
Assalamu'alaikum...
Happy Reading...
Zara yang tak kunjung menjawab pertanyaan Arkan membuat Arkan memutuskan untuk mengajak Zara melihat lihat rumah terlebih dahulu.
"Ayo lebih baik kita lihat lihat dulu." kata Arkan bangun dari duduknya kemudian berjalan menaiki tangga. Dan Zara mengikuti di belakangnya.
"Ini kamar utama, view nya ke halaman depan langsung. Rumah ini punya 6 kamar tidur 4 di lantai 2 dan 2 lagi di lantai dasar. Di lantai 2 ini ada ruang kerja saya juga saya buat perpustakaan mini karena saya tau kamu sangat suka membaca dan ada juga ruang keluarga yang lebih pribadi. Terus di lantai 1 itu ada ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, dapur, ruang cuci dan kamar mandi tamu." kata Arkan menjelaskan.
"Ini mas semua yang beli perabotannya?" tanya Zara. Tidak salahkan Zara bertanya seperti itu karena rumah ini sudah ada beberapa perabotan rumah yang tersedia.
"Enggak kok saya minta bantuan bunda." jawab Arkan.
"Bunda?" kata Zara membeo.
"Iya saya belum cukup tau seperti apa selera kamu maka dari itu beberapa waktu lalu saya minta tolong bunda untuk membantu saya membeli beberapa perabotan rumah untuk mengisi rumah ini. Memang belum semua, saya sengaja biar kamu yang melengkapi. Agar rumah ini sesuai dengan selera kamu nantinya." jawab Arkan.
"Kenapa harus disesuaikan dengan selera Zara?" tanya Zara.
"Pertanyaan bodoh." jawab Arkan.
"Zara bertanya serius mas." kata Zara.
"Menurut kamu karena apa?" tanya balik Arkan.
"Kalau Zara tahu gak bakal tanya." jawab Zara. Arkan menatap Zara tajam, Arkan tak yakin kalau Zara tidak tau alasannya.
Arkan yang tadinya duduk di sofa kamar bersama Zara, sekarang ia berdiri dan berjalan ke balkon.
"Pertanyaan Zara belum mas jawab." kata Zara yang ternyata mengikuti Arkan.
"Hmm harus saya jawab juga."
"Iya."
"Karena saya ingin rumah ini nantinya menjadi tempat ternyaman buat kamu. Karena rumah tempat saya pulang jadi saya ingin alasan saya pulang nyaman berada di tempat saya pulang." kata Arkan.
Hening. Seketika Arkan dan Zara sama sama diam. Zara bukan tak mengerti apa yang dikatakan Arkan tapi dasarnya Zara memang si manusia overthink ia masih berpikir mengapa Arkan tiba tiba bersikap seperti ini. Zara takut sikap Arkan ini hanya menjadi sebuah tirai yang menutupi apa yang Arkan sembunyikan.
"Saya tau kamu pasti sedang memikirkan alasan saya tiba tiba bersikap seperti ini kan? Kamu itu terlalu banyak berpikir yang tidak harus kamu pikirkan Zara. Dan hasil dari pemikiran kamu itu kamu selalu negatif thinking pada saya."
Perkataan Arkan barusan sepertinya sangat tepat menusuk di hati Zara memang begitu kenyataannya Zara selalu berprasangka buruk pada Arkan, Zara terlalu takut untuk percaya penuh pada Arkan. Zara takut kecewa dan Zara takut dikecewakan.
"Saya tanya sekali lagi sama kamu Zara. Apa kamu tidak keberatan kalau mulai minggu depan kita sudah tinggal disini?" tanya Arkan.
"Maaf mas Zara... Zara..."
"Sudah saya tau jawaban kamu. Kamu masih ragukan? Tidak apa apa jangan dipaksa. Sekarang kamu sudah tau kalau saya sudah mempersiapkan rumah ini untuk kita. Tinggal kamu beritahu saya jika sudah siap untuk tinggal di sini. Biar nanti kita lengkapi dulu perabotannya. Sekarang sudah sore sebaiknya kita pulang." kata Arkan berjalan meninggalkan Zara.
"Sekarang mas yang negatif thinking sama Zara." kata Zara masih dalam posisi yang sama.
"Apa maksud kamu?" tanya Arkan.
"Jujur Zara memang masih ragu. Zara takut kecewa nantinya. Tapi Zara terimakasih karena mas udah mempersiapkan sejauh ini. Zara malu, yang awalnya Zara kira mas yang paling sulit menerima untuk pernikahan ini tapi ternyata mas yang sudah berbuat banyak dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk masa depan pernikahan ini. Kali ini Zara akui kalau Zara sendiri sebenarnya yang menciptakan batasan dengan mas." kata Zara sambil menatap kedepan ke arah halaman. Arkan yang semula sudah menjauh dari Zara kini ia kembali mendekat dan berdiri di belakang Zara.
