
Happy Reading...
Menghindari pertengkaran yang lebih hebat dangan Zara, Arkan memutuskan untuk langsung keluar dari kamar. Arkan sadar sebetulnya ia sudah salah bersikap meninggalkan Zara ketika permasalahan belum selesai. Tapi disisi lain ia juga tidak mau semakin emosi, situasinya sedang tidak kondusif mereka sedang sama sama dalam suasana hati yang kurang baik, dibicarakan lebih jauh juga belum tentu akan mendapatkan solusi.
Hingga pagi, mereka masih tidak ada yang mau mengalah untuk memulai lebih dulu. Saat di meja makan pun keduanya hanya saling diam hanya ada suara Zayyan yang sedang berceloteh semaunya.
"Saya berangkat," kata Arkan. Zara hanya mengangguk lalu mengulurkan tangan untung mencium tangan Arkan. Hanya itu tidak ada interaksi lagi.
Arkan beralih pada Zayyan.
"Ayah kerja dulu ya nak. Baik baik di rumah ya," kata Arkan lalu mencium Zayyan.
"Ya.. Yah," kata Zayyan pertama kalinya walau belum begitu jelas.
"Eh udah bisa manggil Ayah. Alhamdulillah anak pinter," kata Arkan lagi lagi sambil menciumi Zayyan.
"Ayah berangkat ya nak. Jangan pergi kemana-mana ya nak. Nurut sama Ayah," kata Arkan pada Zayyan. Tapi tujuan utamanya untuk menyindir Zara.
Ketika Arkan sudah benar benar berangkat ke kantor. Sekarang di rumah hanya ada Zara dan Zayyan.
"Bunda salah ya nak karena enggak punya waktu buat ayah? Tapi ayah juga salahkan dia juga enggak ada waktu buat kita?" kata Zara sambil memandangi Zayyan dan mengusap kepala Zayyan.
"Zayyan mirip Ayah banget sih nak. Bunda kalau lihat Zayyan lama-lama udah kaya bunda lagi mandangin Ayah," kata Zara sambil mencium pipi Zayyan.
Hingga larut malam Arkan belum juga pulang, membuat Zara yang masih terjaga di rumah khawatir. Semarah apapun Zara tapi tidak bisa dipungkiri jika dirinya saat ini mengkhawatirkan Arkan. Suaminya itu memang sering pulang malam karena pekerjaan tapi biasanya selalu mengabari Zara terlebih dahulu. Zara pikir mungkin karena sedang marah juga Arkan jadi tidak mau mengabari. Dari pagi memang tidak ada satupun pesan masuk dari Arkan sekalipun itu untuk menanyakan Zayyan.
"Ayah kamu kemana sih nak. Udah jam segini belum pulang juga. Tumben juga hari ini ayah enggak sekalipun nanyain Zayyan. Padahal biasanya bawel banget nanyain Zayyan," kata Zara berbicara pada Zayyan yang sudah terlelap di sampingnya.
"Ayahnya masih marah banget kayaknya sama bunda. Sampai enggak mau pulang,"
Sementara itu di kantor Arkan masih fokus pada laptopnya mengerjakan beberapa pekerjaan yang belum ia kerjakan.
"Arkan udahlah. Udah malem banget ini, bisa besok lagi kali," kata Dirga.
"Yaudah kamu kalau mau balik, balik duluan aja Dir. Enggak usah nunggu."
"Iya kali bosnya lembur anak buahnya balik duluan."
Ucapan Dirga tidak ditanggapi Arkan sedikit pun oleh Arkan. Iya Arkan memang sengaja mengulur-ulur waktu untuk pulang.
"Lagi berantem ya sama bu bos?"
"Sok tau."
"Halah keliatan pak. Kau ini biasanya selalu nanya jadwal biar bisa pulang cepat sekarang malah ogah ogahan buat pulang. Berantemkan benar?"
"Hmm."
"Karena apa sih? Almira lagi?"
"Peduli apa aku sama dia."
"Kali aja kan, biasanya gitu salah faham soal Almira. Kalau bukan karena Almira terus kenapa?"
Dirga memang sudah sangat dekat dengan Arkan jadi walaupun statusnya di kantor sebagai atasan dan bawahan tapi jika hanya berdua status itu melebur, Arkan dan Dirga ialah teman.
"Hmm. Bingung aku Ga. Salah faham terus sama Zara. Kata orang tua kita sih kita itu sama sama keras kepala jadi gampang bentroknya."
"Jadi point yang bikin kalian salah faham kali ini itu apa?"
"Ya tetap sih awalnya dari kurang komunikasi."
"Mangkanya kau tuh jadi manusia jangan kaku kaku bangetlah. Perempuan itu ya, pengennya dimanjain, pengennya diperhatiin."
"Heh enggak usah ngatain tau apa kau tentang urusan rumah tangga. Nikah aja belum. Jangankan nikah calonnya aja belum punya haha."
"Ih bos kurang ajar. Kau juga kalau enggak dipaksa di jodohin mah belum nikah juga. Jangankan nikah, move on juga belum pasti."
