Biarkan Waktu

Biarkan Waktu
Part 13


__ADS_3

Suara Alarm di hp Zara berbunyi, kali ini Arkan yang lebih dulu bangun dari tidurnya. Arkan tersenyum saat menyadari bahwa akhir akhir ini tidur sambil memeluk istrinya adalah hobi barunya.


"Heii bangunn..." kata Arkan berbicara di telinga Zara posisi tidur mereka setiap malamnya hampir selalu sama Zara tidur membelakangi Arkan dan Arkan memeluk Zara dari belakang.


"Sayang bangunnn..." kata Arkan sambil meniup niup telinga Zara. Akhirnya pada panggilan kedua Zara benar benar membuka matanya.


"Capek yaa? Tumben bangunnya saya duluan." kata Arkan.


"Ish.. Udah mas sana cepet mandi duluan." kata Zara masih enggan membuka mata.


"Kamu duluan wanita biasanya lebih lama." kata Arkan. Tak mau berdebat panjang Zara bergegas untuk mandi lebih dulu. Zara berjalan perlahan menuju kamar mandi Arkan yang melihatnya ikut meringis. Hampir 30 menit Zara baru keluar dari kamar mandi. Tak menunggu lama Arkan langsung masuk ke kamar mandi. Zara menyiapkan peralatan untuk mereka shalat subuh berjamaah. Mereka sekarang tengah duduk berhadapan masih ditempat shalat.


"Zara, setelah pulang dari sini. Saya mau ajak kamu buat pindah rumah."


"Hah pindah rumah kemana?" kata Zara dengan ekspresi kaget dan bingung. "Ke rumah saya." jawab Arkan.


Zara diam entah kenapa ingatan Zara kembali pada saat Alisya menceritakan tentang masalalu Arkan.


Flashback on...


Setelah kejadian Arkan menyebut nama wanita yang tak Zara kenal. Zara tak mau berburuk sangka ia berinisiaf untuk bertanya pada Alisya.


"Maaf ya kak kalau kami gak menceritakan ini dari awal. Jadi gini Abang itu sempet ngenalin calonnya ke mama papa sebelum mama papa kasih tau tentang perjodohan kalian. Itu udah lama sih sekitar 2 tahun lalu. Nah waktu itu mama papa oke oke aja sama pilihan abang. Sampailah kita berencana datang buat ngelamar dia ke rumahnya. Eh ya tiba tiba saat kita udah siap siap ini dan itu dia tiba tiba ngabarin abang kalau dia belum siap buat menikah dia masih ingin lanjut pendidikannya dia juga masih punya mimpi buat jadi wanita karier. Abang udah bilang sama dia kalau itu bisa dibicarakan nanti. Tapi dia tetap gak mau, ya secara kasar sih mungkin bisa dibilang dia membatalkan secara sepihak kali ya. Setelah itu udah deh tiap mama papa tanya abang selalu jawab gak tau abang lost kontak sama dia. Padahal abang itu bisa dibilang udah total siap menikah sama dia abang bahkan udah siapin rumah buat mereka." ucapan Alisya terhenti ia melihat Zara, Zara tampak serius mendengarkan walau ekspresi datar tak jelas tak dapat diartikan.


"Jadi ya gitu. Abang gak pacaran kok sama dia cuman mereka saling kenal karena ya emang mereka satu fakultas pas kuliah. Tapi jujur ya kak bukan karena Ica lagi di depan kakak. Jujur Ica kurang suka sama dia, soalnya Ica kenal betul dia juga satu siklus perteman sama Ica suka kajian bareng ya walaupun gak akrab cuman sekerdar say hallo kalau ketemu. Bukan Ica mau jelekin dia tapi dia itu..."


"Sttt udah ya Ca, cukup jangan buang waktu buka aib orang apalagi dia sesama muslim." kata Zara menghentikan ucapan Alisya.


"Astagfirullah iya kak. Dasar mulut wanita ya semangat kalau ghibah." kata Alisya sambil memuluk mulitnya sendiri.


"Kakak kenapa? Kok tiba tiba nanyain tentang dia? Abang ada bahas bahas dia ya?" tanya Alisya.


"Haha enggak kok abang kamu cuma ngigo aja. Lagi kangen kali." jawab Zara enteng.


"Wah para abang emang. Semoga mereka gak sampai ketemu lagi. Kasian sama abang kalau inget kejadian itu tuh." kata Alisya


"Heii Zara kamu kenapa?" kata Arkan.


"Sayang kamu kenapa?" kata Arkan lagi sambil mengusap kepala Zara. Panggilan Arkan yang kedua berhasil membuat Zara lepas dari pikirannya.


Flashback off..


Zara menggeleng gelengkan kepala...


"Kenapa mas?" tanya Zara bingung.


"Kamu kenapa? Saya tanya malah ngelamun. Kamu belum siap tinggal serumah berdua dengan saya? Kalau belum siap its okay kita bisa tunda." kata Arkan.

