
Assalamualaikum...
Happy Reading...
Tiga hari sudah Arkan berada di rumah tubuhnya sudah semakin bugar. Rencananya hari ini Arkan sudah akan memulai kembali kegiatannya. Zara masih dalam mode diamnya ia tak sepenuhnya mendiamkan Arkan. Namun Zara juga masih dingin dengan Arkan. Arkan juga tidak pernah bosan bertingkah yang memancing Zara bereaksi.
Seperti pagi ini di dalam kamar Arkan sedang bersiap mengenakan pakaiannya untuk pergi ke kantor.
"Zara, kaos kaki saya mana?" tanya Arkan pada Zara.
"Di lemari." jawab Zara singkat.
"Dimana?" tanya Arkan sambil mengobrak abrik lemari. Zara yang awalnya sedang membereskan tempat tidur menjadi menghampiri Arkan.
"Bagian bawah."
"Dimana gak ada."
"Astagfirullah mas. Kenapa jadi berantakan sih lemarinya?" tanya Zara kesal. Ya beginilah Arkan sekarang sering membuat Zara kesal hanya agar mendapat perhatian Zara.
"Maaf. Saya kan gak tau." kata Arkan dengan wajah tanpa dosa.
"Zara kan udah bilang di lemari bawah kenapa nyarinya malah di bagian atas. Nih kaos kakinya." kata Zara sambil menyerahkan kaos kaki ke tangan Arkan.
"Iya iya jangan marah dong." kata Arkan sambil mencubit hidung Zara.
"Ih diem bikin kesal banget sih. Udahlah mas jangan drama terus." kata Zara sambil berlalu meninggalkan Arkan.
Mendengar perkataan Zara, Arkan merasa tak terima apa katanya tadi drama? Arkan merasa Zara salah faham. Arkan langsung menarik tangan Zara dan mendudukan Zara secara paksa.
"Jelaskan sama saya, kamu kenapa Zara? Sata tau sejak kemarin kamu itu tidak baik baik saja. Ayolah kita belajar selesaikan masalah secara dewasa biar tuntas jadi gak memancing kesalahfahaman kedepannya." kata Arkan.
"Jadi maksud mas Zara kekanakan?"
"Erk, bukan begitu.."
"Oke Zara kasih tau sekarang apa penyebabnya Zara bertingkah kekanakan. Zara hanya mengikuti alur cerita yang mas buat." jawab Zara.
"Saya tak mengerti Zara."
"Mas kan udah buat cerita sebelumnya kalau mas harus memperlakukan Zara dengan baik seperti selayaknya seorang suami pada istrinya iya kan?" kata Zara.
"Lalu masalahnya?"
"Hhh.. Iya masalahnya karena yang mas lakukan itu semuanya bohong, mas hanyaa..."
"Stop Zara kenapa dimata kamu saya selalu seperti itu." kata Arkan pada Zara.
"Ya karena mas sendiri yang membuat Zara berpikiran bahwa mas itu begitu. Udah mas jangan pura-pura tau Zara tau kalau Zara ini hanya beban tanggungjawab buat mas. Sampai saat ini mas belum bisa terima Zara dan semua yang mas lakukan sama Zara itu hanya sebatas perasaan tak enak hati mas sama Zara. Iyakan? Udah mas Zara udah tau semua. Zara dengar pembicaraan mas sama sahabat mas waktu di rumah sakit. Zara dengar juga bahwa kak Dirga bertemu Almira kan? Nah mas bisa kembali tuh merajut cerita sama Mbak Almira. Nanti mas tinggal kasih tau Zara aja ya. Biar Zara siap-siap mundur." kata Zara dengan nada penuh kekesalan.
"KAMU TIDAK MENDENGAR SEMUANYA ZARA." kata Arkan yang justru nampak sangat emosi.
"Oh Zara masih belum tau semuanya iya? Apa yang Zara belum tau? Zara belum tau kalau mas sebelumnya udah lebih dulu bertemu dengan Almira dan sudah merajut cerita dibelakang Zara iya." teriak Zara. Zara tidak menangis, ia seolah sudah menyiapkan hati dan kekuatan untuk menghadapi ini.
