
...Assalamualaikum......
...Happy Reading......
Sejak saat itu hubungan Arkan Zara sudah semakin baik arahnya. Walaupun ego masing masing dan kurang kepercayaan kadang masih menjadi sumber percekcokan. Tidak dipungkiri adanya janin yang dikandung Zara juga menjadi salah satu perekat antar mereka.
Usia kandungan Zara saat ini, sudah memasuki usia ke 29 minggu atau sekitar 7 bulan. Arkan juga mulai mengurangi kegiatannya di luar rumah. Ia lebih sering bekerja di ruang kerjanya di rumah dari pada ke kantor. Jadi sekarang Arkan menganut sistem Work For Home. Demi Zara.
Arkan semakin protektif kepada Zara diusia kandungan Zara yang sekarang Arkan sama sekali tidak memperbolehkan Zara untuk naik turun tangga. Kamar mereka pun sekarang sudah pindah ke kamar di lantai 1 sesuai intruksi Arkan.
Tok tok...
Zara mengetuk ruang kerja Arkan.
"Masuk" jawab Arkan.
"Kamu kok naik?" tanya Arkan saat melihat Zara yang masuk.
"Iya maaf Zara pelan pelan kok. Gak enak masa teriak teriak dari bawah."
"Bandel banget sih. Bude kemana emangnya?"
"Bude hari ini izin kalau mas lupa."
"Udah ah mas makan dulu ayo. Masih banyak juga kan pekerjaannya?" kata Zara sambil berjalan keluar.
"Tunggu." kata Arkan yang berjalan menyusul Zara.
"Mas turunin Zara bisa jalan sendiri." Zara sedang meronta ronta saat Arkan tiba tiba mengangkat tubuhnya.
"Mending kamu diam. Kalau enggak bahaya bisa jatuh sama sama kita." kata Arkan.
"Tapi Zarabberat mas turunin aja. Nanti mas cape. Zara gendut sekarang." kata Zara lagi.
"Enggak. Diam." tegas Arkan. Arkan baru menurunkan Zara saat sudah berada di meja makan.
"Beratkan udah dibilang turunin juga."
"Siapa bilang berat kamu itu cuman seberat anak kucing."
"Gausah menghina." kata Zara sambil cemberut.
"Ya becanda. Gak usah marah juga." jawab Arkan.
"Mas kenapa sih kok ngeselin banget."
"Stt udah diem makan. Tadi nyuruh turun buat makan kan, bukan buat ngajak debat." kata Arkan.
"Tau ah."
Perdebatan mereka akhirnya terhenti dan dilanjutkan dengan kegiatan makan siang bersama.
"Habiskan." perintah Arkan saat melihat Zara berhenti makan sebelum makanannya habis. Zara hanya menggeleng.
"Kamu tadi ngambil makan sedikit terus sekarang gak habis. Habiskan Zara." perintah Arkan.
"Zara udah kenyang mas. Mas gak tau dari tadi Zara udah ngemil terus." kata Zara beralasan. Arkan tau itu hanya alasan Zara
"Kalau kamu habiskan makanannya setelah ini kita pergi belanja perlengkapan bayi." kata Arkan.
"Beneran?" kata Zara antusias. Arkan mengangguk sambil mengunyah makanannya.
"Oke kalau gitu." kata Zara dengan semangat dan kembali memakan makanannya.
Arkan tersenyum sambil geleng geleng kepala ternyata seunik itu menghadapi wanita hamil seperti Zara.
"Udah abis."
Selesai makan Arkan benar menepati janjinya mengajak Zara untuk berbelanja perlengkapan bayi. Mereka sekarang sedang dalam mobil menuju ke pusat perbelanjaan.
"Mas tapi kita belum tau dedenya perempuan atau laki laki jadi gimana?"
"Apanya?"
"Ih ya gimana belinya warna apa gitu kan takutnya nanti nyiapin buat perempuam tapi keluarnya laki laki gimana?"
"Kita beli yang netral aja." jawab Arkan.
"Tapi feeling saya sih dia laki laki." kata Arkan.
"Tapi perempuan lucu loh mas, apalagi kan udah ada Sabiya jadi nanti dia langsung ada temennya."
