
...Assalamualaikum......
...Happy Reading......
Arkan berlari menyusuri koridor rumah sakit. Setelah diberitahu Papanya jika Zara sudah di bawa ke rumah sakit dan dimarahi habis habisan karena tega teganya meninggalkan Zara yang sedang hamil besar untuk mengurusi pekerjaannya di luar kota.
Sekarang Arkan sudah berada di rumah sakit. Arkan masuk ke dalam ruangan tempat Zara berada. Tampak di ruangan tersebut Zara sedang tidur miring membelakanginya. Zara tidak tahu jika Arkan sudah datang, yang Zara tahu mereka berdebat lalu esoknya Arkan pergi untuk urusan pekerjaan. Sudah hampir 10 jam Zara berada di rumah sakit awalnya Zara dilarikan ke rumah sakit karena kontraksi yang mulai terasa dan saat dibawa ke rumah sakit ternyata Zara sudah sampai di pembukaan 2.
Sekarang Zara sudah mengalami pembukaan 5. Pembukaan ke 5 ini disertai dengan kontraksi yang luar biasa. Zara berusaha merubah posisinya untuk mencari kenyamanan.
"Hai," sapa Arkan saat Zara membalikan tubuh menghadap Arkan. Arkan menatap istrinya yang sesekali meringis kesakitan.
"Sesakit itu ya?" tanya Arkan sambil mendekat ke arah Zara dan mengelus perut Zara.
"Enggak usah ditanya Arkan," tegur Mama.
Arkan masih melihat ada raut kesal dan kecewa di wajah Zara ketika melihat dirinya.
Zara sudah miring ke kanan dan kiri, duduk kemidian berbaring lagi untuk mengurangi rasa nyeri saat kontraksi. Tapi rupanya perubahan posisi juga tidak banyak membantu mengurangi nyeri yang dirasakan Zara.
Kontraksi yang Zara rasakan sudah semakin sering, membuat Zara semakin merasakan sakit. Wajahnya tampak meringis Arkan yang duduk di sampingnya juga tampak panik.
"Saya minta maaf," kata Arkan. Zara tidak menanggapi apa apa. Fokusnya saat ini hanya pada rasa sakitnya.
Arkan tidak berhenti mengelus perut Zara sambil sesekali mencium kening Zara dan melafalkan shalawat yang seakan memberikan kekuatan pada Zara. Kontraksi yang semakin sering dan semakin sakit pula yang terasa oleh Zara sepertinya Zara harus sedikit mengesampingkan egonya. Tidak kuat menahan sakit sendiri Zara memeluk pinggang Arkan yang berdiri disampingnya dengan erat. Zara menenggelamkan wajahnya di perut Arkan dan jari jarinya kadang meremas kuat baju yang dipakai Arkan.
"Shhh. Sakit mas," kata Zara pelan.
"Saya ada di sini. Kamu pasti kuat," kata Arkan sambil mengusap punggung Zara.
"Usap lagi boleh?" pinta Zara ketika Arkan berhenti mengusap punggungnya. Arkan tersenyum lalu kembali mengusap punggung Zara.
"Ke bawah sedikit."
"Begini?" tanya Arkan.
"Maaf ya Zara merepotkan."
Arkan tidak menanggapi, lagi pula ia tidak merasa direpotkan.
Dokter dan suster datang ke ruangan untuk memeriksa Zara.
"Alhamdulillah. Sudah pembukaan lengkap. Ini sudah bisa kita bawa ke ruang persalinan sekarang." kata dokter.
Zara dipindahkan ke ruang persalinan. Tangannya tak pernah lepas menggenggam erat tangan Arkan, seolah olah melampiaskan rasa sakitnya pada Arkan. Mata Zara pun tampak sesekali meneteskan air mata.
"Kamu kuat. Saya yakin kamu bisa. Berjuang sayang bismillah demi anak kita. Kamu bisa lampiaskan segala yang kamu rasakan pada saya." kata Arkan lalu mencium kening Zara.
