Biarkan Waktu

Biarkan Waktu
Part 36


__ADS_3

...Happy Reading......


Kesibukan Zara yang sedang menyiapkan sarapan merupakan pemandangan yang setiap pagi Arkan temukan ketika pulang dari masjid.


"Bikin apa Yang?" sapa Arkan yang baru pulang dari masjid.


"Bikin sarapanlah ngapain lagi coba?" kata Zara setelah mencium tangan Arkan.


"Mau dibantuin enggak?"


"Enggak usah makasih. Yang ada mas malah ngerecokin, masakan Zara enggak selesai-selesai nanti."


"Eh sembarangan Mas itu pinter masak loh."


"Masak apa? Paling jago juga mie instan?"


"Telor ceplok juga bisa," kata Arkan membela diri.


"Iya, udah sekarang mas ke kamar deh ganti baju. Terus Zara minta tolong lihatin Zayyan ya," kata Zara lagi.


"Ngapain lihatin Zayyan, anaknya lagi tidur. Mending lihatin Bundanya."


"Mas Arkan ih, maksud Zara itu Mas sana ke kamar sambil lihat Zayyan siapa tahu udan bangun gitu. Biar Zayyan enggak sendirian."


"Kalau Mas nemenin Zayyan berarti Mas ninggalin kamu sendirian dong," kata Arkan yang masih betah berada di dapur.


"Mas Arkan di jalan ketemu apa sih jadi aneh begini."


"Ketemu cewek tadi." Zara langsung memfokuskan pandangannya pada Arkan.


"Becanda sayang," kata Arkan kemudian mencium Zara sekilas, kemudian meninggalkan Zara


"Arkaaaan!" omel Zara dengan suara yang cukup kencang.


"Heh bilang apa tadi?" kata Arkan kembali menghampiri Zara.


"Arkan! Kenapa? Mau apa?" tantang Zara.


"Bilang sekali lagi di depan orangnya, yang kenceng kayak tadi," kata Arkan.


"Arkaaaa..." ucapan Zara terpotong oleh kelakuan Arkan.


"Ayo bilang sekali lagi," kata Arkan sambil menjauhkan wajahnya dari wajah Zara.


"Mas Arkan ih," kata Zara sambil mendorong wajah Arkan agar semakin menjauh.


"Apa Mas Mas, tadi aja enggak pake embel-embel Mas."


"Mas udah dong. Ini yang ada masakan Zara enggak selesai-selesai. Nanti Mas mau sarapan apa coba?"


"Ya kan Mas udah menawarkan bantuan."


"Emang mas bisa bantu apa?"


"Bantu do'a hehe."


"Cepet mas sana ke kamar. Ganti baju,  bajunya digantung aja masih bersih itu. Digantung ya bajunya jangan cuma disimpan di atas tempat tidur atau di sofa. Terus nanti tolong lihat Zayyan kalau udah bangun dan popoknya penuh tolong diganti. Sama satu lagi itu...." kata Zara.


"Pagi pagi udah bawel. Iya sayang iya Mas udah tau kok tiap pagi kan perintahnya selalu sama." kata Arkan sambil mencubit hidung Zara.


"Hmm Yaudah bagus kalau gitu," kata Zara menepis tangan Arkan lalu kembali fokus pada masakannya.


Bukannya cepat pergi ke kamar Arkan malah malah semakin mendekat pada Zara dan memeluknya.


"Mas Arkan cepet ke kamar. Ngapain sih malah peluk peluk. Itu baju nanti jadi bau masakan," kata Zara.


"Sebentar aja Yang."


"Enggak ada sebentar-sebentar. Cepet mas nanti Zayyan keburu bangun. Zara juga jadi lama masaknya."


Tapi Arkan malah mengabaikan ucapan Zara.


"Mas dengerin Zara gak sih?" kata Zara yang mulai kesal.


"Iya bunda iya galak banget sih," kata Arkan sambil melepaskan pelukannya.


