
Happy Reading...
Seperti biasa pagi pagi Zara sibuk menyiapkan sarapan dan Arkan sibuk bersiap untuk pergi ke kantor. Hubungan mereka kian hari memang semakin membaik. Walaupun keduanya masih sama sama gengsi jika harus mengungkapkan atau mengakui perasaan masing masing. Tapi sudahlah biar yang mereka rasakan dan diaplikasikan saja melalui tindakan.
"Mas hari ini check up ke dokter kandungan gak lupa kan?" tanya Zara saat sedang menemani Arkan sarapan. Arkan hanya menjawab dengan anggukan karena dirinya masih sibuk dengan makanan. Zara memperhatikan Arkan yang sedang makan dengan lahap sambil tersenyum.
"Mas tumben akhir akhir ini udah gak pengen yang aneh aneh. Mungkin karena usia kandungannya udah semakin besar juga kali ya." kata Zara. Arkan tidak menanggapi apa apa.
"Kamu gak sarapan?" tanya Arkan setelah selesai makan.
"Enggak nanti aja. Zara masih kenyang tadi minum susu." kata Zara.
"Jangan sampai telat makan." kata Arkan memperingati.
"Iya mas."
Setelah Arkan pergi ke kantor Zara kembali dengan kegiatannya di rumah. Zara akui semakin kesini fisiknya semakin mudah lelah. Jika awal kehamilan Zara tak begitu banyak merasakan perubahan tapi akhir-akhir ini sangat terasa.
Hari ini jadwalnya Zara memeriksakan kandungan ke dokter sejak pukul 10 pagi Zara sudah menghubungi Arkan untuk mengingatkan. Tapi mungkin Arkan terlalu sibuk hingga tidak satupun chat atau telepon Zara yang ditanggapi oleh Arkan. Zara mengerti beberapa hari ini Arkan memang sangat sibuk. Selain pulang malam Arkan juga sering membawa pekerjaan kerumah. Arkan juga sempat bercerita jika perusahaannya sedang mengerjakan proyek besar juga sedang fokus untuk membuka cabang. Di sini Zara bisa melihat jika mas Arkannya adalah sosok pekerja keras.
Jarum jam terus berputar waktu sudah hampir menunjukan pukul 13.00. Seharusnya mereka sudah berangkat ke rumah sakit. Tapi sekarang lain cerita jangankan ke Rumah sakit Arkan saja masih sulit dihubungi.
Awalnya Zara masih sabar menunggu, tidak dapat dipungkiri perubahan hormon karena kehamilannya membuat Zara kadang menjadi mudah emosi dan tidak sabaran. Cukup lama menunggu, dokter juga sudah bertanya yerus menerus pada Zara melalui chat karena dokter juga pasti punya jadwal lain lagi. Dengan segala kekesalannya Zara memutuskan untuk pergi sendiri. Tidak peduli dengan larangan Arkan yang tidak mengizinkan Zara pergi tanpa seizinnya.
"Assalamualaikum. Selamat siang dokter." kata Zara yang baru memasuki ruangan dokter.
"Waalaikumsalam. Loh kok sendiri Arkannya mana?" tanya dokter tersebut.
"Mas Arkan lagi sibuk dok lagi meeting belum beres." jawab Zara asal karena tak tau sebenarnya Arkan sedang apa dan dimana.
"Padahal dia yang minta siang hari, biar dia sendiri bisa nemenin. Tapi gak apa apa ya sibuk juga kan hasilnya buat kamu sama dede bayi juga nantinya." kata dokter. Zara hanya menanggapi dengan senyum yang dipaksakan.
"Yaudah kita mulai periksa aja ya. Gimana ada keluhan enggak?"
"Cepet cape sih dok sekarang kenapa ya?"
"Gak apa apa wajar itu namanya juga ada perubahan hormon. Kamu ini harus banyak makan Zara, masa dari awal hamil sampe sekarang usia kandungannya 16 minggu kamu cuman naik 3 kg. Mana berat badan kamu sekarang cuman 48 kg lagi. Kamu gak tertekan kan sama Arkan?"
"Hah enggak kok dok. Cuman kadang gak nafsu makan aja. Zara memang susah makan dari dulunya dok."
"Ya sekarang harus diubah dong kebiasaannya. Kamu kan gak sendiri sekarang. Ada yang perlu kamu bagi nutrisi juga. Tapi bukan berarti karena hamil harus kalap juga ya makannya. Makan itu sebenarnya bukan kuantitasnya tapi kwalitasnya. Kamu harus makan makanan yang kaya nutrisi. Kalau kamu malas makan seenggaknya kamu ingat deh dalam rahim kamu ini ada janin yang butuh asupan nutrisi. Mau saya beritahu Arkan?"