Setelah dinyatakan pembukaan sudah lengkap dokter membimbing Zara untuk mengejan ketika merasakan kontraksi.
"Bu fokuskan pandangan ibu ke satu titik ya. Boleh mengejan ketika ibu merasakan kontraksi yang sangat atau ikuti intuksi saya. Jangan menutup mata waktu mengejan, mengejan sekuatnya tapi jangan teriak ya dan juga jangan terlalu dipaksakan mengejan jika tidak ada kontraksi karena itu bisa menyebabkan kamu kehabisan tenaga nantinya."
Ucapan dokter hanya dibalas anggukan oleh Zara. Zara sudah merasakan sakit yang sangat sudah tidak ingin lagi banyak bicara.
"Bismillah," kata Arkan lalu mengecup kepala Zara.
Zara meringis. "Kamu kuat sayang," kata Arkan yang tidak berhenti untuk menguatkan Zara.
__ADS_1
Pukul 20.10 wib atau sekitar 15 sampai 20 menit berada di dalam ruang persalinan. Alhamdulillah akhirnya suara tangisan bayi yang sudah dinanti-nanti terdengar nyaring menyapa pendengaran manusia yang terbaring lemas dengan peluh yang membasahi sekujur tubuhnya. Senyum tipis tampak jelas di wajah putih yang nampak pucat itu. Wajah bahagia juga tak bisa disembunyikan dari diri pria yang biasa berwajah dingin dan datar itu.
"Terimakasih sudah berjuang untuk saya dan anak saya," kata Arkan lalu mencium kening Zara berulang ulang.
Arkan sudah mengadzani putra mereka. Tadi juga sudah dilakukan tindakan IMD atau inisiasi menyusui dini yaitu suatu tindakan bayi yang diletakan di dada ibu selama beberapa menit untuk mencari sumber makanannya sendiri
Bayi mereka berjenis kelamin laki laki dengan berat 3200 gram dan panjang 53,5 cm. Setelah diadzani dan dilakukan IMD bayi mereka langsung di bawa oleh suster untuk dibersihkan. Tidak lama setelah itu suster yang lain menghampiri Zara untuk membantu Zara membersihkan diri. Sementara Zara dan bayinya dibersihkan Arkan keluar untuk memberitahukan keluarga mereka.
"Nak gimana?" tanya Bunda saat melihat Arkan keluar ruangan.
"Alhamdulillah. Zara dan bayi kami sudah selamat. Bayi kami laki laki."
"Alhamdulillah." jawab semua yang ada disana sambil tersenyum lega.
"Tanggung jawab Abang sekarang bertambah. Bersikaplah lebih dewasa, prioritaskan keluarga sebelum yang lain." kata Papa menasehati Arkan. Ucapan Papanya cukup mengena di hati Arkan bagaimana tidak kemarin ia lebih memilih mengurusi pekerjaannya yang darurat di luar kota dan meninggalkan istrinya yang sedang hamil tua.
Sekarang Zara sudah dipindahkan ke ruangan perawatan sedangkan bayi mereka sudah berada di ruang bayi, setelah dilakukan pemeriksaan menyeluruh.
Hening tidak ada yang mau memulai pembicaraan. Arkan yang sejak tadi duduk di samping tempat tidur Zara tidak berani memulai karena rasa bersalahnya. Zara juga begitu, tenaganya masih belum pulih.
"Masih ada yang sakit?" pertanyaan Arkan memecah keheningan diantara mereka. Zara hanya menggelengkan kepala.
"Maaf," kata Arkan.
"Boleh Zara istirahat?" kata Zara masih enggan menanggapi ucapan Arkan.
"Yaudah kamu istirahat," kata Arkan lalu mencium kening Zara lagi dan lagi.
"Kalau kamu butuh apa apa panggil saja. Jangan ragu. Saya tidur di sofa sana," kata Arkan sambil menunjuk ke arah sofa. Zara hanya mengangguk. Zara memejamkan matanya sedangkan Arkan masih betah memandangi wajah Zara yang masih nampak lesu.