"Zara, jaga bicara kamu." kata Arkan mulai sedikit mereda. Arkan merubah posisi duduknya mendekat pada Zara ia mengambil tangan Zara dan menggenggamnya. Awalnya Zara menolak tapi kekuatan Arkan lebih besar.
"Kamu hanya salah faham Zara. Lihat saya Zara." perintah Arkan karena dari tadi Zara enggan melihatnya. Karena Zara yang tak mau melihatnya Arkan mengangkup wajah Zara untuk menghadapnya. Arkan cium dengan lembut kening istrinya itu, kemudian beralih ke mata, hidung, pipi kanan dan kiri lalu yang terakhir ah you know lah. Karena menurut beberapa sumber berpelukan, cium atau mencium bisa sedikit mengontrol emosi dan membangkitkan hormon endorfin.
"Saya gak mau buat kamu makin larut dalam kesalah fahaman ini dengan tidak menyelesaikan masalah ini saat ini juga. Tapi saya tidak mau menyelesaikan masalah dalam keadaan emosi seperti ini. Saya gak mau kamu berdosa karena meninggikan nada bicaramu pada suami mu sendiri. Saya pikir kita juga butuh Dirga disini. Karena kamu tak akan percaya jika penjelasan hanya berasal dari mulut saya." kata Arkan setelah melepaskan bibirnya dari Zara. Zara masih diam.
"Saya gak mungkin bolos lagi dari kantor. Ya walaupun saya yakin tak akan ada yang menengur saya meski saya tak ke kantor lagi. Tapi saya masih punya tanggungjawab. Jadi saya mau sekarang kamu siap siap. Kamu ikut saya ke kantor. Kita bicarakan ini semua baik baik dengan dirga tentunya." kata Arkan lalu kembali mencium kening Zara.
__ADS_1
"Zara gak mau." jawab Zara.
"Oke gak masalah kok pergi ke kantor dengan keadaan seperti ini." kata Arkan hendak menarik Zara yang masih mengenakan gamis kaos serta bergonya.
"Lepas Mas Zara gak mau!" kata Zara tegas.
"Perlu saya paksa kamu atau perlu saya bantu kamu berganti pakaian Zara?" kata Arkan sambil menatap Zara tajam. Zara masih diam sambil menatap Arkan seakan menelisik apa ada kebohongan disana? ia sedikit menimbang apa mungkin ini hanya kesalahfahaman? Apa mungkin Arkan punya penjelasan? Apa ini bukan kebohongan baru yang di buat Arkan? Begitu kira kira isi pikiran Zara.
"Saya tidak sedang berbohong Zara. Saya hanya ingin meluruskan sebuah kesalahfahaman. Tolong berbaik sangka pada saya kali ini." kata Arkan seakan tau arti tatapan Zara dan isi pikiran Zara.
"Iya udah oke. Zara ikut mas sekarang." kata Zara sambil berjalan ke arah lemari untuk mengganti pakaiannya. Arkan tersenyum penuh kemenangan.
Arkan telat sampai ke kantor karena jalanan kota Bandung yang sudah hampir sama dengan jakarta dan juga perdebatannya dengan Zara pagi tadi. Arkan berjalan memasuki kantornya sambil menggenggam tangan Zara. Zara sudah mencoba melepaskan namun kembali tenaga Arkan terlalu kuat. Semua karyawan Arkan sudah tau jika bosnya itu sudah beristri walau beberapa mungkin belum pernah bertemu Zara karena tak hadir saat pernikahan mereka.
"Kamu duduk manis dulu disini. Saya ke ruangan Dirga dulu. Saya harus menanyakan jadwal saya hari ini pada dia. Nanti kalau pekerjaan sudah selesai baru kita bicara." kata Arkan. Zara tak menjawab apa apa.
Satu jam, dua jam dan tiga jam sudah Arkan fokus dengan pekerjaannya sambil sesekali memperhatikan Zara sepertinya sudah bosan menunggu. Salah Arkan tidak membawakan buku untuk Zara.
"Mas..." panggil Zara. Tidak salah lagi Zara pasti sudah bosan menunggunya tanpa melakukan apapun.