"Maafkan Zara kalau batasan yang Zara buat menjadikan kita bercelah dan celah itu yang mungkin nantinya akan menjadi peluang masuknya angin angin jahat. Zara hanya terlalu takut, karena pada dasarnya pernikahan kita bukan berasal dari dua insan yang saling mencinta jadi pasti banyak alasan untuk pergi sedangkan alasan kita untuk menetap masih belum kuat." kata Zara. Zara benar benar mengungkapkan apa yang ia takutkan. Yang menyebabkan ia selalu tidak percaya dan ragu dengan Arkan.
Arkan tersenyum akhirnya Zara mau terbuka juga dengan dirinya. Sebuah kemajuan bukan? Memang selama ini Zara sudah menjadi istri yang baik, Zara berbakti pada Arkan lahir dan bathin. Tapi yang Arkan rasa yang Zara lakukan barulah sebatas menjalankan kewajiban istri pada suami belum benar benar dari hati.
Arkan semakin mendekat pada Zara dipeluknya Zara oleh Arkan. Arkan merasakan tubuh Zara menegang ketika ia memeluknya tapi beberapa saat kemudian Arkan bisa merasa tubuh Zara sudah normal kembali.
"Sekarang alasan kita untuk tinggal sudah kuat. Karena disini, sudah ada alasan yang kuat untuk kita tetap bersama." kata Arkan sambil mengelus perut Zara yang masih rata. Arkan membalikan tubuh Zara agar menghadapnya. Arkan melihat ada air mata di wajah Zara. Arkan menghapus jejak air mata tersebut dengan ibu jarinya.
"Cengeng." kata Arkan sambil menyentil pelan kening Zara.
"Ih mas ngerusak moment deh." kata Zara.
"Moment apa sih? Jadi gimana mau enggak minggu depan kita mulai tinggal disini?" tanya Arkan.
"Iya." jawab Zara pelan.
"Apa saya gak dengar." kata arkan.
"Iya mau. " jawab Zara dengan suara yang lebih kencang.
"Bagus kalau begitu mulai besok bisa kita cicil beli perabotan rumah ya. Dan juga mulai nyicil bawa barang barang kita kesini." kata Arkan.
"Mas ini beneran mas yang desain semuanya?" tanya Zara ragu.
"Kamu meragukan kemampuan saya?"
"Entahlah tapi kok bisa manusia dingin dan kaku kayak mas bisa mendesain rumah semanis ini." kata Zara.
"Kamu memuji saya?"
"Bukan bukan. Maksud Zara itu..."
"Stt udah udah diam. Karena kamu tadi sudah memuji saya. Saya jadi punya sesuatu buat kamu." kata Arkan sambil mengeluarkan sebuah kotak dari dalam kantong jas nya.
"Apa ini?" tanya Zara saat menerima kotak tersebut.
"Buka aja. Harus saya yang buka juga." jawab Arkan. Zara menggeleng kemudian membuka kotak tersebut.
"Masya Allah mas. Inikan yang mas beli buat Alisya kok tega sih mas malah kasih ke Zara." tanya Zara.
"Saya memang sengaja membelikan itu untuk kamu. Niatnya sebagai permintaan maaf saya karena buat kamu salah faham waktu itu. Tapi sayangnya pertemuan dengan Almira menggagalkan rencana saya." kata Arkan.
"Jadi ini untuk Zara?" tanya Zara memastikan.
__ADS_1
"Iya." jawab Arkan singkat.
"Pakein." kata Zara sambil menyerahkan kotak kalung tersebut pada Arkan.
"Pakai sendiri."
"Ih pakein, biar romantis."
"Angkat kerudung kamu." perintah Arkan.
"Judes banget sih. Jangan disini nanti ada yang liat." kata Zara.
"Enggak akan. Cepet angkat." kata Arkan tegas.
"Mulai galaknya." kata Zara kesal.
"Jadi dipakein gak nih?" tanya Arkan.
"Iya sabar." kata Zara sambil mengangkat kerudung panjangnya.
"Cantik." kata Arkan setelah memasangkan kalung tersebut di leher Zara.
"Makasih." jawab Zara.
"Kalungnya bukan kamunya." kata Arkan datar. Zara yang semula tersenyum menjadi cemberut.
"Mas seneng banget sih ngerusak momen."
"Momen apa sih. Udah ayo kita pulang." kata Arkan sambil menarik tangan Zara.
"Tadi aja bicaranya manis manis. Sekarang mulai jadi batu es lagi. Dasar manusia kulkas." kata Zara pelan.
"Saya dengar." kata Arkan.
Besoknya setelah melihat rumah baru mereka, Arkan langsung mengajak Zara untuk membeli perlengkapan rumah.