Sudah pukul 07.00 . Bayi mereka sudah berada satu ruangan dengan Zara katanya agar Zara lebih mudah menyusui bayinya. Karena Zara juga harus banyak latihan menyusui bayinya agar ASI nya bisa lancar. Pertama kali menyusui Zara merasakan nyeri pada payudaranya. Zara sedang duduk bersandar pada tempat tidur yang ditinggikan posisinya sambil menyusui bayinya.
"Itu wajar kok karena baru awal awal. Nanti lama kelamaan juga enggak sakit lagi. Tapi Kakak harus siap siap anak laki laki itu biasanya minumnya lebih kuat. Jadi kakak harus banyak banyak makan yang bernutrisi juga yang bisa menunjang produksi ASI biar cucu Bunda ini enggak merasa kekurangan."
"Iya bunda."
"Aduduh awww. Sabar sayang sakit ini semangat banget sih Nak," kata Zara sambil mengusap pipi gembil putranya yang sedang bergerak gerak karena sedang menyusu.
"Oh iya Arkan mana?" tanya Bunda karena sejak tadi belum melihat Arkan. Perubahan langsung terlihat di wajah Zara.
"Itu tadi Zara suruh keluar dulu."
"Kok disuruh keluar?"
"Ish malu lah bunda."
"Yakin cuman karena malu? Kenapa kok jadi aneh begitu wajahnya waktu bunda nanyain Arkan?"
"Bun nanti lagi ya bahasnya, ini ada anak bayi masih bangun."
Bunda akhirnya menyetujui keinginan Zara. Beberapa menit kemudian setelah disusui bayi kecil itu kembali ke dunia lelapnya. Zara memberikan bayinya kepada bunda untuk diletakan kembali di box bayi.
"Kakak lagi marahan sama Arkan?" tanya bunda to the point.
"Enggak salah kan bun? Zara kecewa waktu Mas Arkan lebih milih pekerjaannya ke luar kota padahal dia tau sendiri perkiraan Zara melahirkan seminggu lagi. Zara itu takut bun, enggak sedikitkan wanita yang meninggal saat melahirkan? Enggak sedikit juga bayi yang meninggal saat dilahirkan? Ini pertama buat Zara. Zara takut. Tapi Mas Arkan malah begitu. Padahal Mas Arkan sendiri yang pernah bilang sama Zara kalau dia ingin jadi support sistem pertama buat Zara. Tapi saat Zara lagi butuh support malah milih pergi ngurusin pekerjaan. Setidak penting itu ya Zara sama anaknya?"
"Stt enggak boleh begitu."
__ADS_1
"Bunda tau ketakutan ketakutan yang dirasakan waktu menjelang persalinan. Bunda enggak mau bela siapa siapa. Tapi kakak cerita enggak sama Arkan tentang ketakutan ketakutan yang kakak rasakan yang sekarang kakak ceritain sama bunda?" Zara hanya menggeleng.
"Nah jadi wajar enggak kalau Arkan ngiranya kamu baik baik aja?"
"Ya tapi Mas Arkan juga harusnya ngerti sendiri orang dia juga nemenin setiap kali Zara periksa ke dokter. Mas Arkan juga dengerin semua nasihat nasihat dokter."
"Sayang Arkan itu laki laki dia enggak merasakan apa yang kamu rasakan kalau kamu enggak cerita. Laki laki itu dominan dengan logikanya dominan dengan pemikirannya. Kalau yang dia lihat baik baik aja pasti yang mereka simpulkan pasti semuanya baik baik aja."
"Bunda tau kalau udah begini kalian pasti bicaranya udah sama sama pake emosi kan?"
"Komunikasi dalam rumah tangga itu penting loh sayang. Bunda tahu kalian punya gengsi dan ego yang sama sama tinggi yang mungkin butuh waktu lama untuk bisa melebur menjadi satu. Tapi coba deh lebih dewasa lagi, lebih terbuka lagi kamu jangan malu buat bicara sama Arkan tentang apa yang kamu rasakan apapun itu. Apapun yang kamu rasakan ceritakan aja sama Arkan."
