mampu lagi berada disitu. Zara pergi menjauhi kamar perawatan Arkan. Sementara didalam sana obrolan kedua sahabat tersebut masih berlangsung.
Flashback off...
"Kamu sedang apa?" pertanyaan Arkan menyadarkan Zara dari lamunannya. Entah sejak kapan Arkan sudah berada di dekat Zara.
"Enggak." jawab Zara tanpa melihat Arkan. Tapi Arkan sempat melihat sekilas jika Zara mengusap kedua matanya.
"Kamu menangis?" tanya Arkan. Zara hanya menggeleng.
"Saya menyakiti kamu?" tanya Arkan lagi. Zara hanya menggeleng. Karena dalam pikiran Zara, semua ini tidak akan menyakitkan jika Zara tidak berharap.
__ADS_1
"Bicara sama saya Zara kamu kenapa?" tanya Arkan lagi.
"Zara gak apa apa. Mas baru sembuh kenapa gak istirahat aja sih." kata Zara mencoba menetralkan keadaannya.
"Saya gak bisa istirahat tanpa kamu disamping saya. Saya sudah terbiasa dengan kehadiran kamu. Kamu harus bertanggung jawab dengan itu semua." kata Arkan penuh percaya diri. Zara hanya menampakan senyum yang dipaksakan.
'Sampai kapan mas akan terus berbohong untuk menutupi kebohongan yang lain mas?' tanya Zara dalam hatinya.
"Yaudah mas ke kamar duluan. Zara harus siapkan makan siang dan obat dulu buat mas." kata Zara. Sebetulnya Zara benar benar malas untuk berdekatan dengan Arkan. Tapi bagaimana lagi saat ini kondisi Arkan memang sedang membutuhkan Zara.
Arkan patuh pada Zara, ia kembali ke kamar sementara Zara pergi ke dapur mengambilkan makanan untuk Arkan.
Arkan benar benar memanfaatkan keadaan. Fisiknya sudah tak selemah sebelumnya tapi ia mengelak ketika Zara menyuruhnya untuk makan sendiri. Demi adanya nutrisi yang masuk ke tubuh Arkan, Zara mengalah untuk menyuapi Arkan. Karena Zara ingin Arkan cepat sembuh sehingga ia tidak perlu lagi berdekatan dengan Arkan atau mungkin pergi dari Arkan.
"Kamu kenapa diamkan saya?" tanya Arkan saat selesai makan. Karena ia merasa dari tadi Zara mendiamkannya.
"Mas lagi makan. Anak kecil juga tau kalau makan gak boleh sambil bicara." jawab Zara.
"Kan yang makan saya. Tapi kenapa yang diam kamu?" tanya Arkan.
"Ini Zara bicara." jawab Zara seenaknya.
"Ya karena saya yang memulai." kata Arkan.
"Saya tau kamu tidak sedang baik baik saja. Tolong jelaskan pada saya kamu kenapa? Saya bukan orang bodoh yang tak tau kalau kamu tadi menangis sendiri. Kamu dari tadi menghindari saya. Kamu dari tadi mendiamkan saya. Kamu kenapa? Saya buat kesalahan? Saya menyakiti kamu? Tolong jelaskan Zara jangan buat saya menduga duga." kata Arkan yang mulai terpancing emosi.
"Udah ya. Mas gak boleh banyak pikiran biar cepat sembuh." kata Zara sambil bangkit dari duduknya.
"Zara mau bereskan bekas makan mas." kata Zara sambil menunjukan piring yang ada ditangannya.
"Mending sekarang mas istirahat."
"Bukan saya sudah bilang kalau saya gak bisa istirahat tanpa kamu disamping saya." kata Arkan. Zara diam tapi sejujurnya hatinya sakit mendengar Arkan berkata begitu. Karena yang Zara tau Arkan tak sungguh sungguh. Zara tau itu hanya kebohongan yang sedang dirancang oleh Arkan.
"Yaudah iya. Mas tunggu Zara bereskan ini dulu." kata Zara menyerah dan memilih mengikuti alur yang dibuat Arkan, entahlah akan sampai kapan.
"Kamu keberatan?"
"Enggak." jawab Zara singkat.
"Oke saya tunggu." kata Arkan.
Zara pergi untuk membereskan bekas makan Arkan. Di dapur Zara sengaja mengulur ngulur waktu agar tak segera masuk ke kamar. Zara bahkan lebih memilih menghampiri Sabiya yang sedang asik bermain di ruang tengah. Zara asik bermain bersama Sabiya. Ia melupakan Arkan sejenak, ia melupakan beban pikirannya sejenak.
Arkan yang merasa terlalu lama menunggu Zara ia memilih untuk keluar kamar dan menyusul Zara. Saat di depan pintu kamar Arkan berpapasan dengan sang Mama dan mengobrol singkat.
"Ma, mama liat Zara?"
"Kenapa? Zara di ruang tengah lagi main sama Sabiya?"
"Main sama Sabiya?"
"Iya kamu kenapa sih? Lagian abang tuh ya mending istirahat deh sana ke kamar lagi baru sembuh juga."
__ADS_1
"Iya abang mau istirahat kalau ada Zara."
"Apa mama gak salah denger? Awalnya ditolak loh. Sekarang kok jadi nempel?" kata mama meledek Arkan.
"Iyalah udah terserah mama."
"Haha iya deh sana samperin istrinya bagus kalau nempel terus biar cepet punya cucu lagi mama." kata mama sambil menepuk bahu Arkan.
Arkan melangkahkan kakinya perlahan menuruni anak tangga. Tubuhnya memang masih sedikit lemas tapi masih kuat untuk sekedar berjalan.
"Kenapa kamu malah disini?" tanya Arkan saat sudah berasa diantara Zara dan Sabiya.
"Eh om Alkan dah tembuh? Mau main tama Biya?" tanya Sabiya.
"Om mau pinjem tante Zara nya ya." kata Arkan pada Sabiya.
"No. Tante Zala Biya puna."
"Tante Zara Om punya." kata Arkan
"Biya Om." kata Sabiya ngotot.
"Enggak tante Zara itu..."
"Mas udah deh malu masa ribut sama anak kecil."
"Heem om kan dah besal."
"Ya kamu. Sudah saya suruh temani saya istirahat malah disini sama Sabiya."
"Biya juga kan mau main tama tante Zala."
"Ya Zara kasian Sabiya main sendirian." kata Zara beralibi.
"Terus kamu gak kasian kalau saya tidur sendirian hmm?" tanya Arkan.
"Enggak lah ngapain udah dewasa ini." jawab zara seenaknya.
"Oh gitu. Yaudah biar saya tidur disini biar kamu bisa melakukan keduanya. Menemani saya dan menemani Sabiya." kaya Arkan sambil membaringakan tubuhnya di karpet dan meletakan kepalanya di paha Zara.
"Eh jangan disini. Iya udah iya cepet bangun istirahat di kamar." kata Zara.
Zara pun mengalah, ia memberikan pengertian pelan pelan pada Sabiya agar merelakan Zara bersama Arkan walau Akhirnya Sabiya menangis dan berlari ke kamarnya sendiri.
"Yah nangis anak kecil." kata Arkan.
"Mas lebih lebih kayak anak kecil." kata Zara sambil berjalan meninggalkan Arkan.
***
To be continued...
See you next part.. .
__ADS_1