Biarkan Waktu

Biarkan Waktu
Part 20


__ADS_3

Assalamu'alaikum...


Happy Reading...


Tanpa Zara dan Arkan tahu mama sejak tadi mendengar pertengkaran mereka. Mama yang awalnya ingin memanggil mereka untuk makan malam bersama akhirnya mengurungkan niatnya saat tak sengaja Arkan dan Zara sedang berdebat. Mama memilih kembali ke meja makan, ia cukup tau diri untuk tidak mencampuri urusan mereka.


"Itu yang kamu mau Zara? Kamu mau menyerahkan saya lagi pada Almira setelah kamu buat saya melupakan Almira. Licik kamu Zara kamu buat saya jatuh cinta dengan kamu setelah itu kamu buang saya begitu iya? Ini cara kamu membalas kesalahan yang pernah saya lakukan sebelumnya iya?" kata Arkan dengan emosi.


"Zara gak pernah bilang kalau Zara menyarankan atau mengizinkan mas kembali pada mbak Almira."kata Zara pelan Zara sudah dibuat takut dengan tatapan Arkan yang seakan menusuk dirinya.


"Omong kosong. Lalu tadi apa? Kamu mau meninggalkan saya disana berdua dengan Almira?"


"Zara cuman mau kalian selesaikan urusan kalian baik baik."


"Berapa kali saya bilang saya dan Almira sudah tidak pernah ada urusan apa apa lagi. Sejak saat itu saat dia memilih pergi dan menolak saya."


"Tapi bagi mbak Almira gak begitu mas. Bagi mbak Almira mas itu..."


"Cukup Zara jangan mencari alasan. Saya memang tak pernah benar di mata kamu kan?"


Setelah mengatakan kalimatnya itu Arkan keluar dari kamar lalu menutup pintu dengan kencang. Sedangkan Zara ia sudah menangis, Sejujurnya Zara juga tak suka ketika melihat Almira terus terusan meminta penjelasan dari Arkan. Apalagi saat Almira memintanya untuk melepaskan Arkan dan bahkan meminta Zara untuk berbagi suami dengannya.  Big no bagi Zara, walaupun dalam agama poligami itu tidak di larang namun terdapat keterangan bahwa istri pertama berhak untuk memberikan izinnya ataupun tidak. Zara akui memang awalnya ia ingin bertemu Almira tapi tujuannya tak lain hanya sekedar ingin melihat reaksi Arkan apa benar suaminya itu sudah benar benar melupakan Almira dan menerimannya. Tapi sepertinya dengan kejadian begini Zara menjadi menyesal bertemu Almira. Tak Zara pungkiri Almira memang wanita yang cantik, berpendidikan juga berpakaian serupa dengan Zara tapi sayang ucapan yang terlontar dari mulutnya seperti tak mencerminkan kualitas pendidikannya.


Entak pukul berapa Zara terbangun dari tidurnya ia merasa terganggu karena pergerakan manusia disampingnya.


"Mas kenapa?" tanya Zara sambil mengubah posisinya menjadi duduk dan menghadap Arkan. Arkan yang masih marah dengan Zara ia lebih memilih keluar kamar meninggalkan Zara. Pintu ditutup cukup keras oleh Arkan, Zara tau Arkan masih marah.


Setelah dini hari tadi Arkan keluar kamar begitu saja. Sekarang Arkan sedang terbatuk batuk memuntahkan sesuatu dari dalam perutnya. Zara memberanikan diri menghampiri Arkan dan memijat tengkuk Arkan.


"Mas sakit lagi?" tanya Zara sambil memijat Arkan.


"Kamu ngapain care sama saya? Udah kamu gak usah care sama saya, kamu jangan buat semakin dalam perasaan saya sama kamu kalau kamu akhirnya mau ninggalin saya." kata Arkan dengan nada yang super cool sambil menepis tangan Zara dan menegakan badannya dan berjalan keluar kamar mandi. Zara mengekor dibelakang Arkan hingga ia memberanikan diri berbicara dan menghentikan langkah Arkan.


