
Hari demi hari tingkah Arkan memang menjadi lebih manis bahkan sangat manis. Terkadang sampai membuat Zara heran kenapa bisa berubah secepat dan sedrastis itu. Zara tau yang dilakukan Arkan itu belum berdasarkan perasaan yang sebenar benarnya Arkan hanya sedang berusaha menumbuhkan perasaan itu. Tapi Zara tidak terbuai begitu saja dengan tingkah Arkan karena jujur saja Zara masih ragu dan mengingat beberapa waktu lalu saat Arkan berbicara ingin berusaha lebih untuk membangun rumah tangga mereka. Tapi apa kemudian yang Zara dapat ia malah dikejutkan dengan adanya nama wanita lain dalam hati suaminya itu. Sekarang ketika Arkan benar benar menunjukan usahanya Zara tetap saja ragu, bukan tidak mungkin kan kalau esok, lusa atau kapanpun wanita itu kembali ke hadapan suaminya? Lalu apa yang akan Arkan lakukan? Mempertahankan pernikahannya atau lebih memilih membangun mahligai baru bersama wanita itu?
"Hai... Ngapain disini?" tanya Arkan saat melihat Zara sedang berdiri sendiri di balkon kamar sambil memandangi langit yang mulai menguning.
"Hmm." Zara hanya menjawab seadanya.
"Suaminya pulang kerja kok malah dicuekin sih sayang?" kata Arkan sambil berdiri di samping Zara. Ya begitulah Arkan sekarang ia lebih sering memanggil Zara dengan panggilan sayang.
Zara mengulurkan tangannya pada Arkan untuk menyalim tangan Arkan. Selesai Zara mencium tangan Arkan, Arkan tak langsung melepaskan tangan Zara. Arkan menggenggam erat tangan Zara dan menatap Zara dalam dalam.
"Saya besok ada pekerjaan di luar kota selama 3 hari. Saya mau kamu ikut dengan saya." kata Arkan.
"Kemana?" tanya Zara.
"Semarang." Jawab Arkan.
"Boleh nggak kalau Zara gak ikut?"
"Saya mau kamu ikut dan temani saya di sana." kata Arkan dengan sedikit memaksa.
"Mas di sana kan kerja. Terus nanti Zara ngapain cuman diem di hotel atau jalan jalan sendiri gitu? Jadi Zara mending gak usah ikut."
Zara memang masih ragu dengan Arkan tapi Zara juga tidak bisa mendiamkan Arkan. Zara harus bisa menghargai usaha yang dilakukan Arkan.
"Jadi kamu mau jalan jalan dengan saya?" kata Arkan memancing Zara.
"Ih percaya diri. Bukan begitu maksud Zara."
"Haha saya tau kok. Saya mau kamu ikut saya. Saya tidak mau dibantah anggap saja ini perintah dari suami otoriter kamu ini." kata Arkan. Zara langsung menatap tajam ke arah Arkan.
"Saya tau saya tampan. Tapi jangan pandang saya begitu nanti saya khilaf. Saya tau kamu belum siap lagi kan?" kata Arkan dengan pandangan lurus ke depan. Zara diam seribu kata Zara tahu Zara salah ia kembali menutup hak Arkan karena bayangqn beberapa waktu lalu belum mau pergi dari otak dan pikirannya.
"Saya mau mandi, kamu tolong siapkan pakaian untuk saya pergi ke masjid." kata Arkan sambil membalikan badan dan hendak kembali ke kamar. Zara hanya mengangguk.
Esok harinya pagi sekali mereka bandara. Zara tak menaruh curiga sedikit pun. Tapi saat sampai di bandara Zara mulai merasakan kejanggalan jika sebelumnya Arkan mengatakan akan pergi ke Semarang tapi kenapa tujuannya sekarang bukan ke Semarang.
"Mas jujur sama Zara kita mau kemana?" tanya Zara saat mereka berada di ruang tunggu.
"Kerja sayang." kata Arkan sambil tersenyum ke arah Zara.
"Enggak. Mas bohong ini katanya ke semarang tapi ini kenapa malah ke lombok?" kata Zara bingung.
"Yah ketauan yaa?" kata Arkan.
"Maksud mas?" kata Zara menatap Arkan tajam.
"Iya iya maaf. Ini bukan kerja, saya mau ajak kamu jalan jalan. Anggap saja ini bulan madu kita yang tertunda hampir 2 bulan." kata Arkan santai.
__ADS_1
"Hah Apa tadi?" tanya Zara memastikan jika dirinya tak salah dengar.
"Sini." kata Arkan menarik Zara mendekat padanya.
"Kita jalan jalan. Bulan madu sayang." kata Arkan berbisik di telinga Zara. Raut wajah Zara berubah menjadi bingung dan sulit diartikan.
