Biarkan Waktu

Biarkan Waktu
Part 28


__ADS_3

...Assalamualaikum......


...Happy Reading......


Setelah 3 hari memdapatkan perawatan pasca melahirkan di rumah sakit, akhirnya hari ini dokter sudah mengizinkan Zara dan bayinya untuk pulang.


"Kalian mau langsung pulang ke rumah sendiri? Enggak ada rencana buat di rumah Mama atau di rumah Bunda kalian dulu gitu? Mama bisa bantu jaga bayi kalian loh," kata mama pada Arkan dan Zara.


"Mama, enggak baik terlalu ikut campur urusan rumah tangga mereka. Biar mereka dengan keputusannya sendiri," tegur Papa.


"Iya maaf Pa. Tapi ya neneknya ini masih mau lama lama sama cucunya," kata Mama.


"Mama nanti sering sering aja main ke rumah," kata Zara.


"Ah iya benar. Enggak apa apa ya kalau tiap hari Mama ke rumah kalian. Kalau perlu Mama nginep aja nanti."


"Mama mau main atau mau ngejajah?" kata Arkan yang sedang mengganggu bayinya ya di gendongan Zara.


"Ih jangan di ganggu terus Mas."


"Arkan udah biar tidur itu cucu Mama." tegur Mama.


"Ya abis dia tidur terus Sayang," kata Arkan, tanpa sadar memanggil Zara sayang. Dan masih sambil menciumi anaknya. Wajah Zara menjadi blushing mendengar yang baru saja Arkan katakan. Sedangkan Mama dan Papa hanya diam pura pura tidak melihat karena takut Zara semakin malu.


"Ya emang bayi mah tidur terus Arkan," sahut Mama.


"Udah ah. Administrasi udah beres semua belum Bang?" tanya papa.


"Udah kok."


"Yaudah hayu ah pulang.  Ngapain betah lama lama di rumah sakit," kata Mama.


Arkan dan Zara pisah mobil dengan Papa dan Mamanya.  Karena Papa dan Mama akan ada acara lain setelah ini katanya.


"Fokus ke depan Mas," tegur Zara pada Arkan karena dari tadi selalu menengok ke arah Zara dan bayinya.


"Iya iya."


Tidak sampai 30 menit mereka sudah sampai di rumah. Arkan turun lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Zara. Zara terkejut melihatnya, ini pertama kalinya Arkan berbuat seperti itu.


Jangan Zara jangan terlalu percaya diri, siapa tahu ini dilakukan hanya karena bayinya. Bukan karena Arkan yang mulai mencair pada Zara.


"Pelan-pelan," kata Arkan sambil menuntun tangan Zara.


"Zara udah enggak apa apa kok Mas. Jangan khawatir," jawab Zara.


"Saya khawatir sama anak saya," kata Arkan.


Zara hanya tersenyum.


"Assalamualaikum," kata Zara dan Arkan saat memasuki rumah.


"Waalaikumsalam. Eh Mas Arkan sama Mbak Zara udah pulang. Alhamdulillah sekarang udah ada bos kecil juga," kata Bude.


"Iya Bude. Bude lagi apa ini?" tanya Zara.


"Bude baru selesai masak Mbak. Mas sama Mbak mau makan dulu?"


"Zara mau boboin dede dulu Bude. Zara permisi ke kamar ya."


"Oh iya Mbak silahkan."


Zara pergi ke kamar lebih dulu sedangkan Arkan masih mengurusi barang bawaan mereka.


"Zara ke kamar Bude?" tanya Arkan.


"Iya Mas, tadi katanya mau boboin dede dulu."


"Oh iya udah. Makasih Bude."


Arkan segera menyusul Zara dan putranya ke kamar. Arkan melihat Zara sedang berdiri di samping box bayi putra mereka sambil memandanginya dan sesekali mengusap pipi gembul Zayyan.


"Tampankan dia? Tidak kalah dengan saya kan tampannya?" tanya Arkan yang sudah berdiri di belakang Zara.


"Hmm" jawab Zara seenaknya.


