
Arkan datang menghampiri Zara tanpa basa basi ia langsung merangkul pundak Zara lalu mencium puncak kepala Zara. Jujur Zara merasa risih dengan sikap Arkan yang ini bukan apa apa hanya saja Zara malu jika harus mengumbar adegan seperti ini di depan umum.
"Kenapa masih disini. Dikira tadi ngikutin dibelakang." kata Arkan.
"Eh Zara pacaran juga? Aku pikir Zara gak pacaran. Kalau tau Zara pacaran dari dulu deh aku tembak biar gak keduluan hehe." kata Ryan.
Zara dan Arkan sama sama bertukar pandangan ketika mendengar perkataan Ryan.
"Eh mas nya belum tau ya." kata Arkan.
"Kenalkan saya Arkan SUAMI Zara." kata Arkan menekankan kata suami.
"Hah.. Eh iya saya Ryan temen SMA nya Zara." kata Ryan sambil menerima uluran tangan Arkan.
"Za, kok kamu gak bilang bilang kalau udah nikah?" tanya Ryan pada Zara mengabaikan Arkan yang disamping Zara.
"Kamu gak undang dia SAYANG?" kata Arkan sambil melihat Zara.
"Ryan jangan gitu, Zara undang kok." kata Zara pada Ryan.
"Tapi beneran Aku gak terima undangan nya Za." kata Ryan.
"Mungkin di terima sama anggota keluaga yang lain." kata Zara.
"Oh iya kali ya. Belum telatkan kalau ngucapin selamat menempuh hidup baru. Semoga bahagia dunia akhirat." kata Ryan sambil menatap Zara dengan tatapan penuh makna. Sebagai lelaki tentu Arkan tau tatapan dan bahasa tubuh Ryan menunjukan bahwa Ryan sedang kecewa saat ini. Tatapan Ryan pada Zara bukan tatapan seorang teman atau sahabat melainkan tatapan seorang lelaki yang mengingin seorang wanita.
"Makasih bro. Semoga kamu bisa segera menyusul kami. Sepintas saya bisa tau kamu orang baik semoga kelak mendapat pasangan yang terbaik." kata Arkan menepuk bahu Ryan.
"Haha oke thank you bro. Walau sebenarnya bunga yang kunanti sudah dihinggapi kumbang lain." Jawab Ryan sarat dengan makna.
Arkan semakin faham maksud Ryan apalagi tatapan Ryan yang tak lepas dari Zara walaupun sedang berbicara dengan Arkan. Sedangkan Zara ia hanya diam. Zara bukan pura pura tak mengerti tapi ia memang tak mengerti ia tak pernah tau kalau Ryan mengharapkannya. Karena pada masanya pertemanan Zara dan Ryan cukup dekat sehingga ya apapun yang dikatakan Ryan Zara hanya menganggapnya sebagai teman.
"Bunga gak cuman setangkai. Madu gak hanya secawan. Allah sudah siapkan yang terbaik buat kamu." kata Arkan.
"Haha iya iya. Oh iya kalian sedang apa di sini?" tanya Ryan mengganti topik.
"Pernikahan kami sudah sebulan lebih. Tapi saya baru punya waktu untuk mengajaknya bulan madu. Kamu sendiri ngapain di sini? " kata Arkan dengan senyuman sambil mengusap kepala Zara. Sedangkan Zara ia sudah menunduk malu, di pipi putihnya juga tercetak jelas guratan guratan merah yang sangat terlihat jelas.
"Haha iya iya tau penganten baru. Kalau saya sih sama liburan juga tapi bukan sama pasangan. Saya mah sama temen temen kebetulan mau snorkelling." jawab Ryan.
"Wah kebetulan. Yan mas Arkan juga tadi lagi pengen snorkelling tapi gak ada temennya kalau gabung sama kamu dan yang lainnya boleh?" tanya Zara. Arkan menatap Zara ia terkejur dengan ucapan Zara.
"Ya boleh lah Za. Kalau kamu mau ikut juga boleh." kata Ryan.
"Hehe Zara nunggu aja. Yaudah mas sana ikut sama Ryan. Nyesel nanti idah jauh jauh kesini gak sempet snorkelling." kata Zara. Sedangkan Arkan hanya menatap Zara tajam.
"Gak apa apa mas yuk." kata Ryan menarik tangan Arkan.
"Sebentar." kata Arkan melepaskan tangannya dari Ryan. Arkan berjalan menghampiri Zara.
"Tunggu di sini jangan kemana mana. Jangan berbicara sama siapapun kalau ada yang tanya cukup bilang tidak tau. Ngerti?" kata Arkan pada Zara seperti sedang menasihati anak SD. Sambil menitipkan barang barangnya seperti hp dan dompet.