__ADS_1
"Ya justru karena udah ada Sabiya yang perempuan, jadi idealnya itu ya laki laki. Biar lengkap."
"Tapi kalau nanti keluarnya perempuan mas gak apa apa?"
"Emang saya kenapa?"
"Zara sih menyimpulkan nya mas lebih cenderung pengen anak laki laki."
"Ya kan itu kalau ditanya mau saya. Ya kenyataannya, kalau memang harus perempuan juga gak akan mengurangi kebahagiaan saya. Yang penting nanti pada waktunya kalian berdua sama sama selamat." kata Arkan yang tetap fokus ke jalanan. Yang Arkan ucapkan memang kalimat umum yang tidak ada kesan romantisnya sama sekali tapi kalimat tersebut justru sekarang yang menciptakan lengkungan bahagia di wajah Zara.
"Aduh." eluh Zara sambil meringis mengusap perutnya.
"Kenapa sakit?" Kata Arkan sampil mengalihkan pandangannya pada Zara yang sedang meringis.
"Dedenya tau kalau kita lagi ngomongin dia jadi nendang nendang dia mau ikut nimbrung kali." jawab Zara. Arkan tersenyum lalu mengulurkan sebelah tangannya untuk mengelus perut Zara.
"Sabar ya nak. Insya Allah 2 bulan lagi ketemu kita." kata Arkan.
"Mas."
"Hmm"
"Awalnya Zara takut tau pas tau Zara hamil."
"Kenapa?"
"Ya Zara takut kalau nantinya salah satu dari kita belum bisa menerima kehadiran dia. Karena kita masih dalam tahap pengenalan apalagi ya latar belakang pernikahan kita kan karena..."
"Udah ya. Fokus kita sekarang ke depan. Saya rasa sudah tau arahnya kemana kalau sudah membahas kembali waktu itu." kata Arkan memotong ucapan Zara.
"Ih mas so tau. Emang mau bahas apa? Mas ngarepnya bahas apa? Bahas mas sama mbak Almira iya? Dih." kata Zara kesal sendiri padahal sejak tadi tak ada ucapan Arkan yang membahas itu.
"Nah kan." kata Arkan bergumam pelan.
Obrolan mereka berakhir di situ berakhir dengan mood Zara yang memburuk karena ulahnya sendiri. Padahal Arkan sudah berusaha menjaga mood ibu hamil yang satu ini, tapi ternyata si empunya mood sendiri yang merusaknya.
"Sudah sampai. Saya gak mau nanti kamu kecapean. Jadi saya mau kamu pake kursi roda ya." tawar Arkan.
"Enggak mau mas. Malu dilihat orang."
"Zara." kata Arkan berusaha tetap lembut.
"Oke oke." jawab Arkan pasrah tak ingin makin merusak mood Zara.
Mereka memasuki pusat perbelanjaan. Arkan tak pernah lepas menuntun tangan Zara.
"Kamu sudah catat apa yang perlu dibeli?" tanya Arkan. Zara hanya mengangguk.
"Mana saya lihat." kata Arkan.
Zara menyerahkan handphonenya.
"Buka di catatan." kata Zara.
"Wah banyak juga ya." kata Arkan.
"Mas keberatan?" tanya Zara. Arkan menghentikan langkahnya ia berdiri menghadap Zara.
"Siapa yang bilang gitu sih? Kenapa sih hm. Jangan bad mood terus dong nanti kamu sendiri yang gak enak belanjanya. Kita cari sesuatu dulu yuk yang gak buat kamu bad mood. Kamu mau apa?" tanya Arkan. Zara tak menjawab.
"Mau es krim? cokelat?" tawar Arkan. Tapi Zara hanya menggeleng.
"Terus?" tanya Arkan lagi. Lagi Zara hanya diam.
"Yaudah kalau kamu gak mau. Tapi saya mau jadi kita tetep ke sana dulu." kata Arkan sambil kembali menarik pelan tangan Zara.
Arkan memesan satu cup es krim lalu memakannya di sana juga. Arkan menikmati es krimnya sambil melirik ke arah Zara. ia tau sejak tadi ada yang sedang memperhatikannya. Bahkan mungkin Zara sudah tergoda.
"Mas." panggil Zara dengan nada sedikit merengek.