"Saya mau menamakan anak kita Zayyan Raffa Khairy. Boleh?"


"Boleh. Bagus kok namanya," kata Zara sambil melihat Arkan.


"Jadi resmi ya kita namai itu?" tanya Arkan.


"Iya Zara setuju."


"Kita panggil dia Zayyan?" tanya Arkan.


"Kalau Raffa?" tawar Zara


"Kalau dipanggil Raffa saat belum bisa menyebut huruf R maka dia bakal kesulitan menyebut namanya sendiri. Seperti saya dulu."


"Hah emang kenapa?"

__ADS_1


"Kamu lupa nama suami kamu sendiri?"


"Arkan Rafka Khairy?"


"Hm. Sampai TK saya belum bisa menyebutkan nama saya sendiri dengan benar," kata Arkan. Zara tersenyum membayangkan Arkan menyebut namanya sendiri ketika belum bisa menyebut huruf R, 'Alkan Lafka Khaily,'


"Kenapa senyum senyum?"


"Enggak."


"Mas Zara mau tanya boleh?" tanya Zara dengan nada yang lebih serius.


"Silakan," kata Arkan tetap tenang.


"Mas, kalau seandainya waktu itu hanya salah satu dari kami yang bisa diselamatkan dan dokter memberikan mas pilihan. Mas akan pilih siapa?"


"Kenapa kamu bertanya begitu? Buktinya sekarang kalian berdua baik-baik saya. Dan saya akan usahakan agar kalian berdua selamat," kata Arkan.


"Kan seandainya hanya bisa pilih salah satu mas jawab dong."


"Itu bukan pilihan, yang penting sekarang kalian sudah sama sama selamat."


"Mas please jawab dulu. Susah amat jawab begitu aja."


"Sebegitu pentingnya?"


"Please." bujuk Zara sambil mendongak menatap Arkan.


"Saya tidak suka pertanyaan kamu." kata Arkan dengan nada dingin.


"Mas please." kata Zara memohon.  Arkan tampak berpikir.


"Saya pilih kamu." jawab Arkan tegas.


"Kenapa? Mas gak mau lihat dia yang selucu ini? " tanya Zara lagi.


"Kamu kan yang suruh saya memilih?"


"Iya alasannya apa mas lebih pilih Zara?"


"Karena saya lebih baik kehilangan sesuatu yang belum pernah saya miliki. Kalau saya pilih dia maka saya akan kehilangan kamu dan saya akan melihat dia besar tanpa kasih sayang ibunya itu akan menyakitkan. Sedangkan jika saya pilih kamu saya bisa buat bayi bayi kecil yang lebih banyak lagi." jawab Arkan. Zara tersenyum mendengar jawaban Arkan wajahnya pasti sudah memerah sekarang. Tanpa berpikir Zara langsung memeluk Arkan. Beberapa saat mereka saling menikmati posisinya.


"Mas Zara boleh minta sesuatu sama mas?" tanya Zara.


"Apa?" tanya Arkan.


"Awalnya Zara berusaha nyaman dengan hal ini tapi sekarang apalagi setelah ada dia. Kok telinga Zara jadi enggak nyaman ya dengernya."


"Zara mau mas jangan bilang saya saya lagi. Gak enak tau mas berasa lagi di forum resmi antara atasan dan bawahan ataupun dosen dan mahasiswanya. Awalnya Zara gak mau maksa tapi kayaknya sekarang emang harus Zara paksa."


"Saya usahakan."


"Saya lagi." kata Zara sambil memanyunkan bibirnya.


"Saya belum terbiasa."


"Mangkanya dibiasakan."


"Saya lapar. Ayo makan."


"Enggak mau. Kalau masih saya."


"Zara?"


"Apa?"


"Ayo makan lapar."


"Siapa yang lapar?"


"Saya."


"Ck. Sana makan sendiri."


"Zara ayo makan. Mas lapar," kata Arkan sambil menggaruk tengkuknya. Arkan gugup karena belum terbiasa menyebut diri dengan kata Mas.