"Apa sih mas. Udah sana cepet Zara bukan anak SD gausah dinasehatin begitu." kata Zara.
Zara menunggu Arkan di kursi panjang yang khas berada dipinggir pinggir pantai. Saat Zara sedang asik mengoperasikan hp nya.
"Za..." panggil Ryan sambil berjalan menghampiri Zara.
"Ryan, kok cepet katanya mau snorkelling?"
"Kaki aku tadi kram jadi bahaya kalau dipaksa." alasan Ryan padahal ia hanya ingin punya waktu bersama Zara tanpa Arkan.
"Berarti mas Arkan?"
"Aman kok mas Arkan mu itu sama temen temen aku." Zara hanya mengangguk faham.
__ADS_1
Ryan banyak mengajak ngobrol Zara mengenai mengapa Zara bisa menikah dengan Arkan, apakah Zara mencintai Arkan, apakah Zara bahagia dengan Arkan dan bahkan Ryan mengajak Zara bernostalgia ke masa SMA mereka. Cukup lama mereka mengobrol sampai tak menyadari kalau Arkan sedang berjalan ke arah mereka.
"Assalamualaikum." kata Arkan sambil mendudukan dirinya di samping Zara.
"Waalaikumsalam." jawab mereka bersamaan.
"Kok mas gak pake baju?" tanya Zara yang melihat Arkan sudah bertelanjang dada. Zara masih malu jika harus melihat Arkan bertelanjang dada memamerkan tubuh putih atletisnya.
"Baju mas basah nih. Kenapa? Masih malu malu aja. Padahal lebih dari ini juga pernah haha." kata Arkan. Wajah Zara sudah memerah karena malu dengan godaan Arkan. Dan tolong ingatkan Zara bahwa hari ini pertama kalinya Arkan menyebutkan dirinya sendiri dengan sebutan mas bukan saya seperti biasanya.
"Sayang tolong dong pijat sedikit disini?" kata Arkan sambil menunjuk bahu sebelah kirinya.
"Kenapa?" tanya Zara.
"Sakit kayaknya ada yang salah deh tadi." kata Arkan. Arkan tersenyum ketika Zara dengan canggung mulai memijat bahu kirinya. Padahal Arkan hanya berbohong untuk menunjukan pada Ryan bahwa mereka itu bahagia.
"Baru pertama snorkelling ya mas?" tanya Ryan.
"Enggak kok jaman kuliah dulu sering malah. Cuman ini kayaknya kurang pemanasan." kata Arkan.
Menjelang dzuhur Arkan dan Zara sudah kembali ke resort. Jika saat di pantai Arkan begitu manis kepada Zara. Tapi lain halnya ketika mereka berada di kamar Arkan menjadi dingin sedingin saat mereka pertama bertemu. Sejak pulang dari pantai Arkan belum sama sekali berbicara pada Zara bahkan saat Zara bertanya Arkan hanya menjawabnya dengan isyarat.
"Mas kenapa sakit?" akhirnya Zara memberanikan diri membuka pembicaraan. Arkan hanya menggeleng.
"Mas kenapa sih? Sejak pulang dari pantai tadi langsung diem begini?" tanya Zara lagi. Arkan kembali tak menjawab.
"Yaudah terserah mas lah. Kalau ada apa apa juga mas yang rasainkan bukan Zara." kata Zara menyerah karena tak kunjung mendapat tanggapan dari Arkan.
"Bukannya saya sudah bilang kamu cukup diam di sana menunggu saya. Jangan berbicara dengan siapapun." kata Arkan.
"Tapi kamu malah asik mengobrol dengan laki laki yang bukan mahram kamu. Ingat Zara kamu bukan wanita single sekarang kamu harus tau batasan." kata Arkan lagi.
"Iya Zara tau, Zara hanya menjawab setiap pertanyaan Ryan Zara juga hanya menanggapinya idah itu aja. Zara gak bersentuhan, Zara yang kontak mata sama dia." jelas Zara.
"Zara kan gak bisa mengendalikan Ryan memandang Zara seperti apa." jawab Zara.
"Maka dari itu kamu bisa menghindarinya dengan tidak berduaan dengannya. Bukan malah curi curi kesempatan untuk bisa berdua dengannya." kata Arkan dwngan suara tegasnya.
"Zara gak curi curi kesempatan. Dia yang datang kepada Zara terus Zara harus apa? Zara harus usir dia? Apa hak Zara mengusir dia itu tempat umum mas." kata Zara.
"Lagian mas lagi kenapa sih?" tanya Zara. Zara memang tak faham betul apa yang menjadi alasan Arkan sampai marah begitu. Tapi tanpa Zara sadari ada sedikit perasaan bahagia dihatinya 'Apa Arkan cemburu?' ah tidak tidak Zara menghapus yang ada difikirannya Zara tak ingin banyak berharap karena Zara tak ingin kembali merasa kecewa.