"Tunggu, saya panggil Dirga dulu." kata Arkan sambil meletakan handphone di telinganya. Tak lama Dirga datang ke ruangannya.
"Assalamualaikum... Ada apa Arkan?" tanya Dirga. Walaupun posisi dirga sekertaris Arkan tapi Arkan meminta Dirga hanya memanggilnya dengan embel embel bapak atau bos karena mereka sudah sangat lama berteman. Ya walau kadang dirga sering bercanda memanggilnya bos atau bapak.
"Eh ada Zara juga. Apa kabar Zara?" tanya Dirga sambil mengulurkan tangannya pada Zara.
"Mau aku potong tangan kau Dirga Adi Wijaya."
"Haha oke oke bos." kata Dirga kembali menarik tangannya. Zara lagi lagi memilih diam ia tak mau ikut campur perdebatan antara Arkan dan Dirga.
"Ada apa kau memanggilku? Bukannya pekerjaan dan jadwal kau sudah aku berikan?" kata Dirga.
"Saya butuh bantuan kamu untuk menjelaskan obrolan kita berdua waktu di RS Dirga." kata Arkan to the point.
"Simpan dulu kebodohan mu saat ini Dirga." kata Arkan.
"Sesuai dugaan kamu Ga. Zara sudah mendengar obrolan kita dan sialnya dia hanya mendengarkan sepatah yang membuatnya sakit." kata Arkan yang sudah duduk di samping Zara. Sedangkan itu Dirga yang masih berdiri berjalan menuju sofa dan duduk di hadapan Arkan.
"Jadi apa yang kamu mau tau Zara?" kata Dirga pada Zara.
"Kau jelaskan saja semuanya Dirga." kata Arkan.
Flashbak on..
"Kan, aku udah ketemu sama Almira." kata Dirga yang merupakan sahabat baik Arkan juga sekertaris Arkan di kantor.
"Hah dimana?" tanya Arkan kaget.
"Gak sengaja kemarin pas abis wakilin kau meeting di Resto abc." jawab Dirga.
"Terus kalian ngobrol?"
"Enggaklah cuman gak sengaja ketemu." Arkan mengangguk anggukan kepala. Sesaat terjadi keheningan antara Arkan dan Dirga sedangkan Zara masih setia berdiri di depan pintu menunggu bagaimana kelanjutan obrolan kedua sahabat itu.
"Kau bagaimana dengan Zara? Apa kau sudah mulai mencintai Zara? " tanya Dirga.
"Hm Zara baik, dia sangat baik malah. Mangkanya aku jadi gak enak kalau gak bener bener usaha buat nerima dia." jawab Arkan.
"Hah maksud kau, kau masih belum yakin penuh sama Zara? Terus sikap sikap yang kau tunjukan pada Zara akhir akhir ini itu tandanya apa? Aku pikir kamu udah mulai jatuh cinta sama Zara."
"Itu semua aku lakukan karena tanggungjawabku sebagai suami. Sebagai suami aku kan harus memperlakukan istriku sebaik baiknya. Nah itu yang sedang aku terapkan."
__ADS_1
"Jadi semuanya hanya karena beban tanggung jawab?" tanya Dirga menatap Arkan serius.
"Ya mungkin bisa dibilang begitu. Melupakan masalalu itu sulit ga. Aku mencoba tapi tak ada yang menjamin percobaanku akan berhasilkan."
"Wah kurang ajar kau Arkan. Aku ingatkan ya kalau memang kamu belum mencintai Zara. Gak perlu bersikap manis berlebihan. Zara itu perempuan yang bermain dalam dirinya adalah perasaan. Kalau sampai Zara mengira semua perlakuan kami itu tulus dan Zara benar benar jatuh cinta pada kau. Tapi kemudian dia tahu kalau sikap kau selama ini adalah kebohongan apa dia gak akan hancur? Tolong Arkan bijaklah dalam bersikap." kata Dirga sangat serius.
"Arkan kau ingat kan perkataan Ali bin Abi Thalib: Jika seorang wanita menangis karena disakiti oleh pria, maka setiap langkah pria tersebut dikutuk oleh para malaikat." kata Dirga tegas.
