
...Happy Reading......
"Ada yang mau kamu jelaskan sama saya?" tanya Arkan kedua kalinya. Zara diam tidak menjawab satu kata atau satu gerakan pun.
"Semalam kami tidur jam berapa?"
"Semalam Za...Za...Zara," ucap Zara terbata.
"Saya cuma nanya semalam kamu tidur jam berapa? Kenapa susah sekali kamu jawab."
"Zara minta maaf."
"Saya enggak suruh kamu buat minta maaf."
"Kamu baru tidur menjelang saya bangun ya?" tebak Arkan.
"Zara keasikan nonton Mas. Zara lupa waktu," ucap Zara.
"Jadi, kamu tidur berapa menit sebelum saya bangun?"
"Setengah jam," jawab Zara.
Sudah, Arkan tidak bertanya lagi. Ia lebih baik pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaian. Jika dibiarkan berhadapan dengan Zara, Arkan yakin pasti dirinya akan emaosi. Bagaimana tidak Arkan sudah berbesar hati mengizinkan Zara menonton drama Korea kegemarannya tapi perkataan Arkan yang tidak membolehkan Zara tidur larut, sama sekali tidak didengar. Sementara Zara, dia hanya diam dan merasa bersalah. Tapi belum cukup keberanian untuk meminta maaf lagi karena yakin setelah ini pasti Arkan akan mendiamkan nya.
Benar saja dugaan Zara, sejak pagi tadi Arkan tidak mengajaknya berbicara sedikitpun. Jika Zara bertanya Arkan hanya akan menjawab seperlunya.
Sore ini mereka sedang bersiap-siap untuk pergi ke hotel tempat acara pernikahan Ahkam besok.
"Zayyan ikut Ayah yuk ke bawah," ajak Arkan mengambil Zayyan yang sedang duduk di atas tempat tidur setelah didandani oleh Zara.
"Kut Yah awah," kata Zayyan sangat antusias ingin ikut dengan Ayahnya.
Zara diam sambil memandangi Arkan dan Zayyan keluar kamar.
"Mas Arkan segitu marahnya ya sama Zara?" kata Zara bertanya pada diri sendiri.
Sampai di bawah beberapa anggota keluarga yang sudah siap sedang menunggu di ruang keluarga.
"Zaranya mana Ar?" tanya tante.
"Masih siap siap tan. Nih mangkanya sengaja turun duluan biar bundanya enggak diganggu sama anak shaleh ini," jawab Arkan.
"Zara belum turun?" tanya Bunda yang baru saja turun tangga dan langsung mengambil alih Zayyan dari Arkan.
"Belum Bun," jawab Arkan.
"Kamu mau keluar?" tanya Bunda.
"Iya Bun mau siapin mobil."
"Yaudah sana. Zayyan biar sama Bunda aja."
"Zayyan sama nenek ya," kata Bunda pada Zayyan.
"Ain cana," katanya sambil menunjuk ke arah ruang keluarga.
"Kalau gitu Arkan titip Zayyan ya Bun."
__ADS_1
"Oke."
Zara yang sudah selesai bersiap langsung keluar kamar dan menghampiri keluarganya yang lain.
"Mas Arkannya mana Bun?" tanya Zara ketika melihat Zayyan sedang berada di ruang keluarga bersama Bunda dan juga tante-tantenya.
"Di garasi sama Ayah lagi ngatur mobil.
"Kamu sayu banget, kurang tidur ya?" tanya Bunda.
"Kelihatan banget ya Bun?" tanya Zara.
"Semalam abis proses dedenya Zayyan ya neng?" tanya tantenya Zara.
"Eh. Enggak kok Tan. Zara semalam cuma nonton drama sampai lupa waktu," jawab Zara.
"Kebiasaan banget kamu. Harusnya tidur yang cukup. Tahu sendiri besok kita bakal punya acara," kata Bunda.
"Iya Bun."
Setelah semuanya siap, mereka langsung pergi ke hotel tempat diselenggarakannya acara besok.
"Sepi amat sih. Bang nyalain musik boleh kan?" kata Abizar yang ikut di mobil mereka.
"Nyalain aja," jawab Arkan.
"Nah kan enak," kata Abizar.
"Zayyan sini sama Kakak Abi," kata Abizar.
"Kakak kakak, Zayyan panggil kamu itu Om," kata Zara.
Selama di perjalanan Arkan benar benar mendiamkan Zara dan sepertinya Abizar juga menyadari itu hingga iya tidak berani membuka topik obrolan kecuali bersama Zayyan.
"Mas," panggil Zara ketika mereka sudah berada di kamar hotel. Tidak ada tanggapan dari Arkan.
"Mas atuh jangan didiemin terus Zaranya. Mendingan Mas marah-marah deh sama Zara. Jangan diem gini. Zara kan udah minta maaf, Zara harus gimana?" ucap Zara. Lagi, Arkan tidak menanggapi.