Tak jauh beda dengan Zara Arkan juga merasa heran dengan dirinya.
'Ah Ya Allah aku kenapa? Kenapa aku bisa sangat tidak suka ketika Zara harus berinteraksi intens dengan lelaki lain? Kenapa aku semarah itu ketika melihat lelaki lain menatap istriku sama dengan ketika aku menatapnya.' kata Arkan berdialog sendiri dalam pikirannya.
"Ah sudahlah jangan rusak sesuatu yang baik dengan hal yang tak penting. Kita istirahat setelah asar baru kita jalan lagi." kata Arkan lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur dan mulai memejamkan matannya.
Zara ikut membaringkan tubuhnya di samping Arkan dengan posisi membelakangi Arkan.
"Apa posisi tidur membelakangi saya adalah favorit kamu? Jika iya maka posisi begini juga adalah favorite saya sekarang." kata Arkan sambil merapatkan dada bidangnya ke punggung Zara lalu melingkarkan tangannya dengan erat di pinggang Zara. Sedetik kemudian tangan Arkan bergerak untuk membuka jilbab yang Zara kenakan.
"Bukan saya sudah pernah bilang. Jangan kenakan jilbab ketika hanya didalam kamar berdua dengan saya." kata Arkan sambil kembali memeluk pinggang Zara lalu mencium rambut Zara. Zara hanya diam biarlah suaminya itu berlaku semaunya.
Suara Adzan Asar berkumadang dari hp Zara. Membangunkan Zara dari tidur siangnya. Ia berusaha melepaskan diri dari pelukan Arkan dan mencoba membangunkan Arkan. Tapi suaminya itu sepertinya kelelahan setelah snorkelling dan marah marah tadi. Zara putuskan untuk mandi dan shalat Ashar terlebih dahulu. Selesai itu Zara baru kembali berusaha membangunkan Arkan.
"Mas Arkan bangunnn..." kata Zara dengan suara yang cukup keras sambil menggoyangkan tubuh Arkan.
"Hmmm. Jam berapa ini?" kata Arkan sesaat setelah membuka matanya.
"Jam 4 cepet bangun, mandi terus shalat." kata Zara.
"Kamu sudah?" tanya Arkan. Zara mengangguk.
"Kenapa gak bangunkan saya dari tadi?" tanya Arkan. "Udah Zara bangunkan tapi gak bagun bangun cape kayaknya sebelum tidurnya kan marah marah dulu." kata Zara. "Haha saya marah marah juga gara gara kamu." kata Arkan bangkit dari tidurnya kemudian mencubit gemas hidung Zara.
__ADS_1
Sekarang mereka sedang berada di tepi pantai tujuannya adalah untuk berjalan jalan mencari makan sambil menikmati senja.
"Sayang sini deh bagus kayaknya kalau foto di bawah senja gini nanti jadinya kayak siluet siluet gitu." kata Arkan sambil membawa kamera menjauhi Zara dan mulai mengarahkan kamera ke arah Zara berdiri dan mulai membidik gambar Zara dengan candid.
"Tuh kan bagus. Kita foto berdua ya. Sebentar cari orang dulu buat fotoin kita." kata Arkan sambil celingak celinguk mencari orang. Tapi rata rata orang sedang sibuk dengan dirinya masing masing.
"Mas mas. Maaf boleh saya minta tolong sebentar?" tanya Arkan pada seorang laki laki yang kebetulan lewat.
"Oh iya mas ada apa?" tanya orang tersebut.
"Boleh saya minta tolong fotokan saya dan istri saya?" kata Arkan.
"Oh pengantin ya. Boleh boleh sini saya bantu." kata orang tersebut. Arkan berjalan kearah Zara.
"Foto dulu ya sebentar." kata Arkan lalu mengambil kedua tangan Zara untuk digenggamnya. Awalnya Arkan dan Zara hanya berhadapan sambil Arkan memegang tangan Zara. Tapi tanpa Arkan duga tiba tiba lelaki yang dimintai tolong untuk memfoto mereka menjadi mengarahkan gaya mereka.
"Aduh jangan kaku dong mas dan mbaknya. Gini deh mas nya coba dipegang pinggang mbak nya. Terus mbaknya coba bisa tangannya diletakan dileher masnya." entah jurus apa yang dilakukan pemuda itu tapi Arkan dan Zara patuh mengikuti instruksinya.
