
Satu bulan sudah usia pernikahan Zara dan Arkan. Tak banyak kemajuan mereka sama sama belum mau mengupgrade status mereka menjadi pasutri seutuhnya. Walau memang mereka sama sama tak melupakan kewajibannnya masing masing kecuali satu hal yang mereka sama sama belum siap melakukannya.
Beberapa minggu lalu tepatnya seminggu setelah pernikahan mereka ternyata kedua orangtua mereka kembali menggelar acara resepsi yang dikhususkan untuk rekan rekan dari kedua belah orangtua mereka. Untuk resepsinya yang kedua Arkan dan Zara sama sama tidak tau apa apa.
Beberapa minggu yang lalu juga Arkan sudah mulai bekerja. Sedangkan Zara biasanya ia mengisi hari hari di rumah keluarga Arkan hanya dengan bantu bantu ART atau memasak mencoba resep resep bersama Alisya.
Pukul 17.00 Arkan baru pulang dari kantor. Sejak dulu Arkan memang selalu mengusahakan untuk pulang sebelum maghrib.
"Besok kamu ikut saya." kata Arkan sesaat setelah mereka masuk kamar.
"Kemana?" tanya Zara.
"Acara nikahan rekan saya." kata Arkan.
"Zara gak kenal sama rekan rekan mas. Jadi mungkin mas bisa pergi dengan yang lain." kata Zara menolak halus. Pergi berdua keacara resmi bersama Arkan sepertinya bukan hal yang diinginkan Zara. Ia teringat beberapa waktu lalu saat dirinya diajak Arkan ke acara peresmian hotel milik rekan Arkan disana Zara harus merasa terabaikan karena Arkan sibuk berbincang dengan rekan rekannya sedangkan Zara ia hanya diam sangat membosankan bukan? Zara tidak menutup diri tapi rekan Arkan itu banyaknya lelaki dan Zara ia sangat menjaga diri dari lelaki yang bukan mahramnya.
"Itu perintah bukan penawaran." tegas Arkan.
"Tapi Zar... " kata Zara mencoba bernego tapi sebelum kalimatnya selesai Arkan sudah langsung memotongnya.
"Apa kamu lebih suka berdebat dengan saya?" kata Arkan dingin. Zara hanya menggeleng. Tanpa dosa Arkan melangkahkan kaki ke kamar mandi. 15 menit berada di kamar mandi Arkan keluar hanya menggunakan handuk yang melingkar dipinggangnya. Zara sudah tak ada di kamarnya. Bukannya segera berpakaian Arkan malah memilih duduk di sofa sambil memainkan handphone nya. Zara masuk ke kamar ia tak melihat lihat sekeliling ia langsung berjalan kearah meja di samping tempat tidur untuk mengambil sesuatu. Arkan yang melihat Zara masuk ke kamar ia langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri Zara. Saat Zara membalikan tubuhnya matanya langsung melihat Arkan yang hanya memakai handuk.
"Aaaaaaaa hmpttt" Spontan Zara langsung berteriak tapi mulutnya langsung ditutup oleh tangan Arkan. Zara melepaskan paksa tangan Arkan lalu membalikan tubuhnya membelakangi Arkan kemudian ia langsung beristigfar.
"Kenapa harus teriak? Kamar ini bukan ruangan kedap suara." kata Arkan dengan dinginnya.
"Kenapa mas belum pakai baju? Ini udah mau maghrib mas harus ke mesjid kan?" kata Zara balik bertanya sambil tetap membelakangi Arkan.
"Kamu belum menyiapkan pakaian saya." kata Arkan dingin.
"Hah? Sejak kapan? Bukannya mas sendiri yang melarang Zara? " kata Zara heran karena memang ia tak pernah melakukan itu sebelumnya. Pernah sekali tapi kemudian Arkan melarangnya dan sejak saat itu Zara tak melakukannya lagi.
"Benar ya sekarang kamu lebih suka berdebat dengan saya? Kamu istri saya cukup lakukan yang saya katakan karena disitulah letak keridhoan saya." kata Arkan. Zara masih diam ia tak menjawab atau melakukan apapun ia masih dengan posisi yang membelakangi Arkan.
