
...Happy Reading......
Hari ini Arkan dan Zara masih dengan kegiatan quality time mereka. Minggu pagi ini Zara menemani Arkan untuk berolahraga di kawasan Car Free Day (CFD).
"Ayo lari lagi. Kan niatnya mau olahraga masa baru 3 putaran udah berhenti."
"Panas ah. Udah ada matahari."
Arkan melepaskan topi yang ia pakai lalu memakaikannya ke kepala Zara.
"Biar enggak panas."
"Makasih. Tapi Mas nya?"
"Ada topi jaket. Jadi mau lari lagi atau berhenti?"
"Zara udahan aja ya. Mas enggak apa apa kalau mau lanjut Zara tunggu di sini."
"Jadi kita mau kemana lagi?" tanya Arkan.
"Mas enggak mau lari lagi? Biasanya semangat banget sampai mandi keringat."
"Kalau enggak sama kamu ya ngapain?"
"Apa sih Mas. Biasanya juga sendiri."
"Lagi pengen sama kamu."
"Ih."
"Yaudah cari jajanan yuk. Lapar Zara."
"Ya ayo."
Bubur ayam dan lontong sayur menjadi pilihan mereka untuk sarapan pagi ini.
"Alhamdulillah. Kenyang banget Zara, padahal judulnya olahraga. Tapi kenyataannya malah nimbun lemak lagi."
"Ini mah kalori yang terbakar 100 kalori yang masuk 1000. Makin lama nih Zara kurusnya," kata Zara lagi.
"Nikmati aja, mumpung sehat. Kalau enggak sehat makanan seenak apa juga enggak akan berasa enaknya," kata Arkan.
"Iya Mas. Makasih ya."
"Sekarang mau kemana lagi kita?"
"Pulang aja yuk. Jemput Zayyan."
"Nanti sorean aja jemput Zayyan mah. Mama juga senang banget dititipi Zayyan. Malah tadi bilangnya kita pergi aja sepuasnya, Zayyan sama Mama aja."
"Tapi kan bikin repot orang tua Mas. Nanti dosa kita."
"Merekanya juga senang."
Setelah sarapan Arkan dan Zara kembali menikmati waktu berdua mereka. Sesampainya di rumah Zara memilih untuk segera membersihkan diri sedangkan Arkan memilih untuk melanjutkan olahraganya di rumah.
"Mas bude kok enggak masuk ya?" tanya Zara yang baru menghampiri Arkan ke tempat olahraga di teras samping.
"Oh iya bude bilang izin katanya ada keluarganya datang," kata Arkan berhenti dari kegiatannya dan menghampiri Zara.
"Yaudah deh, Mas mau makan apa nanti siang Zara mau masak."
"Bikin puding mangga dong Yang, enak kayaknya."
Zara menatap Arkan dengan tatapan heran.
"Kenapa lihatnya begitu? Salah Mas mau puding mangga?"
"Ya enggak aneh aja gitu. Enggak biasanya minta dibuatkan yang manis-manis. Mas enggak lagi ngidam kan?"
"Kamu udah siap hamil lagi emang?"
__ADS_1
"Jangan macam-macam deh. Zayyan aja baru dua bulan."
"Hahaha mangkanya enggak usah mikir aneh aneh. Bukan ngidam kok. Ya tapi kalau ngidam juga gak apa apa sih."
"Mas ih," kata Zara sambil mencubit Arkan.
"Aduh sakit yang."
"Syukurin."
"Ih berani ya." kata Arkan lalu mendekati Zara dan memeluknya.
"Mas lepas ih Zara udah mandi. Mas belum mandi keringetan, bau. Mas ih jorok banget sih," kata Zara berusaha melepaskan diri dari pelukan Arkan.
"Alah jorok jorok semalam aja Mas keringatan betah kok kamu mas peluk,"
"Ihh mas Arkan," kata Zara kembali mencubit Arkan.
"Aduh sakit yang. Merah merah kan tuh perut mas," kata Arkan sambil mengangkat kausnya dan ternyata benar perutnya memerah karena ulah Zara.
"Yah mas maaf kekencengan ya Zara nyubitnya," kata Zara sambil mengusap perut Arkan.
"Sayang jangan gitu," kata Arkan sambil segera mengingkirkan tangan Zara dan menurunkan kaosnya.
"Eh mas kenapa?" tanya Zara yang merasa aneh karena Arkan yang semakin mendekat.
"Kamu ngode ngajak bikin dedek buat Zayyan ya?"
"Hah? Zara bikin puding dulu ya. Mas mendingan cepet mandi biar otaknya agak bersih sedikit," kata Zara mencium pipi Arkan sekilas lalu segera berlari ke dapur.
Arkan tersenyum melihat tingkah Zara. Kemajuan dalam hubungan mereka memang cukup signifikan setelah adanya Zayyan. Zayyan sudah seperti perekat, Zayyan banyak merubah mereka terutama Arkan. Arkan yang awalnya selalu cuek dan sering mengabaikan Zara ketika sedang di kantor sekarang malah berbanding terbalik. Ia lebih sering menghubungi Zara lebih dulu untuk menanyakan Zayyan.