"Nah kan manis kalau gini? Berasa beneran suami istri." kata Zara lalu kembali menyembunyikan wajahnya di dada Arkan.


"Maksud kamu selama ini kita tidak seperti suami istri? Kok saya ngeri ya dengernya, gak seperti suami istri aja bisa ada bayi loh di tengah tengah kita."


"Ih mas kan saya lagi saya lagi."


"Iya maaf sayang kan belum terbiasa." kata Arkan.  Bukannya melanjutkan marahnya wajah Zara justru memerah karena malu sekarang.


"Haha kamu juga harus terbiasa dengan panggilan itu sekarang." kata Arkan sambil mengusap pipi Zara yang memerah.


Zara yang malu langsung menyembunyikan lagi wajahnya ke dada Arkan.


Kehadiran Zayyan memang banyak merubah Arkan dan Zara akhir akhir ini. Terhitung sudah 2 bulan Zayyan berada di tengah tengah mereka. Mereka tidak malu malu lagi untuk lebih terbuka menyampaikan apa yang masing masing rasakan. Komunikasi pun semakin baik ya walaupun Arkan masih tetap dengan karakter dingin dan otoriternya karena itu memang sudah menjadi karakter dasar Arkan.


Arkan ingin menebus kesalahannya berbulan bulan bahkan satu tahun setelah menikah ia hampir tidak punya waktu berkualitas berdua bersama Zara. Selama itu mereka sibuk saling meyakinkan diri mereka sendiri untuk menerima tapi tanpa usaha yang sungguh sungguh. Sekarang setelah ada Zayyan bukan waktunya lagi untuk mayakinkan diri sendiri sekarang saatnya mereka untuk bahu membahu manjadikan bahtera ini menjadi bahtera yang indah yang kelak akan mengantarkan mereka menuju jannah.

__ADS_1


"Sayang, malam ini kita titip dulu Zayyan di rumah bunda ya." kata Arkan saat sedang mendampingi Zara menyusui Zayyan.


"Loh kenapa?" tanya Zara.


"Mas mau kita punya waktu buat quality time berdua. Setahun kita menikah kita sibuk saling meyakinkan diri sendiri kita lupa bahwa kita sudah hidup berdua. Kita terikat dan ikatan itu setiap harinya harus dipererat sehingga ketika ada satu gerakan kecil ikatan kita tak akan mudah terputus." kata Arkan.


"Sejak kapan suami Zara yang dingin dan otoriter ini jadi manis begini?"


"Tapi mas Zara belum tega ninggalin Zayyan. Terus nanti ASI nya gimana coba?"


"Enggak apa apa sayang. Cuman sehari, seminggu sekali Zayyan ditinggal enggak masalah. Asinya nanti kamu bisa pompa aja beberapa botol buat stok Zayyan waktu sama bunda. Justru ini kesempatan sebelum Zayyan besar. Sebelum nanti dia bisa merengek enggak mau ditinggal dan lainnya. Dan satu lagi mas enggak mau dibantah." kata Arkan.


"Huuh Zara bisa apa emang kalau Mas udah mulai otoriter begitu?"


"Kamu gak bisa apa apa selain ikutin maunya mas," jawab Arkan.


"Yaudah tuh. Zayyan udah kenyang minumnya sini biar Zayyan sama mas. Kamu siapin keperkuannya Zayyan. Sore ini kita anterin Zayyan ke rumah bunda."


"Tapi mas, emang kita mau kemana sih?" tanya Arkan.


"Kemana pun. Yang jelas kita butuh quality time berdua," kata Arkan.


"Minggu depan aja deh ya." tawar Zara.


"Zara." kata Arkan langsung dengan nada dinginnya.


"Iya iya. Mulai galaknya."


Pukul 16.00 Mereka sudah bersiap siap untuk menitipkan Zayyan ke rumah Bunda. Tapi Zara kembali dengan kegalauannya.


"Mas minggu depan aja ya perginya. Please janji deh minggu depan kita pergi tapi jangan sekarang."


