Biarkan Waktu

Biarkan Waktu
Part 9


__ADS_3

Mendengar yang Arkan ucapkan barusan Zara merasa seperti dijatuhkan setelah sebelumnya Zara pikir hubungannya dengan Arkan akan semakin dekat tapi nyatanya sekarang Zara dihancurkan begitu saja oleh Arkan. Sampai hati Arkan setelah mendapatkan hak nya dari Zara tapi ia malah berterimakasih dan memikirkan wanita lain.


Zara merubah posisinya membelakangi Arkan, rasa nyeri pada tubuhnya seakan dikalahkan oleh luka tak kasat mata yang Arkan buat di hati Zara.


"Tidurlah. Kamu pasti lelah, masih ada waktu dua jam sebelum subuh." kata Arkan sambil melingkarkan tangannya di pinggang Zara lalu menciumi pucuk kepala Zara dari belakang.


"Ini Zara. Zara tau mas lakukan ini semua karena mas fikir Zara ini Almira kan? Berhenti mas." kata Zara dengan suara bergetar air mata Zara berselancar indah di pipi putih Zara.


"Apa maksud kamu?" tanya Arkan tak menyadari apa yang sudah terjadi.


"Cukup mas tanya sama diri mas sendiri." kata Zara. Arkan diam jujur ia bingung apa yang sudah ia katakan? Kenapa sepertinya Zara sangat kecewa padanya. Lalu Almira?  Kenapa Zara membawa bawa Almira ketika mereka sedang sama sama berusaha membangun rumah tangga mereka. Otak Arkan berpikir cepat.  Tunggu,  apa tadi ia mengucapkan kata kata yang menyakiti Zara tanpa ia sadari? Kalau bener begitu apa yang harus Arkan lakukan sekarang?


"Zara.." panggil Arkan merapatkan tubuhnya ketubuh Zara. Belum sampai merapat Zara lebih dulu bangun dan berjalan menuju kamar mandi tanpa mempedulikan panggilan Arkan. Arkan memandang Zara,  ia melihat Zara berjalan tertatih. Arkan berpikir jika benar ada kata yang Arkan ucapkan dan menyakiti Zara ia merasa sangat bersalah.


Sekitar 30 menit akhirnya Zara keluar dari kamar mandi. Zara lupa membawa pakaian alhasil ia keluar hanya menggunakan bathrobe saja. Ah bodo amat dengan Arkan karena Arkan sekarang memang sudah memiliki Zara seutuhnya. Arkan cukup kaget ketika melihat Zara keluar kamar mandi hanya menggunakan bathrobe. Tapi fikirannya segera beralih fokus pada Zara yang berjalan tertatih seperti menahan nyeri.


"Sakit?" tanya Arkan sambil menghampiri Zara dan hendak membantu Zara.  Tapi Zara segera menepis tangan Arkan.


"Zara bisa sendiri." jawab Zara ketus. Arkan hanya membuang napas pasrah. Arkan melangkahkan kaki ke kamar mandi. Saat Arkan keluar kamar mandi ia melihat Zara sedang duduk diatas sajadah jelas sepertinya Zara baru selesai shalat malam. Arkan berdiri disisi ranjang tanpa melakukan apapun. Ia memperhatikan Zara dengan seksama ia melihat ada air mata yang mengalir dari mata Zara. Seperti sadar sedang diperhatikan, Zara segera mengakhiri do'anya lalu pergi dari kamar tanpa melepas mukena yang dipakainya.


Hingga seminggu setelah kejadian Arkan meminta haknya. Hubungan mereka bukan semakin baik justru malah semakin merenggang. Zara menghindari Arkan mereka hanya Akan bertemu jika dikamar menjelang tidur dan di meja makan ketika hendak makan bersama dengan yang lainnya juga.


Selesai makan malam bersama Zara memilih untuk menemani Sabiya bermain karena kebetulan Alisya sedang pergi bersama mama. Zara menemani Sabiya menggambar sambil bermuroja'ah bagi anak anak seusia Sabiya bermuroja'ah sambil bermain memang lebih menarik.


"Assalamu'alaikum ponakan cantiknya om." kata Arkan sambil duduk disamping Sabiya.

__ADS_1


"Alaikumsalam." jawab Sabiya walau belum sempurna menjawab salam tapi memang selalu diajarkan untuk mengucap dan menjawab salam jadi Sabiya sudah cukup terbiasa.


"Bi, tante Zara kesana dulu ya." pamit Zara pada Sabiya.


"Iya ateu jangan lama ya." kata Sabiya.


Arkan tau Zara pergi bukan untuk sebuah keperluan tapi hanya untuk menghindari Arkan. Yap selama seminggu ini memang selalu begitu.


"Cantiknya om kok belum bobo?" tanya Arkan.


"Belum om. Biya belum ngantuk." jawab Sabiya sambil melanjutkan menggambarnya.


"Tapi matanya Biya udah merah loh, Biya juga udah nguap terus. Bobo ya,  yuk om temenin." ajak Arkan sambil mengangkat Sabiya ke gendongannya.


