
Happy Reading...
Hari ini pukul 19.00 Arkan baru saja menginjakan kakinya di rumah, ia mengetuk pintu.
Zara terkejut melihat penampilan Arkan yang berantakan tidak karuan bukan hanya pakaian saja yang berantakan, wajahnya pun tidak kalah berantakan.
"Assalamualaikum. Zayyan mana?"
"Waalaikumsalam. Udah tidur," kata Zara sambil mencium tangan Arkan.
Arkan mengangguk mengerti.
"Mas mau minum dulu?" tanya Zara saat melihat Arkan mendudukan dirinya di ruang keluarga.
Arkan hanya menggeleng lemah. Zara yang melihat gelagat aneh dari Arkan langsung menghampiri dan duduk disamping Arkan.
Zara segan untuk bertanya lebih dahulu, ia takut Arkan sedang menanggung beban yang berat. Zara takut bertanya diwaktu yang tidak tepat.
Dan Arkan ia memilih menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi sambil memejamkan matanya telapak tangannya Arkan gunakan untuk menutupi wajahnya dan sesekali menggosok wajahnya.
Sesekali terdengar tarikan napas yang sangat berat dari Arkan. Zara memberanikan diri untuk mengusap bahu Arkan membuat Arkan tersadar lalu menoleh ke arah Zara. Arkan menatap Zara lama, tatapan yang cukup dalam tapi Zara bukan pakar mikroekspresi Zara tidak mengerti arti dari tatapan Arkan.
"Zara buatin minum ya," tawar Zara sambil memutus kontak mata diantara mereka.
"Enggak usah Yang di sini aja," jawab Arkan.
"Mau berbagi cerita sama Zara?" tanya Zara.
Lagi lagi Arkan hanya menatap Zara dalam dalam.
"Zara enggak ngerti apa apa kalau mas cuman liatin Zara begitu," kata Zara. Arkan tampak tersenyum tipis lalu ia sedikit merubah posisinya menjadi berbaring di atas sofa meletakan kepalanya di atas paha Zara.
"Biar begini dulu yaa," kata Arkan sambil memejamkan matanya lagi.
Tidak ingin memaksakan Arkan untuk bercerita, Zara lebih memilih diam. Ia menggerakan tangannya untuk sedikit mengusap dan memijat kepala Arkan.
"Yang kamu sama Zayyan enggak akan ninggalin mas kan?" tanya Arkan tiba tiba.
Zara tampak diam sejenak ia sama sekali tak pernah mengira Arkan akan melontarkan pertanyaan seperti itu.
"Yang..." panggil Arkan lagi dengan mata yang sudah terbuka dan sedang menatap Zara.
"Mas kenapa tanya begitu?"
"Enggak apa apa. Mas cuma ingin memastikan kalau apapun yang terjadi mas bisa bilang kalau selalu ada kalian di samping Mas."
"Zara sama Zayyan enggak akan kemana mana. Kita tetap di sini sama mas di samping Mas Arkan," jawab Zara.
Arkan tampak menarik napas lega sambil kembali memejamkan matanya.
"Mas kenapa? Ada apa? Belum mau cerita sama Zara?" tanya Zara sambil mengelus kepala Arkan.
Lagi, Arkan tampak menarik napas berat kemudian terdiam sejenak. Zara tidak mau bertanya lagi, ia tidak mau Arkan merasa dipaksa bercerita. Zara pikir biarkan Arkan yang menceritakannya sendiri. Apalagi sepertinya beban yang sedang ditanggung Arkan ini sangat berat.
"Sejak beberapa bulan lalu perusahaan turun terus, sampai sekarang juga kondisinya belum stabil," ucapan Arkan sedikit terjeda. Arkan menatap Zara.
"Mas dan Dirga berusaha semaksimal mungkin agar perusahaan ini stabil lagi. Karena ini perusahaan induknya bisa bahaya kalau sampai induknya enggak stabil nanti juga bisa pengaruh ke beberapa perusahaan cabangnya. Apalagi ada beberapa perusahaan cabang yang baru berdiri," kata Arkan. Ucapan Arkan kembali terjeda.
