Biarkan Waktu

Biarkan Waktu
Part 5


__ADS_3

Tanpa terasa besok adalah hari pernikahan Arkan dan Zara hari ini keluarga Zara sedang bersiap untuk ke hotel yang tak jauh dari lokasi pernikahan. Tujuannya agar lebih mudah dan meminimalisir sesuatu hal yang tak diharapkan. Tak butuh waktu lama hanya sekitar 1 jam jika jalanan lancar dari rumah Zara menuju ke lokasi acara besok. Tak Jauh beda dengan keluarga Zara keluarga Arkan juga sedang bersiap untuk pergi kesana. Lain dengan para keluarga yang sedang antusias Arkan malah menyibukan dirinya dengan bekerja dikantor miliknya sedangkan Zara ia lebih memilih mengurung dikamar bersam buku buka novel kesukaannya.


Walau sudah ada usaha dari mereka untuk sama sama terbuka dan menerima. Tapi hati tetaplah hati, hati tak seperti air yang dapat mudah beradaptasi dengan bentuk disekitarnya. Hati memang lembut tapi hati itu rigid tak mudah berubah bentuk. Begitu juga dengan mereka mulai terbuka mencoba menerima itu perlu proses dan prosesnya bisa dibilang tidak mudah. Tapi keputusan sudah diambil semoga keputusan yang diambil, status yang akan segera berubah dan juga tanggungjawab yang akan berbeda tak akan saling menyakiti mereka nantinya.


Hari jum'at 20 September 2019 pukul 07.30 suasana di Pine Hill Cibodas Bandung sudah mulai ramai tamu berdatangan karena pernikahan mereka akan dimulai sekitar 30 menit lagi. Zara berada di tempat yang dikhususkan untuk dirinya karena sesuai pernikahan islami mempelai wanita dan pria tidak disatukan sebelum sang pria selesai melafalkan ijab qobul dan dinyatakan sah oleh para saksi. Sementara itu Arkan juga yang berada ditempatnya tampak sekali jika dirinya sedang gugup berkali kali ia bangki dari duduknya berjalan beberapa langkah lalu kembali lagi ke tempat duduknya sambil bibirnya tak pernah berhenti gumam entah apa sebenarnya yang sedang ia gumamkan.


"Bang siap? Yuk bismillah." kata Mama sambil mengusap bahu Arkan. Arkan nampak menarik nafas dalam ia seperti sedang menarik kekuatan. Lalu membuang nafasnya perlahan seperti ia sedang membuang segala macam ketegangan.


"Udah yuk Bismillah aja."kata Mama lagi. Arkan berjalan menghampiri tempat keluarganya berkumpul lalu ia berjalan diapit mama dan papa untuk menuju kursi dan meja yang sudah ditata dengan cantik untuk tempatnya melangsungkan ijab qobul. Saat Arkan didudukan ditempat ijab qobul penghulu memang belum tiba tapi tak sampai Arkan menunggu lama penghulu pun tiba. Setelah penghulu, Ayah dan para saksi berkumpul dalam satu meja yang tandanya prosesi ijab qobul akan dimulai. Sebelum ijab qobul dimulai acara terlebih dahulu dibuka dengan pembacaan ayat suci Al Qur'an dilanjutkan dengan penasehatan kemudian khutbah nikah setelah itu pembacaan Istigfar serta pengucapan syahadatain barulah setelah Ijab Qobul. Arkan diarahkan untuk menjabat tangan Ayah Zara.


"Ananda Arkan Zaini Adriansyah. Saya nikahkan dan saya kawinkan anda dengan anak kandung saya yang bernama Azzara Nissa Muzzaki binti Akbar Muzzaki dengan mas kawin uang tunai sebesar 1909 dinar dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Azzara Nissa Muzzaki binti Akbar Muzzaki dengan mas kawin tersebut tunai." ucap Arkan dengan lantang dan tegas.


"Sah?" tanya penghulu pada para saksi.


"SAH."


"Barakallahu laka wa baraka 'alaika wa jama'a bainakuma fii khair."


"Alhamdulillah." hampir seluruh yang ada ditempat ini mengucapkan kalimat tersebut. Arkan nampak mengusapkan tangan ke wajah. Akbar tersenyum hangat menatap Arkan didepannya yang kini sudah resmi menjadi menantunya.