"Yaudahlah terserah kamu," jawab Arkan sambil meninggalkan Zara.


Zara sudah hapal kalau sudah begini Arkan pasti marah. Zara langsung bergegas menyusul Arkan sambil menggendong Zayyan.


"Ih mas tunggu. Iya iya kita pergi." kata Zara setelah berhasil menyusul Arkan.


"Gausah kalau emang kamu enggak mau." jawab Arkan datar.


"Zara bukan gak mau.."


"Saya hanya berusaha memperbaiki Zara, Saya sadar permasalahan yang sebelum sebelumnya terjadi karena kesalahpahaman dan salah paham itu sumbernya dari komunikasi yang kurang baik. Saya berusaha memperbaiki semua itu saya ingin kan waktu untuk kita bukan semata mata hanya ingin berdua dua tapi saya ingin memiliki waktu untuk kita bisa saling berkomunikasi secara empat mata dengan mengesampingkan dulu hal lain. Saya tau kita sama sama manusia dengan ego dan gengsi yang tinggi dan saya pikir dengan seringnya kita punya waktu untuk berbicara berdua mungkin kita bisa lebih memahami apa yang diinginkan masing masing agar kita tidak selalu berbenturan dengan ego masing masing. Tapi kalau yang saya inginkan itu menyulitkan buat kamu. Oke saya enggak akan maksa," kata Arkan kembali dengan bahasa bakunya.


"Iya iya udah mas enggak usah marah marah gitu. Iya Zara mau, ini pegang dulu Zayyan nya Zara mau ambil tas dulu di kamar.  Gausah kesel gitu mukanya. Malu tuh dilihati anaknya," kata Zara sambil menyerahkan Zayyan pada Arkan.


"Senyum dong," kata Zara sambil mengusap pipi Arkan.


Akhirnya dengan sedikit drama drama Arkan yang marah merekapun punya kesempatan untuk pergi berdua.


"Kita mau kemana Ayah?" tanya Zara sedikit menggoda Arkan yang sejak tadi mengantarkan Zayyan masih saja dingin.


"Mas udah dong jangan marah marah. Kan jadi enggak enak jalannya juga kalau diam begini," pinta Zara yang tidak ditanggapi oleh Arkan.


Malam ini mereka benar benar menghabiskan waktu berdua. Seperti pasangan kekasih pada umumnya. Diawali dengan jalan jalan keliling mall, makan malam yang benar benar intim dan di sinilah Arkan benar benar memanfaatkan waktu untuk bisa sharing mengenai apapun. Bebicara empat mata dan dari hari ke hari. Kemudian puncaknya adalah mereka menonton film di bioskop di pemutaran film yang terakhir bahkan ketika bioskop hampir tutup.


Sekarang mereka sudah berada di rumah. Mereka sudah bersiap untuk tidur.


"Mas lihat enggak orang orang tadi liatin kita tau." kata Zara.


"Kamu yang kegeeran."


"Ih beneran tau. Mungkin mereka ngiranya kita pacaran kali ya."


"Iya kan pacaran."


"Apa kata mas pacaran? Setelah ada Zayyan?"


"Enggak salah kan pacaran setelah punya anak?"


"Jadi mas mau kita pacaran?"


"Hmm seru kayaknya."


"Yaudah kita pacaran."


"Jadi sekarang punya pacar?" kata Arkan menaik turunkan alisnya sambil terus merapatkan badannya pada Zara dan mendekatkan wajahnya pada wajah Zara. Saat sudah semakin dekat Zara menutup wajah Arkan dengan telapak tangannya.


"Inget kita pacaran enggak boleh deket deket lah."


"Hah?"


"Ya kan mas maunya pacaran."


"Atuh Sayang," kata Arkan memelas.


"Yaudah enggak jadi pacaran. Kita suami istri sah secara agama dan negara," kata Arkan lalu langsung memeluk Zara dan mematikan lampu disamping tempat tidurnya.


......................


Sampai jumpa di part selanjutnya...

__ADS_1


__ADS_2