"Mas kenapa sih? Zara gak pernah bilang Zara mau ninggalin mas. Kalau masalahnya masih sama dengan pertemuan dengan mbak Almira kemarin Zara gak pernah bilang kalau Zara relain mas ke mbak Almira." kata Zara memberanikan diri menatap Arkan.


"Tapi dengan kamu mau pergi begitu saja itu bisa aja Almira berpikir kalau kamu itu udah kalah."


"Mas ini lagi kenapa sih kok sensitif banget begini?"


"Oh menurut kamu karena siapa saya begini hah? Karena kamu yang selalu mengungkit masalalu saya. Kamu yang selalu ingin tau masalalu saya. Padahal saya mati matian menguburnya dan melupakannya. Besar harapan saya ketika menerima kamu kamu bisa membantu saya melupakan sisa sisa masalalu saya. Kamu berhasil membuat saya lupa dengan masalalu saya. Tapi kamu juga yang kembali mengorek masalalu saya." kata Arkan penuh emosi.


"Tapi pertemuan sama mbak Almora itu bukan rencana Zara." kata Zara menunduk.


"Iya tapi kamu sadar gak. Kamu yang memberi kesempatan sama Almira untuk banyak berbicara. Kamu seakan memberi kesempatan pada dia." kata Arkan lagi.


"Dan kamu tau setelah ini Almira pasti akan tetap dengan segala macam usahanya. SEKARANG APA YANG MAU KAMU LAKUKAN MEMINTA SAYA KEMBALI PADA DIA?" kata Arkan dengan emosinya. Entahlah kondisi Arkan sedang bagaimana sekarang tapi Arkan sendiri menyadari akhir akhir ini kondisinya sering tak stabil dari segi fisik maupun emosinya.


Mendengar Arkan yang sudah mulai emosi dan meninggi. Zara memberanikan diri untuk memeluk Arkan. Zara peluk suaminya itu walaupun awalnya Arkan sempat ingin melepaskan pelukan Zara tapi Zara semakin mengeratkan pelukannya. Hening beberapa saat, Zara membiarkan agar emosi Arkan turun terlebih dahulu.


"Zara minta maaf." kata Zara mendongak menatap Arkan. Pandangan Arkan masih luris kedepan.


"Zara minta maaf kalau secara gak sadar Zara mengungkit kembali masa lalu mas. Maaf kalau sikap Zara itu menyakiti mas." kata Zara sambil memandag Arkan yang sama sekali tak melihatnya.


"Zara janji deh gak akan bahas bahas lagi mbak Almira. Gak akan mau tau lagi tentang dia." perkataan Zara kali ini berhasil membuat Arkan menunduk menatap Zara.


"Tapi mas jangan marah marah lagi. Takut Zara." kata Zara.


"Kamu yang buat saya begini." jawab Arkan datar.


"Iya Zara minta maaf mas. Maaf ya please. " kata Zara. Arkan masih diam sambil menatap Zara.


"Ih jangan diliatin terus. Maafin ya dan mas jangan marah marah lagi." kata Zara.


"Kita gak sedang hidup di masalalu biar itu jadi pembelajaran. Mungkin salah saya juga karena saat bersama kamu saya belum sepenuhnya melupakan masalalu saya. Tapi saya benar benar berusaha melupakannya.  Dan setelah usaha saya berhasil tolong kamu percaya saya jangan buat saya merasa usaha yang saya lakukan itu sia sia." kata Arkan dengan suara yang melembut sambil menatap Zara lekat lekat.

__ADS_1


"Maafin Zara." kata Zara pelan. Sungguh gejolak didalam perut Arkan berhasil merusak moment kali ini. Arkan melepaskan pelukan Zara tangan Zara yang sejak tadi melingkar dipinggangnya. Arkan berlari ke kamar mandi lalu kembali memuntahkan isi perutnya di wastafel. Zara kembali mengekori Arkan ke kamar mandi.


"Mas kayaknya harus kontrol lagi deh ke dokter." kata Zara sambil memijat tengkuk Arkan. Arkan tak merespon apa apa, ia masih fokus dengan gejolak di perutnya.


