Biarkan Waktu

Biarkan Waktu
Part 37


__ADS_3

...Happy Reading......


Ruang keluarga kediaman orangtua Zara, sedang ramai oleh keluarga yang sengaja datang dari luar kota untuk menghadiri pernikahan Ahkam. Arkan beserta anggota keluarga yang laki-laki yang baru saja pulang dari masjid langsung bergabung bersama keluarga yang lain. Tapi sejak tadi Arkan belum melihat istri dan anaknya.


"Bun maaf Zara dimana ya?" tanya Arkan pada sang Bunda.


"Oh itu Zara daritadi di kamar dari abis isya belum keluar lagi, ketiduran kayaknya. Kalau Zayyan lagi main di belakang sama sama sepupu-sepupunya Zara."


"Kalau gitu, Arkan pamit ke kamar dulu ya Bun," kata Arkan.


"Iya udah sana istirahat aja." Arkan mengangguk kemudian pamit kepada semua yang ada di ruang keluarga.


Di dalam kamar Arkan melihat Zara sedang duduk di atas tempat tidur dan terlihat sangat fokus pada laptop yang berada di pangkunya. Saking fokusnya Zara sampai tidak mengetahui jika sudah ada Arkan di ruangan yang sama dengannya.


"Yang," panggil Arkan yang tidak ditanggapi apapun oleh Zara. Sepertinya panggilan suaminya tadi, tidak sampai ke telinga Zara yang memang tersumpal benda yang dinamakan earphone.


"Yang," panggil Arkan sekali lagi. Masih sama belum ada respon dari Zara, yang membuat Arkan tersadar kalau istrinya itu menggunakan earphone.


"Zara," panggil Arkan sambil melepaskan earphone yang dipakai Zara.


Arkan kesal karena sejak tadi panggilannya tidak digubris oleh Zara ditambah lagi mengetahui apa yang sedang Zara tonton.


"Eh Mas udah pulang? Oh iya, ini Zara pinjam ya laptopnya Mas," kata Zara lalu mencium tangan Arkan.


"Kamu lagi apa? Fokus banget sampe Mas pulang enggak nyadar," kata Arkan kemudian duduk di atas tempat tidur tepatnya di depan Zara.


"Ini mas dulu waktu Zara masih SMP sampai sebelum menikah, Zara itu suka banget sama salah satu boy grup dari korea terus suka juga sama drama korea. Jadi waktu itu Zara ngumpul drama korea sama beberapa MV dari boy grup itu. Terus sekarang Zara baru nemu lagi flashdisk nya, kemarin-kemarin Zara sempat lupa nyimpennya dimana. Iseng iseng aja Zara buka lagi, ternyata masih seru," kata Zara menceritakannya dengan sangat antusias sampai tidak menyadari jika raut wajah suaminya sudah berubah menjadi sangat dingin.


"Sini deh Mas lihat nih. Ini tuh boy grup korea namanya Exo, dari dulu Zara suka banget. Nah diantara mereka itu ada yang paling Zara suka namanya Chanyeol. Dia itu ganteng banget kelewatan gantengnya. Apalagi tingkat lakunya petakilan dan bobrok banget. Tapi dia itu orangnya menyenangkan banget, sampai dia itu sering dibilang happy virus," kata Zara melanjutkan ceritanya dengan penuh semangat.


"Di bawah banyak orang loh. Terus kamu malah di kamar doang, nonton tontonan yang enggak ada manfaatnya itu? Terus Zayyan di mana?" tanya Arkan yang berusaha menahan kekesalannya atas apa yang dilakukan Zara.


"Iya itu di bawah om sama tante mereka baru pada datang dari Kuningan. Enggak lagi ngapangapain kok di bawah. Tadi juga sebelum Zara ke kamar udah selesai pekerjaannya. Kalau Zayyan tadi lagi main sama sepupu-sepupu Zara," jawab Zara sambil tetap fokus pada laptopnya.


"Tadikan? Terus sekarang gimana?"


"Enggak akan kemana-mana kok Mas aman. Zara juga baru waktu mau isya kok ke kamarnya."


"Terus kalau Zayyan udah ada yang pegang kamu bakal diam di kamar terus gitu?" Zara tidak menjawab.


"Hargai mereka dong, mereka kan datang dari jauh ya masa iya kamu sebagai tuan rumahnya malah diam di kamar terus, mentingin tontonan kamu yang enggak bermanfaat itu," tegur Arkan dengan nada dan intonasi yang masih dalam batas wajar.


"Apa sih mas. Zara udah ketemu tadi sama mereka. Om sama Tante udah datang dari ba'da maghrib, Zara udah ngobrol-ngobrol juga," kata Zara.


"Terus nonton-nonton beginian lebih penting daripada kumpul sama keluarga?"


