
Mentari mulai merangkak ke peraduan menandakan sebentar lagi langit biru akan berubah menjadi jingga. Sering waktu berputar kini pernikahan Zara dan Arkan terhitung kurang dari 1 bulan lagi.
Situasi canggung dan atmosfir hening masih sangat terasa ketika mereka berdua, perdebatan perdebatan sulit dihindari sangat wajar memang. Logikanya dua insan yang lama menjalin hubungan saja banyak yang mengalami pertengkaran saat dihadapkan dengan persiapan pernikahan apalagi mereka dua insan yang tak saling mengenal lalu tiba tiba disuguhkan untuk mempersiapkan acara pernikahan pastilah banyak perbedaan.
Tapi sejauh ini semuanya masih dikategorikan baik karena persiapan pernikahan saat ini sudah hampir 70% itupun karena tenaga ekstra dan antusias luar biasa dari kedua orangtua mereka karena jika tidak begitu tak yakin pernikahan akan terlaksana karena bagaimana juga mereka masih belum benar benar menerima.
Tak terasa juga besok ada acara wisuda bagi Zara, sebuah perayaan dimana para mahasiswa/i telah berhasil menyelesaikan setiap tahapan demi tahapan pendidikan tingginya. Zara dan kawan kawannya sangat antusias menyambut besok bagaimana juga itu adalah acara mereka satu angkatan. Walaupun tak pernah ada yang tau akan seperti apa kehidupan kedepannya tapi setidaknya biarkan mereka meresakan perayaan atas perjuangan yang mereka lakukan selama diperguruan tinggi.
Pagi ini Zara sedang disibukan dengan besiap siap untuk acara wisudanya Zara nampak anggun dengan dress longgar berwana baby blue dan juga kerudung panjang dengan warna senada. Zara datang bersama keluarganya + Arkan karena paksaan dari Ayah dan bunda akhirnya Zara turut serta mengundang Arkan dan keluarganya. Tapi disayangkan kedua orangtua Arkan tak dapat hadir karena sedang berada diluar kota. Seperti para wisudawan pada umumnya setelah acara wisuda selesai Zara mengajak keluarganya berfoto disebuah studio foto. Arkan? Ya sudah pasti dia ikut Arkan kan sudah seperti anak ke 4 dikeluarga Zara begitu juga Zara sudah seperti anak sendiri bagi kedua orangtua Arkan ya begitulah saking antusiasnya kedua orangtua mereka.
"Kamu setelah ini ikut saya. Tidak ada penolakan." kata Arkan pada Zara dengan suara tegas dan ekspresi datarnya.
"Enggak." jawab Zara singkat.
"Bukannya sudah saya bilang tidak ada penolakan. Saya juga sudah izin dengan ayah bunda kamu." kata Arkan dengan wajah dingin dan pandangannya yang lurus kedepan. Mereka sekarang sedang berada di sebuah resto karena tadi setelah foto keluarga Zara mengajak untuk makan.
"Maaf enggak bisa. Zara udah buat janji sama teman teman." jawab Zara.
"Yasudah setelahnya berarti."
"Ih tau ah bt." kata Zara sambil berpindah tempat duduk.
"Loh kenapa?" tanya bunda saat melihat Zara berpindah kesampingnya. Zara dan Arkan hanya sama sama diam.
Selesai dengan acara makan keluarga Zara pulang lebih dulu sementara Zara terpaksa harus mengikuti kemauan Arkan.
"Kamu mau kemana sama teman teman kamu?" tanya Arkan.
__ADS_1
"Gak ada batal." jawa Zara.
"Bagus kalau begitu kamu bisa langsung ikut saya." kata Arkan sambil melajukan mobilnya.
"Dasar lelaki otoriter, dingin, miskin ekspresi."kata Zara bergumam. Tapi sialnya gumaman Zara dapat di dengar Arkan.
"Saya mendengarnya." kata Arkan dingin. Zara hanya bisa diam dan memalingkan pandangannya ke arah luar jendela pasrah mengikuti kemana Arkan akan membawanya.
Sungguk diluar dugaan Arkan membawa Zara ke sebuah tempat yang memang cukup familiar di kota Bandung tempat yang menyuguhkan pemandangan danau yang luas yang disertai dengan pemandangan alam yang indah dan juga udara yang sejuk tidah berlebihan jika tempat ini dibilang menenangkan dan menyenangkan.
"Saya gak tau mau bawa kamu kemana, saya mencari tempat yang menenangkan yang lain dari kebisingan kota tapi saya juga tidak berusaha mencari tempat sepi agar bisa berduan. Saya pikir disini tidak terlalu sepi, kamu bisa berteriak meminta tolong jika nanti saya sampai apa apakan kamu." kata Arkan berbicara dengan entengnya dan tanpa menatap Zara dan satu lagi wajah tampannya itu terlihat sangat datar tidak menampakan ekspresi senang ataupun sedih.