"Aneh." kata Zara bergumam pelan tapi masih bisa didengar Arkan.
"Apa kamu akan terus diam begitu dan merutuki saya? Membiarkan saya kedinginan karena lama tidak berpakaian dan membiarkan saya terlambat pergi ke ke mesjid? " kata Arkan berbisik ditelinga Zara. Zara kaget ia tak tau kenapa Arkan jadi macam ini.
__ADS_1
"Oke mas diam jangan bergerak. Zara siapkan." Kata Zara. Ia berjalan menyamping ke arah lemari agar tubuhnya tetap membelakangi Arkan. Arkan hanya terkekeh geli dengan tingkah Zara. Padahal lebih dari itu juga sah sah saja bagi mereka. Zara membalikan tubuhnya menghadap Arkan tapi kali ini ia menutup matanya.
"Nih." kata Zara mengulurkan kedua tangannya yang berisi baju koko dan sarung. Merasa tangannya sudah kosong Zara ingin segera pergi dari situ. Tapi tangannya ditahan Arkan, Zara yang masih memejamkan matanya merasa ada sebuah benda yang menempel dikeningnya.
"Terimakasih." kata itu yang Zara dengar ketika benda tersebut lepas dari keningnya. Ada rasa menghangat dihatinya. Beritahu Zara apa tadi Arkan mencium keningnya? Jika ia beritahu Zara bagaimana ekspresi Arkan apa pria itu melakukannya dengan wajah datar atau? Ah tidak tidak Zara menggeleng gelengkan kepalanya.
"Apa kamu demam? Kenapa wajah kamu memerah?" kata Arkan.
"Ah tapi tidak demam." kata Arkan setelah menyentuh kening Zara dengan punggung tangannya. Tanpa menjawab Zara langsung membalikan badannya lalu dengan secepat mungkin ia meninggalkan kamarnya. Lagi lagi Arkan tersenyum melihat tingkah Zara entah mengapa tapi ada perasaan senang ketika melihat istrinya salah tingkah dan malu malu begitu.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Mama saat melihat Zara keluar kamar dengan buru buru dan dengan wajah yang memerah.
"Hah Za.. Zara gak apa apa kok Ma." kata Zara sambil berusaha tersenyum. Karena jujur saja jantungya saat ini masih memompa dengan cepat seperti selesai lari maraton.
"Mama denger tadi kamu teriak terus sekarang keluar sambil mukanya merah begini Arkan gak apa apa kan kamu kan?" tanya mama dengan senyuman yang entah apa artinya.
"Eh e.. e.. enggak kok ma." kata Zara gugup.
"Gak usah gugup sayang. Kalau iya juga gak masalah kok. Kalian udah sah ini malah mama bersyukur siapa tau mama bakal cepat punya cucu lagi." jawab mama santai sambil mengusap bahu Zara. Sementara Zara malah semakin gugup mendengar ucapan Mama.
"Yaudah mama ke kamar dulu ya. Tapi ingat satu ya pesanan mama jangan lama lama kasih mama cucu. Sabiya udah mulai besar sekarang udah susah kalau mau mama unyel unyel." kata mama sambil tersenyum lalu meninggalkan Zara. Belum selesai gugupnya karena kelakuan Arkan tadi Zara harus kembali dibuat menegang dengan permintaan mama mertuanya.
"Untuk?" kata Zara sambil membalikan badannya. Zara kaget sejak kapan Arkan berdiri dibelakang Zara dengan baju koko, sarung dan peci serta sajadah. Zara terpaku menurut Zara ketampanan Arkan bertambah 100% jika sedang seperti itu. Arkan melambaikan tangannya didepan wajah Zara yang berhasil membuat Zara mendapatkan kembali kesadarannya setelah membuang pikiran pikirannya tentang Arkan.
"Segitu tampannya ya saya? Sampai kamu terpaku sama saya?" kata Arkan sambil menahan senyum.