Dan sekarang Arkan yang merasakan lebih sering di abaikan secara tidak sengaja oleh Zara. Karena Zara yang selalu fokus mengurus Zayyan. Jadilah Arkan yang merasa terabaikan memiliki ide untuk membuat waktu untuk quality time berdua.
Selesai mandi Arkan turun dari kamar. Tujuan utamanya adalah dapur untuk menemui istrinya. Tapi ternyata Zara sudah tidak ada di dapur.
"Yang..." panggil Arkan.
"Sayang," panggil Arkan lagi.
Arkan udah kayak dora manggil peta belum?
"Apa sih mas?" kata Zara yang baru masuk rumah.
"Darimana?"
"Dari gerbang. Nih tadi ada kurir nganterin undangan. Undangan buat mas," kata Zara sambil menyerahkan undangannya pada Arkan.
"Oh iya ini karyawan mas di kantor dia manager di divisi pemasaran. Kenapa undangannya enggak datang ke kantor aja. Nanti temenin mas ke undangan ya."
"Ah enggak ah," jawab Zara spontan.
"Kenapa?"
"Nanti kayak waktu itu lagi."
"Enggaklah pak Andi mah enggak begitu. Pokonya kamu harus ikut. Ya masa mas pergi sendiri enggak bawa gandengan. Rela emang kalau suaminya ini nanti di sana digandeng wanita lain?"
"Awas aja kalau berani."
"Haha. Iya mangkanya temenin ya."
"Yaudah lihat nanti lah."
"Enggak ada lihat nanti, harus ikur pokonya."
"Heuh mulai kan otoriter."
"Ya abisnya punya istri udah gengsian keras kepala lagi."
"Mas ngaca deh."
__ADS_1
"Iya iya jangan marah dong sayang."
"Udah ah. Mas udah mandi kan kita jemput Zayyan yuk."
"Enggak lah enak aja. Nanti sore baru jemput Zayyan."
"Ya Allah mas tega banget sih sama anaknya."
"Tega mana? Sama Zayyan yang memonopoli kamu sampe sering lupa sama mas."
"Deuh suka drama. Awal awal aja ogah ogahan kalau diperhatiin."
"Gak usah mulai bahas yang udah udah deh."
Satu hari tanpa Zayyan. Benar benar quality time hanya Arkan dan Zarra mulai dari makan malam berdua, jalan jalan berdua, nonton berdua, tidur berdua, olahraga pagi berdua dan sekarang mereka sedang bersantai berdua di depan tv.
"Yang puding udah dingin belum?"
"Udah kayaknya. Mau sekarang?"
"Mau dong."
"Yaudah sebentar Zara ambil. Minumnya apa?"
"Air putih aja."
"Mau pake vlanya enggak?"
"Pake."
Tidak sampai 5 menit Zara sudah kembali ke samping Arkan.
"Nih dimakan."
"Oke makasih," kata Arkan sambil mengambil puding di tangan Zara.
Zara memperhatikan Arkan yang sedang memakan pudingnya.
"Enak?" tanya Zara.
"Hmm lumayan lah."
"Dih. Yaudah ah males nanti bikin lagi buat Mas."
"Yaudah bisa beli kok."
"Oh gitu bener ya, oke deh "
"Enggak. Becanda sayang. Enak kok, banget malah. Ini bikin sendiri kan? Bukan puding instan?"
"Bukanlah."
Arkan kembali dengan makanannya sedangkan Zara kembali sibuk mengamati lelaki di sampingnya.
"Rambut mas udah panjang. Nanti sebelum jemput Zayyan ke barber shop dulu ya."
"Hmm."
Mereka kembali larut dalam tontonan di televisi.
"Mas akhir akhir ini beda deh."
"Beda gimana?" tanya Arkan.
"Ya gitu. Biasanya kan dingin, datar, galak, jarang senyum apalagi ketawa."
"Bunda bilang katanya role model suami bagi kamu itu yang kayak ayah yang sweet yang perhatian yang enggak malu buat ngungkapin perasaannya. Ya jadi belajar lah dikit dikit," jawab Arkan.
Zara tersenyum mendengar jawaban Arkan hatinya tersentuh bahkan mata sampai Zara berkaca kaca. Ternyata di balik sikap Arkan yang dingin, di balik wajahnya yang datar dan di balik karakternya yang pemaksa ternyata Arkan punya sisi lain. Satu sisi yang manis menurut Zara. Bukan manis dengan bualan kata kata indah melaikan manis dengan caranya sendiri.
Zara jadi malu sendiri dibalik Arkan yang cuek, dingin, galak dll. Tapi diam diam Arkan seberusaha itu. Sedangkan dirinya hanya meraba raba mengenali Arkan tanpa usaha lainnya.
__ADS_1
^^^***^^^
Sampai bertemu di part selanjutnya...