Biarkan Waktu

Biarkan Waktu
Part 35


__ADS_3

...Happy Reading......


Sampai di rumah Zara masih diam, belum mau berbicara dengan Arkan, begitu juga dengan Arkan yang ikut diam karena takut salah berbicara lagi. Zara hanya fokus mengurusi Zayyan, mengabaikan Arkan bahkan tidak sadar jika saat ini sudah pergi ke masjid untuk berjamaah shalat maghrib.


"Yah mana?" tanya Zayyan yang sedang disusui Zara. Pertanyaan anaknya tadi membuat Zara diam, sejak pulang tadi dirinya benar-benar mengabaikan Arkan.


"Ayahnya lagi ke masjid dulu nak," jawab Zara menebak-nebak karena kalau melihat jam, saat ini sudah menunjukan waktu maghrib. Jadi sudah bisa dipastikan jika suaminya itu sedang ke masjid.


"Kut Ayah," kata Zayyan sambil menyudahi kegiatan minum susunya.


"Iya besok Zayyan ikut ya. Sekarang di rumah dulu sama bunda, nunggu Ayah pulang ya."


"Na au. Au kut Ayah mejid cana Nda, mejid cana," rengek Zayyan yang meronta ingin menyusul Ayahnya ke masjid.


"Ini udah minum susunya?" tanya Zara mencoba mengalihkan perhatian Zayyan. Zayyan tidak menjawab, ia terus saja merengek ingin ikut ke masjid.


"Mejid Nda cana mejid cana ao."


"Besok lagi ya nak. Besok Zayyan boleh ikut. Kalau sekarang, sebentar lagi juga Ayah pulang. Main aja yuk sama bunda," ajak Zara.


"Ain mejid, Ayah cana," jawab Zayyan.


"Main di rumah aja sama Bunda."


"Na au."


"Ngaji aja yuk sama Bunda. Zayyan kan suka dengerin ngaji."


"Au aji. A ba ba ditu." (mau ngaji A ba ba gitu) ini versi anak kecil yang baru belajar huruf hijaiyah.


"Iya yuk ngaji. Tapi udahan dulu nangisnya."


"Na nanis," (enggak nangis) menjawab tidak menangis tapi bocah kecil itu langsung mengusap air matanya dengan jari-jari tangan mungilnya.


"Anak shaleh."


"Na nanis," katanya lagi memberitahu sang Bunda, sangat tidak sejalan dengan mata dan pipinya yang basah. Zara hanya menanggapi dengan senyuman lalu mencium pipi Zayyan.


Akhirnya keinginan Zayyan untuk ikut Ayahnya ke masjid sedikit teralihkan. Hingga semakin lama mata bulat nan bening itu mulai tampak sayu, tangan-tangan mungilnya mulai bergerak mengusap mata. Bahkan Zayyan sudah beberapa kali menguap. Seperti anak kecil seusianya, ketika mengantuk Zayyan mulai rewel lagi, ia kembali merengek mencari ayahnya hingga menangis tidak berhenti.


"Iya sebentar lagi Ayah pulang sayang, sabar ya. Enggak kemana-mana, Ayahnya Zayyan cuma ke masjid," kata Zara sambil menggendongnya dan menimang Zayyan tapi belum juga mau berhentimenangis.


Zara masih menimang sambil menepuk bokong Zayyan yang sudah mulai tenang dalam gendongannya.


"Assalamualaikum." suara Arkan yang baru memasuki kamar, membuat Zayyan menoleh lalu kembali menangis dan meronta ke arah Arkan.


"Waalaikumsalam."


"Kok nangis Yang?" tanya Arkan pada Zara kemudian langsung mengambil Zayyan dari gendongan Zara.


"Yah au bobo," katanya sambil menggosokan wajahnya di leher Arkan.


"Jadi nunggu Ayah? Mau bobo sama ayah. Oke tapi berhenti dulu dong nangisnya," kata Arkan.


Melihat Zayyan sudah tenang bersama Arkan, Zara pergi keluar kamar untuk menyiapkan makan malam Arkan.


"Yang," panggil Arkan sambil menuruni anak tangga menghampiri Zara yang sudah siap dengan menu makan malam. Zara tidak menjawab, Arkan tau Zara pasti masih marah.


"Yang," panggil Arkan saat sudah duduk di meja makan.


"Makan dulu," kata Zara tanpa melihat Arkan.


"Kamu juga makan," kata Arkan.

__ADS_1


"Zara udah makan," jawab Zara sambil beranjak pergi.


"Zara," Arkan berdiri lalu menghalang langkah Zara sehingga mereka langsung berhadapan.


"Kamu di sini aja. Temani Mas makan."


"Zara mau nemenin Zayyan."


"Zayyan udah tidur."


"Duduk," kata Arkan sambil menuntun Zara untuk duduk di hadapannya.


"Yang," panggil Arkan.


"Mas minta maaf," kata Arkan sambil menatap Zara yang sedang sibuk mengalihkan pandangan agar tidak bertatapan dengan Arkan.


"Mending mas makan dulu," jawab Zara.


"Lihat mas Zara," perintah Arkan. Zara menuruti mau Arkan ia menatap Arkan.