"Biya mau sama ateu Zara." kata Sabiya.


"Sabiya ngantuk. Dia mau ditemenin bobo sama ateu Zara nya." kata Arkan saat sudah berada dihadapan Zara.


"Ateu bobo." kata Sabiya sambil mengucek matanya.


"Yaudah yuk kita bobo. Tapi Biya gosok gigi,  cuci tangan dan kaki dulu ya." kata Zara sambil mengambil Sabiya dari gendongan Arkan. Sabiya hanya mengangguk. Zara melangkah meninggalkan kamar menuju ke kamar Sabiya. Arkan sedikit bernafas lega,  berharap malam ini ia benar benar bisa menyelesaikan permasalahannya dengan Zara. Bukan Arkan tak mau menyelesaikan sebelum sebelumnya. Arkan merasa harus mengumpulkan keberanian dulu untuk membahas ini dengan Zara karena sejujurnya Arkan tak benar benar tau alasan Zara mendiamkannya. Arkan hanya menduga sesuatu karena Zara berubah setelah sebelumnya memberikan yang selama ini Zara jaga untuk Arkan.  Arkan sempat berpikir apa Zara menyesal sampai Zara harus mendiamkannya? 


Suara pintu kamar terbuka menampakan Zara yang kemudian memasuki kamarnya.


"Sabiya sudah tidur?" tanya Arkan saat Zara memasuki kamar. Zara hanya mengangguk.

__ADS_1


"Saya butuh bicara dengan kamu." kata Arkan lagi. Zara melihat Arkan sejenak kemudian meninggalkan Arkan menuju kamar mandi. Keluar dari kamar mandi Zara langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur. Zara tidur membelakangi tempat Arkan. Arkan yang awalnya duduk di sofa ketika melihat Zara langsung berbaring dan memejamkan mata ia bangkit dan menuju tempat tidur. Arkan berbaring menghadap punggung Zara. Sedetik kemudian Zara yang belum benar benar tidur merasakan ada sebuah tangan kekar melingkar dipinggangnya. Zara nampak kaget ia berusaha melepaskan tangan Arkan dari pinggangnya tapi bukannya lepas tangan Arkan justru semakin kencang dan tubuhnya semakin menempel ke punggung Zara.


"Bukannya saya sudah bilang kalau kita perlu bicara? Kamu tidak mendengar? Atau kamu ingin berbicara dengan cara lain?" tanya Arkan sambil mengeratkan pelukannya.


"Mas bicara apa yang ingin mas bicarakan tapi tolong lepaskan dulu tangan mas dari tubuh Zara." pinta Zara. Zara pikir permintaannya tidak sulit untuk Arkan turuti tapi nyatanya memang Arkan tak sama sekali melepaskan pelukannya.


"Kamu kenapa menghindari saya?" tanya Arkan tanpa menuruti permintaan Zara. Zara tak menjawab.


"Bukankah kita sepakat untuk berusaha memulai semuanya dan membangun keluarga ini?" tanya Arkan lagi. Zara tak juga menjawab.


Arkan menghembuskan nafasnya kasar. Arkan berpikir sepertinya memang perlu dengan cara yang lain agar Zara mau bersuara. Arkan semakin merapatkan tubuhnya pada Zara. Ia mulai bertingkah menciumi rambut Zara. Iya memang semenjak itu Arkan dengan tegas melarang Zara untuk mengenakan jilbab ketika didalam kamar dan hanya berdua. Arkan awalnya menciumi dan mengendusi rambut Zara namun sekarang beralih ke pundak Zara. Zara menggerakan kepalanya berusaha menjauhi Arkan.


"Berhenti mas. Apa yang mas mau bicarakan sekarang cepat Zara akan jawab." kata Zara berusaha menghentikan Arkan.


"I want you." bisik Arkan ditelinga Zara.


"Lalu setelahnya mas menyebutkan nama wanita lain dan mengatakan kalau mas mencintainya begitu?" sarkas Zara.


"Apa maksud kamu?" tanya Arkan.


"Kalau itu cara mas untuk menyakiti Zara agar Zara menjauh mending mas berhenti. Zara akan mundur dengan cara Zara sendiri." jawab Zara dengan suara bergetar seakan saat yang menyakitkan itu kembali menyapa Zara.


"Zara mau mas lepaskan Zara. Kita sama sama mundur saja dari pernikahan ini. Zara gak mau hidup sebagai bayang bayang." jawab Zara air matanya mengalir begitu saja sakit ketika dirinya mengucapkan itu. Tapi bagaimana sekarang Zara tau jika dihati Arkan ada wanita lain. Zara tak mau hidup sebagai oranglain dalam kehidupan Arkan. Ketika Arkan memang tak bisa menerimanya sebagai Zara ya sudah lebih baik ia mundur. Walau Zara tau ini bodoh karena harus menyerah sebelum berperang.


***

__ADS_1


**To be continued...


See you next part**...


__ADS_2