"Tapi seenggaknya sekarang aku selangkah lebih maju dari kau. Lagian ada ya anak buah ngatain atasan."
__ADS_1
"Ada lah kalau atasannya macam... Eh Arkan Zara nelepon aku nih," kata Dirga yang cukup terkejut dengan Zara yang menelponnya.
"Angkat aja. Tapi loudspeaker!"
On the phone.
Dirga : Assalamualaikum.
Zara : Waalaikumsalam. Kak Dirga, kakak masih di kantor? Sama mas Arkan gak?
Dirga : Iya masih. Iya ini lagi sama Arkan masih ada beberapa kerjaan yang belum selesai. Kenapa Za? Mau ngomong sama Arkan?
Zara : Enggak enggak. Enggak usah, udah cukup kok makasih ya Kak. Maaf Zara jadi ganggu pekerjaan Kakak. Terimakasih ya Kak. Assalamualaikum.
Dirga : Oke enggak masalah. Waalaikumsalam.
"Liat dia nyariin kau nih. Percaya deh semarah-marahnya istri, dia tetap peduli sama kau. Buktinya dia belum tidur, dia pasti khawatir sampai nelepon aku nanyai kamu. Ayolah udah beranak juga masih aja gengsian. Selesaikan bukan malah menghindar, enggak mau pulang. Dia lebih dewasa loh, bisa mengesampingkan gengsinya buat nanyain kamu lebih dulu, ya walau lewat aku sih."
"Kalau bisa mengesampingkan gengsinya ya kenapa enggak langsung nelpon aku?"
"Bodoh kok di budidayakan! Mikir dong terakhir kalian komunikasi itu kalian berantem. Ya enggak salah sih kalau Zara milih enggak ngehubungin kau. Karena dia pasti udah nyangka kalau ngehubungin kau juga enggak akan ditanggapi. Buktinya aja sekarang kau pulang malam gini enggak bilangkan sama Zara sampe dia nyariin. Sama aja sih kalian tuh."
"Udahlah jomblo gak usah dakwah. Ayo pulang," kata Arkan sambil bangkit dari kursinya lalu mengambil tas dan kunci mobilnya.
"Bawa-bawa aja terus status. Bos laknat emang."
"Potong gaji ya Dir bulan depan."
"Woy jangan lah gila," kata Dirga.
Pukul 01.00 dini hari Arkan baru sampai ke rumah. Ia melihat beberapa lampu rumahnya sudah dimatikan. Zara yang berada di balkon untuk memastikan apakah benar suaminya yang pulang sekarang beranjak ke tempat tidur dan mengambil posisi tidur agar Arkan tidak tahu bahwa sejak tadi Zara menunggunya dan mengkhawatirkannya.
Ketika Arkan masuk kamar, kamarnya sudah remang remang. Tapi Arkan tahu kalau Zara hanya pura-pura tidur. Arkan lebih memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu sedangkan Zara ia masih tetap memejamkan mata. Setidaknya pikiran dan hatinya sudah sedikit lebih tenang karena Arkan sudah berada di rumah.
Tidak sampai 15 menit Arkan sudah selesai membersihkan diri. Ia langsung berpakaian dan segera mengambil posisi berbaring di atas tempat tidur. Sebelum memejamkan mata Arkan terlebih dahulu mencium Zayyan jagoan kecilnya yang seharian ini tak ia ketahui apa saja yang Zayyan lakukan.
Sekilas Arkan juga melirik ke arah Zara yang sudah memejamkan mata. Dipandanginya wajah Zara cukup lama. Hingga satu pergerakan dari Zara membuat Arkan memejamkan matanya karena tak ingin Zara tau kalau dirinya sedang memandangi Zara.
Beberapa hari berikutnya, kondisi Arkan dan Zara masih tetap sama. Belum ada yang mau mengalah, belum ada yang mau menekan egonya untuk menyapa lebih dulu.
"Besok saya pergi ke Jogja," kata Arkan saat sedang berpamitan untuk pergi ke kantor.
"Oke," jawab Zara.
"Sebelum saya berangkat saya mau semuanya selesai."
"Keluarkan semua kekesalan kamu sama saya. Keluarkan semua yang jadi unek unek kamu sama saya."
"Jangan dipendam-pendam lagi," kata Arkan dengan tegas. Bukannya menanggapi, Zara lebih memilih diam dan menunduk.
Melihat Zara yang tidak merespon apapun Arkan berjalan mendekat ke arah Zara. Posisi mereka sudah berhadapan. Bersyukurlah pagi ini Zayyan tidur lebih lama.
Arkan mengesampingkan sedikit gengsi dan egonya. Iya mengangkat wajah Zara yang menunduk agar melihatnya rupanya mata Zara sudah berkaca kaca. Zara yang tidak kuat melihat wajah dingin Arkan dan tatapan matanya yang tajam, ia langsung menghambur memeluk Arkan tangisnya sudah lepas begitu saja.
"Maafin Zara, kemarin Zara udah bersikap enggak baik sama Mas. Zara melampiaskan semuanya sama Mas. Padahal Mas enggak salah apa-apa."
Arkan masih diam bahkan untuk membalas pelukan Zara pun Arkan masih belum mau.