Sementara itu Zara yang berada dikamar hanya bisa menyaksikan dari sebuah televisi berukuran kecil. Saat Arkan selesai mengucapkan ijab qobul air matanya menetes begitu saja. Tak terbayang akan seperti apa kedepannya tapi yang pasti sekarang Zara harus berbakti pada lelaki otu dan berusaha untuk menjadi istri yang baik kan?

__ADS_1


"Zara sekarang sudah jadi istri orang nak. Surga Zara bukan lagi dengan Bunda dan Ayah. Jadilah istri yang baik ya sayang, berbakti pada suami karena dengan begitu bisa menjadi kunci syurga buat Zara. Bunda tau awal ini bukan mudah bagi kalian. Tapi kalian sudah sama sama dewasa semoga kalian bisa sama sama satu langkah satu tujuan, se "Iya" sekata, sedunia dan sesyurga. Aamiin." kata Bunda yang sekarang sudah ada di kamar untuk menjemput Zara.


"Zara masih anak ayah bunda kan?" tanya Zara dengan suara yang bergetar dan air mata yang keluar tanpa izin.


"Sampai ayah bunda tertimbun tanah merah pun Zara itu anak kami anak kandung kami putri kami satu satunya. Tapi seorang anak perempua jika sudah menikah segala tanggung jawab orangtua akan pindah ke suami. Bukan berarti ayah bunda udah gak sayang atau gak mau urusin Zara. Udah ah semuanya udah pada nungguin Zara, pengen liat pengantin wanita yang cantik ini. Jangan nangis dong sayang." kata bu da sambil mengusap lembut air mata di pipi lalu mencium pipi Zara.


"Bunda ciumnya pipi aja ya, kalau kening nanti aja sama Arkan." kata bunda.


"Ih bundaaa." kata Zara malu malu.


Para keluarga dan tamu undangan tampak tersenyum kagum saat melihat Zara yang perlahan berjalan kearah meja ijab qobul. Zara tanpak begitu cantik dengan polesan makeup yang tipis dan natural karena memang pada dasarnya sudah cantik dan putih. Zara juga tampak anggun dengan gaun pengantin putih dengan jilbab yang menutup dada yang membalut tubuh mungilnya. Ia berjalan dituntun oleh sepupunya dan semakin dekat ke arah meja ijab qobul. Zara yang sudah didepan Arkan seperti membuat Arkan hanya terpaku pada Zara.


"Bang minta tolong tarikin kursinya." kata sepupu Zara pada Arkan. Baju yang panjang dan juga sedikit berat memang membuat Zara tak begitu lincah bergerak. Ucapan sepupu Zara tak ditanggapi oleh Arkan, pria otu masih fokus menatap gadis yang sekarang berstatus istrinya.


"Bang Arkan..." kata sepupu Zara lagi.


Tamu tamu dan sanak keluarga merasa gemas dengan Arkan yang bisa dibilang tidak tau tempat itu. Sedangkan Zara wajahnya sudah memerah, ia juga menundukan wajahnya yang memerah yang menandakan bahwa ia sedang malu malu.


"Ekhemm ekhemmm. Arkann." panggil ayah dengan suara yang cukup kencang.


"Eh ah i.. Iya yah?" kata Arkan tergagap sambil menatap Ayah.


"Biar duduk dulu ya Zara nya." kata Ayah. Arkan kembali menatap Zara yang dari tadi memang masih berdiri.

__ADS_1


"Eh iya." kata Arkan berdiri lalu membantu Zara untuk duduk.


Para tamu menahan tawa melihat pengantin yang masih sangat malu malu dan canggung itu. Setelah penandatanganan dokumen pernikahan Arkan dan Zara diminta berdiri, Arkan menyentuh ubun ibun Zara dengan sebelah tangannya lalu membacakan do'a. Setelah itu penyerahan mas kawin kemudian Arkan memakaikan cincin dijari manis kanan Zara.


"Dicium nak tangan suaminya." kata Ayah. Dengan malu malu Zara mengulurkan tangannya untuk memcium tangan Arkan. Selanjutnya Zara yang memakaikan cincin di jari manis kanan Arkan. Setelah memakaikan cincin Arkan dan Zara sama sama terdiam mematung tak tau apa yang harus dilakukan.


