Biarkan Waktu

Biarkan Waktu
Part 6


__ADS_3

Setelah hampir 6 jam berdiri sambil menyalami tamu akhirnya sekarang mereka bisa beristirahat. Awalnya Arkan dan Zara sama sama ngotot ingin tidur dikamar masing masing yang digunakan sebelum menikah tapi akhirnya dengan paksaan orangtua dan fisik yang sudah cukup lelah untuk berdebat mereka mengalah.


Sekarang mereka sudah dalam satu kamar. Zara masih sibuk membersihkan make up sementara Arkan ia duduk bersandar disofa sambil memejamkan matanya seperti menikmati sisa tenaganya. Zara yang dapat melihat Arkan dengan ujung matanya bisa membaca jika pria yang sekarang berstatus suaminya itu sedang kelelahan sangat terlihat dari wajahnya.


"Pak..." panggil Zara dari arah meja rias sambil sedikit menghadapkan badannya ke arah Arkan.


Arkan yang memang tidak tertidur mendengar jelas panggilan Zara.


"Hm." jawab Arkan tanpa membuka mata.


"Kalau boleh Zara kasih saran mending bapak mandi dulu baru istirahat." kata Zara dengan lembut takut jika Arkan merasa Zara mengatur dirinya. Zara cukup tau diri secara agama dan negara statusnya memang istri Arkan tapi bagi Arkan sendiri Zara tidak tahu pasti seperti apa dirinya dimata Arkan. Zara tak mau berharap dan tak mau banyak menuntut cukup berusaha menjalani tanpa memaksakan.


Tanpa bicara Arkan bangkit dari duduknya, mengambil handuk dan pakaian miliknya dari koper lalu berjalan ke kamarmandi. Zara kembali membersihkan make upnya setelah selesai ternyata Arkan belum keluar juga dari kamar mandi. Karena badannya yang sudah lelah dan ingin segera mendapat kesegaran dari sentuhan air Zara memutuskan untuk menumpang mandi dikamar sepupunya.


Setelah mandi Zara kembali ke kamar.  Tak ada Arkan dikamar pintu kamar mandi juga terbuka. Kemana sebenarnya Arkan? Ah sudahlah Zara tak mau ambil pusing tentang pria irit kata miskin ekspresi itu. Badannya lebih menuntut untuk istirahat sekarang. Zara membaringkan tubuhnya disalah satu sisi ranjang. Ia tidur miring membelakangi sebelahnya jangan lupakan Zara juga masih mengenakan kerudung panjangnya. Bukan apa tapi Zara hanya masih takut. Tak perlu waktu lama Zara sudah lelap dalam tidurnya. Tak lama juga terdengar suara pintu terbuka dan itu Arkan. Bukan berjalan kearah ranjang, Arkan justru berjalan kearah sofa. Dari arah sofa Arkan bisa melihat jelas wajah Zara yang sudah tertidur lelap.


"Aku tak pernah tau akan seperti apa kedepannya. Tapi biarkan aku egois untuk berjanji tidak akan pernah ada perpisahan untuk kedepannya." kata Arkan bermonolog sendiri sambil matanya menatap Zara.


Arkan membaringkan tubuhnya disofa. Entah apa yang ada diotaknya tapi pikirnya dari pada tidur diranjang dan dipunggungi lebih baik tidur disofa yang jelas ia bisa melihat wajah damai gadis yang sekarang menjadi istrinya, yang selalu berhasil membuat pikiran Arkan berantakan dan selalu menarik perhatiannya walaupun gadis itu hanya diam. Arkan menggelengkan kepalanya seperti membuang segala pikiran yang ada diotaknya. Arkan mulai berusaha memejamkan matanya.


Suara ketukan menyapa pendengaran Zara ia terbangun lalu melihat jam di dinding kamar rupanya sudah pukul 04.15 karena terlalu lelah gadis itupun harus rela kahilangan waktu shalat malamnya. Setelah benar benar bangun dari tidurnya Zara dikagetkan dengan Arkan yang tertidur disofa tanpa bantal dan tanpa selimut.