"Mas atuh ih. Zara minta maaf," rengek Zara.
"Hapus semua koleksi koleksi gak jelas kamu itu," kata Arkan.
"Hah. Mas jangan gitu dong itu Zara bertahun tahun bisa ngumpulin begitu."
"Peduli saya apa?" tegas Arkan.
"Mas kok egois sih? Zara aja enggak pernah nyuruh Mas hapusin games yang ada di hp Mas. Enggak pernah minta Mas buangin semua PS yang ada di rumah," kata Zara.
"Fine. Kita buang semuanya sama-sama," putus Arkan.
"Enggak Zara enggak mau."
"Semalam siapa yang nantangin buat hapus semua?"
"Iya tapi kan."
"Jelas kan, kamu lebih peduli koleksi enggak jelas kamu itu dari pada ucapan saya!"
__ADS_1
"Bukan gitu tapi..."
"Tapi apa?"
"Mas ngerti dong. Zara juga gak pernah larang Mas buat lakuin yang Mas suka. Asalkan jangan sampai kelewatan."
"Terus kamu pikir yang kamu lakuin sekarang enggak kelewatan? Baru satu hari kan kamu nemuin lagi koleksi kamu itu tapi kamu sudah sampai lupa waktu, bahkan kamu rela ninggalin kebiasaan yang baik buat sesuatu yang tidak jauh lebih baik. Menurut kamu itu benar?"
"Iya Zara salah. Zara yang salah mas yang bener. Sekarang mau Mas apa? Zara harus hapus semuanya? Oke Zara hapus. Nanti Zara hapus di depan muka mas!" kata Zara dengan suara yang meninggi untung saja tidak ada Zayyan diantara mereka.
Nah beginikan jadinya kenapa Arkan sejak tadi memilih diam. Karena pada Akhirnya siapapun yang salah akan selalu berujung dengan Arkan yang didiamkan kemudian meminta maaf. Haha disini berlaku hukum jika wanita selalu benar.
Pukul 02.00 Zara bangun lebih dahulu.
"Manusia dingin, egois, otoriter, miskin ekspresi, galak, nyebelin, gak romantis, gak perhatian huuh." omel Zara saat melihat wajah Arkan yang masih memejamkan mata.
"Bangun tidur itu baca do'a bukan ngomel." tegur Arkan sambil membuka mata.
"Diem gausah ngeselin." sinis Zara sambil hendak bangun. Tapi pingganggya keburu di tahan Arkan. Lelaki itu langsung merapatkan tubuhnya pada tubuh Zara.
"Ih lepas. Gausah pengen deket deket Zara." kata Zara sambil berusaha melepaskan tangan Arkan di pinggangnya. Tapi Arkan justru semakin mengeratkan pelukannya.
"Mas Arkan lepas. Zara mau ambil Zayyan di kamar bunda." kata Zara dengan nada tingginya.
"Gausah marah marah mas minta maaf." kata Arkan.
Zara diam sambil memandangi wajah Arkan.
"Mas itu cemburu. Kamu begitu asik nontonin laki laki lain yang bukan mahram kamu berlengak lenggok di video yang kamu tonton. Terus kamu dengan bangganyaa memuji mereka di depan mas."
Zara masih diam sambil mencerna setiap ucapan Arkan.
"Cemburu? Gak masuk akal. Kalau mau cemburu bisa yang lebih masuk akal enggak sih. Dipikirkan dulu gitu siapa yang dicemburui." ketus Zara
"Kamu kok ngomongnya jadi enggak sopan begitu sama suami?"
"Ya Mas cemburu sama sesuatu yang jelas-jelas tidak mungkin buat bisa digapai."
"Sayang cemburu itu bukan sebatas takut kamu berpaling sama idola kamu itu. Ini itu porsi cemburunya sama dengan cemburunya kamu ketika mas sibuk kerja dan sedikit waktu buat kamu. Kamu terlalu fokus sama mereka baru sehari aja kamu lupakan sama diri sendiri. Apalagi kalau terus terusan dan gak mas tegur. Bisa bisa kamu kembali lagi ke masa masa itu." kata Arkan berbicara dengan lebih halus.
"Iya tapi jangan di hapus yaa. Buat sesekali kalau Zara bosen." bujuk Zara.
Arkan hanya menggeleng tak mau peduli.
"Mas emang egois."
"Mana ada, buktinya sekarang kamu yang salah tapi mas yang minta maaf."
"Ya emang mas yang salah."
"Hah? Salah apa?"
"Ya mas salah. Udah diemin Zara seharian. Terus mas juga gak bisa ngertiin Zara. Mas juga nyuruh Zara buat hapus semua file koleksi Zara."
"Udah Ah awas." lanjut Zara sambil menyingkirkan tangan Arkan dari tubuhnya. Lalu bergegas ke kamar mandi sambil menghentak hentakan kakinya.
Arkan hanya menggeleng melihat kelakuan Zara.
__ADS_1
...***...
To be continued