__ADS_1


"Bu.. bukan begitu." kata Zara gugup.


"Terus?"


"Boleh Zara tanya sesuatu sama mas?" tanya Zara ragu ragu.


"Silahkan." jawab Arkan singkat.


"Maaf sebelumnya kalau Zara lancang. Tapi apa rumah yang mas maksud atau rumah yang akan kita tempati itu rumah yang sama dengan rumah yang mas siapkan untuk wanita mas dulu? Kalau iya Zara gak mau Mas, Zara memilih untuk tetap di rumah mama aja. Karena bagaimana juga rumah itu dulunya pernah mas niatkan untuk wanita lain. Dan bukan tidak mungkin kalau nantinya mas akan kembali ingat lagi pada masa masa itu." dengan susah payah Zara merangkai kata agar tak menyinggung Arkan. Tapi tetap saja kata katanya itu sangat tepat menusuk di hati Arkan. Arkan tampak menarik nafasnya panjang.


"Jadi itu yang buat kamu ragu? Kamu sudah tau semuanya tentang saya dan masalalu saya?" tanya Arkan.


"Sebagian aja mungkin. Maaf karena Zara sempat bertanya pada Alisya waktu mas menyebutkan nama orang lain pada Zara." kata Zara sambil menunduk.


"Apa saya perlu ceritakan semuanya tentang masalalu saya?" tanya Arkan serius.


"Jangan maaf waktu itu Zara hanya penasaran. Masalalu mas biarlah jadi pelajaran hidup buat mas sendiri rasanya Zara gak berhak tau karena Zara belum mengenal mas saat masa itu terjadi." kata Zara.


"Oke tapi jika suatu saat ada sesuatu yang ingin kamu tau kamu langsung tanyakan saja pada saya." kata Arkan. Zara hanya menggangguk.


"Dan mengenai rumah. Iya memang dulu saya sempat menyiapkan rumah untuk wanita itu. Tapi rumah itu sudah lama saya jual dan sekarang yang ingin saya tempati dengan kamu adalah rumah baru saya beli tanahnya setahun yang lalu dan baru selesai proses pembangunannya sekitar sebulan yang lalu. Jujur saya tak merencanakan rumah ini untuk kita tapi entah kenapa tapi semuanya dirasa pas. Rumah itu selesai pas sesaat setelah kita menikah. Saya pikir gak ada salah kalau rumah ini menjadi rumah buat keluarga kecil kita." kata Arkan. Zara menatap Arkan dalam dalam ia seperti sedang berusaha mengetahui apa Arkan membohonginya atau tidak.


"Saya tidak sedang berbohong. Kalau kamu tidak percaya kamu boleh tanya Mama atau mungkin tanya papa. Karena papa juga sedikit banya membantu saya untuk mendesain rumah itu." kata Arkan. Zara menunduk ia malu karena tingkahnya dapat dibaca oleh Arkan.


"Mungkin baiknya kita lihat dulu rumahnya. Kalau kamu suka bisa kita langsung tempati kalau kamu gak suka kita bisa renovasi lagi atau saya bisa buat lagi di tempat yang lain." kata Arkan.


"Kamu berhak kok. Lebih dari itu juga berhak. Karena kamu istri saya." kata Arkan. Arkan mendekatkan wajahnya ke wajah Zara beberapa cm lagi akan sampai di tujuannya hp Zara berdering.


"Ada telepon hehe." Zara langsung memalingkan wajahnya dan menggapai hp di meja di belakangnya. Entah keberanian darimana Arkan yang malu dan kesal memilih menyembunyikan wajahnya di celuk leher Zara yang masih terbungkus mukena.


"Sabiya nih mas mau bicara enggak?" Arkan hanya menggelengkan wajahnya yanng masih berada di leher Zara.


On the VC


"Assalamualaikum ateu.." Sapa Biya dari sana.


"Waalaikumsalam cantik. Kok tumben udah bangun?"


"Biya nagapain sih telepon tanteu ganggu tau." kata Arkan pura pura marah.


"Mas ih kok gitu." tegur Zara. Sedangkan disana Sabiya sudah berkaca kaca.


"Eh sayang maafin om nya ya. Om nya becanda kok. Biya tau nggak tante Zara kangen tau sama Biya." kata Zara.


"Biya juga kangen sama ateu Zala. Tapi sama om Alkan mah enggak wlee" kata Biya sambil menjulurkan lidahnya.


"Hahaha biarin aja nanti om pulang Biya gak om kasih oleh oleh yaa." kata Arkan yang sekarang sudah menegakan duduknya disamping Zara.

__ADS_1


"Ih Bunda huaaaaa huaaaa." kata Biya memanggil Bundanya sambil menangis.


"Mas ih kenapa sih gangguin terus ponakannya." kata Zara pada Arkan.


Akhirnya Video Call diakhiri oleh Ica yang marah marah pada Arkan karena pagi pagi sudah membuat repot.