"Sebegitu menolaknya ya?" kata Zara sambil melihat Arkan. Jujur ada sedikit perasaan sedih dihati Zara dengan begini bukannya semakin jelas penolakan yang Arkan tunjukan? Begitulah yang ada dalam pikiran Zara. Zara menarik nafas dalam ia mengumpulkan keberanian untuk membangunkan Arkan.


"Pak..." panggil Zara. Tak ada tanda tanda Arkan akan bangun.


"Pak..." panggil Zara sekali lagi. Reaksinya tetap sama. Dengan ragu ragu Zara mencoba mengulurkan tangannya untuk menepuk lengan Arkan. Tanpa Zara ketahui Arkan sebenarnya sudah bangun sejak panggilan Zara yang pertama. Bahkan Arkan juga sudah bangun sebelum Zara bangun. Arkan sudah melaksanakan shalat tahajud sebelum ia memutuskan untuk berbaring kembali. Tapi Arkan masih kuat terpejam ia ingin tahu sejauh mana usaha Zara untuk membangunkannya. Tanggan Zara kini sudah mengguncang pelan bahu Arkan.


"Pak Bangun..." kata Zara. Arkan mulai membuka mata. Setelah Arkan membuka mata secepat kilat Zara pergi ke kamar mandi.


"Baru bangunin aja udah salting." kata Arkan sambil geleng geleng kepala. Arkan pergi ke luar kamar untuk menumpang di kamar yang lain karena jika menunggu Zara bisa telat Arkan untuk subuh di mesjid.


Sementara Arkan shalat berjamaah di mesjid terdekat bersama keluarga lainnya. Zara memutuskan shalat sendiri didalam kamar setalah shalat Zara memutuskan untuk mengaji sebentar. Kegiatan mengaji Zara berakhir ketika ketukan terdengar dari arah pintu tak lama terlihatlah seorang lelaki yang tampak tampan denga setelan baju koko, sarung dan pecinya. Masih dengan balutan mukena Zara menghampiri Arkan berniat untuk bersalaman semenolak menolaknya Zara ia masih tau batasan kewajibannya pada suami. Walau dengan ragu Zara mengulurkan tangannya pada Arkan, dengan ragu juga Arkan memberikan tangannya pada Zara lalu ditarik oleh Zara untuk kemudian dicium oleh Zara. Ada perasaan hangat yang singgah dihati Arkan setiap kali bibir Zara mengenai punggung tangannya sama rasanya seperti kemarin saat pertama kalinya Tangan Arkan dicium oleh wanita lain selain adiknya.


"Kita pulang bersama yang lain pagi ini." kata Arkan memberitahu.


"Iya Zara tau kok." jawab Zara sambil menjauhkan diri dari Arkan.


"Saya minta keikhlasan kamu untuk tinggal bersama saya di rumah keluarga saya." kata Arkan tanpa melihat Zara.


"Hari ini juga?" tanya Zara. Jujur ia masih belum siap jauh dari orangtuanya tapi bagaimana juga sekarang ia harus lebih patuh pada suaminya.


"Iya, pulang dari sini kita langsung ke rumah Papa. Untuk barang barang kamu biar nanti kita cicil." kata Arkan.

__ADS_1


"Oke." jawab Zara.


"Maaf bukan saya tidak bertanggungjawab dengan tidak memberikan kamu tempat tinggal dan mengajak kamu untuk terlebih dahulu tinggal di rumah keluarga saya. Saya sadar kita masih sama sama berusaha menerima saya hanya takut ketika kita belum sepenuhnya siap kita akan saling memenangkan ego masing masing. Setidaknya ketika kita tinggal dengan mama dan yang lain ada yang bisa selalu mengingatkan saya ketika iman saya sedang lebih rendah dari ego saya. Kamu juga tidak akan kesepian karena disana ada Alisya, Mama dan ada juga Sabiya." kata Arkan.


"Iya." jawab Zara singkat.


"Kamu keberatan?" tanya Arkan.


"Tidak." jawab Zara. Jujur dala hatinya Zara keberatan kenapa secepat itu kenapa ia tak diberi kesempatan untuk sehari atau dua hari dirumah orangtuanya.


