
Assalamualaikum...
Happy Reading...
Hingga siang hari demam Arkan tak kunjung menurun malah semangkin meningkat. Zara semakin bingung dibuatnya apalagi Arkan harus bolak balik kamar mandi karena rasa mualnya yang tak kunjung hilang. Belum lagi rasa pusing yang Arkan keluhkan. Zara tak tega melihatnya wajahnya sudah pucat juga keringat bercucuran.
"Mas kita ke RS sekarang ya. " kata Zara sambil memijat kepala Arkan. Arkan menggeleng lemah.
"Mas Zara bukan dokter. Zara gak tau haris gimana biar mas bisa lebih baik. Zara udah kasih mas obat tapi gak ada pengaruhnya kan. Tolong mau ya." kata Zara lagi.
"Saya cuman butuh tidur." jawab Arkan pelan.
"Bohong. Dari tadi mas tidur terus gak ada perubahan juga. Mas juga dari tadi gak mau makan tiap makan muntah begitu terus. Mau ya please." kata Zara lagi sambil menyeka keringat di kening Arkan. Arkan pun menyerah karena ia merasa sudah semakin lemas dan pusing ia tak bisa lagi membantah.
"Nah gitu nurut kan seneng Zara." kata Zara sambil mengusap kepala Arkan.
"Sebentar ya Zara minta tolong pak Edi (sopir) buat siapin mobilnya." kata Zara sambil berlalu meninggalkan Arkan. Setelah memberi tahu sopir Zara kembali ke kamar.
"Mas ganti baju dulu ya. Ini udah basah sama keringat mas." kata Zara sambil membantu Arkan membuka bajunya. Lalu menggantinya dengan yang baru.
"Yaudah yuk. Zara udah bilang juga sama mama sama papa. Mereka lagi pergi sekarang." kata Zara sambil membantu Arkan berdiri dari tempat tidur. Zara berjalan perlahan sambil memapah Arkan.
Sampai di RS Arkan langsung di bawa ke UGD. Menurut periksaan dokter di UGD Arkan harus mendapat perawatan di RS. Karena ingin yang terbaik untuk Arkan Zara segera mengurus Administrasi untuk perawatan Arkan.
"Kata dokter mas harus di rawat disini dulu minimal sampai besok. Mas tunggu sebentar ya, Zara urus administrasi dulu biar mas bisa cepat dapat ruangan." kata Zara. Arkan hanya mengangguk lemas. Selesai mengurus administrasi Zara langsung kembali menemui Arkan yang masih di UGD.
"Maafkan saya merepotkan kamu." kata Arkan lemah. Zara menggeleng.
"Maafin Zara yang gak bisa ngurusin mas dengan baik."
Arkan tersenyum tipis sambil menggenggam tangan Zara.
"Permisi dengan pasien atas nama Tn. Arkan Zaini?" tanya seorang perawat yang menghampiri mereka.
"Iya sus betul." jawab Zara.
"Ruangannya sudah ada. Mari kita pindah ke ruangan perawatan." kata Suster tersebut.
"Oh iya. Terimakasih sus."
Arkan pun langsung dipindahkan ke ruang perawatan. Setelah selesai membantu Arkan suster kembali ke ruangannya. Arkan disarankan untuk banyak banyak beristirahat.
"Dengerkan kata suster dan dokter tadi. Mas harus istirahat." kata Zara. Arkan mengangguk.
"Yaudah sekarang mas istirahat. Zara mau ke luar dulu sebentar ya." kata Zara.
"Mau kemana?" tanya Arkan lemas.
"Zara mau ke parkiran. Pak Edi masih nunggu disana. Zara juga mau sekalian minta tolong pak edi buat kasih tau mama papa kalau mas dirawat disini. Minta tolong mereka juga buat bawain pakaian buat mas." kata Zara.
"Telepon aja." kata Arkan pelan.
__ADS_1
"Zara gak bawa hp." Arkan mengendus pelan.
"Sebentar kok. Biasanya juga mas gak mau tau Zara kemana." kata Zara.
Arkan menatap Zara dengan tatapan sayu.
"Haha udah ah. Izin sebentar ya. Lagi sakit gak boleh otoriter dulu ya." kata Zara sambil mengambil tangan Arkan yang terbebas dari infus untuk diciumnya.
Hampit 15 menit Zara meninggalkan Arkan sendiri di ruangannya. Arkan sendiri sudah kesal menunggu Zara yang pamitnya hanya sebentar. Apa dari kamar perawatannya ke parkiran butuh waktu hingga 15 menit? Begitu kira kira isi pikiran Arkan.
"Assalamualaikum..." ucap Zara sambil membuka pintu.
"Darimana?"
"Sekarang kalau orang ucap salam itu dijawabnya pake kata Darimana ya?" kata Zara.
"Waalaikumsalam. Kamu dari mana?"tanya Arkan.
"Tadi Zara shalat dulu. Terus beli buah sama makanan ringan. Mas kan setelah sarapan tadi belum makan lagi. Sementara ini udah lewat duhur dan makanan dari RS baru ada lagi sore nanti. Jadi Zara beli makanan dulu." kata Zara menjelaskan.
"Nah tadi juga Zara udah tanya suster makanan yang boleh dan yang gak boleh buat mas. Ini yang Zara beli boleh semua kok." kata Zara lagi.
"Mas mau apa?" Arkan menggeleng.
"Mas harus makan dong." kata Zara.
"Mulut saya pahit nanti saya muntah lagi saya cape bolak balik kamar mandi." kata Arkan dengan pelan.
"Coba sedikit sedikit ya." bujuk Zara sambil menyuapkan pisan yang sudah dipotong kecil ke mulut Arkan. Sedikit demi sedikit Arkan tak merasa mual tapi untuk suapan yang berikutnya Arkan kembali mual. Zara pun berhenti menyuapi Arkan.