"Eh jangan dok bisa makin bawel nanti. Iya janji nanti Zara banyak makan."
"Awas ya saya mau berat badan kamu bulan depan naik minimal 1 kg. Saya kasih vitamin ya biar nafsu makan."
"Iya dok. Kalau hasil pemeriksaan yang lainnya gimana dok aman?" tanya Zara
"Keseluruhan sih aman. Kita langsung USG aja ya."
"Okay."
Selesai kontrol Zara memutuskan untuk langsung pulang. Sejak tadi hp Zara tidak berhenti bergetar, sudah bisa dipastikan pasti itu Arkan yang menerornya. Jika biasanya Arkan yang mengabaikan Zara, kali ini Zara yang mengabaikan Arkan. Tapi tidak tega juga Akhirnya Zara membalasi pesan Arkan dengan seadanya. Kekesalannya pada Arkan belum hilang sama sekali.
__ADS_1
Sampai di rumah Zara memdapat chat dari Arkan, jika Arkan akan pulang sekarang. Zara tau Arkan masih punya pekerjaan di kantornya, Zara juga mengerti jika Arkan tidak bisa mengantar karena kesibukannya. Tapi yang buat Zara kesal, kenapa Arkan tidak sama sekali mengabarinya jika memang tidak bisa. Hanya tinggal mengetikan beberapa kata di handphonenya apa sesusah itu? Atau memang mengabari Zara dan mengantarkan Zara ke dokter tidak penting bagi Arkan.
Pukul 17.30 Arkan baru sampai di rumah. Tadi ia tak jadi langsung pulang, lagi-lagi pekerjaan membuat Arkan harus berubah pikiran.
"Assalamualaikum." kata Arkan sambil mendudukan dirinya di samping Zara yang sedang duduk di ruang keluarga sambil membaca novel.
"Waalaikumsalam." jawab Zara pandangannya tetap fokus pada novel tidak mempedulikan Arkan.
"Zara." panggil Arkan.
"Mandi sana. Terus siap-siap ke masjid." kata Zara lagi tanpa melihat Arkan.
Arkan hanya bisa mengangguk pasrah. Ia langsung naik menuju kamar. Tidak lama setelah Arkan masuk kamar Zara pun menyusul Arkan. Saat Zara masuk kamar Arkan sudah di kamar mandi. Zara menggunakan kesempatan itu untuk menyiapkan pakaian Arkan. Walaupun kecewa pada Arkan. Tapi Zara tidak sekajam itu dan ia tetap berusaha menjalankan tugasnya.
"Saya ke mesjid dulu." kata Arkan yang sudah rapi dengan pakaiannya.
"Ya." jawab Zara.
Sepulang dari masjid Arkan langsung menuju kamar. Ia melihat Zara masih dalam balutan mukena Zara sedang duduk sambil sesekali mengusap perutnya.
"Kenapa sakit?" tanya Arkan yang baru masuk dqn langsung duduk di samping Zara.
Bukan menjawab Zara memilih untuk segera bangkit lalu membereskan peralatan shalatnya. Ia bergegas keluar kamar. Zara pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam, tidak lama terlihat Arkan yang berjalan menuju meja makan.
Setelah makan malam, Zara dan Arkan sama-sama berada di ruang keluarga.
"Bagaimana tadi hasil periksanya?" tanya Arkan memecah keheningan.
"Dokter bilang apa?"
"Dokter bilang. Kalau gak bisa gak usah banyak janji." kata Zara sambil berjalan meninggalkan Arkan. Arkan hanya bisa menghela napasnya. Iya Arkan memang salah. Ia menjanjikan akan menemani Zara. Tapi pekerjaannya tadi memang tidak bisa Arkan tinggal begitu saja. Salahnya lagi karena Arkan sama sekali tidak mengabari Zara. Istrinya pasti kesal karena sudah menunggu lama tapi diberikan harapan palsu.
Keesokan harinya Zara masih tetap sama, ia lebih betah diam. Belum mau banyak berkomunikasi dengan Arkan.
"Saya berangkat dulu. Assalamualaikum" kata Arkan berpamitan pada Zara.
"Waalaikumsalam." kata Zara sambil melihat kemana saja menghindari kontak mata langsung dengan Arkan.
