Biarkan Waktu

Biarkan Waktu
Part 8


__ADS_3

Zara menatap Arkan lekat lekat sedangkan yang ditatap masih fokus ke jalanan malam yang sedang dilaluinya. Tak mau menanggapi Zara kembali mengalihkan pandangannya kembali ke luar jendela.


"Gak bisa jawab?" kata Arkan tiba tiba.


"Mas mau Zara jawab apa? Emang siapa yang suruh Zara pakai baju ini? Siapa yang suruh Zara dandan agar gak dipandang sebelah mata oleh rekan rekan mas? " kata Zara tanpa melihat Arkan. Arkan diam ia fokus ke jalanan ia juga bingung kenapa dirinya harus bersikap begitu? Jelas jelas yang Zara lakukan adalah perintahnya.


"Jujur Zara bingung deh sama sikap mas beberapa hari ini, aneh aja gitu bagi Zara terlalu drastis." jawab Zara tanpa mengalihkan pandangannya.


"Saya hanya mencoba. Salah saya? Saya pikir percuma saya berbicara sampai berbusa busa saya akan mencoba tapi saya tak pernah berusaha. Saya berdo'a kepada Allah agar diberikan kelapangan hati untuk bisa menerima tapi saya rasa juga sia sia jika gak disertai dengan usaha dari diri saya. Bukannya do'a dan usaha itu harus berjalan beriringan?" kata Arkan menjelaskan. Entah kenapa perkataan Zara tadi menyentil hatinya, Arkan sedang berusaha tapi kenapa Zara seolah menyalahkannya.


Zara diam, dalam diamnya ia membenarkan ucapan Arkan ia berkali kali berkata ingin mencoba menerima, ia berdo'a diberi keikhlasan. Tapi sampai saat ini sama sekali tak ada usaha yang ia lakukan. Usahanya hanya sebatas mencium tangan Arkan ketika hendak berangkat kerja dan meminta izin saat dirinya hendak pergi tanpa Arkan hanya sebatas itu. Bahkan hingga saat ini Zara selalu memakai jilbab saat didepan Arkan, ia belum berani walau hanya sekedar memperlihatkan yang sudah hak bagi suaminya. Dan sekarang saat Arkan lebih maju untuk memulai Zara malah bertanya yang seharusnya sudah ia fahami.


Sisa perjalanan mereka hingga menuju ke tempat parkir lokasi acara hanya ditemani kesunyian. Setelah mobilnya benar benar berhenti, tangan Arkan terulur untuk mengambil tisu di mobilnya. Tanpa Zara duga Arkan langsung menarik tengkuk Zara dan memposisikan wajah Zara agar menghadap pada dirinya. Tanpa kata Arkan langsung mengelap bibir Zara dengan tisu yang ia pegang. Diperlakukan seperti itu tubuh Zara menegang jantungnya seperti sedang berdisko didalam sana ia berharap semoga Arkan tak mendengar suara jantungnya. Tak perlu lama karena memang lipstik yang Zara pakai bukan warna mencolok dan tidak tebal jadi mudah untuk dibersihkan.


"Cepat turun." kata Arkan setelah selesai dengan kegiatannya. Lalu ia terlebih dahulu turun mendahului Zara. Zara segera mengekori Arkan, Arkan sudah berjalan beberapa langkah di depannya. Rasanya sulit untuk dikejar karena langkah Arkan yang jauh lebih lebar dari Zara. Merasa Zara tertinggal dibelakangnya Arkan memelankan langkahnya hingga jaraknya dengan Zara menjadi tak begitu jauh. Bahkan karena terlalu greget dengan Zara yang sangat lama menyamakan diri dengan langkahnya arkan balik lagi kebelakang meraih tangan Zara lalu menggandengnya. Tunggu bukan menggandeng mungkin lebih tepatnya sedikit menyeret. Zara hanya pasrah walaupun sedikit kesusahan.


Saat masuk ke tempat acara Arkan merasakan suasana yang berbeda dengan pernikahan pada umumnya. Jika pernikahan pada umumnya pengantin hanya diam di pelaminan untuk menyalami tamu. Tapi kali ini beda pengantinnya justru yang menghampiri tamu dan berbaur dengan tamu. Cukup menarik tapi kurangnya acara ini terkesan seperti bukan pernikahan para tamu lebih fokus menikmati hidangan sambil berjoget menikmati lagu yang diputarkan oleh pemusik. Arkan langsung mencari pengantin, berharap selesai menyalami pengantin ia bisa langsung pulang. Tapi sayang setelah bertemu pengantin ia justru tertahan disini diajak berbincang terus oleh sang pengantin pria.


Semakin malam semakin tak kondusif acaranya alunan musik yang awalnya slow dan masih ramah ditelinga berubah menjadi jedak jeduk irama musik disko yang di pimpin oleh seorang dj. Bahkan tak lama setelah musik berubah beberapa pelayan tampak berdatangan membawakan nampan berisi botol dan dan gelas yang langsung disimpan ke meja meja.


"Udah santai ayo diminum dulu. Makin malam makin seru loh." kata sang pengantin pria.


"Terimakasih tapi saya dan istri saya tidak minum." kata Arkan. Pria itu hanya mengangguk faham ia mengerti apalagi pakaian Zara yang menggunakan pakaian serba panjang dan jilbab yang panjang.


Jujur Zara sudah sangat tidak nyaman disini. Tapi bagaimana Zara juga harus menghargai Arkan bukan? Arkan sangat bisa merasakan ketidaknyamanan pada Zara.