"Ya enggak gitu. Mas kenapa sih?"


"Bukan saya yang kenapa, kamu yang kenapa. Kita nginep disini bukan untuk enak-enakan diam di kamar. Justru sengaja biar bisa kumpul sama keluarga yang jarang ketemu. Terus kamu malah diam, ngurunh diri di kamar gitu? Kalau kamu masih remaja, belum berkeluarga, belum dewasa iya mungkin masih pantas kalau kamu lebih milih menyendiri di kamar. Tapi sekarang posisi kamu udah beda, kamu udah berkeluarga. Keluarga kamu yang lain juga pasti mandangnya udah beda."


"Yaudah iya Zara keluar," kata Zara sambil menutup laptopnya secara paksa.


Arkan tidak berkomentar lagi, ia segera mengganti pakaiannya sebelum menyusul ke bawah untuk berkumpul bersama keluarga yang lain.


Pukul 23.30 Arkan baru masuk ke kamar, lupa waktu karena terlalu banyak ngobrol bersama Ayah dan yang lainnya. Lagi, saat Arkan masuk kamar ia melihat hal mulai sekarang tidak ia sukai, yaitu melihat Zara menonton drama-drama apa itu.


"Kamu belum tidur?" tanya Arkan.


"Belum," jawab Zara.


"Baju tidur Mas mana?" tanya Arkan.


"Itu di lemari. Maaf Zara lupa belum siapin," jawab Zara dengan entengnya. Jawaban Zara itu membuat Arkan memandang Zara dengan tidak suka. Tapi Arkan masih berusaha mendiamkan biar Zara sendiri yang menyadarinya.


Arkan segera berganti pakaian kemudian membaringkan diri di tempat tidur.


"Tidur udah tengah malam," kata Arkan.

__ADS_1


"Tidur duluan aja. Zara belum ngantuk, tanggung juga dramanya 4 episode lagi," jawab Zara.


"Tidur. Besok pasti banyak yang harus dikerjakan," kata Arkan sekali lagi.


"Iya Mas sebentar lagi."


"Tidur Zara!" kata Arkan.


"Sebentar Mas, dua jam lagi."


"Tidur sekarang atau besok pagi video-video koleksi kamu yang enggak bermanfaat itu hilang semua dari laptop kamu!"


"Mas ini kenapa sih dari tadi marah marah terus? Enggak senang banget sih Mas lihat Zara senang. Enggak setiap hari Zara begini kan? Ini juga karena Zara baru nemuin lagi flashdisk nya Zara," kata Zara sambil melihat Arkan.


Arkan bangun dari posisinya yang semula sedang berbaring.


"Saya enggak larang. Tapi sebaiknya kamu juga tahu waktu kapan kamu bisa melakukannya."


"Jujur ajalah Mas kalau emang Mas enggak suka."


"Tidur!" perintah Arkan yang tidak ingin memperpanjang pembicaraan yang jika dilanjutkan mungkin akan berakhir dengan pertengkaran.


"Zara enggak mau, Zara masih mau nonton. Kalau Mas mau tidur, tidur aja. Zara pakai earphone biar mas enggak keganggu," jawab Zara, bukan Zara namanya jika tidak keras kepala.


"Kamu membantah cuma karena nonton drama-drama itu?"


"Zara cuma mau nonton Mas, bukan melakukan sesuatu yang membahayakan atau merugikan Mas."


"Tidur atau saya hapus sekarang juga semua koleksi kamu itu."


"HAPUS AJA HAPUS. NIH HAPUS NIH. LAKUIN SEMUA YANG PENGEN MAS LAKUIN!" kata Zara dengan suara yang keras, sampai membuat putra mereka terbangun sambil menangis.


Zara hendak mengambil Zayyan. Tapi pergerakannya didahului oleh Arkan.


"Lakukan apa saja yang mau kamu lakukan. Silakan, saya dan Zayyan enggak mau mengganggu kamu," kata Arkan.


"Mas, biar Zara aja," kata Zara.


"Mas."


"Kamu mau nonton lagi kan? Lanjut aja. Besok mungkin enggak ada waktu buat kamu nonton."


"Mas."


"Saya enggak larang."


"Beneran?"


"Silakan," Arkan pikir mungkin memang benar Zara butuh melakukan hal yang ia sukai yang membuat Zara bahagia.


Setelah merasa diizinkan oleh sang suami, Zara kembali pada laptopnya. Walaupun Zara tahu sebenarnya Arkan setengah hati mengizinkannya. Tapi biarlah, karena mengajak Akan berbicara pun bukan saat yang tepat. Pada dasarnya Zara juga manusia biasa yang tidak setiap saat bisa berpikir dewasa.


Sudah satu jam, Zara fokus pada tontonan nya sedangkan Arkan masih menggendong dan menepuk pantat Zayyan yang sudah tertidur kembali.