"Usaha Mas dan Dirga gak sia sia Yang. Kita berhasil 3 bulan terakhir ini perusahaan mulai stabil lagi. Walaupun belum bisa seperti sebelumnya," ucapan Arkan kembali terjeda dan kali ini dengan durasi yang cukup lama. Sepertinya berat sekali Arkan menceritakanya.
"Udah. Kalau Mas belum siap cerita lebih banyak, enggak apa apa jangan dipaksakan. Zara buatin mas minum dulu ya, biar Mas lebih tenang," tawar Zara.
Arkan menggeleng pelan.
"Tapi usaha Mas gak bertahan lama. Minggu ini perusahaan turun lagi bahkan jauh lebih parah Yang. Kayaknya sih ada yang sengaja main main. Soalnya beberapa investor tiba tiba membatalkan kerja sama yang udah deal secara sepihak."
"Dan sekarang perusahaan lagi bener bener jatuh. Banyak proyek yang terhambat."
"Terus sekarang jalan apa yang Mas ambil?" kata Zara berani bersuara setelah Arkan lama tidak melanjutkan pembicaraannya.
"Entahlah Yang. Mas bingung rasanya pengen tutup aja itu perusahaan. Tapi mas juga harus mikirin banyak karyawan yang bergantung hidup dari pekerjaannya di perusahaan ini. Mas juga berpikir kalau perusahaan itu tutup gimana Mas mau bisa bertanggung jawab secara material sama kalian."
"Tapi Mas juga bingung darimana bisa langsung dapet dana besar besaran buat nutupin semua kerugian kerugian sama meneruskan proyek proyek yang terhambat."
"Mas bingung Yang. Mas harus gimana?" kata Arkan sambil mengubah posisinya menjadi miring menghadap perut Zara lalu memeluknya.
Zara kembali mengelus rambut Arkan.
"Cape Yang," kata Arkan pelan.
__ADS_1
"Mas lupa ya. Mas enggak sendiri sekarang. Keluarga mas semakin banyak. Mas udah coba minta bantuan belum ke Papa? Selain Papa juga sekarang Mas punya Ayah ada Abang juga."
"Tapi Mas enggak mau ngerepotin mereka Yang."
"Iya Zara ngerti. Tapi sekarang penting mana masa depan perusahaan mas yang menanggung banyak karyawan dengan kehidupannya. Atau lebih penting perasaan mas sendiri untuk bersikukuh enggak mau minta bantuan mereka?"
"Yang..."
"Gini deh mas coba buat hubungin mereka tapi bukan sebagai Mas Arkan sebagai anak melainkan sebagai Mas Klien yang menawarkan proses kerja sama gimana?"
"Tapi Yang pasti nanti Papa malah nawarin buat beli semua perusahaannya mas biar mas bisa megang perusahaannya Papa. Dari dulu Papa selalu begitu Yang."
"Kalau gitu, kita masih bisa berusaha bersama Mas. Mas butuh dana besarkan? Zara punya tabungan kok, terus perhiasan maskawin juga ada, bisa dijual Zara ikhlas kok. Kita bisa juga kok jual rumah ini dan beli yang lebih kecil. Bisa juga jual mobil. Terus..."
"Yang!" Arkan memotong ucapan Zara.
"Kalau Mas lakukan semua saran kamuz gimana nanti kalau orangtua kita tahu. Gimana kalau Ayah Bunda kamu tahu."
"Nanti kan kita bisa jelasin sama mereka."
"Udah ah di rumah enggak usah bahas kerjaan," kata Arkan lagi. Zara patuh saja dengan apa yang dikatakan Arkan kalau mau terus membahas takutnya malah jadi bertengkar dengan Arkan.
"Lapar Yang."
"Yaudah mas bangun terus bersih bersih. Zara siapin makannya."
Walaupun tampak malas tapi Arkan tetap bangun dan berjalan menaiki satu persatu anak tangga menuju ke kamar.
Arkan menghampiri Zara ke meja makan.
"Ayo makan dulu," kata Zara sambil menyodorkan piring yang sudah berisi nasi dengan lauk pauknya.
"Makasih," kata Arkan sambil menerima piring tersebut.
Arkan fokus dengan makanannya sedangkan Zara iya fokus mengamati Arkan.