"Mas suka interior rumah yang seperti apa?" tanya Zara saat dalam perjalanan.
"Kenapa tanya saya?"
"Ya kan Zara juga perlu tahu, biar nanti saat beli peralatan rumah gak melulu sesuai selera Zara. Nanti kalau semuanya selera Zara dan mas gak suka, malah mas gak betah di rumah."
"Seperti apapun tempatnya saya akan pulang ketika di sana ada anak dan istri saya." kata Arkan masih dengan pandangan yang fokus ke jalanan. Zara memalingkan wajahnya, ia tersipu. Tidak menyangka kalimat tersebut akan keluar dari mulut Arkan.
"Zara sukanya yang klasik minimalis gitu, mas suka gak?" kata Zara membuka kembali pembicaraan. Arkan mengangguk.
"Zara juga gak mau banyak kombinasi warna. Pengennya yang netral aja gitu biar lebih mudah dicocok cocokannya."
"Kalau rumahnya dibuat kombinasi warna putih dan pink gimana?" Arkan menoleh ke arah Zara sekilas. Seakan bertanya 'kamu serius?'
"Haha enggak Zara bercanda. Warna putih aja ya, kita buat dominan warna putih."
"Oh iya mas, kemarin lupa setiap ruangannya gak difoto dulu."
"Untuk?"
"Sekarangkan kita beli barang, setidaknya kalau ada fotonya kita bisa sesuaikan penempatannya biar pasti."
"Saya hapal kok denah per ruangannya."
"Hah? Serius?"
"Saya yang desain, saya yang pantau proses pembuatan masa saya gak hapal."
"Iya maaf Zara lupa kalau bapak Arkan ini seorang arsitek yang hebat."
"Bagi kamu saya ini siapa?"
"Mas itu bagi Zara ya Mas Arkan."
"Hanya itu?" Zara diam sambil berpikir.
"Mas Arkan itu seorang Arsitek yang hebat, terkenal kemudian pemilik perusahaan properti terkenal."
"Bukan itu."
"Terus?"
"Kamu ternyata lebih tidak peka daripada saya."
"Hm maksudnya?"
"Saya itu maunya kamu jawab. Kalau saya itu suami kamu dan kamu bangga punya suami seperti saya." begitu kata Arkan dengan wajahnya yang tetap datar dan tanpa ekspresi.
"Dih." kata Zara sambil memalingkan wajahnya.
Sebulan sudah Arkan dan Zara tinggal di rumah mereka. Tidak hanya berdua mereka juga ditemani oleh seorang ART. Sebenarnya Zara menolak untuk memiliki asisten rumah tangga. Namun seperti biasanya suami otoriternya itu memaksakan kehendaknya.
"Mas sibuk hari ini?" tanya Zara pada Arkan yang sedang bersiap ke kantor.
"Saya ada rapat pagi. Kenapa?" tanya Arkan.
"Hari ini kan jadwal check up kehamilan Zara." kata Zara.
"Tapi gak apa apa kalau mas sibuk nanti Zara ke rumah sakit sendiri aja." kata Zara.
"Saya ingat kok. Kita ke rumah sakit nanti siang. Saya sudah hubungi dokternya. Kamu siap siap di rumah ba'da duhur nanti saya jemput." kata Arkan. Zara mengangguk mengerti.
Setelah selesai bersiap Arkan pun bergegas pergi ke kantor dan seperti biasanya Zara mengantarkan Arkan sampai ke depan rumah.
__ADS_1
"Saya berangkat." kata Arkan sambil mengulurkan tangannya pada Zara.
"Iya. Hati hati." kata Zara lalu mencium tangan Arkan dan Arkan mencium kening Zara.
Semenjak tinggal di rumah sendiri hal seperti itu memang sengaja Arkan biasakan awalnya saat di rumah mama Zara selalu menolak dengan alasan malu. Tapi sekarang Arkan membuat Zara tak punya banyak alasan, Arkan juga sedang berusaha untuk mengikis jarak dan kekakuan yang masih ada diantara mereka.
Seperti biasanya setiap kali Arkan menciumnya Zara selalu merasa malu dan wajahnya langsung memerah. Arkan selalu di buat gemas dengan hal itu.
"Kamu dan dia baik baik di rumah. Saya berangkat. Assalamu'alaikum." kata Arkan sambil mengusap perut Zara yang masih rata.
"Iya. Wa'alaikumsamalam." jawab Zara.
Selepas Arkan pergi ke kantor Zara kembali dengan rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga. Walaupun sudah ada bude tapi Zara tak pernah mau hanya berdiam diri selalu saja ada yang Zara kerjakan. Tapi tolong jangan beritahu Arkan hal ini. Karena Arkan sudah sering mewanti wanti agar Zara benar benar istirahat dengan alasan kehamilan trimester pertama itu masih rawan dengan keguguran.
