
...Happy Reading... ...
Setahun berlalu rumah tangga mereka semakin membaik mereka sudah sama sama luwes untuk berkomunikasi. Walaupun Arkan tetap dengan karakternya yang dingin, cuek dan otoriter.
Zayyan sudah semakin besar dan semakin aktif pula. Arkan tak pernah protes karena tak jarang Zara lebih konsen pada Zayyan. Arkan mengerti mengurus anak + rumah tangga itu cukup melelahkan dan menyita waktu. Justru Arkan terkadang kesal sendiri ketika melihat Zara kesusahan sendiri padahal Zara bisa kapanpun meminta bantuannya. Tapi Zara adalah Zara dengan keras kepalanya yang selalu ingin berusaha menyelesaikan pekerjaannya sendiri.
Kerepotan akan sangat terasa saat pagi hari. Terhitung tiga bulan Zara mengurusi rumah seorang diri karena bude asisten rumah tangga mereka memilih resign untuk mengurusi cucunya.
Seperti pagi ini, Arkan yang baru pulang dari masjid melihat sendiri kerepotan Zara. Zara harus fokus memasak sambil sesekali meninggalkan dapur dan menuju ke ruang cuci mengurusi cucian. Jangan lupakan telinganya yang selalu on untuk berjaga jaga bila mendengar tangisan Zayyan ataupun panggilan dari suaminya.
"Kenapa sih gak minta tolong kalau merasa kerepotan?" tanya Arkan yang sudah ada di samping Zara.
"Eh mas," kata Zara lalu mencium tangan Arkan.
"Kenapa gak minta tolong kalau ngerasa kerepotan?" tanya Arkan.
"Enggak rep... Astagfirullah Ayamku," kata Zara sambil bergegas ke dapur ketika mengingat masakannya.
Arkan menghela napas melihat Zara yang kesusahan sendiri. Arkan sudah menawarkan untuk mencari asisten rumah tangga lagi tapi Zara merasa masih bisa melakukanya sendiri. Tapi jika melihat Zara begini, mau tidak mau sepertinya Arkan harus kembali memaksakan kehendaknya.
Selesai dengan kegiatannya di dapur Zara segera ke kamar untuk melihat Zayyan. Dan rupanya anak kecil itu sudah bangun. Ia sudah sedang bermain di atas tempat tidur bersama ayahnya.
Sebelum menghampiri Zayyan, Zara lebih dulu mempersiapkan pakaian kerja untuk Arkan.
"Mas pakaiannya udah Zara siapkan. Mas mandi sama biar Zayyannya sama Zara," kata Zara sambil menghampiri Zayyan di atas tempat tidur.
Arkan bergegas ke kamar mandi, sementara Arkan mandi dan bersiap Zara pun memandikan Zayyan.
"Yang kita cari ART lagi aja ya?" tawar Arkan setelah menyelesaikan sarapannya.
"Enggak Mas. Zara masih bisa kok percaya sama Zara ya. Mama sama bunda aja dulu pada masanya bisa kok ngurusin anak sama rumah sendiri."
"Iya oke tapi Mas enggak mau liat kamu repot sendiri kayak tadi. Kamu kalau butuh bantuan bilang. Enggak usah merasa bisa melakukan semuanya sendiri. Mas percaya kamu bisa. Tapi ada saatnya kita juga butuh bantuan orang lain, dan enggak bisa memaksakan semuanya sendiri."
"Iya mas."
"Mas pulang jam berapa hari ini?"
"Seperti biasa mungkin."
"Mas Zara izin mau pergi sama Alisya ya boleh?" kata Zara sambil tetap fokus menyuapi Zayyan yang berada di baby chair di sampingnya.
"Mau kemana?"
"Hm belum tau sih jalan jalan aja kayaknya."
__ADS_1
"Bawa Zayyan?"
"Iyalah."
"Cuman berdua?"
"Iya lah mas sama siapa lagi?"
"Gak mas enggak kasih izin."
"Kok gitu. Please boleh ya."
"Enggak Zara."
"Mas Arkan boleh ya."
"Mas enggak mau dibantah, mas enggak mau ribut pagi pagi. Mas enggak kasih izin kamu pergi," kata Arkan menegaskan lagi, lalu beranjak pergi dari meja makan. Karena jika ia tetap disitu Zara pasti akan terus terusan membujuknya.