"Dih." kata Zara melirik Arkan malas sambil berjalan menjauhi Arkan.
"Dasar wanita udah ketahuan juga gak mau ngaku." kata Arkan.
"Apa tadi?" kata Zara membalikan tubuhnya menghadap Arkan.
"Apa?" Arkan balik bertanya dengan nada dinginnya.
"Saya ke mesjid." kata Arkan sambil mengulurkan tangannya untuk disalim Zara. Zara menerima uluran tangan Arkan dengan wajah kesal lalu menciumnya.
"Ish dasar manusia kulkas." kata Zara merutuki suaminya yang sudah berjalan menjauhinya.
__ADS_1
"Gak usah ngedumelin suami dosa." kata Arkan dengan suara yang sedikit kencang karena posisinya yang sudah cukup jauh. Entah kenapa Arkan menjadi ketagihan dengan segala kelakuan Zara.
"Dih kenapa sih salah makan kayaknya." kata Zara kembali ngedumel saat Arkan sudah benar benar hilang dari pandangannya.
Keesokan harinya sesuai dengan ajakan Arkan, tunggu sepertinya lebih cocok jika dikatakan paksaan. Ya sesuai dengan paksaan Arkan Zara sedang bersiap untuk menemani Arkan pergi ke acara nikahan rekannya.
"Nih kamu mendingan pake baju ini." kata Arkan memberikan gantungan baju pada Zara yang sudah berpakaian rapi dan siap berangkat.
"Zara udah rapih masa harus ganti lagi?" kata Zara.
"Saya tunggu 15 menit di bawah. Kamu harus turun dengan baju ini." kata Arkan sambil keluar Meninggalkan Zara yang masih kesal dengan kelakuan Arkan.
Sesuai perintah Arkan kurang lebih 15 menit Zara turun dari kamarnya mengenakan baju yang Arkan berikan.
"Masya Allah nak cantiknya mantu mama." kata mama yang sedang duduk di ruang keluarga bersama Arkan dan yang lain. Mendengar ucapan mamanya Arkan langsung menatap Zara. Sedangkan Zara menunduk malu malu.
"Kak, tau enggak kakak muda banget keliatannya. Macam anak SMA mau fromnight. Ati ati bang nanti abang dikiran pedofil. Haha." kata Alisya.
Arkan langsung menatap Alisya dengan tajam.
"Biasa aja dong haha. Jagain istrinya baik baik aku tau temen temen abang modelannya kayak gimana. Jangan sampe nanti pulang pulang istrinya udah diamanin pria lain gara gara suaminya gak jagain dengan baik." kata Alisya Asal. Ucapannya barusan berhasil dihadiahi lemparan bantal kursi dari Arkan.
"Sakit abang." kata Alisya.
"Mangkanya ngomong tu jangan asal."kata Arkan lalu bangkit dari duduknya.
"Yaudah ma. Arkan pergi dulu ya." kata Arkan berpamitan pada mama yang kemudian diikuti oleh Zara.
Mereka pergi ke tempat acara didalam mobil tak ada obrolan apapun keduanya diam. Zara memalingkan wajahnya menghadap jendela sedangkan Arkan ia fokus kedepan tapi sesekali melirik kearah Zara. Tak dipungkiri istrinya memang sangat cantik badannya yang mungil dan kulitnya yang putih dibalut gaun berwarna pastel menjadikan terlihat lebih muda. Benar kata Alisya ia harus menjaga istrinya, teman temannya masih banyak yang jomblo bahkan beberapa ada yang playboy karena merasa menjadi orang berduit. Ah Arkan jadi bingung bagaimana nanti ia menjaga istrinya dari pandangan para lelaki yang ada disana?
"Kamu tidak sengaja berdandan begini untuk menarik perhatian lelaki lain kan?" tanya Arkan dengan nada dingin dan pandangan lurus kedepan.
Pertanyaan Arkan berhasil membuat Zara menatap Arkan lekat lekat.
***
**To be continued...
__ADS_1
See you next part**...