"Kamu kenapa?" tanya Arkan yang ikut bingung ia pikir Zara akan senang tapi ternyata sepertinya perkiraan Arkan salah.
"Mas Zara minta maaf kalau mas jadi memaksakan berubah begini karena sikap Zara. Tapi Zara mau mas jangan memaksakan. Mas jangan merubah diri mas menjadi orang lain yang mungkin buat mas gak nyaman. Zara rasa perubahan yang mas lakukan juga terlalu drastis. Zara gak mau mas melakukannya hanya terpaksa dan membuat mas sendiri gak nyaman. Biarkan berjalan sewajarnya aja." kata Zara sambil menunduk. Bukannya Zara tak senang sejujurnya ia sangat bahagia bayangkan saja sejak kuliah semester akhir, wisuda kemudian menikah Zara belum punya waktu untuk liburan sama sekali. Bukan kah ini kesempatan bagi Zara? Iya memang tapi Zara tetaplah Zara dengan keras kepalanya ia tak ingin semuanya dilakukan karena terpaksa. Zara pikir jika dilakukan karena terpaksa dan pura pura suatu saat Arkan akan lelah dengan kepura puraan nya dan ia akan kembali ke karakter awalnya Zara tak mau itu. Zara mau biar mengalir perlahan asalkan tulus dan ikhlas.
Mendengar ucapan Zara barusan seketika membuat ada perasaan kecewa dalam diri Arkan. Bagaimana tidak Arkan merasa usahanya tak dihargai oleh Zara. Perubahannya selama ini juga dianggap sebuah kepura puraan oleh Zara. Apa Zara fikir Arkan seburuk itu?
"Udah cukup ngomongnya? Kenapa kamu gak bisa percaya sama saya? Saya sedang berusaha Zara, saya sedang berusaha membangun rumah tangga yang sewajarnya. Saya tekankan saya tidak terpaksa melakukan ini semua, ini semua keinginan saya. Saya ingin berusaha menjadi suami yang baik dengan memperlakukan istri saya dengan baik, saya ingin berusaha membahagiakan istri saya. Kenapa kamu mematahkan segala yang telah saya usahakan dengan pikiran negatif kamu itu?"
"Kamu fikir karena apa saya sampai mau berubah banyak begini? Hah?" kata Arkan dengan suara yang biasa saja namun penuh penekanan. Arkan cukup tau diri untuk tidak meninggikan nada bicaranya karena mereka sedang ditempat umum.
Zara sudah menundukan wajahnya. Air matanya mengalir Zara tak enak hati, ia merasa bersalah membuat Arkan merasa tertuduh, membuat Arkan merasa tidak dihargai.
"Maaf." kata Zara dengan suara bergetar.
"Buang air mata kamu itu. Gausah menangis di sini saya yang disakiti jika memang seharusnya ada yang menangis maka saya yang menangis karena kamu." kata Arkan tanpa melihat Zara.
Beberapa menit kemudian mereka sudah dipanggil untuk segera memasuki pesawat. Dalam perjalanan keduanya hanya sama sama diam. Arkan memilih untuk memejamkan matanya. Sedangkan Zara ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Sesekali Zara melihat Arkan yang sedang memejamkan matanya. Tapi Zara tau Arkan tak tidur terlihat beberapa kali Arkan bergerak. Sekian lama penerbangan Akhirnya mereka sampai di Lombok setelah sampai di Lombok mereka kembali melakukan perjalanan darat lalu perjalanan laut untuk menyebrang ke gili trawangan karena tak ingin waktunya diatur arkan tak menyewa jasa guide.
Mereka sekarang sudah check in di sebuah resort yang mewah dengan view kamar menghadap langsung ke laut. Arkan membuka pintu kaca di kamar yang menghubungkkan kamar dan balkon. Arkan berdiri menghadap ke laut membiarkan angin mengacak rambutnya, biarkan debur ombak menyapa pendengarannya dan biarkan udara segar mengisi seluruh rongga di paru parunya. Sedetik kemudian ketengan Arkan terganggu dengan adanya tangan kecil yang melingkar perutnya. Arkan melihat kearah tangan yang melingkar di perutnya sudah dapat ia tebak tangan siapa itu. Zara awalnya ragu untuk melakukan ini. Tapi Zara pernah membaca jika pelukan bisa membantu meningkatkan mood juga bisa untuk mengendalikan amarah serta menjdikan lebih dekat dengannya.
"Kamu pikir saya begini karena siapa?" tanya Arkan masih dengan posisi yang sama. Zara tak menjawab tapi Arkan merasakan jika Zara mengeratkan pelukannya.
