
Assalamualaikum...
Happy Reading...
Sudah masuk waktu makan siang. Dirga sudah kembali ke ruangannya. Tapi Arkan dan Zara masih dalam diamnya. Zara masih malu untuk memulai dan Arkan tak kalah gengsi karena merasa perasaannya pada Zara sudah diungkapkan oleh Dirga.
Arkan memilih diam sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa dan memejamkan matanya. Dan Zara ia masih tampak ragu untuk memulai.
"Maaf." akhirnya kata itu yang pertama keluar dari bibir Zara untuk memulai. Arkan hanya diam tak menanggapi Zara.
"Mas Zara minta maaf." kata Zara lagi sambil melihat Arkan yang masih terpejam.
"Untuk apa? Kamu merasa bersalah? Bukannya wanita itu tak pernah salah?" jawab Arkan.
"Mas Zara serius. Zara minta maaf kalau Zara sudah berburuk sangka sama mas." kata Zara.
"Hmm oke saya maafkan. Tapi syaratnya hari ini kamu harus ikuti semua permintaan saya tanpa penolakan." kata Arkan kembali dengan sikap otoriternya.
Zara tak punya pilihan kan selain mengiyakan dan mengikuti kemauan Arkan. Arkan membawa Zara ke salah satu tempat makan yang lumayan jauh dari kantor Arkan.
"Kalau cuman makan kenapa jauh jauh kesini sih mas?" protes Zara.
"Saya sedang ingin makan ini Zara. Tidak dilarang kan?" tanya Arkan pada Zara karena selama sakit ada beberapa makanan yang belum boleh Arkan konsumsi.
"Boleh tapi jangan banyak banyak." jawab Zara. Tak menjawab lagi Arkan langsung menyantap makanan yang sudah tersedia dihadapannya. Entah karena faktor apa tapi sejak tadi Arkan sudah menginginkan sekali makanan dihadapannya ini. Arkan makan dengan sangat lahap. Sementara Zara, iya merasa sudah cukup kenyang melihat Arkan makan.
"Nih mas minum obatnya." kata Zara memberikan obat Arkan yang sudah ia siapkan.
"Huh saya tidak mau minum obat Zara." kata Arkan malas.
"Hari ini terakhir mas minum obat. Obat mas tinggal satu kali minum lagi untuk nanti malam. Kalau mas sudah benar benar pulih kita gak perlu check up ke dokter lagi. Tapi kalau masih ada keluhan kita perlu check up ke dokter lagi setelah obat mas habis." kata Zara menjelaskan.
"Oke saya minum. Tapi setelah habis yang ini jangan ke dokter lagi." kata Arkan.
"Ya tergantung kondisi mas." jawab Zara. Arkan menarik nafas pasrah lalu meminum 3 jenis obat yang diberikan Zara.
Setelah selesai makan siang mereka kembali melanjutkan perjalanannya. Zara pikir Arkan akan kembali ke kantor tapi ternyata ini bukan perjalanan ke kantor.
"Mas ini mau kemana kok bukan balik lagi ke kantor mas?" tanya Zara.
"Ingat perjanjian awal Zara tidak ada penolakan." kata Arkan kembali mengingatkan.
"Tapi mas masih recovery kalau terus perjalanan begini nanti mas kecapean lagi." kata Zara.
"Kamu peduli pada saya?" tanya Arkan asal.
"Kalai Zara gak peduli kenapa Zara mesti repot repot bawa mas ke Rumah Sakit dan menunggui mas disana?" kawab Zara.
"Apa rasa peduli yang kamu punya itu pertanda kalau kamu juga sudah mulai jatuh cinta pada saya Zara?" tanya Zara. Seketika Zara mematung badannya kaku lidahnya kelu entah apa yang harus Zara jawab.
__ADS_1
"Haha jangan malu malu begitu bukannya saya sudah lebih dulu mengakui perasaan saya?" kata Arkan.
"Mungkin tapi bisa saja perasaan mas itu sewaktu waktu berubahkan ketika mas..." Ucapan Zara terhenti karena Arkan menghentika mobilnya secara mendadak.
"Kenapa?" tanya Zara heran oa takut Arkan tersinggung dengan ucapannya.
Arkan melihat Zara sebentar ia tak menanggapi ucapan Zara dan malah lebih memilih keluar dari mobil dan menghampiri salah satu pedagang di pinggir jalan yang menjual cilor. Zara hanya mengerutkan kening melihat kemana Arkan melangkahkan kakinya.
'Beli cilor?' begitulah pertanyaan yang ada dalam benak Zara.
Tak lama Arkan kembali dengan wajah sumringah sambil membawa sebungkus cilor ditangannya.
"Saya mau cilor ini boleh kan?" tanya Arkan sambil menunjukan sebungkus cilor pada Zara.
"Mas ini berminyak harusnya mas jangan dulu jajan sembarangan begini." kata Zara.
"Tapi saya mau Zara please boleh ya satu aja." kata Arkan dengan raut wajah yang memohon.
"Aneh." kata Zara bergumam sendiri melihat sikap Arkan yang berubah ubah. Tak tega melihat wajah Arkan yang sumringah menjadi murung akhirnya Zara melanggar perintah dokter.
"Oke tapi satu aja. Just one." tegas Zara.
"Oke." kata Arkan mengambil satu lalu memakannya.