"Tidur," kata Arkan setelah menidurkan Zayyan.


"Sebentar lagi boleh ya? 30 menit lagi ya, abis itu Zara tidur deh beneran."


"Terserah kamu. Jangan sampai pagi," kata Arkan, padahal sekarang saja sudah pagi.


"Iya janji."


Terlalu asik dengan tontonanya Zara sampai lupa waktu. Saat Zara sadar jam dinding sudah menunjukan pukul 02.30. Zara terkejut, habislah Zara kena marah Arkan kalau sampai ketahuan dirinya belum tidur sampai pagi. Apalagi paginya mereka harus ke gedung untuk persiapan pernikahan Abangnya.


Zara bergegas mematikan laptopnya kemudian membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata untuk tidur memanfaatkan sedikit waktu yang tersisa.


Pukul 02.45 lebih siang dari biasanya Arkan bangun. Kali ini tidak dibangunkan oleh Zara. Arkan juga heran tidak biasanya Zara bangun telat. Biasanya Zara hanya telat bangun jika sedang tidak sakit ataupun memang sangat kelelahan. Merasa khawatir Arkan memegang kening Zara. Tapi tidak terasa panas. Oke tidak mau ambil pusing mungkin istrinya sedang lelah.

__ADS_1


"Yang bangun," kata Arkan sambil mengelus pipi Zara. Tapi tidak ada repon apapun dari Zara.


"Yang bagun," kata Arkan lagi, kali ini terlihat ada pergerakan kecil dari Zara.


"Bangun Yang."


"Mm. Masih ngantuk Mas," ucap Zara dengan mata yang masih terpejam.


"Tumben banget biasanya bangun duluan."


"Mm masih ngantuk Mas. Zara izin bangun siang sehari aja ya," kata Zara.


Arkan diam benar-benar tidak seperti biasanya Zara begini, ia mulai mencurigai sesuatu. Tapi tidak untuk dibahas sekarang. Arkan segera pergi ke kamar mandi dan bersiap shalat tahajud, lumayan memanfaatkan waktu di sepertiga malamnya. Sedangkan Zara ia melanjutkan lagi mimpinya.


Hingga Arkan hendak pergi ke masjid yang artinya sudah mau subuh. Zara belum juga bangun hal ini benar benar memperkuat kecurigaan Arkan.


"Yang bangun udah mau subuh, tumben banget kamu susah bangun?" kata Arkan. Hanya ada pergerakan Zara yang merubah posisinya.


"Yang bangun," kata Arkan lagi. Mau tidak mau Zara pun akhirnya membuka mata. Saat membuka mata kepalanya terasa pusing ketika matanya bertemu dengan cahaya lampu yang sudah terang.


"Pusing mas," rengek Zara sambil memijat keningnya.


"Kamu sakit?" tanya Arkan sambil memegang kening Zara.


"Enggak kok cuma pusing aja sedikit," kata Zara sambil melihat Arkan dengan mata yang merah.


"Mas mau ke masjid. Kamu cepet siap siap shalat subuh," kata Arkan.


"Yaudah."


"Jangan tidur lagi."


"Iya Mas iya."


"Yaudah Mas ke masjid dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Zara.


"Untung mas Arkan enggak curiga," ucap Zara sambil beranjak dari tempat tidur.


Kebiasaan Arkan ketika pulang dari masjid selalu mencari Zara, terbawa sampai sekarang ketika sedang berada di rumah mertuanya. Arkan langsung pergi ke dapur untuk menemui Zara.


"Abang ngapain ke dapur?" tanya Abizar yang melihat Arkan berjalan kearah dapur.


"Cari Kakak kamu," jawab Arkan.


"Ngapain cari kakak?"


"Suka suka abang. Dia istri Abang."


"Iya deh terserah abang," jawab Abizar sambil meninggalkan Arkan.


Arkan melihat ada Bunda dan tantenya di dapur tapi tidak melihat keberadaan Zara.


Sebelum terlihat oleh Bunda dan ditanya Arkan memilih untuk segera ke kamar.


Arkan dibuat terkejut ketika masuk ke kamar dan melihat Zara yang tertidur sambil memeluk Zayyan.


Arkan semakin yakin dengan kecurigaannya. Ia jadi kesal sendiri, Arkan harus bertindak tanpa menunggu Zara sadar sendiri dengan perbuatannya.


"Zara bangun," panggil Arkan dengan suara dinginnya. Zara yang merasa tubuhnya di guncang pun langsung bangun.


"Eh Mas maaf Zara tidur lagi," jawab Zara.


"Enggak biasanya kamu kayak begini. Ada yang perlu di jelaskan?" tanya Arkan.


***

__ADS_1


To be continued...


See you next part...


__ADS_2