"Karena kamu Azzara. Wanita yang dipaksa masuk dalam kehidupan saya dan berhasil membuat ritme hidup saya berubah. Kamu membuat saya berpikir keras bagaimana membuat pernikahan yang berawal dari perjodohan agar menjadi pernikahan yang berkesan. Kamu yang membuat saya pusing mencari topik pembicaraan ketika kita sedang berdua. Kamu yang membuat saya merasa akan kehilangan ketika kamu mengatakan ingin saya melepaskan kamu. Kemudian sekarang kamu membuat saya seakan seperti lelaki berengsek yang mempermainkan wanita dengan kepura-puraanya. Seburuk itu saya dimata kamu? Dan sebaik itu kamu di mata saya hingga saya membiarkan kamu bergerak bebas dihidup saya dan mengubah ritme hidup saya sesuka kamu." kata Arkan sambil melepaskan tangan Zara. Lalu merubah posisinya menghadap Zara.
"Atas dasar apa kamu selalu menuduh saya? Menilai jika yang saya lakukan adalah sebuah kebohongan?" kata Arkan.
"Maaf Zara hanya takut. Kejadiannya akan sama, saat Zara mulai percaya dan saat itu juga Zara kecewa." kata Zara sambil menundukan kepalanya.
"Cukup beri saya kepercayaan. Saya sedang berusaha seharusnya kamu bantu saya, kita sama sama." kata Arkan.
"Saya juga minta maaf. Mungkin saat itu saya belum sepenuhnya yakin. Tapi saat ini saya rasa sudah berbeda dengan waktu itu." kata Arkan sambil menatap Zara.
"Bisakan kamu percaya pada saya?" kata Arkan. Zara hanya mengangguk. Arkan menarik nafas lega ia membawa Zara kepelukannya.
"Berapa lama kita disini?" tanya Zara yang masih dalam pelukan Arkan.
"Satu minggu." jawab Arkan.
"Pekerjaan mas?"
"Ini kan pekerjaan saya." kata Arkan dingin.
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Iya ini kan pekerjaan saya. Membahagiakan istri saya." kata Arkan.
"Gak usah maksa mas." kata Zara.
"Kamu yang jangan mulai." kata Arka. kembali dengan dinginnya.
"Mas kesana yuk." kata Zara menunjuk ke arah laut sambil melepaskan diri dari pelukan Arkan.
"Nanti sore saja. Sekarang mending kita istirahat dulu." kata Arkan sambil masuk ke kamar dan membaringkan tubuhnya di kasur. Zara sudah cemberut dan misuh misuh di tempatnya.
Sejak saat itu hubungan mereka membaik. Zara tak lagi menganggap jika usaha yang Arkan lakukan hanya pura pura. Zara juga mulai membuka diri dan membuka hati pada Arkan.
Seperti pagi ini mereka memutuskan untuk berjalan jalan di pantai.
"Kita snorkelling yuk." ajak Arkan pada Zara.
"Emang mas bawa peralatannya?"
"Ya sewa aja lah. Mau ya?" ajak Arkan.
"Mas aja ya Zara jangan. Basah nanti baju Zara."
"Ya namanya juga main air pasti basah lah." jawab Arkan.
"Iya terus nanti pakaian Zara nempel semua si badan Zara. Emang boleh dilihat begitu?" Arkan mengerti maksud ucapan Zara.
"Jangan enak aja. Yaudah gak usah jadi aja kalau begitu."
"Loh kalau mas mau ya silahkan." kata Zara.
"Terus saya sendiri?" Zara menggangguk. Arkan tak menjawab lagi ia berjalan mendahului Zara. Arkan yang memang memiliki hobi memotret memilih untuk membidik pemandangan indah dihadapannya.
"Zara..." panggil seseorang di belakang Zara. Merasa dipanggil Zara langsung menoleh ke belakang.
"Benar Zara kan?" tanya orang tersebut saat sudah berada di dekat Zara.
"Ryan?" kata Zara karena seperti mengenali lelaki tersebut.
"Haha iya aku Ryan. Aku mau manggil kamu dari tadi tapi takut salah. Soalnya tadi kamu sama laki laki biasanya kan kamu paling anti berduaan dengan lelaki kecuali abang dan adek kamu." kata Ryan.
Arkan yang merasa sudah terlalu jauh meninggalkan Zara akhirnya ia kembali kebelakang. Cukup terkejut Arkan ketika melihat Zara sedang mengobrol dan tampak akrab sekali dengan lelaki tersebut. Arkan berjalan menghampiri Zara ada perasaan tak suka melihat Zara mengobrol intens seperti itu dengan lawan jenis. Apa Arkan cemburu? Ah entahlah yang penting Arkan harus segera kesana agar mereka tak berduaan saja.
***
**To be continued...
__ADS_1
See you next part**...