Arkan kembali menjalankan mobilnya setelah menghabiskan satu tusuk cilornya.
"Itu masih banyak loh sisanya." kata Arkan melihat cilornya yang tak tersentuh.
"Mas." tegur Zara halus.
"Yaudah iya." kata Arkan dengan bibir yang melengkung ke bawah.
Zara semakin heran dengan tingkah Arkan. Bagaimana tidak pria berwajah dingin dan memiliki sikap otoriter ini seketika sumringah kala melihat cilor dan seketika merengut kala keinginannya memakan cilor tak dituruti.
"Mas kenapa sih?" tanya Zara memberanikan diri.
"Saya cuman mau makan cilor. Tapi kamu larang." jawab Arkan.
"Bukan begitu mas. Mas baru sembuh baru beberapa hari keluar dari Rumah Sakit. Zara yakin tubuh mas juga belum 100% fit. Daya tahan tubuh mas juga belum normal jadi dari pada malah kambuh dan justru semakin sakit lebih baik dijaga dulu kan makanannya? Gak selamanya kok." kata Zara memberi penjelasan.
Arkan mengangguk namun entah benar benar menerima penjelasan Zara atau hanya sekedar mengangguk.
Arkan membawa Zara ke salah satu mall.
"Kok malah ke mall? Mas mau makan lagi?" tanya Zara.
"Enggak. Saya mau beli sesuatu dan tokonya ada disini." jawab Arkan.
Mereka sama sama turun dari mobil. Arkan menuntun Zara memasuki mall, Arkan membawa Zara ke toko perhiasan yang dikenal mewah.
__ADS_1
"Mas kok kesini?" tanya Zara sambil menatap wajah Arkan.
"Jangan geer." kata Arkan sambil menyentil kening Zara.
"Ish." kata Zara sambil menyingkirkan tangan Arkan di keningnya.
"Alisya sebentar lagi ulang tahun. Saya bingung mau belikan dia apa. Saya putuskan untuk membeli ini kan kalau dia tak suka bisa dia jual. Saya ajak kamu kesini karena saya pikir mungkin selera kalian sama." kata Arkan. Zara mengangguk mengerti.
"Yaudah saya minta tolong kamu pilihkan untuk Alisya ya. Ingat untuk Alisya ya." kata Arkan menegaskan.
"Iya mas iya." kata Zara sambil berjalan mendahului Arkan sedangkan Arkan yang dibelakang Zara menunjukan senyuman penuh Arti.
Zara sudah berkeliling bertanya tentang kalung, cincin, gelang dll.
"Sudah ada tanya Arkan?"
"Banyak. Tapi Zara gak tau mas mau belikan apa?"
"Kalung saja. Alisya sudah memakai cincin nikah soalnya." jawab Arkan.
"Oke sini mas ikut Zara." kata Zara menarik tangan Arkan mendekati pegawai disitu.
"Mbak saya jadinya beli kalung." kata Zara.
"Oh begitu. Ini ada beberapa pilihan kalung yang kebetulan model terbaru."
"Kamu suka yang mana?" tanya Arkan pada Zara.
"Yang ini bagus." kata Zara menunjuk salah satu kalung tersebut.
"Yaudah mbak saya ambil yang ini." kata Arkan.
Setelah selesai membeli kalung Arkan dan Zara berjalan jalan sebentar. Namun tiba tiba suatu panggilan membuat Arkan dan Zara berhenti dan Arkan tampak kaku melihat seseorang yang memanggilnya.
"Bang Arkan." panggil seseorang yangbtak asing bagi Arkan namun sangat Asing bagi Zara.
"Benar bang Arkan kan?" tanya wanita itu memastikan. Arkan masih belum menjawab. Arkan mengeratkan pegangan tangannya pada Zara. Merasakan reaksi Arkan sepertinya Zara tau wanita yang sedang menyapa suaminya itu siapa. Apalagi embel embel bang yang wanita itu gunakan untuk memanggil Arkan.
"Abang apa kabar?" tanya wanita tersebut.
"Baik Alhamdulillah." jawab Arkan datar. Wanita itu tersenyum sambil mengangguk. Entah sadar atau tidak wanita itu seperti mengabaikan Zara yang sejak tadi disamping Arkan.
"Al juga baik. Sebulan yang lalu Al kembali lagi ke kota ini mas." kata wanita itu menjelaskan tanpa diminta.
"Bukan urusan saya kan?" jawab Arkan.
"Al sudah siap kalau mas mau melamar Al." kata Almira entah keberanian dari mana dirinya menyatakan itu pada Arkan. Dugaan Zara tak melesat benar wanita itu Almira. Keinginannya untuk bertemu Almira akhirnya tercapai walaupun tanpa direncanakan. Mendengar Almira mengatakan bahwa ia siap menerima Arkan kembali membuat hati Zara ketar ketir. Bagaimana tidak baru beberapa jam lalu Arkan dan Zara berbaikan dari kesalahfahaman baru beberapa lalu juga Zara mulai mengetahui perubahan perasaan Arkan. Haruskan semuanya secepat itu berubah? Tapi kembali lagi Zara harus percaya, Zara harus menebalkan percaya diri bahwa Arkan benar sudah memilihnya bahwa Arkan akan memperjuangkannya. Ya semoga saja Arkan tidak mengingkari perkataan perkataannya.
***
__ADS_1
To be continued...
See you next part...