Pukul 09.00 seluruh keluarga mereka sudah meninggalkan hotel tersebut. Dalam perjalanan pulang Arkan dan Zara berada dalam satu mobil di mobil Arkan karena kebetulan kemarin Arkan membawa mobil sendiri. Sekian lama perjalanan mereka sampai di rumah keluarga Arkan.


"Kamu masuk aja udah ada Mama kok." kata Arkan. Zara hanya mengangguk kaku. Zara masuk terlebih dahulu tapi tidak ada siapa siapa disana semuanya pasti sedang beristirahat sekarang. Mereka memang sampai lebih lama karena mereka pergi ke rumah ayah bunda dulu untuk menyicil mengambil barang barang Zara. Ini pertama kali Zara ke rumah keluarga Arkan Zara bingung harus kemana ia hendak keluar lagi tapi saat di pintu depan rumah ia nyaris bertabrakan dengan Arkan yang sedang membawa kopernya dan koper Zara.


"Mau kemana?" tanya Arkan.


"Itu Zara bingung harus kemana. Gak ada orang kayaknya udah pada istirahat." kata Zara sambil menunduk. Arkan tampak tersenyum sekilas melihat Zara yang masih sangat canggung sepertinya.


"Ikut saya." kata Arkan berjalan mendahului. Zara mengekor Arkan menuju ke lantai 2 rumah ternyata Arkan membawa Zara ke kamar.


"Awalnya ini kamar saya. Tapi saya sekarang harus rela berbagi kamar kan? Jadi ini juga kamar kamu sekarang." kata Arkan. Zara hanya mengangguk.


"Sampai kapan kamu mau terus berdiri disitu?" tanya Arkan saat melihat Zara masih berdiri di dekat pintu.


"Daripada diam mending kamu mulai bereskan barang barang kamu. Nah lemarinya sebelah sana saya udah sediakan tempat kosong untuk kamu." kata Arkan.


Adzan dzuhur membuat Zara menghentikan aktivitasnya. Zara yang melihat Arkan tertidur lagi lagi dibuat gugup untuk membangunkannya.


"Pak..." panggil Zara yang berdiri disamping Arkan tidur.


"Pak bangun." kata Zara lagi. Hingga saat ini dan entah sampai kapan Zara masih betah memanggil Arkan dengan sebutan bapak. Dua kali panggilannya tak mendapat respon dari Arkan Zara mencoba mengulurkan  tangannya untuk mengguncangkan tubuh Arkan. Tiga kali Zara memanggil sambil mengguncang tubuh Arkan akhirnya lelaki itu terbangun dari tidurnya.


"Maaf Zara mengganggu tidur bapak. Tapi ini udah waktunya dzuhur." kata Zara. 


"Cepat kamu ambil wudhu lebih dulu." kata Arkan.  Zara menurut ia berjalan ke kamar mandi untuk berwudhu.  Saat Zara hendak keluar kamar mandi Arkan sudah menunggunya didepan pintu kamar mandi. 


"Tunggu saya kita shalat berjamaah." kata Arkan sambil masuk ke kamar mandi.  Disebelah kanan tempat tidur Arkan sudah menggelar dua buah sajadah.  Hanya belum ada mukena karena Arkan tak tau dimana Zara menyimpan mukenanya. 


Ini kali pertama mereka shalat berjamaah. Arkan bisa dibilang jarang sekali shalat di rumah.  Shalat maghrib, Isya dan subuh ia biasanya shalat di masjid sedangkan shalat dzuhur dan Ashar ia seringnya shalat sendiri di kantor. Selesai shalat dzuhur mereka dipanggil untuk makan siang. Dimeja makan sudah ada Mama, Papa, Alisya,  Hafidz dan Sabiya.


"Duh penganten abis ngapain sih lama banget turunnya?" tanyaa Ica menggoda abang dan kakak iparnya. Arkan dan Zara sama sama diam tak ada yang mau menanggapi godaan Ica.


"Ih dikacangin." kata Ica kesal.

__ADS_1


"Udah sayang jangan digodain terus ah." kata Hafidz pada Ica. 