"Mas bilang apa tadi?"


"Galak." jawab Arkan sambil berjalan.

__ADS_1


"Mas ke kamar terus ngaca deh ya," perintah Zara.


"Mas kalau ngaca ya ganteng."


"Bodo amat ah,"


"Hahaha pundung. Yaudah deh Mas ke kamar ya. Semangat sayang."


Zara menyiapkan makanan di meja makan dan tidak lama Arkan datang sambil menggendong Zayyan di pundaknya.


"Assalamualaikum Bunda," kata Arkan yang mulai membiasakan memanggil Ayah Bunda ketika di depan Zayyan.


"Ikum nda," kata Zayyan mengikuti.


"Waalaikumsalam. Anak shaleh sini sama bunda. Udah wangi pinter ya pagi pagi udah mandi," kata Zara sambil mencium Zayyan.


Begitu memang pembagian tugasnya ketika Zara sedang sibuk di dapur maka Arkan yang akan mengurus Zayyan, termasuk jika putra mereka itu bangun lebih pagi maka Arkan lah yang mengurusnya.


"Yanh jadi ke rumah Bunda?" tanya Arkan yang sedang menikmati makanannya. Arkan memang belum terbiasa jadi ya sesekali di depan Zayyan pun masih memanggil Zara dengan panggilan sayang.


"Iya jadi nanti agak siangan nanti, bolehkan?"


"Yaudah. Kalau gitu mas ke kantor dulu nanti pulang lagi jemput kalian."


"Enghak usah mas Zara udah minta tolong Abizar buat jemput kesini."


"Kok minta tolong Abi?"


"Iya kan mas harus ke kantor kalau bolak balik gitu malah buang buang waktu. Enggak apa apa Abi juga katanya lagi enggak ada jam kuliah kok."


"Yaudah kalau gitu. Nanti mas usahain pulang lebih cepet biar bisa bantu buat acara lusa."


"Enggak usah maksain kalau emang jadwalnya Enggak bisa."


"Tapi harus diusahain dong Yang. Kalau enggak nanti mas dipecat jadi adik ipar sama abang kamu."


***


Setelah sampai di rumah bundanya, Zara melihat rumahnya masih tampak sepi.


"Pada kemana si dek kok sepi?" tanya Zara pada Abizar.


"Ayah bunda lagi cek gedung. Kalau calon pengantennya mah paling lagi main ps di kamar atau enggak tidur."


"Ngamuk kak nanti," jawab Abizar.


"Enggak."


"Kalau abang ngamuk adek enggak ikut ikut ya."


"Apa kalian pada ngomongin abang?" tegur Ahkam yang sedang menuruni tangga.


"Yah udah ketauan dek," kata Zara.


"Ngapain sih kalian. Zayyan sini yuk sama Om. Kita berenang mau?"


"Nang au nang," kata Zayyan sambil merentangkan tangannya pada Ahkam.


"Boleh kan dek?"


"Yaudah jangan lama lama tapi."


"Oke siap. Zayyan bilang siap bunda gitu."


"Ap nda."


Sore harinya rumah keluarga Zara sudah tampak penuh penghuninya, hanya Arkan yang belum datang.


"Arkan biasa pulang malam terus dek?" tanya Ahkam.


"Heem."


"Tapi Ayah liat bagus loh progress perusahaannya. Beberapa bulan lalu hampir bangkrut tapi sekarang udah mulai naik lagi, bagus loh termasuk cepat naiknya. Kamu yang sabar dampingi Arkan jangan lelah kuatin dia terus. Laki laki itu biasanya saat dalam titik terendah mereka itu selalu mencari titik ternyaman yang bisa terus menenangkan, mendukung,  menguatkan, memuji dan satu lagi percaya. Itu yang di butuhkan disaat orang orang lain sedang meremehkannya dan enggak ada yang menghargainya. Kalau kamu bisa ada dan bisa menjadi titik ternyaman saat suami kamu lagi di titik terendahnya Insya Allah nanti dia pun akan punya penilaian lebih tentang kamu," nasihat Ayah pada Zara.