Zara kembali fokus menyuapi Zayyan.
"Enggak apa-apa ya nak nanti kita tetep pergi jalan jalan sama tante Alisya sama kakak Sabiya," kata Zara pada Zayyan.
"Yang mas berangkat ya," kata Arkan sambil menghampiri Zara yang masih menyuapi Zayyan.
"Udah gak apa apa gak usah anterin kedepan. Zayyan juga masih makan. Inget yaa jangan kemana mana," kata Arkan lagi sambil mengulurkan tangannya pada Zara.
"Enggak usah ngambek gitu dong. Mas itu cuman gak pengen kamu itu nanti kerepotan ngurusin Zayyan pas jalan. Apalagi Zayyan lagi aktif banget pengen jalan terus. Nah nanti gimana coba kalau cuma jalan jalan sama Alisya. Sementara Alisya juga pastikan jagain Sabiya. Udah enggak usah cemberut cemberut malu tuh dilihat anaknya. Anaknya udah ngerti sekarang," kata Arkan sambil mengusap kepala Zara yang duduk di hadapannya.
"Yaudah mas berangkat ya. Keburu siang macet nanti," kata Arkan lalu mencium kening Zara.
"Zayyan, Ayah berangkat kerja dulu ya. Anak sholeh yang baik ya sama bunda, bantuin ayah jagain bundanya oke," kata Arkan lalu mencium Zayyan semuka muka. Sementara yang diajak ngobrol sejak tadi hanya menanggapi dengan celotehan seaadanya yang ia bisa.
"Berangkat ya. Assalamualaikum," kata Arkan sambil mencium kening Zara sekali lagi.
Setelah memastikan Arkan berangkat. Zara membawa Zayyan ke kamar untuk bersiap siap.
"Jangan bilang bilang ayah ya nak. Kita jalan jalan, dipikir enggak bosen ya nak di rumah terus. Ya ayah enak ya tiap hari hirup udara luar. Kita di rumah terus janjinya aja tiap weekend pergi berdua berdua. Apa cuman kuat beberapa bulan aja begitu sisanya mah apa libur libur. Libur ngantor di rumahnya mah tetep kerja." kata Zara berkeluh kesah pada Zayyan.
Selesai menyuapi Zayyan, Zara membawanya ke kamar untuk didandani. Zara tetap memaksa akan pergi jalan-jalan.
"Nah udah makin ganteng. Zayyan di box dulu ya sebentar bunda siap siap dulu," kata Zara setelah mendandani Zayyan.
Akhirnya walaupun sudah dilarang Arkan, Zara tetap memaksakan untuk pergi bersama Alisya. Zara sengaja mematikan hp miliknya agar tidak ketahuan Arkan, ia todak sadar kalau aksinya itu justru malah memancing kecurigaan Arkan.
Pukul 17.00 Zara baru sampai di rumah. Zara dibuat kaget karena saat taksi online yang ia tumpangi datang berbarengan dengan mobil Arkan. Zara berusaha tetap tenang, ia berjalan memasuki rumah sambil menggendong Zayyan dan menenteng beberapa kantong belanjaan. Tapi kali ini Zayyan tidak berada di pihak Zara. Niat awal Zara ingin mengabaikan Arkan harus kandas karena Zayyan yang memanggil dan meronta ronta saat melihat Arkan.
__ADS_1
Mendengar Zayyan yang memanggil manggilnya Arkan langsung berjalan cepat menyusul Zara. Tanpa berkata apapun Arkan langsung mengambil Zayyan dari Zara.
"Dari mana?" tanya Arkan dengan dinginnya. Zara memilih diam dan hendak masuk rumah tapi tangannya lebih dulu ditahan oleh Arkan.
"Suaminya tanya kamu habis dari mana?" kata Arkan dengan suara yang penuh penekanan.
"Nanti marah marahnya. Ada Zayyan tuh," kata Zara lalu melepaskan cengkramantangan Arkan pada pergelangan tangannya dan sesegera mungkin menjauh dari Arkan.
Arkan yang sejak tadi sudah menunggu Zara akhirnya melihat Zara keluar dari kamar Zayyan.