"Sekarang mas istirahat ya." kata Zara.
"Kepala saya pusing." keluh Arkan.
"Hmm yaudah mas berbaring sambil Zara pijitin kepalanya." kata Zara sambil membantu Arkan berbaring.
Arkan berbaring sedangkan Zara duduk disamping Arkan sambil memijat kepala Arkan. Perlahan Arkan memejamkan matanya. Demamnya masih sama seperti tadi. Tapi setidaknya sekarang Zara merasa lebib tenang karena jika Arkan mengeluh ini dan itu Zara bisa memanggil dokter agar Arkan bisa langsung mendapat penanganan.
Dua hari sudah Arkan dirawat di RS. Selama itu juga Zara selalu merawat Arkan dengan telaten. Zara tak pernah pulang karena memang Arkan yang tak memperbolehkan Zara pulang. Jika tak ada keluhan lain besok Arkan sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Berdiam di RS bukanlah hal yang mengenakan bagi siapapun termasuk Arkan walaupun kamar perawatan yg ditempatinya merupakan ruangan vvip tapi tetap saja tak nyaman.
"Saya kapan bisa pulang?" kata Arkan.
"Kata dokter kalau besok saat pemeriksaan dokter mas gak ada keluhan apa apa mas boleh pulang." kata Zara. Arkan mengangguk faham.
"Zara..." panggil Arkan dengan suara yang tak selemas sebelumnya.
"Iya." kata Zara sambil melihat Arkan.
"Awalnya saya kira saya gak enak badan terus saya mual dan muntah muntah itu karena kamu hamil." kata Arkan to the point.
"Hahaha kok mas bisa ngira begitu?" kata Zara sambil tertawa.
__ADS_1
"Ya memang kenapa? Kita suami istri sah dimata hukum dan agama." kata Arkan.
"Iya tapikan..."
"Apalagi? tentang perasaan saya? tentang masa lalu saya?" kata Arkan.
"Mas lagi sakit. Mending mas istirahat." kata Zara.
"Yang sakit itu badan saya bukan pikiran saya." kata Arkan.
"Iya Zara tau tapi yaudahlah mas isrirahat aja biar cepet sembuh." kata Zara. Arkan mengalah saja jika posisinya sedang tidak di rumah sakit mungkin Arkan akan membahas ini bersama Zara tapi sekarang kondisinya lain Arkan harus tau kondisi juga.
Tiga hari di RS akhirnya sekarang Arkan sudah bisa kembali meraskan suasana rumah kembali.
"Baru sembuh belum ada sehari gak usah lama lama diluar dulu mas." kata Zara saat melihat Arkan sedang berdiri di balkon kamarnya.
"Kamu kenapa sih sejak kemarin kok kayaknya bawel banget sama saya." kata Arkan.
"Ya maaf kalau mas gak suka Zara begini. Gak lagi deh, mas lakuin aja ya apa yang mau mas lakuin." kata Zara sambil meninggalkan Arkan tapi sayang langkahnya lebih dulu dihentikan oleh ucapan Arkan.
"Kamu kenapa?" tanya Arkan.
"Zara gak apa apa. Tadikan mas bilang kalau sekarang Zara bawelkan? Mas gak suka kan? Yaudah Zara minta maaf. Zara gak lagi begitu." kata Zara.
"Yang baru sembuh dari sakit itu saya. Kenapa malah kamu yang jadi sensitif dan baperan gini? Kamu lagi datang bulan?" tanya Arkan. Zara menggeleng. Tanpa diduga Arkan menggenggam kedua tangan Zara.
"Salah enggak kalai sekarang saya bilang sama kamu kalau mungkin saya mulai punya perasaan lebih terhadap kamu." kata Arkan.
Zara menatap Arkan wajah Zara terlihat sangat bingung seolah mengisyaratkan jika Zara butuh penjelasan lebih. Tapi Arkan hanya diam tak kunjung memberikan penjelasan.
"Mungkin mas hanya terbawa suasana karena dua hari kemarin mas selali bersama Zara." kata Zara.
"Iya mungkin juga. Tapi saya sudah lebih dulu merasakannya dari sebelum kejadian kemarin." kata Arkan.
"Haha yasudahlah kamu mungkin belum merasakan hal yang sama dengan saya." kata Arkan.
"Zara keluar dulu. Mau bantu mama." kata Zara melepaskan tangannya dari Arkan sambil berjalan meninggalkan Arkan.
'Mas salah Zara lebih dulu merasakan hal yang aneh itu. Tapi sayangnya saat Zara mulai percaya dan mulai jatuh terhadap mas. Saat itu juga mas buat Zara kecewa dan buat Zara seperti tak ada Artinya.' kata Zara berdialog sendiri dalam benak nya.
Sementara Zara masih dalam kebimbangan. Arkan malah merasa semakin yakin dengan yang ia rasakan saat ini. Arkan perlu usaha lebih untuk meyakinkan Zara. Seketika Arkan ingat dengan permintaan Zara beberapa waktu lalu jika Zara ingin bertemu dengan Almira. Arkan tak tau apa maksudnya tapi jujur mendengar namanya saja sudah membuat Arkan jengah. Dan jangankan untuk mempertemukan wanita itu dengan Zara, Arkan sendiri tidak tau dan tidak mau tau dimana dia berada.
Tapi apakah Arkan akan sanggup jika mempertemukan Zara dengan Almira itu merupakan syarat yang harus dipenuhi agar Zara perlahan bisa yakin kepadanya?
***
To be continued...
See you next part...
Thank you ♥
__ADS_1