"Iya Yah makasih Zara juga masih selalu berusaha buat saling memahami sama mas Arkan."


"Ayah jangan cuma kasih wejangan buat Zara aja dong. Kasih wejangan juga buat Abang tuh yang lusa udah jadi kepala rumah tangga."


"Yee abang mah udah tiap hari," jawab Ahkam.

__ADS_1


"Bisa enggak bahasnya jangan tentang rumah tangga terus?" celetuk Abizar.


"Eh ada adek kecil yaaa. Hahaha," kata Zara sambil mencubit pipi Abizar.


"Kakak ih adek udah gede enggak usah cubit cubit gitu malu."


"Deket aja bilang malu."


"Biasanya aja neleponin kakak terus nanyain. Kakak kapan main kerumah? Kakak adek mau main ke rumah kakak yaa? Kakak uang bulanan adek dari ayah abis sebelum waktunya adek boleh mmmm" ucapan Zara terputus karena mulutnya di bekap oleh Abizar.


"Mmmm." teriak Zara sambil memukuli tangan Abizar.


"Diem coba rusuh banget sih."


"Huaaaaaa oom ngan oom akal," teriak Zayyan yang tadinya sedang anteng menjadi meanangis dan rusuh memukuli Abizar.


"Adek lepas kakaknya kasian tuh Zayyan," tegur Ahkam.


"Bundanya Zayyan tuh yang nakal sama oom," kata Abizar sambil melepaskan bekapannya pada Zara.


"Oom akal," jawab Zayyan sambil menangis.


"Becanda sayang om nya cuma becanda. Udah ya nangisnya," kata Zara.


Karena Zayyan yang tidak kunjung berhenti menangis, Zara membawa Zayyan ke kamar untuk di beri Asi. Ketika Zara selesai memberikan Asi dan kembali menemui keluarganya yang sedang berkumpul di ruang keluarga, termasuk Arkan sedang ngobrol dengan Ayah.


"Mas udah pulang dari tadi?" tanya Zara lalu mencium tangan Arkan.


"Lumayan. Zayyan mana?"


"Bobo. Abis dikasih Asi."


"Arkan makan dulu sana. Udah makan belum?" tanya bunda.


"Udah bun."


"Mas Arkan mah nanti bun makannya ba'da isya pulang dari masjid," jawab Zara.


"Udah apal banget ya dek," ledek Ahkam.


"Iya kan cinta bang. Iya nggak Yang?" kata Arkan menambahi.


"Apa sih. Ya gimana gak apal bang tiap hari Zara yang siapin," jawab Zara.


"Jadi bukan karena cinta yaa?" tanya Arkan.


"Ih apa sih," kata Zara salting.


"Haha udah jangan di godain anak gadis ayah," kata Ayah.


"Enggak salah Yah. Gadis?" kata bunda.


"Eh bukan ya?" kata Ayah.


"Ih ayah bunda kenapa jadi ikut ikutan sih."


"Udah enggak usah pada godain Zara," kesal Zara.


Sedangkan yang lain hanya tertawa.


"Mau mandi Yang," kata Arkan pada Zara.


"Yaudah ayo," jawab Zara sambil berdiri.


"Ayo apa?" tanya Arkan.


"Katanya mau mandi."


"Berdua?" tanya Arkan pada Zara didepan keluarganya.


"Mas ih. Terserah Ah," kata Zara sambil bergegas meninggalkan ruang keluarga.


"Hahaha Yaudah Ayah, bunda, semuanya Arkan ke kamar dulu yaa."


"Yaudah sana. Jinakin lagi yaa adek Aku," teriak Ahkam.


"Siap!"


***

__ADS_1


To be continued...


See you next part...


__ADS_2