"Nah bagus yerus coba deh mbaknya ada jinjit dan masnya agak nunduk biar hidungnya bersentuhan gitu." kata pemuda tersebut Arkan dan Zara kembali menuruti permintaan pemuda tersebut. Tinggi Zara yang hanya 160 cm lebih sedikit dan tinggi Arkan yang mencapai 180 cm menjadikan Zara harus berjinjit untuk mensejajarkan dirinya dengan Arkan bahkan berjinjit pun masih saja Arkan yang lebih tinggi. Seperti sekarang untuk sekedar menyatukan hidung saja Zara harus berjinjit dan Arkan harus menunduk.
"Iya bagus tahan sebentar 1.2.3"
Jeprett... Satu foto berhasil diambil.
"Tolong sekali lagi mas." kata Arkan sedikit berteriak. Arkan menahan tubuh Zara agar tak berubah kemudian Arkan menyatukan kening dan hidung mereka. Saat sang pemuda menghitung 1.2. Arkan dengan cepat langsung mengubah posisinya sehingga bibirnya mengenai bibir Zara. Dan 3
Jeprett
"Oke mantap mas." teriak pemuda itu. Percayalah wajah Zara sudah merah padam sekarang Zara merapatkan tubuhnya pada Arkan lalu membenamkan wajahnya di dada Arkan sungguh ini Zara lakukan karena ia sangat malu. Pose mereka sejak awal terlalu intim bagi Zara apalagi harus dilakukan di depan umum. Lain halnya dengan Zara yang sangat malu. Arkan malah tampak lebih santai dan biasa saja. Arkan justru meminta pemuda itu memfotonya sekali lagi saat Zara sedang memeluknya dan membenamkan wajahnya di dada bidang Arkan. Hasil fotonya tampak siluet dengan latar langit warna jingga. Jangan lupan pose mereka yang begitu manis dan gamis serta kerudung panjang Zara yang tertiup angin seakan menambah keindahan.
"Oke sip bagus banget mas." kata pemuda itu sambil menyerahkan kameranya pada Arkan.
"Mbaknya kenapa mas?" kata pemuda itu saat melihat Zara yang tak mau melepaskan diri dari tubuh Arkan.
"Haha gpp mas. Malu aja dia." kata Arkan yang di hadiahi pukulan kencang di punggung Arkan.
"Aduhhh." kata Arkan mengaduh kesakitan saat dipukul oleh Zara.
"Bagus banget mas makasih yaa. Oh iya mas sepertinya udah sering moto ya?" tanya Arkan.
"Kebetulan saya ini punya studio foto kecil kecilan gitu mas. Jadi biasa kalau motoin orang prewed atau nikahan." jawab pemuda tersebut.
"Aduh makasih banyak ya mas. Maaf saya jadi merepotkan." kata Arkan.
"Haha gpp mas santai saja. Saya senang bisa membantu." jawab pemuda tersebut. Lalu permisi pada Arkan dan Zara.
"Udah, udah gak ada orang kok. Kalau begini terus justru nanti malah tambah malu diliat banyak orang kita pelukan gini di pinggir pantai." kata Arkan.
"Lagian mas ngapain sih harus di foto gitu segala?" kata Zara sambil melepaskan pelukannya pada Arkan.
"Ya gpp dong sesekali buat moment." jawab Arkan. "Iya tapi gausah gitu juga posenya malu tau di depan umum juga. Lagian gak baik tau mengumbar kemesraan di depan umum." kata Zara sambil cemberut. "Iya iya ibu negara maaf deh." kata Arkan sambil menepuk nepuk kepala Zara.
Mereka kembali ke resort karena hari sudah semakin sore dan Adzan maghrib juga sudah berkumandang. Setelah shalat maghrib merka mengaji bersama sambil menunggu isya. Selesai shalat isya Zara memilih untuk berdiam diri di balkon kamar menikmati indahnya pantai dimalam hari yang disinari oleh bulan dan bintang serta beberapa lampu neon yang ada disekitarnya. Sepertinya waktu Zara untuk menikmati pemandangan pantai di malam hari sudah selesai karena sesaat kemudian ada sebuah tangan kekar melingkar di perutnya lalu membalikan tubuh Zara agar menghadapnya. Lelaki tersebut semakin mendekatkan tubuhnya ke tubuh Zara dan kepalanya semakin menunduk dan wajahnya semakin mendekat ke wajah Zara.
"I want you." bisik Arkan ditelinga Zara sambil semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Zara. Dengan cepat Zara menahan wajah Arkan dengan kedua telapak tangannya.
"Maaf. Tapi Zara lapar. Tadi sore kita kan gak jadi makan." kata Zara.
"Haha oke oke kita makan dulu. Tapi setelah itu saya tidak ingin ada penolakan." kata Arkan tegas.
Mereka bergegas keluar hotel untuk mencari makan sekalian menikmati pantai dimalam hari.
***
Sampai Jumpa....
__ADS_1