Pukul 13.00 Zara sudah bersiap ia sedang menunggu Arkan menjemput. Tak lama terdengar suara klakson mobil dari luar halaman rumah. Dan kemudian ponsel Zara bergetar.
'Mr. Cold.' Calling...
"......"
"Wa'alaikumsamalam. Iya Zara keluar. Assalamualaikum."
"......"
Ternyata Mr. Cold nya Zara hanya memberitahu jika dirinya sudah di depan dan menunggu di luar gerbang.
Tak sampai perjalanan setengah jam mereka sudah sampai di rumah sakit. Mereka langsung menuju ke dokter kandungan.
"Assalamu'alaikum. Selamat siang dok." sapa Arkan saat memasuki ruangan dokter.
"Wa'alaikumsamalam. Selamat siang silahkan." kata dokter sambil mempersilahkan duduk.
"Gimana ada keluhan tidak?" tanya dokter.
"Alhamdulillah tidak ada dok." jawab Zara.
"Alhamdulillah kalau begitu. Mari langsung saja ke ruang pemeriksaan kalau begitu." ajak dokter.
Mereka mengikuti dokter ke ruang pemerikasaan.
"Kalau di lihat usia kandungannya sih Insya Allah kita sudah bisa dengar detak jantungnya sekarang." kata dokter.
"Wah serius dok."
"Iya 8 minggu. Kita coba dulu ya." kata dokter sabil mempersiapkan alat.
Pertama kalinya mereka mendengar detak jantung dari calon bayi mereka. Arkan dan Zara sama sama tak bisa menutupi kebahagiaannya. Jika Zara hanya tersenyum dengan mata yang berkaca kaca lain halnya dengan Arkan lelaki yang biasanya dingin dan selalu memaksakan kehendaknya itu sekarang tampak lain dengan air mata yang mengalir di pipinya.
Setelah pemeriksaan berakhir Zara kembali merapikan pakaiannya lalu bangun dari tempat tidur.
"Jangan nangis dong." kata Zara sambil mengusap air mata Arkan. Arkan dengan refleks memeluk Zara kemudian menciumnya.
"Mas malu ada dokter." kata Zara dengan wajah yang sudah memerah.
"Eh dokter maaf." kata Arkan tampak gugup.
"Haha oke tidak apa apa saya sudah biasa dengan romantisme pasangan muda." kata dokter sambil berjalan kembali ke ruang konsultasi.
Mereka mengikuti dokter ke ruang konsultasi.
"Oke jadi untuk hasilnya sih sejauh ini baik baik saja. Saya cuman pesan Zara harus makan makanan yang bergizi ya. Sayur, buah juga makanan yang mengandung banyak protein. Sama satu lagi saya sarankan untuk minum susu hamil."
"Nah iya tuh dok dia ini suka susah minum susu enek katanya." jawab Arkan.
"Ya gimana dok. Zara itu gak terlalu suka susu. Apalagi susu hamil itu bikin enek menurut Zara."
"Iya memang sih apalagi bagi yang gak begitu suka susu. Tapi harus di usahakan ya minimal 2 kali sehari. Sekarang kan sudah banyak tuh susunya dengan berbagai rasa ya tingga dicoba aja yang mana yang paling gak bikin enek." kata dokter.
Dalam perjalanan pulang wajah mereka sama sama tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang dirasakan.
"Mas Zara minta izin mau ketemu temen Zara boleh?"
"Siapa?"
"Nadia. Dia baru pulang dari luar kota. Zara udah lama gak ketemu dia." kata Zara.
"Tapi saya harus ke kantor lagi." jawab Arkan.
"Iya gak apa apa. Mas turunin Zara di lampu merah depan aja. Nanti sisanya Zara naik taksi."
"Kamu lupa dengan perintah saya?" tanya Arkan.
"Iya tapi mas. Zara udah lama gak ketemu dia. Gak cape cape kok paling cuman ngobrol ngobrol. Boleh ya." kata Zara membujuk Arkan.
"Kalau kamu lupa saya ingatkan lagi. SAYA TIDAK IZINKAN KAMU PERGI TANPA SAYA." kata Arkan dengan penuh penekanan. Zara langsung diam tak membantah lagi.
Sampai di rumah Zara langsung turun dari mobil tanpa mempedulikan Arkan.
"Ngambek." kata Arkan bergumam sendiri.
Setelah memastikan Zara masuk ke rumah Arkan kembali melajukan mobilnya. Mendengar suara mobil melaju Zara melihat lihat melalui jendela apa benar suaminya itu sudah pergi. Setelah memastikan Arkan sudah pergi Zara mengambil handphonenya dari dalam sling bag untuk memesan taksi online.
Belum jauh Zara pergi handphone Zara bergetar.
'Mr. Cold Calling...'
***
To be continued....
__ADS_1
See you next part...