"Udah ayo Arkan Zara kalian duduk kita makan sama sama." kata Papa. Mama langsung menyendokan makanan untuk papa diikuti oleh Alisya yang menyendokan makanan untuk Hafidz sedangkan Zara ia masih bingun memang seharusnya ia mengikuti Mama dan Adik iparnya tapi ia juga takut jika Arkan tak nyaman dengan tindakannya. Seperti mengerti apa yang Zara pikirkan Arkan langsung menyodorkan piringnya pada Zara.


"Kamu harus belajar ambilkan untuk saya." kata Arkan. Zara menerima piring dari Arkan ia menyendok nasi terlebih dahulu. Semua yang ada di meja makan tampak mengulum senyum menyaksikan Zara yang masih canggung untuk melayani Arkan.


"Bapak mau sama apa?" tanya Zara sambil melihat Arkan. Mendengar panggilan Zara pada Arkan semuanya mendadak tertawa.


"Sayang kamu panggil Arkan bapak?" tanya Mama yang sudah mulai berhenti tertawa sementara yang lain masih dengan sisa tawanya.


"Maaf." kata Zara sambil menunduk.


"Arkan kamu juga gak dikasih tau istrinya harus manggil apa?" tanya Mama.


"Arkan udah kasih tau. Tapi Zara malah mau manggil Arkan Om, ya Arkan pikir bapak lebih baik dari pada Om." jawab Arkan seadanya.  Iya memang saat pertama kali mendengar Zara memanggilnya bapak Arkan sempat protes tapi saat Zara memberi pilihan antara bapak dan om ya menurut Arkan memang lebih baik bapak. Suara tawa kembali memenuhi meja makan.


"Sayang kamu jangan manggil bapak. Mulai sekarang panggilnya mas gitu ya. Mas Arkan kan lebih enak di denger usia kalian juga kan gak beda jauh." kata Mama.


"Iya ma. Maaf." kata Zara sambil menunduk.


"Yaudah ayo makan." kata Papa mencoba menyudahi pembicaraan.


Mereka makan dengan tenang tanpa suara,  hanya dentingan sendok dan celotehan Sabiya yang menemani makan siang mereka. 


Malamnya Arkan sudah membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur.  Sedangkan Zara ia masih asik duduk di sofa sambil membaca novel. Arkan melihat jam ini sudah cukup malam. Arkan bangun dari tempat tidur ia mengambil novel Zara secara paksa.


"Tidur ini sudah malam." kata Arkan. Zara sedikit kaget dengan cara Arkan.  Arkan kembali ke tempat tidur sambil membawa novel Zara sengaja agar Zara tak membacanya lagi. Entah kenapa Arkan merasa terabaikan saat Zara asik dengan novelnya sementara ia sendiri bingung harus melakukan apa.


"Zara tidur dimana?" tanya Zara.


Arkan menatap Zara sambil mengerutkan keningnya.  "Serius kamu bertanya seperti itu?" tanya Arkan.


"Zara cuma takut apa yang Zara lakukan dianggap lancang dan membuat bapak emm maksud Zara Mas gak nyaman." jawab Zara.


"Kamu tidur di tempat tidur." kata Arkan singkat.


"Jangan memaksakan. Zara tau mas gak nyaman dengan itu. Maaf kemarin Zara lancang lebih dulu tidur dan membiarkan mas tidur di sofa. Jadi Zara pikir biar mas nyaman biar Zara yang malam ini tidur di sofa." jawab Zara.


Arkan terkejut dengan ucapan Zara ia tak menyangka tingkahnya kemarin dianggap suatu penolakan oleh Zara. Padahal sebenarnya tidak begitu kemarin ia hanya masih nyaman memandangi wajah Zara yang damai saat tertidur. Apa tidak terlalu dini pernikahan mereka sudah harus dibumbui dengan kesalah pahaman?


"Suka tidak suka mau tidak mau saya sekarang suami mu.  Turuti kata kata saya. Tidur di tempat tidur sekarang atau saya yang buat kamu tidak bisa tidur sampai esok pagi?" kata Arkan dengan suara yang sedikit meninggi disertai dengan wajahnya yang sangat datar.


***

__ADS_1


**To be continued...


See you next part**...


__ADS_2