"Alhamdulillah," kata Arkan setelah selesai makan.
"Yang mas ke atas duluan ya."
"Mau Zara buatkan teh atau susu enggak?" tawar Zara sambil membereskan bekas makan Arkan.
"Enggak dulu deh Mas masih kenyang," jawab Arkan sambil berlalu meninggalkan Zara sendiri di ruang makan.
Mengesampingkan segala gengsinya, Zara ingin Arkan merasa bahwa dirinya tidak sendiri.
"Mas enggak dingin?" tanya Zara sambil memeluk Arkan dari belakang. Oke ini pertama kali Zara yang memulai untuk beradegan seperti ini.
Arkan mengusap tangan Zara yang melingkar di perutnya. Tanpa Zara ketahui senyum indah tercetak di wajah Arkan.
"Masuk yuk," ajak Zara.
"Kalau masuk nanti lepas dong pelukannya," jawab Arkan.
"Ya tinggal Zara peluk lagi,"
"Bener ya. Peluk lagi jangan lepas," tantang Arkan.
"Iyaa. Tapi sekarang masuk ya. Dingin Zara," kata Zara sambil mengeratkan pelukannya.
"Mau tau enggak gimana caranya biar enggak dingin lagi?" tanya Arkan.
"Gimana?" tanya Zara.
Arkan sudah mengangkat Zara untuk masuk ke kamar.
---
"Terimakasih kamu sudah membuat Mas merasa punya support sistem yang luar biasa," kata Arkan kemudian mencium kening Zara.
"Hmm udah mas tidur lumayan masih ada waktu sekitar 3 jam an sebelum subuh," kata Zara dengan suara pelannya.
"Masih segar baru beres mandi mana bisa langsung tidur," jawab Arkan.
"Zayyan baik banget yaa. Pengertian kalau sekarang Ayahnya lagi lebih butuh bundanya," kata Arkan sambil mengeratkan pelukannya pada Zara.
"Ih mas udah ah tidur yaa," kata Zara sambil mencium rahang Arkan sekilas lalu segera mencari posisi nyamannya dengan membelakangi Arkan.
"Kebiasaan tidur senengnya munggungin suami," kata Arkan sambil meraih pinggang Zara lalu merapatkan tubuhnya pada Zara.
__ADS_1
-
Sudah dua bulan berlalu...
Kondisi perusahaan Arkan masih terombang ambing. Arkan masih tetap dengan pendiriannya tidak mau melibatkan keluarga besar mereka. Arkan dan Dirga sama sama sudah berkorban menjual harta pribadi mereka hingga sekarang yang dimiliki Arkan hanya sebatas rumah yang ia tempati hingga sebuah mobil yang biasa dipakai sehari hari. Sudah tidak ada lagi koleksi mobil dan Vespa matic kesukaannya.
Hingga akhirnya lambat laun kabar itu mulai sampai ketelinga orangtua mereka. Awalnya sang Papa murka ketika mengetahui Arkan sejatuh ini tapi ia baru mengetahuinya. Tapi ia juga tidak heran dengan sikap putra sulungnya yang sangat keras kepala. Hingga kejadiin ini digunakan sang Papa untuk menarik Arkan agar mau menggantikan posisinya.
Arkan tidak bisa berkutik saat Papanya tiba tiba datang dan menawarkan bantuan dengan persyaratan Arkan mau menggantikan Papanya di perusahaan milik Papanya. Hanya dengan cara seperti itu Arkan bisa menyelematkan nasib para karyawannya serta masa depan perusahaan yang dirintisnya dari 0.
Arkan yang baru sampai di rumah ia langsung bergegas masuk ia menutup pintu dengan membantingnya. Arkan mencari Zara tapi tidak menemukannya. Saat masuk kamar ia melihat istrinya baru selesai mandi dan masih berbalut baju mandi. Tanpa berpikir panjang Arkan langsung memeluknya dengan erat.
Zara yang kaget langsung dipeluk begitu secara otomatis tubuhnya langsung berontak.
"Aku gagal Yang," bisik Arkan.