"Maafin Zara. Zara cuman mau menjalankan peran Zara sebagai istri dan ibu dengan baik. Tapi ternyata bukan malah baik justru Zara malah mengacaukan yang sudah baik."
Zara merasakan Arkan mulai membalas pelukannya kemudian mencium puncak kepala Zara.
"Semua yang berkaitan dengan rumah tangga kita, itu menjadi tanggung jawab bersama. Bukan hanya tanggungjawab kamu atau saya. Termasuk dengan pekerjaan rumah. Ribuan kali kamu minta tolong sama saya, itu enggak akan menurunkan nilai positif kamu dimata saya."
"Kamu jangan memaksakan diri. Ada saatnya kita harus optimis bahwa kita bisa. Tapi ada saatnya juga kita tidak bisa memaksakan diri. Segala sesuatu yang dipaksakan itu enggak akan baik. Buktinya sekarang kan, kamu memaksakan diri untuk bisa melakukan semuanya sendiri tapi kenyatannya apa? Kamu cape sendiri, Kamu kesel sendiri dan akhirnya kamu tidak menikmati apa yang kamu lakukan disitu lah puncaknya kamu merasa jenuh dengan rutinitas yang kamu jalani karena pada dasarnya kamu sudah memaksakan bukan menjalankannya dengan hati."
"Maaf mas."
"Mas juga minta maaf ya. Mungkin harusnya Mas juga bisa lebih peka sama kamu. Mas minta maaf juga kalau akhir akhir ini mas lebih fokus ke pekerjaan. Karena beberapa bulan ini perusahaan memang lagi turun. Mas sebagai pimpinan tentu punya tanggungjawab lebih besar. Selain masa depan perusahaan mas juga harus mikirin para karyawan."
__ADS_1
"Maafin Zara, harusnya Zara ngertiin mas. Bukan malah nambah beban pikiran buat Mas."
"Di maafkan. Mas juga minta maaf ya, harusnya Mas bisa lebih berinisiatif membantu tanpa diminta."
"Udah jangan nangis, sekarang kamu siap siap sana, biar mas yang bangunkan sama mandikan Zayyan."
"Mau kemana emang? Mas udah rapi gini yakin mau mandiin Zayyan?"
"Yakin. Udah sekarang cepet siap siap. Kamu sama Zayyan ikut ke kantor aja hari ini biar enggak bosen di rumah."
"Ikutvke kantor? Enggak ah mas kan kerja, enggak enak lah sama yang lain."
"Saya pemiliknya."
"Iya tau tapi ya enggak enak aja masa kerja bawa keluarga. Nanti yang ada malah enggak fokus kerjanya. Zara enggak apa apa di rumah aja sama Zayyan. Nanti paling jalan jalan aja ke taman komplek. Seneng juga Zayyan main di sana banyak temennya."
"Yakin enggak mau ikut?"
"Iya. Udah sana mas berangkat udah siang ini."
"Oh iya mas katanya mau ke Jogja kan? Berapa lama? Biar nanti Zara packing buat Mas."
"Enggak jadi pergi."
"Kok gitu?"
"Kalau enggak gitu mas enggak tau haru mulai dari mana biar bisa bicara sama kamu. Tadi cuma basa basi."
"Jadi bohong?"
"Sedikit."
"Tetep aja bohong."
"Iya yaudah maaf lagi ya. Jangan marah," kata Arkan sambil meandang wajah Zara.
"Tadinya Zara pengen minta ikut ke Jogja loh."
"Jadi kode minta liburan?"
"Enggak gitu, kan kalau Zara ikut nanti Mas kerja di sana. Zara sama Zayyan bisa jalan-jalan. Karena kalau ngajak mas, pasti enggak bisa kan? Yaudah enggak apa apa kok Zara ngerti."
"Kasih Mas waktu sebulan buat fokus ngurus masalah di kantor ya. Abis itu baru deh nanti Mas ambil cuti, kita liburan. Janji deh."
"Enggak usah janji. Enggak perlu juga sampe Mas ambil cuti gitu. Zara mah Mas ada di rumah tanpa ngerjain pekerjaan juga udah seneng. Mas fokus aja urus kantor dulu, banyak karyawan yang menggantungkan hidupnya di kantor Mas."
"Jangan manis manis nanti mas malah enggak mau berangkat ke kantor."
"Apasih. Udah sana berangkat, kerja yang fokus ya ayahnya Zayyan."
"Yakin cuman ayahnya Zayyan?"
"Emang Mas punya anak lagi? Sama siapa?"
"Sama kamulah," kata Arkan lalu mengangkat badan Zara.
"Ihh mas turunin. Sana cepet ke kantor."
"Enggak masuk sehari Insya Allah gak akan bangkrut perusahaan," kata Arkan sambil membawa Zara ke lantai 2 rumah mereka.
"Mas Arkan turunin," kata Zara terus meronta.
"Diem sayang nanti kita jatuh."
Arkan membawa Zara ke kamar lalu langsung menutup pintu kamar.
...****************...
Sampai berjumpa di part selanjutnya...
__ADS_1