"Kamu pergi darimana tadi?" tanya Arkan mencoba tetap tenang.
"Zara kan udah izin," jawab Zara tanpa melihat Arkan.
"Lihat mas Zara. Bukan itu jawaban yang mas mau," kata Arkan.
"Yaudah lah Mas kan Zara juga udah pulang. Zayyan juga enggak apa apa. Kalau alasan mas ngelarang Zara pergi cuma takut Zara repot mas tenang aja Zara enggak repot kok."
"Kamu tahu kan kalau mas ini enggak suka di bantah. Bukannya tadi udah jelas kalau mas bilang enggak kasih izin kamu pergi?"
"Iya tau. Mas itu egois tau enggak, mas enak tiap hari bisa keluar rumah bisa menghirup udara luar. Sedangkan Zara 24 jam selalu di rumah bosen mas Zara juga. Enggak salah dong kalau sesekali Zara keluar?" kata Zara.
"Saya pergi juga kerja Zara bukan main atau jalan-jalan. Saya enggak pernah larang kamu pergi kemanapun asalkan dengan saya," kata Arkan yang mulai terpancing emosi.
"Oh asal sama mas ya? Tapi Zara tanya kapan mas punya waktu? Janji mas aja yang quality time saat weekend cuman bisa beberapa bulan kan setelah itu apa? Hari libur aja mas masih kerjakan? Bedanya tiap libur kerjaan yang Mas bawa pulang. Badannya doang di rumah. Tapi tetap juga sibuk kerja. Enggak ada waktu untuk anak dan istri."
"Kamu ini kenapa sih. Tadi pagi kita baik baik aja kenapa sekarang jadi begini sih?" tanya Arkan yang mencoba menurunkan egonya.
"Zara cape mas, bosen tiap hari di rumah terus, jenuh tau nggak. Mau kemana mana enggak boleh."
"Kamu capek kan, akhirnya keucap juga kan! Kamu yang buat diri kamu cape sendiri. Kamu itu terlalu memaksakan agar bisa melakukan semuanya sendiri. Kamu gengsi buat minta tolong. Saya udah kesel sebenernya ngeliat kamu repot sendiri, kamu anggep saya ini apa? Saya ini seperti manusia gak berguna buat kamu tau gak. Tiap kali saya tawarkan bantuan kamu selalu tolak kan. Dan jadinya seperti sekarang kan kamu ngerasa cape sendiri kamu jenuh. Akhirnya apa keluar juga kan yang selama ini kamu pendam," kata Arkan sudah terpancing emosi.
"Kamu bilang saya enggak punya waktu buat kamu. Terus kamu apa? Kamu juga sama kamu sibuk sendiri. Tapi saya coba ngertiin kamu kesibukan kamu. Dan tadi kamu bilang saya selalu kerja saat di rumah. Saya juga enggak mau begitu. Tapi saat ini kondisinya mengharuskan saya bekerja lebih keras."
"Kamu mau tahu kenapa? Perusahaan saya sekarang lagi turun ada beberapa masalah internal sebagai pimpinan dan pemiliknya tentu saya punya tanggungjawab yang lebih besar. Kamu enggak tahu kan masalah itu? Karena kamu juga gak pernah punya waktu buat sekedar bicara 4 mata sama saya."
Arkan semakin emosi sedangkan Zara sudah menangis. Pertama kali bagi Zara mendengar Arkan seemosi itu.
Sebenarnya Zara hanya merasa sedang berada di titik jenuhnya. Zara ingin Arkan mengerti bahwa Zara juga butuh untuk sekedar menghirup udara luar selain rumah mama dan bundanya. Karena sikap protektif nya selama ini Arkan selalu tidak mengizinkan Zara untuk pergi keluar jika tidak bersama Arkan.
Namun sepertinya Zara mengeluarkan unek uneknya tidak pada waktu yang tepat. Zara mengatakannya disaat Arkan juga sedang memiliki masalah yang dipendam sendiri.
Bom waktu itu akhirnya sama sama meledak. Zara meledakan segala yang ia pendam begitu juga Arkan. Mereka lagi lagi harus menemui masalah yang penyebabnya masih sama sama karena komunikasi.
...****************...
__ADS_1
Sampai berjumpa di part selanjutnya...