"Kenapa kamu mau marahin saya juga?" tanya Arkan menatap Zara. Tak mau menanggapi Zara memilih bangkit dari duduknya lalu membereskan alat shalatnya.


Hari ketiga di Gili trawangan ini Arkan mengajak Zara untuk berwisata kuliner setelah dua hari sebelumnya menikmati pantai dan pemandangan alam. Mereka menjelajahi kafe kafe yang bertebaran di pinggir pantai. Sepertinya wisata kuliner bukan hal yang cocok karena pada dasarnya mereka berdua ini buka orang orang yang hobi makan percayalah bagaimana mau wisata kuliner baru makan di satu kafe dengan satu menu saja sudah merasa kenyang.


"Mas udah ya jangan kulineran udah kenyang Zara." kata Zara. "Hmm terus kamu mau apa lagi?" tanya Arkan. "Kita berkuda aja yuk di pinggir pantai." tawar Zara. "Emang bisa?" tanya Arkan tak percaya. "Ih bisa tau berkuda kan salah satu olahraga yang dianjurkan." jawab Zara. "Tapi kayaknya kurang cocok kalai sekarang ini udah terik loh." kata Arkan. Zara mengerucutkan bibirnya merasa kesal karena keinginannya tak dituruti oleh Arkan. "Gausah begitu masih ada besok dan lusa. Gimana kalau hari sekarang kita sewa cidomo aja kita keliling keliling gili trawangan gimana?" tawar Arkan. "Cidomo itu apa?" tanya Zara. "Sejenis andong tapi disini disebutnya cidomo itu salah satu kendaraan yang dibolehkan disini. Kan disini gak boleh ada kendaraan bermotor jadi kendaraannya hanya sepeda dan cidomo itu." kata Arkan menjelaskan.


Satu harian ini mereka menghabiskan waktu dengan berkeliling pulau menggunakan Cidomo melihat keindahan gili trawangan dari berbagai sudut. Arkan juga tak menyianyiakan waktu untuk memotret objek alam yang sangat memanjakan lensa kameranya itu.


Arkan dan Zara sekarang sedang sama sama duduk di pinggir pantai sama sama terdiam menikmati pemandangan.


"Zara..." panggil Arkan dalam keheningan.


"Hmm."Jawab Zara dengan geraman.


"Saya mau kita mulai semuanya dari awal." kata Arkan.


"Maksud mas?" tanya Zara. Arkan menarik nafas dalam tatapannya masih lurus kedepan memperhatikan lautan.


"Saya pernah membaca dalam sebuah buku. Jika pernikahan belum didasari dengan cinta maka tumbuhkanlah dan jaga agar tetap tumbuh. Karena sejatinya cinta itu harus ditumbuhkan dan diperjuangkan. Saya ingin kita sama sama berusaha untuk menumbuhkannya." kata Arkan.


"Semuanya tidak buruk jika kita mau sama sama menerima dan terbuka dengan diri kita masing masing. Buktinya baru beberapa hari di sini kita sudah bisa menciptakan hubungan yang baik dengan momen momen yang indah. Saya rasa kita hanya butuh banyak waktu berkualitas untuk saling memahami." kata Arkan.


"Zara setuju dengan apa yang mas ungkapkan. Ternyata mas bisa ya juga ya berbicara manis tentang cinta. Zara pikir mas itu ya lelaki dingin,  yang otoriter, miskin ekspresi, irit bicara dan hemat kata." kata Zara berbicara enteng tak menyadari jika sedari tadi Arkan sudah memerhatikannya.


"Tapi jujur Zara bosan mendengar mas selalu mengatakan janji akan berusaha, berusaha dan berusaha. Oke Zara hargai dan Zara ucapkan terimakasih. Tapi maaf Zara bukan lagi anak kecil yang ketika diiming imingi janji manis akan langsung bahagia luar biasa." kata Zara.


"Maksud kamu?" tanya Arkan bingung.


"Begini, sekarang mas berjanji banyak sama Zara. Tapi gak ada yang bisa menjaminkan satu jam kedepan, besok,  sebulan lagi apa janji itu akan tetap berlaku? Intinya mas gak perlu banyak berjanji untuk meyakinkan Zara. Zara hanya perlu melihat bukti jika suatu saat nanti ada hal entah itu masalalu atau masalah baru dalam pernikahan ini mas atau pun Zara masih bisa sama sama bertahan dengan janji hidup ini." kata Zara.


"Saya akan buktikan." jawab Arkan pasti.


"Termasuk jika wanita masalalu mas datang lagi? Apa mas akan tetap dengan yang sedang mas jalani sekarang?" tanya Zara.


"Kenapa kamu selalu membahas itu? Apa yang perlu saya lakukan agar kamu percaya bahwa semuanya hanya sekedar masalalu yang sedang berusaha saya lupakan." kata Arkan.


"Zara mau ketemu sama mbak Almira." kata Zara pasti.


***


Sampai Jumpa...

__ADS_1


__ADS_2