"Boleh kok kalau mau dicium istrinya. Jangan dilihatin aja udah sah kok." teriak salah seoranh keluarga.


Entah keberanian dari mana mendengar ucapan itu seperti menggerakan Arkan untuk mendekatkan wajahnya ke wajah Zara, Arkan memang harus sedikit menunduk karena postur Zara yang lebih pendek dari Arkan. Melihat Arkan begitu dekat Zara menjadi gugup wajahnya sudah semakin merah. Sedetik kemudian terasa sebuah benda mengenai bibir Zara tak lama terdengar suara jeritan.


"Aaaaaa Arkan kami tau kalian sudah sah. Tapi ingat masih banyak anak dibawah umur dan banyak jomblo juga jangan bermesraan begitu." kata salah satu orang disitu. Arkan yang sadar dengan kelakuannya langsung menegakan tubuhnya dan menjauhkan wajahnya dari wajah Zara. Wajah Arkan juga kini memerah ia malu sendiri dan tak sadar akan bertindak begitu, ia pikir gadis itu memang selalu membuat fokusnya berantakan padahal gadis itu tak melakukan apa apa.


"Gak sabaran ya pengantennya." kata salah satu tamu lagi.


"Nak, maksudnya cium itu cukup dikening dulu nak. Sisanya nanti biar kalian yang tau." kata penghulu ikut menggoda kedua mempelai.


Entah apa yang Arkan pikirkan tadi hingga berani seperti itu tapi bisa dibilang juga Arkan kreatif karena riasan pengantin dengan adat sunda membuat Zara harus mengenakan sigar yang pastinya hiasan itu akan menutupi keningnya. Mungkin pikiran Arkan saat itu gimana mau cium kening kalau ketutupan sigar jadilah otaknya berpikir lebih kreatif untuk mencium yang lain mungkin saja begitu yang ada dalam pikiran Arkan.


Setelah selesai acara ijab qobul mereka melanjutkan acara dengan serangkaian acara adat sunda kemudian sungkeman. Disinilah banjir air mata bukan hanya para wanita yang menangis ayah Zara juga ikut menitikan air mata saat memeluk Zara sambil sedikit memberikan nasihat pada putrinya itu. Berhubung acara pernikahan ini dilaksanakan hari jum'at jadi diusahakan segala rangkaian kegitan harus selesai pukul 11.00 siang karena para pria harus melaksanakan shalat jum'at. Resepsi pernikahan akan dilaksankan hari itu juga tepatnya nanti malam pukul 20.00 sampai selesai. Para tamu undangan yang datang dari jauh pun disediakan tempat untuk singgah dan beristirahat karena memang tempat pernikahan yang lumayan jauh dari pusat kota.


Pukul 18.00 Zara kembali harus bersiap siap untuk acara resepsi. Arkan dam Zara masih berada dalam kamar terpisah. Zara sedang didandani oleh MUA. Sedangkan Arkan ia sedang dimusola bersama para pria lainnya untuk melaksanakan shalat berjamaah.


Pukul 20.00 Zara tampak menggandeng tangan Arkan lalu berjalam perlahan melewati jalan yang sudah dihiasi bunga dan lampu lampu yang sangat indah. Tak jauh beda dengan tadi Zara tampak cantik dan anggun dengan gaun berwarna baby blue panjang gaunnya sedikit menyapu lantai. Jangan lupakan Arkan juga semakin tampan dan gagah dengan jas yang senada dengan Zara. Jika akad nikah tadi kental dengan adat sunda tapi resepsi malam ini lebih terkesan modern. Arkan dan Zara kini sudah duduk manis dipelaminan. Para tamu undangan mulai menyalami mereka. Tapi disini ada yang membuat mereka sama sama heran karena daritadi tamu tamu yang datang merupakan teman teman mereka dan rekan bisnis Arkan. Sepertinya tak tampak tamu tamu undangan dari kedua belah pihak orang tuanya. Hingga beberapa pertanyaan muncul, Apa mereka tidak mengundang rekan rekan nya? Tapi rasanya tidak mungkin karena sebenarnya mereka yang paling antusias dengan pernikahan Arkan dan Zara. Atau mereka sedang merencanakan sesuatu lagi?

__ADS_1


**To Be Continued...


See You Next Part**...


__ADS_2