Biarkan Waktu

Biarkan Waktu
Part 3


__ADS_3

Setelah bertemu dengan WO dan melalui perdebatan panjang antara para orangtua dan calon pengantin akhirnya disepakati jika pernikahan akan digelar dengan tema garden party dikawasan Pine Hill Cibodas di daerah Bandung sesuai dengan keinginan calon mempelai. Tapi tetap dengan syarat dari kedua belah pihak keluarga yaitu harus tetap ada acara adat sunda dan tentu pakaian yang dipakai saat akad harus pakaian adat.


Arkan dan Zara memang bisa dibilang belum menerima sepenuhnya terutama Arkan. Tapi keinginan Arkan sejak dulu masih tetap sama ia hanya ingin merasakan sekali pernikahan dalam seumur hidupnya. Mangkanya meskipun tampak dingin dan datar tapi saat sedang membahas pernikahan ia sangat confident seolah sudah tersusun rencana matang dalam otaknya. Lain halnya dengan Zara, ia lebih pasrah tak dipungkiri sebagai seorang wanita memang Zara sama seperti wanita yang lain memiliki konsep pernikahan idaman. Tapi Zara pikir untuk apalah toh juga jalannya menikah tak sesuai dengan apa yang selama ini ada dipikirannya. Toh konsep yang diajukan Arkan juga hampir sama dengan yang Zara inginkan yaitu bertema outdoor.


"Oke ini udah pasti yaa jangan ada perubahan lagi waktunya cuma 2 bulan kalau harus ada perubahan ini itu takutnya nanti jadi gak masimal." kata WO mengakhiri perbincangan mereka.


"Oke deal." jawab Arkan.


Setelah semua disepakati satu persatu dari mereka mulai meninggalkan tempat pertemuan. Tinggal tersisa Orangtua Arkan, Arkan dan Zara, orangtua Zara juga sudah pulang lebih dulu. Lalu Zara ia sengaja ditinggal karena katanya setelah ini mereka akan langsung melakukan pengukuran untuk pembuatan baju pengantin.


"Abang Papa gak nyangka, Papa kira abang gak akan seantusias ini tapi ternyata papa salah abang udah punya perencanaan yang baik tentang pernikahan." kata Papa Zain.


"Gak salahkan?" jawab Arkan datar.


"Enggak justru ini perkembangan yang baik." kata papa lagi.


"Mungkin kurang tepat dibilang perkembangan yang baik. Lebih tepatnya karena Arkan punya keinginan hanya menikah sekali seumur hidup. Seenggaknya saat Arkan tidak diberi kesempatan buat memilih pasangan yang Arkan pilih sendiri. Arkan bisa sedikit egois dengan menentukan sendiri pernikahan seperti apa yang Arkan mau. Adilkan?" kata Arkan dengan santai. Perkataan Arkan tanpa ia sadari membuat perbedaan diraut wajah kedua orangtuanya. Zara yang menyadari itu langsung menginjak kaki Arkan.


"Awww. Heyy." teriak Arkan sambil menatap Zara. Orangtua Arkan sedikit terkekeh dengan tingkah putranya.


Zara terpaksa harus berada dalam satu mobil dengan Arkan. Mereka sedang menuju ke butik seorang designer. Hening lagi lagi suasana seperti itu yang selalu terjadi saat mereka berdua. Padahal harapan kedua orangtua mereka menyuruh Arkan dan Zara untuk mempersiapkannya bersama adalah sebagai moment agar mereka setidaknya bisa saling berbicara dan saling mengenal.


"Pak boleh saya bertanya?" kata Zara memecah keheningan. Arkan hanya mengangguk.

__ADS_1


"Kenapa tadi bapak sampai hati menyampaikan alasan seperti itu sama om Zain?" tanya Zara.


"Salahnya dimana?" tanya balik Arkan.


"Bapak gak sadar tadi perubahan wajah kedua orangtua bapak setelah bapak menyampaikan kalimat kalimat itu?"


"Ah drama." kata Arkan pelan.


"Katanya alasan bapak menerima perjodohan ini karena orangtua dan tak tega mengecewakan mereka. Lalu tadi apa? Bapak mendebatnya begitu menyudutkan seolah orangtua bapak itu memaksakan kehendaknya. Zara udah bilang kalau memang bapak berubah pikiran Zara gak masalah." kata Zara.


Entah karena tekanan menuju pernikahan atau masalah hatinya yang belum bisa menerima, mendengar Zara berkata berani begitu menjadi menyulut emosi Arkan.


"Siapa kamu berani mengatai saya seperti itu. Tau apa kamu?" kata Arkan sinis. Zara cukup kaget dengan reaksi Arkan yang sarat dengan emosi, Zara diam mencoba tak terpengaruh.