"Maaf Al udah malam nih. Sepertinya saya dan istri saya harus cepat pulang kami ada acara lain. Selamat atas pernikahannya Al semoga kalian menjadi keluarga samawa." kata Arkan sambil berdiri lalu berniat menyalami Aldi dan istrinya.


"Oh gitu okelah. Thank you Arkan." kata Aldi menerima uluran tangan. Sedangkan Zara ia juga bersalaman dengan istri Aldi lalu bercipika cipiki seperti pada umumnya.


Mereka segera meninggalkan tempat tersebut tersebut. Saat keluar dari tempat tersebut Zara langsung menghembuskan nafas lega.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Arkan saat melihat Zara seperti sangat lega ketika keluar dari tempat acara.


"Maaf. Kalau boleh Zara minta mas jangan lagi deh ajak Zara ke acara begini. Zara gak nyaman, takut Zara." kata Zara. Arkan mengerutkan kening seakan ia tak mengerti dan meminta penjelasan Zara.


"Takut?" kata Arkan sambil tetap menggandeng tangan Zara dan berjalan ke parkiran.


"Tatapan para lelaki disana itu yang buat Zara takut. Menatap wanita itu seperti kucing yang sedang mengicar mangsa." kata Zara menjelaskan apa yang ia rasakan sejak tadi.


"Geer." kata Arkan tanpa melihat Zara.


"Ish." kata Zara merasa tak terima dengan ucapan Arkan.


Saat sampai di mobil Arkan langsung mengendarai mobilnya ke arah rumah. Berada didalam mobil dan kembali berdua bersama Arkan seperti kembali mengingatkan Zara tentang obrolan mereka saat dimobil menuju Acara tadi.


"Mas.." panggil Zara memecah kesunyian yang ada.


"Hm." Arkan hanya menjawab dengan geraman.


"Untuk?"


"Karena Zara tidak merespon baik usaha yang mas lakukan. Zara justru malah merasa aneh." kata Zara sambil menunduk.


"Oke." jawab Arkan singkat. Zara langsung menengokan wajahnya kearah Arkan.


"Hanya itu?" kata Zara tak terima denga jawaban Arkan yang hanya sekata itu. Arkan hanya mengangguk. Zara memalingkan wajahnya ke arah jendela.


"Ih dasar manusia kulkas. Makhluk otoriter. Pria miskin ekspresi." kata Zara bergumam pelan merutuki Arkan.


"Saya dengar rutukan kamu itu Zara." kata Arkan. Zara langsung diam.


Sekian lama perjalanan mereka yang hanya ditemani kesunyian.  Akhirnya mereka sampai di rumah tepat pukul 23.15. Zara langsung pergi ke masuk ke rumah meninggalkan Arkan yang masih memasukan mobil ke garasi.

__ADS_1


Saat Arkan memasuki kamar ia tak melihat Zara tapi ia mendengar ada suara gemericik air dari kamar mandi bisa dipastikan jika Zara yang berada di dalamnya. Tak lama Zara keluar lengkap dengan gamis tidur dan jilbabnya.


"Boleh saya minta tolong buatkan teh hangat." kata Arkan sebelum masuk ke kamar mandi. Zara hanya mengangguk.


15 menit Arkan keluar dari kamar mandi, ia tak melihat Zara di kamarnya. Arkan melihat jam di dinding kamar sudah hampir setengah satu malam. Setelah mengenakan pakaiannya Arkan berniat untuk keluar kamar mencari Zara. Tapi sebelum keluar ia melihat gordeng pintu ke arah balkon belum tertutup. Arkan memutuskan untuk mengecaek disana terlebih dahulu.


"Belum tidur?" tanya Arkan saat melihat Zara sedang berdiri menatap kelangit.


"Belum. Itu teh nya Zara simpan di meja samping tempat tidur mas." kata Zara masih fokus dengan apa yang dilihatnya.


"Masuklah angin malam gak baik buat tubuh." kata Arkan.


Zara menuruti ucapan Arkan ia masuk ke kamar. Sebelum membaringkan tubuhnya di tempat tidur Zara terlebih dahulu pergi ke kamar mandi untuk berwudhu.


"Zara..." panggil Arkan saat Zara hendak membaringkan tubuhnya.


"Apa kamu bersedia jika saya meminta hak saya sebagai suami malam ini?"


Pertanyaan tersebut keluar begitu saja dari mulut Arkan. Pertanyaan Arkan berhasil membuat Zara mematung, tubuhnya menegang, pikiran Zara pun mendadak kosong. Tapi bagaimana juga Arkan suaminya, Arkan berhak atas diri Zara. Mematuhi keinginannya adalah surga bagi Zara selagi itu tidak melenceng dari ajaran agama yang dianutnya.


Entah disadari atau tidak tapi Zara menganggukan kepalanya. Mereka bergegas untuk melakulan shalat sunah. Dan terjadilah pertama kalinya Zara membuka jilbab dihadapan suaminya setelah sebulan menikah.


Arkan mencium kening Zara cukup lama.


"Terimakasih sayang. Aku mencintaimu. Terimakasih Almira..." kata Arkan sambil berbisik ditelingan Zara. Entah Arkan menyadari atau tidak kata apa yang baru saja keluar dari mulutnya. Tapi perkataan itu sungguh terdengar jelas ditelinga Zara.


***


**To be continued...


See you next part**...

__ADS_1


__ADS_2