"Bukan saya yang harus diperiksa dokter." jawab Arkan setelah membersihkan mulutnya. Zara diam tak mengerti.


"Saya rasa kamu yang harus saya bawa ke dokter." kata Arkan lagi.


"Kok Zara? Orang mas yang muntah muntah kok jadi Zara yang harus ke dokter?" kata Zara.


"Kamu mau saya maafinkan? Nah itu persyaratannya." kata Arkan dengan otoriternya.


"Ya tapi kenapa Zara yang harus ke dokter Zara kan gak kenapa napa."


"Mau enggak?" tanya Arkan dengan tatapan yang mengintimidasi.


"Yaudah iya. Gausah marah marah terus." kata Zara kesal.


"Ya kamunya ngelawan terus kata Arkan." jawab Arkan gak mau kalah. Zara mengerucutkan bibirnya kesal.


"Saya tanya, kamu kapan terakhir datang bulan?" tanya Arkan.


"Tau ah. Gak usah aneh aneh deh. Mending mas mandi siap siap ke mesjid. Udah mau subuh ini." kata Zara meninggalkan Arkan sendiri di kamar mandi.


Pukul 08.00 Arkan yang belum pergi ke kantor memancing sang mama untuk bertanya.


"Abang kok belum berangkat ke kantor?" tanya Mama.


"Iya nanti ma. Abang mau anterin Zara dulu ke dokter." jawab Arkan.


"Loh kok ke dokter? Zara sakit?" tanya mama.


"Enggak ma. Cuman abang curiga mama bakal punya cucu lagi." jawab Arkan antusias.


"Wah serius Alhamdulillah. Terus Zaranya mana?" tanya mama.


"Oh yaudah sana. Semoga mama bener bener bakal punya cucu lagi." kata mama antusias.


Dalam perjalanan ke RS Arkan masih mendiamkan Zara.


"Mas tadi bilang apa sama mama?" tanya Zara memulai pembicaraan.


"Kenapa?" tanya balik Arkan.


"Iya soalnya tadi ketemu Zara mama kayaknya seneng baget. Terus elus perut Zara." kata Zara.


"Menurut kamu?" jawab Arkan dingin.


"Ih dasar manusia dingin." kata Zara sambil memalingkan wajahnya ke arah jendela.


Setelah itu keadaan di mobil kembali hening.


"Cepet turun udah sampai." kata Arkan sambil melepaskan sabuk pengamannya. Zara mengikuti perintah Arkan.


Arkan berjalan lebih dulu dan Zara mengikutinya kali ini tidak ada gandeng menggandeng.


"Kok ke dokter obgin. Emang siapa yang hamil?" tanya Zara saat melihat Arkan sedang melakukan pendaftaran .


"Diam." jawab Arkan. Zara mengerucutkan bibirnya lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Arkan menahan tawa melihat Zara manyun dan kesal begitu. Sebuah ide jail muncul di otaknya. Sedetik kemudian Arkan memdaratkan bibirnya ke bibir Zara yang masih cemberut. Hanya sekejap karena Arkan sadar mereka sedang di tempat umum dan beruntungnya kegiatan tadi tak ada yang tau hanya mereka yang merasakan dan mungkin cctv yang jadi saksi bisu.


Mendapatkan perlakuan begitu dari Arkan mata Zara langsung melotot dan wajahnya memerah. Zara sudah siap siap ingin mengomeli Arkan tapi dengan cepat juga Arkan berjalan ke arah kursi tunggu dan meninggalkan Zara.


"Mas kenapa tadi begitu. Ini tempat umum tau." kata Zara kesal.

__ADS_1


"Salah kamu." jawab Arkan dingin.


"Mas kenapa sih. Kalau belum mau maafin Zara yaudah tapi gausah aneh aneh juga. Ini itu di tempat umum mas malu. Nanti kalau ada yang liat mereka pikir apa? Meskipun suami istri tapi gak etis rasanya beradegan begitu di depan umum." kata Zara dengan suara yang bergetar dan menahan tangisnya tapi air mata Zara jatuh begitu saja.