"Tapi bun, Mas Arkan itu dingin kadang Zara juga suka mikir apa bener Mas Arkan itu bisa nerima Zara? Zara takut buat memulai kalau mas Arkannya sendiri seperti enggak mau terbuka sama Zara," Zara coba menyelak ucapan bunda.
"Kakak tau nggak Arkan sering cerita sama bunda. Arkan sering minta saran sama bunda gimana menghadapi kakak. Waktu kakak awal hamil juga begitu dia tanya sama bunda harus gimana. Waktu bunda tanya kenapa tanya bunda kenapa enggak tanya sama Mama kamu? Dia jawab apa? Dia bilang kalau Arkan cerita sama mama, Arkan takut ada sikap Zara yang enggak mama suka nanti Mama lebih membela Arkan daripada Zara."
"Dari situ bunda tahu kalau Arkan udah bisa nerima kakak. Dia mau yang terbaik buat kamu. Tapi Bunda enggak tahu apa kamu sudah melakukan sejauh yang Arkan lakukan?"
"Kalau bunda lihat Arkan memang bukan laki laki yang kaya Ayah, Abang atau Abizar yang bisa luwes menyampaikan kasih sayangnya. Tapi bunda yakin kakak juga bisa merasakan sebenarnya tapi kakak masih gengsi begitu juga Arkan. Itu jeleknya kalian berdua. Kamu juga harus tahu waktu Arkan diberitahu kalau kamu dibawa ke rumah sakit Arkan itu baru sampai di Surabaya dan dia langsung mencari penerbangan lagi buat pulang. Dia juga sudah di marahi habis habisan sama Papa mertua kamu."
"Bunda Maaf," kata Zara pelan.
"Kenapa minta maaf sama bunda? Kakak bicara baik baik sama Arkan ya. Oh iya nih bunda beliin salep. Jangan lupa obati juga tangannya Arkan malem bunda lihat tangannya lecet lecet ulah kakak juga kan."
"Yaudah bunda keluar ya cari Arkan."
"Bunda suruh Arkan masuk ya?"
Zara hanya mengangguk. Beberapa menit kemudian Arkan datang seorang diri.
"Bunda mana?" tanya Zara saat melihat hanya Arkan sendiri.
"Bunda tadi mau beli buah dulu katanya," jawab Arkan lalu duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Zara.
Mereka masih sama sama diam. Zara menarik napas panjang lalu menghembuskannya kencang hingga menarik perhatian Arkan.
"Ada yang sakit?" tanya Arkan.
Zara menggeleng, Ia menatap Arkan lama.
"Tolong ambilkan salep itu," kata Zara sambil menunjuk kotak salep yang ada di meja samping tempat tidurnya.
"Buat apa?" tanya Arkan sambil menyerahkan salep tersebut pada Zara. Arkan kembali mendudukan dirinya. Tanpa bicara Zara menarik tangan Arkan lalu meletakannya di pangkuannya lalu mengolesinya dengan salep tersebut. Arkan sempat meringis karena lukanya yang diberi salep oleh Zara Tapi kemudian Arkan tersenyum melihat Zara yang sedang mengobati bekas bekas cakaran dirinya sendiri yang ada di tangan Arkan.
"Maaf," kata Zara pelan.
"Untuk apa?"
"Kenapa enggak bilang kalau luka begini?"
"Ini enghgak akan sebanding dengan sakit yang kamu rasakan."
Arkan bangun dari duduknya lalu berdiri merapat pada Zara yang duduk di atas tempat tidurnya. Arkan mengangkat wajah Zara yang dari tadi menunduk.
"Saya yang harusnya minta maaf sama kamu. Saya gak mengerti apa yang kamu rasakan."
"Mau kan memaafkan saya?"
__ADS_1
...****************...
Sampai Jumpa...