"Zara begitu karena pernikahan ini harapan mereka jadi Zara pikir biar mereka sendiri mengatur sesuai keinginannya." jawab Zara dengan lebih tenang.


"Kamu itu Rasional dikit kalau berpikir. Polos atau bodoh sih? Perjodohan ini udah berjalan sesuai keinginan mereka atas perjanjian bodoh yang mereka lakukan. Terus kita terutama saya harus kembali rela masa depan saya diatur lagi hah? Saya punya kehidupan sendiri. Mereka juga harusnya mengerti dan gak terlalu egois untuk terus mau memenangkan semuanya. Terserah kalau kamu mau terus terusan dengan pikiran bodoh kamu itu. Tapi jangan paksa saya untuk mengikuti alur pikiran bodoh kamu itu." kata Arkan dengan suara yang lebih meninggi bahkan sekarang ini bisa dibilang membentak.


'Ya Allah apa ini lelaki dingin, miskin ekspresi dan emosian begini yang akan menjadi imam Zara.' gumam Zara dalam hati tapi seketika juga Zara langsung beristigfar sadar bahwa tak baik menilai seseorang hanya dari sepenggal kejadian. Tapi tak Zara pungkiri ada sedikit rasa sakit dan perasaan tak suka ketika Arkan membentaknya.


Sama halnya dengan Zara, Arkan juga beristigfar dalam hatinya mencoba mengendalikan emosinya. Ia juga tak sadar kenapa hingga bisa seperti itu.


Zara mengalihkan pandangannya ke arah jendela air matanya lolos begitu saja. Apa ini pertengkaran macam apa belum melangkah sama sekali Zara harus menerima lontaran kata kata penuh emosi. Sekilas Arkan bisa melihat Zara yang mengalihkan pandangannya ke arah jendela dan tampak tangannya menusap matanya.

__ADS_1


'Apa dia menangis? Sejahat itukah aku?' kata Arkan bermonolog dalam pikirannya.


"Sorry." kata Arkan dengan suara yang lebih lembut. Tak ada jawaban apapun dari Zara.


Diam Zara hanya bisa diam ingin rasanya saat ini juga Zara pergi dari sini menghilang dari hadapan lelaki ini. Perjalanan terasa sangat lama sekali.


"Kalian ini dari mana dulu sih lama banget." kata Mama Rani yang sudah sampai lebih dulu di butik.


"Maaf Ma macet dikit tadi terus ada sedikit insiden." jelas Arkan.


"Yaudah lah. Sok kesana kalian diukur dulu."


Selesai dengan pengukuran dan menentukan konsep pakaian yang akan dikenakan mereka kembali pulang kali ini Zara berhasil lolos dari suruhan calon mertuanya untuk pulang bersama Arkan. Karena Zara berdalih ada urusan lain padahal kenyataannya tidak ia hanya malas menambah dosa dengan lelaki dingin, miskin ekspresi dan emosian itu. Dan alasannya dipercaya oleh sang calon mertuanya. Setelah dipastikan calon mertuanya itu pergi, Zara berjalan keluar butik ia berdiri di parkiran untuk menunggu taksi online yang ia pesan. Jika ditanya kemana Arkan? Apa pedulinya? Memang siapa dia?


Tanpa Zara tau tak jauh dari posisinya Arkan terus mengawasi Zara hingga gadis itu benar benar menaiki mobil dan hilang dari hadapannya. Arkan memang belum sepenuhnya menerima namun entah kenapa saat malam itu saat dirinya meminang Zara ah ralat maksudnya saat dirinya diminta untuk meminang Zara ia merasa memiliki tanggungjawab lain sekarang. Apalagi saat itu ia melihat wajah kedua orantua sangat bahagia lagi lagi harus Arkan sampaikan ia takan pernah tega menghilangkan raut kebahagiaan kedua orangtua.


Mungkin dengan cara ini Allah izinkan Arkan untuk membahagiakan kedua orangtuanya. Walaupun bisa dibilang Arkan menggadaikan kebahagiannya.


Sebenarnya seperti apa sih definisi bahagia itu? Apakah bahagia itu ketika kita berhasil meraih semua yang kita inginkan? Atau ketika kita bisa berguna bagi sesama? Entahlah mungkin definisi bahagia setiap manusia akan berbeda. Tapi satu definisi tertinggi dari bahagia yaitu ketika kita bisa mensyukuri sekecil apapun nikmat yang Allah berikan untuk kita.


Berusahalah bahagia bukan karena hal besar yang membuat kita tertawa. Melainkan berbahagialah karena hal kecil yang membuat kita bersyukur.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2