Arkan yang melihat Zara menangis langsung menarik Zara yang duduk di sampingnya ke pelukannya.


"Jangan nangis. Oke oke saya minta maaf. Saya keterlaluan tadi."kata Arkan. Tapi Zara masih tetap menangis.


"Kamu jangan nangis kita lagi di depan ruangan dr. Obgin ini kalau kamu nangis nanti orang lain bisa ngiranya kalau saya menghamili kamu." kata Arkan. Zara langsung menatap Arkan dengan wajah yang memerah dan bekas air mata di pipinya.


"Haha udah kayak tomat tau nggak wajah kamu." kata Arkan sambil mengusap bekas air mata di pipi Zara. 


"Kok malah makin merah sih?" kata Arkan.


"Ih mas udah malu." jawab Zara sambil menyingkirkan tangan Arkan dari pipinya.


Tak lama mereka pun di panggil oleh dokter. Dokter melakukan pemeriksaan pada Zara dimulai dari cek BB/TB, tekanan darah dan juga melakukan cek darah. Setelah dilakukan beberapa pemeriksaan Zara dinyatakan positif hamil. Arkan yang sudah menduganya tetap tak bisa menyembunyikan kebahagiaan dari wajahnya bahkan matanya mulai berembun. Sedangkan Zara ia masih kaget bagaimana biasa usia kandungannya sudah 4 minggu tapi ia tak merasakan apa apa.


"Dok ini betulan?" tanya Zara


"Kamu gak percaya?" tanya dokter.


"Bukan begitu dok tapi saya bingung kok saya gak berasa apa apa?" kata Zara bingung.


"Suami kamu yang merasakannya Zara. Bayi kalian mau menyapa ayahnya dulu." kata dokter.


"Kok dokter tau?" tanya Zara.


"Haha saya ini temannya mbak Rani mamanya Arkan. Saya juga dokter kandunganya Alisya dulu. Kemarin Arkan sudah sempat bercerita dengan saya lewat WhastApp mangkanya saya sekarang gak banyak tanya lagi." jawab dokter. Zara menatap Arkan tajam sedangkan Arkan tak mempedulikan tatapan Zara ia lebih memilih berkomunikasi dengan dokter.


"Jadi kapan jadwal periksa lagi dok?" tanya Arkan.


"Bulan depan kalian datang lagi. Nanti Insya Allah kita sudah bisa dengar detak jantungnya." kata dokter. Arkan mengangguk faham.


"Oh iya kondisinya memang sekarang baik baik aja. Tapi tetap saja sampai usia 3 bulan itu masih riskan karena kadang kondidi janin yang belum stabil." jelas dokter.


"Oke baik dok."


"Yaudah kalau begitu. Nanti kalau ada yg perlu di tanyakan kamu bisa tanya lewat WA saja jangan sekarang. Pasien saya masih banyak hari ini." kata dokter.


"Haha oke oke oke dok. Terimakasih banyak dok." kata Arkan.


Mereka sudah berada dalam perjalanan pulang.


"Mas kenapa gak bilang Zara dulu?" tanya Zara.


"Bilang apa?" tanya Arkan.


"Kalau mas curiga Zara hamil." jawab Zara.


"Emang kamu bakal percaya sama saya? Terus sekarang kamu gak seneng?"


"Ih bukan gitu. Tapi kan Zara malu sama dokternya. Masa Zara gak peka sama keadaan diri sendiri."


"Iya kamu emang gak peka kan?" tanya Arkan.


"Ih maksud mas?"


"Iya kamu emang gak peka sampe saya udah mulai jatuh cinta sama kamu aja kamu gak tau kan?" tanya Arkan sambil fokus ke jalanan.


Zara menatap Arkan yang sedang menatap jalanan. Ucapan Arkan kali ini terdengar begitu tulus. Zara berpikir apa setidakpercaya itu dirinya pada Arkan sampai ketidakpercayaannya itu menutup hatinya untuk bisa merasakan ketulusan yang Arkan berikan.


***

__ADS_1


To be continued...


See you next part...


__ADS_2