"Ucapan bapak membuat saya takut." jawab Zara. Hanya dibalas senyuman miring oleh Arkan.
"Saya ajak kamu kesini untuk berbicara serius antara kita tanpa ada orangtua. Karena bagaimana kedepannya saya dan kamu yang akan menjalaninya bukan mereka." Arkan tampak menarik nafas dalam seperti mengumpulkan keberanian.
"Jika memang pernikahan itu nanti terjadi maka itu sudah menjadi ketetapan Allah. Ketetapan Allah itu tidak ada yang buruk, ketetapan Allah itu justru yang terbaik sekalipun mungkin di mata manusia akan tampak buruk." kata Zara.
Arkan kembali menarik nafas dalam. Arkan dan Zara kini duduk disebuah bangku panjang menghadap ke danau dengan ada jarak dan pandangan mereka yang selalu lurus kedepan menikmati pemandangan disepannya.
"Setelah saya mengatakan menerima perjodohan ini pada orang tua saya dan saya mengucapkan kalimat yang meminta kamu menjadi pendamping saya. Disitu sebagai lelaki saya merasa harus bertanggung jawab dengan keputusan saya." Arkan menghentikan ucapannya. Ia sekilas menatap Zara tampak Zara sedang terdiam dengan tatapan yang lurus kedepan dan terdengar tarikan dan hembusan nafas yang sangat tenang.
"Saya merasa untuk yang akan melangsungkan pernikahan hubungan kita ini tidak baik baik saja. Mau tidak mau suka tidak suka setelah pernikahan kita nanti saya akan menjadi seorang kepala keluarga. Mungkin disini saatnya saya untuk bertanggungjawab dengan keputusan saya dengan cara menekan ego saya dan mencoba lebih menerima lagi kondisi ini." kata Arkan lalu terdiam beberapa saat. Arkan kembali melirik Zara dan gadis itu masih dalam posisi yang sama ia masih asik dalam diamnya.
"Saya ingin kita bekerjasama membangun pernikahan ini nantinya dengan perlahan tanpa memaksakan. Saya ingin bekerjasama membangun keluarga untuk menggapai ridho Allah. Berharap dengan berjalannya waktu akan ada rasa tersendiri dalam hati kita masing masing." kata Arkan lagi.
"Jika setelah berjalan lalu tidak pernah ada rasa yang bapak maksud itu tidak kunjung ada, apa yang akan bapak lakukan?" tanya Zara santai.
__ADS_1
"Jangan berandai andai, lebih baik kita mencoba dulu. Kedepannya biar kita ikuti skenario yang Allah buat. Bukankah tadi kamu bilang kalau apapun ketetapan Allah itu yang terbaik sekalipun bagi manusianya tampak buruk?"
"Hmm." Zara hanya menjawab dengan gumaman lalu ia memejamkan matanya dan menarik nafas dalam dalam menikmati udara sejuk ditempat ini.
"Bapak dari tadi banyak bicara. Zara gak bawa minum, kalau emang bapak haus itu di danau banyak airnya kok." kata Zara dengan santainya dengan mata yang masih terpejam. Sedangkan. Arkan matanya sudah menatap sempurna kearah Zara setelah apa yang Zara ucapkan tadi. Ingin sekali Arkan menyumpal mulutnya itu.
"Suka suka kamulah." Kata Arkan.
"Ya memang suka suka Zara." jawab Zara.
Setelah cukup lama berada disitu dan sekarang langitpun sudah mulai dikuasai senja.
"Sudah sore kamu mau pulang atau kita menginap disini?" tanya Arkan.
"Pulanglah gila." jawab Zara. Arkan tampak terkekeh.
"Dih lelaki otoriter, dingin dan miskin ekspresi ini bisa tertawa juga ternyata." kata Zara dengan suara yang sangat pelan.
"Apa kamu sedang berguman tentang saya?" tanya Arkan menebak.
"Dih percaya diri sekali." jawab Zara lalu berjalan mendahului Arkan.
Arkan nampak menarik nafas lega, jujur ia lebih tenang sekarang walaupun belum menerima tapi Arkan tidak menutup diri tidak seperti sebelumnya mulut berkata menerima namun hatinya terus menolak bahkan seolah ia memasang dinding tinggi tak kasat mata. Tapi maha besar Allah tak sampai berbulan bulan Arkan sudah Allah buka lebih luas pandangannya.
Sejatinya untuk langkah yang lebih baik diperlukan mulut dan hati yang sejalan.
***
__ADS_1
Bersambung...