Zara mulai mengerti arah pembicaraan Arkan. Seperti yang Mamanya katakan tadi saat mengambil Zayyan. Ya, Mamamya beberapa jam lalu datang dan memaksa untuk membawa Zayyan. Mama bilang kalau sedang begini Arkan butuh suasana yang tenang. Mama sangat mengerti, mama percaya Zara bisa menghandle putranya.
"Gagal sebagai apa? Di mata Zara mas gak pernah menjadi suami atau ayah yang gagal kok." kata Zara.
"Jangan bohong Yang. Aku bahkan menjual semua yang aku punya tapi perusahaan ku sama sekali tidak terbantu dengan usaha yang aku lakukan," kata Arkan.
"Mas denger Zara ya. Mas enggak kehilangan semua yang mas punya kok. Ini mas masih punya rumah."
"Hanya ini," jawab Arkan.
"Sekalipun mas harus kehilangan semuanya hingga kita harus kembali menumpang di rumah orang tua ataupun merintis dari 0. Itu bukan sebuah kegagalan bagi Zara."
"Harta itu duniawi mas. Allah akan dengan mudahnya menitipkan dan bisa kapanpun menarik titipannya."
"Mas ingat mas sekarang enggak sendiri. Seenggaknya mas sekarang punya Zara dan Zayyan yang dalam kondisi apapun akan selalu jadi tim nya mas."
Arkan menatap Zara dalam seakan mencari tahu apakah yang Zara katakan benar benar tulus setelah mendapat jawabannya Arkan langsung memeluk Zara semakin erat.
"Jangan pergi ya. Mas cuma punya kalian sekarang," kata Arkan.
"Siapa yang mau pergi sih?"
"Bahkan ketika di luar sana banyak lelaki mapan yang lebih memiliki segalanya lebih dari saya. Jangan pernah pergi ya," lanjut Arkan.
"Iya Mas," kata Zara sambil mengusap punggung Arkan.
"Yaudah mas mandi dulu ya. Biar lebih segeran gitu."
"Kamu juga mandi lagi yaa." kata Arkan.
"Eh enak aja. Zara udah mandi gak liat apa nih masih pake baju mandi gini mas sih langsung peluk peluk aja." kata Zara mulai ngomel.
"Ya mau gimana. Abisnya tenang aja gitu kalau udah deket kamu tuh Yang." kata Arkan sambil tersenyum.
"Nah gitu dong senyum senengkan liatnya beberapa hari ini kusut terus wajahnya." kata Zara sambil mengusap wajah Arkan.
"Makasih yaa." kata Arkan sambil menggenggam tangan Zara yang tadi mengelus pipi nya.
"Mas bersyukur punya kalian dalam hidup mas." kata Arkan.
"Yakin? Bukannya awal awal ditolak mentah mentah? Di diemin terus jutekin terus..."
"Yang udah deh jangan bahas lagi." kata Arkan menunjukan kembali wajah datarnya.
"Iya iya becanda. Yaudah sana mandi." kata Zara.
"Mandiin." jawab Arkan.
"Enggak enak aja mandi sendiri." kata Zara sambil menjauhi Arkan. Tapi tau kan sikap Arkan yang pemaksa?
"Mas Arkan turunin enggak mau Zara udah mandi." kata Zara terus meronta ronta.
"Diem Yang kamu tau kan cara menenangkan aku? Asal ada kamu disamping aku." kata Arkan.
Ya begitulah Arkan yang selalu terlihat keras, otoriter dan pemaksa tapi ia juga memiliki sisi sisi yang lemah. Sisi yang hampir tak pernah mau ia tunjukan kepada siapapun. Tapi kali ini terpaksa harus ia tunjukan pada sosok wanita yang dulu ia tolak, yang dulu ia rasa tak penting bagi dirinya. Tapi sekarang justru wanita itu yang selalu berhasil memberikan ketenangan baginya.
Waktu berhasil mengubah mereka yang mulanya dua kutub yang saling tolak menolak menjadi dua kutub yang saking tarik menarik.
Tapi bukan tak mungkin juga kedepannya waktu bisa juga mengubah semua ini menjadi sesuatu yang lain lagi.
...*** The End ***...
...TAPI BOHONG 😂😂😂...
__ADS_1
...Ngeselin gak? Enggak yaa Yaudah lah. 😁...
...Terimakasih 💙💙💙...