"Iya aku tahu." jawab Arkan.
"Lalu kenapa kau melakukannya?"
"Aku tak menyakiti Zara kalau Zara tak sampai tahu."
"Tapi lama kelamaan Zara akan tahu."
"Kenapa kau sangat peduli pada Zara? Kau menyukainya? Kau menginginkannya?" tanya Arkan.
"Arkan kau sakit." kata Dirga hendak meninggalkan Arkan. Tapi sedetik kemudian terdengar Arkan tertawa terbahak bahak.
"Kau gila?" tanya Dirga.
"Haha lucu sekali wajah kau Dirga. Haha aku hanya bercanda semua perkataan ku dari awal tidak ada yang benar. Aku hanya ingin menghibur diriku dengan mengerjai sahabatku yang katanya sama sama dinginnya denganku haha." kata Arkan kembali tertawa.
"Stupid boy. Gila kau Arkan ini gak lucu sama sekali." jawab Dirga kesal.
"Haha tapi buktinya kau termakan omonganku." kata Arkan masih dalam sisa tawanya.
"Tertawalah sepuasnya brother. Tapi sayang kamu bercanda tidak dalam situasi yang tepat. Kau tau sejak sejak tadi istrimu itu ada dibalik pintu mendengar setiap kata demi kata yang kau ucapkan bro." kata Dirga. Sungguh disini Dirga hanya berkata asal untuk balik mengerjai Arkan. Tapi sialnya apa yang Dirga katakan itu benar terjadi.
"Hah serius kau Dirga. Jangan main main." jawab Arkan.
"Kamu pikir istri kamu pergi kemana sampai sangat lama untuk kembali. Pasti sekarang dia sudah pergi karena mendengar ucapanmu dan mungkin akan sulit percaya kepadamu lagi."
"Ah sial." kata Arkan hendak turun dari tempat tidur dan hendak melepaskan infusnya secara paksa. Tapi kemudian Dirga langsung menahan Arkan sambil tertawa tak kalah kencang dengan tawa Arkan tadi.
"Apa maksudmu tertawa begitu Dirga? Kau tertawa puas karena aku akan bermasalah dengan istriku iya begitu?" tanya Arkan penuh emosi.
"Haha sabar bro. Aku hanya ingin menghibur diriku dengan melihat wajah khawatir dan ketakutan mu. Haha aku jadi berharap Zara cepat kemari biar aku ceritakan bagaimana suaminya begitu ketakutan jika Zara pergi darinya. Tak salah kau memang sudah jatuh cinta pada Zara Arkan." kata Dirga puas.
"Iya memang aku jatuh cinta pada istriku. Aku takut kehilangannya bahkan aku mati matian berusaha agar dia tak selalu ragu padaku. Puas kau Dirgantara Adi Wijaya?" kata Arkan pada Dirga.
"Sangat puas. Bos ku ini akhirnya mau jatuh cinta lagi setelah dicampakan oleh wanita itu." kata Dirga.
"Ah bos kemana istrimu itu aku tak sabar ingin memberi tahu bahwa istrimu itu telah berhasil menaklukan hati bos ku yang dingin dan otoriter ini."
Arkan hanya terdiam sambil menatap Dirga penuh kekesalan. Tapi jujur Arkan sedikit was was takut jika Zara memang mendengar. Karena tadi Zara hanya izin sebentar tapi hingga sekarang Zara belum juga kembali.
Sementara Arkan dan Dirga masih di ruangan dengan obrolan mereka. Zara lebih memilih menyendiri di masjid yang tak jauh dari kamar perawatan Arkan. Lama Zara tak kembali ke ruangan Arkan menjadi risau sendiri.
"Ga, minta tolong deh cariin Zara. Dari tadi dia gak balik balik." kata Arkan.
"Gini nih kalau kau udah jatuh cinta protectiv nya berlebihan." kata Dirga.
Flashbak off...
"Begitu yang sebenarnya bu bos." kata Dirga santai. Wajah Arkan pun tak kalah santainya dengan Dirga. Hanya Zara yang merasa malu sendiri dan merutuki ke bodohannya.
***
To be continued...
__ADS_1
See you next part...