Seperti biasanya, Arkan tiba-tiba berjongkok di hadapan Zara.
"Nak Ayah kerja dulu ya. Maaf ya kemarin ayah gak bisa teman bunda liat dede." kata Arkan mengelus perut Zara lalu menciumnya.
Arkan bangun dan kembali berdiri menghadap Zara. Tampak Zara sedang mengelap bekas air matanya. Arkan tidak memperhatikan sejak kapan Zara menangis.
"Kamu kenapa?" tanya Arkan sambil menangkup wajah Zara agar menghadapnya.
"Enggak. Sana pergi." kata Zara dingin.
"Saya minta maaf." kata Arkan menatap Zara dalam dalam.
"Mas gak salah. Zara yang salah, Zara yang terlalu berharap kalau Zara dan dia prioritas mas. Tapi Zara salahkan? Zara jadi tau posisi Zara sekarang." kata Zara pelan.
Arkan tersenyum, salah tidak jika Arkan menangkap ada nada kecemburuan dari apa yang Zara ucapkan? Salah tidak kalau Arkan juga menganggap ini adalah sebuah efek dari kehamilan Zara.
__ADS_1
Untung Arkan sering berkomunikasi dengan dokter kandungan Zara tentang bagaimana mengatasi ibu hamil dengan segala macam keistimewaannya.
"Kamu bicara apa sih? Kamu dan dia itu prioritas saya sekarang. Kamu tahu kenapa saya sangat sibuk akhir-akhir ini?"
Zara menggeleng.
"Selain proyek besar dan pembukaan anak perusahaan. Saya juga merombak keseluruhan jadwal saya. Saya padatkan jadwal saya mungkin hingga 3 bulan kedepan. Supaya setelah itu saya bisa fokus pada kamu dan dia. Karena kata dokter saat hamil tua itu wanita butuh support sistem yang baik. Karena biasanya saat itu kecemasan menjelang persalinan akan mulai terasa. Saya mau saat itu saya yang menjadi support sistem pertama untuk kamu." kata Arkan menjelaskan. Air mata Zara kembali menetes.
"Beneran?" tanya Zara sambil menyeka air matanya. Arkan mengangguk sambil tersenyum.
"Saya lebih suka kamu ngomel-ngomel daripada nangis begini."
"Mas yang buat Zara nangis."
"Iya saya minta maaf."
"Kemarin mas kemana? Kenapa gak ada waktu sama sekali buat kasih tau Zara? Zara ngerti kalau mas sibuk tapi mas bisa kan kasih tau Zara? " tanya Zara yang sudah mulai melunak.
"Iya saya minta maaf saya terlalu fokus sampai melupakan dimana saya simpan hp saya." kaya Arkan.
"Kemarin lupa dimana simpan hp, besok lupa apa? Lupa udah nikah? Lupa udah punya isrti? Lupa mau jadi ayah? Iya gitu?" kata Zara dengan nada kesalnya.
"Haha gak usah ngaco. Lihat nih di jari manis saya masih ada cincin nikah. Kalau kamu mau tulis aja di dahi saya 'Milik Zara' gitu."
"Mana ada punya Zara, tapi kenyataannya gak sayang sama Zara."
"Kata siapa?"
"Kata Zara, emang pernah mas bilang kalau mas sayang Zara? Kapan Zara belum pernah denger yang ada juga Zara dengernya mas bilang kalau mas sayang sama mbak Almira." kata Zara.
"Kenapa harus bahas dia? Apa perlu sebuah perasaan itu diungkapkan? Apa tidak cukup hanya dengan dirasakan dan dibuktikan?"
"Karena Zara iri sama mbak Almira. Bagaimana bisa Zara yang lagi dihadapan mas. Tapi mas seenaknya nyebut nama mbak Almira pake bilang sayang lagi." kata Zara.
"Iri atau cemburu?"
"Tau, sana pergi."
"Kalau saya gak mau pergi?"
"Zara yang pergi." jawab Zara asal, sambil membalikan tubuhnya dan hendak melangkah ke dalam rumah.
Tapi langkahnya terhenti karena bisikan ditelinganya.
"Jangan marah marah terus. Saya sayang sama kamu." kemudian Zara juga merasakan sebuah benda menempel di pipinya.
Wajah Zara blusing seketika dan pelaku yang membuat Zara blushing sekarang sudah berasa di dalam mobil dan hendak melajukan mobilnya.
***
To be continued...
See you next part...
__ADS_1