"Hmm." jawab Arkan tanpa melihat Zara. Arkan dari tadi seakan asik dengan es krimnya padahal sebenarnya Arkan hanya memakan sedikit sedikit. Namun ia sengaja untung memancing reaksi Zara, karena Arkan tau Zara sangat suka es krim.
"Mas ih mau." kata Zara Akhirnya. Nah betulkan, semasa hamil Zara itu lemah kalau diiming-iming es krim atau coklat.
"Hah? Apa?" kata Arkan seakan tidak memdengar.
"Mau." jawab Zara pelan.
"Yaudah pesen aja."
"Ih mau yang itu." kata Zara sambil menunjuk milik Arkan.
__ADS_1
"Inikan punya saya."
"Ih mas pelit." kata Zara sambil memanyunkan bibirnya dan membuang pandangannya dari Arkan.
"Tadi siapa yang bilang gak mau?"
"Zara."
"Yaudah."
"Ih tapi kan itu tadi. Sekarang Zara mau. Minta mas." rengek Zara.
"Haha iya iya nih buat kamu. Buka mulut." kata Arkan. Tak butuh waktu lama Zara langsung mengambil alih es krim di hadapan Arkan.
"Enak?" tanya Arkan yang balik memperhatikan Zara memakan es krim.
"Enak. Mas jangan minta ya ini es krim Zara."
"Erkkk. Tadi aja gak mau." gerutu Arkan pelan.
"Apa mas?"
"Hah gak apa apa. Pelan pelan makannya." kata Arkan mengalihkan topik.
Setelah memakan es krim mood Zara sudah kembali baik lagi. Mereka kembali dengan tujuan utamanya untuk membeli perlengkapan bayi. Satu persatu store mereka kunjungi.
"Mas kalau beli perlengkapannya serba biru muda sama putih lucu kali ya. Kan netral juga warnanya."
"Itu mau kamu." jawab Arkan.
"Ih mas boleh ya ya ya."
"Yaudah terserah deh."
"Kok terserah sih ini kan buat anak mas juga kok mas kayak gak semangat gitu sih." kesal Zara.
"Iya sayang. Saya setuju kita beli semuanya warna biru putih ya. Kamu pilih deh apa aja yang dibutuhin." kata Arkan.
"Nah gitu dong kan jadi sayang." kata Zara sambil kembali memilih barang. Arkan cuma bisa tersenyum sambil geleng kepala.
Dari satu toko ke toko yang lain sudah mereka kunjungi, cukup melelahkan bagi keduanya tapi puas karena sebagian peralatan yang inti intinya sudah terbeli.
"Mas." rengek Zara sambil menggandeng tangan Arkan.
"Kenapa?"
"Kaki Zara sakit. Duduk dulu ya." kata Zara saat melihat bangku kosong.
"Saya bilang juga apa bandel sih. Yaudah kamu duduk disini diam jangan kemana mana. Saya ke parkiran sebentar ambil kursi roda." kata Arkan.
"Gausah mas duduk aja sebentar nanti juga gpp kok." kata Zara
"Enggak. Udah nurut sama saya. Kamu tau kan kalau saya.."
"Gak suka dibantah." kata Zara menyambung perkataan Arkan.
"Tuh tau. Tunggu sebentar." kata Arkan lalu bergegas meninggalkan Zara.
Butuh waktu beberapa menit Arkan untuk mengambil kursi roda dan kembali ke tempat Zara berada.
"Yuk. Kita mau langsung pulang?"
Zara hanya mengangguk.
"Mau makan dulu?"
Zara hanya menggeleng. Arkan mengerutkan kening heran. Saat ia pergi untuk mengambil kursi roda mood Zara tidak seburuk ini terus kenapa sekarang jadi begini? Arkan menepikan sebentar kursi roda yang Zara naiki. Arkan berjongkok di hadapan Zara.
"Kamu kesal karena terlalu lama menunggu saya?" tanya Arkan. Zara menggeleng.
"Terus kenapa? Tadi saya tinggal baik baik aja." kata Arkan selembut mungkin.
"Pulang aja mas Zara cape." pinta Zara.
Arkan menarik nafas pasrah. Lalu kembali mendorong kursi roda Zara.
...****************...
To be continued...
See you next part...
__ADS_1