"Mas minta maaf. Kalau apa yang Mas lakukan akhir akhir ini membuat kamu enggak nyaman. Kamu tahu, Mas cuma sedang berada dalam ketakutan. Dan salahnya mungkin ketakutan Mas ini terlalu berlebihan. Bukan mas gak percaya sama kamu. Tapi mas merasa enggak punya alasan yang kuat kalau kamu akan tetap di samping mas. Tiga tahun pernikahan kita mas rasa hanya mas yang jatuh cinta sama kamu."


"Logika aja. Sekarang kondisi mas sedang di bawah. Kamu masih muda,  kamu cantik, enggak susah kalau kamu mau mencari yang lebih segalanya daripada Mas. Apalagi latar belakang hubungan kita hanya dari perjodohan."


Zara terdiam mencerna setiap ucapan Arkan.


"Mas begini karena mas sayang sama kamu. Mas enggak mau ngelepas kamu. Tapi mas enggak cukup percaya diri untuk mempertahankan kamu. Mangkanya mas akhir-akhir ini bersikap manja sama kamu mas bergantung sama kamu. Mas hanya mau kamu tau kalau mas itu butuh kamu. Kamu itu penting buat mas. Mas cuma..."


Ucapan Arkan terpotong karena Zara sudah melakukan sesuatu hal yang membuat Arkan berhenti berbicara selama beberapa detik. Kemudian Zara menghentikan perbuatannya dan balik menatap Arkan.


"Jadi mas ini lagi insecure?" tanya Zara sambil menatap Arkan.


"Maafin Zara ya mas. Zara yang salah, Zara yang enggak ngerti mas. Zara yang terlalu gengsi buat bilang sama mas. Zara sayang sama mas tanpa mas minta Zara akan tetap disini sama mas. Zara enggak akan pergi kecuali mas yang suruh Zara pergi. Dan satu lagi..."


Zara menggantung ucapannya ia berjinjit agar bisa mendekatkan bibirnya ke telinga Arkan.


Sedangkan Arkan, ia sudah tersenyum senyum yang sangat jarang terlihat dari wajah dingin Arkan. Untuk pertama kalinya ia mendengar sendiri kata kata itu keluar dari mulut Zara.


"Bilang apa tadi?"


"Enggak usah pura pura gak denger orang jelas banget Zara bilangnya di telinga Mas."


"Tadi bilang i love you tapi sekarang udah marah marah aja," kata Arkan sambil menarik Zara mendekat ke pelukannya.


"Love you too sayang," jawab Arkan di telinga Zara.


"Ih enggak usah di jawab malu tahu," kata Zara sambil memukul lengan Arkan.


"Aww sakit Yang."


"Rasain."


"Baru di jawab I love you too aja udah salting banget sih kamu."


"ENGGAK YAA!"


"Yaudah enggak perlu teriak malah kelihatan banget saltingnya."


"Ih sok tau."


"Ih serius. Ngaca tuh muka kamu merah."


"Mas Arkan, udahan ah."

__ADS_1


"Sejak kapan kamu mulai suka sama saya?"


"Enggak tahu,"


"Enggak tahu?"


"Iya enggak tahu mulai kapan, Zara enggak ingat. Yang Zara ingat, setelah menikah dan menjadi seorang istri disertai dengan rasa ataupun tidak, kewajiban Zara sebagai istri tetap sama, mencari ridho suami."


"Sejak hari pertama menjadi istri Mas, Zara mencoba ikhlas buat jalaninnya. Karena pernikahan ini ladang pahala, ketika seorang istri melayani suami dalam bentuk apapun maka disitu Allah sedang mencurahkan pahala. Tapi sependek pengetahuan Zara, pahala itu akan luntur ketika kita melakukannya tanpa disertai keikhlasan. Mungkin disaat Zara sudah bisa ikhlas, perasaan sayang itu muncul, mungkin ya Zara juga enggak tahu."


"Tapi kamu gengsi kan enggak pernah mau bilang, bahkan tiap mas bilang aja kamu enggak pernah jawab."


"Ih yang semalam itu Zara jawab tahu," kata Zara malu malu.


"Masa? Kok mas enggak denger?"


"Iya Zara jawab. Malah Zara langsung cium mas," kata Zara sambil langsung menyembunyikan wajahnya di dada Arkan karena rasa malunya.


"Kok sekarang enggak ada ciumnya."


"Enggak usah gatel."


"Zayyan udah tidur loh Yang."


"Ya terus kenapa?"


"Enggak mau merayakan hari dimana kamu mengungkapkan perasa kamu sama Mas?"


"Apa sih mas enggak jelas tahu."


"Yang, tadi Zayyan bilang katanya besok pagi pengen udah punya dede."


Lagi lagi Zara melayangkan tangannya untuk memukul Arkan.


"Sakit Yang tangan kamu malam ini jahat banget."


"Lagian ngaco aja mana bisa besok langsung punya dede."


"Bisa Yang. Kan prosesnya bisa malam ini."


"Enggak bisa mas."


"Kenapa gak bisa aku suami kamu loh yang."


"Tau ah."


"Sekarang mas makan dulu deh dingin tuh makanannya."


"Kamu juga makan."


"Zara udah."


"Kok enggak nungguin."


"Ya tadi kan masih marahan."


"Yaudah karena kamu udah makan duluan dan enggak nungguin mas jadi suapin yaa. Sambil nonton film."


"Tapi mas...


"Enggak boleh protes. Ayo yang ambilin mas tunggu sambil nonton yaa," kata Arkan sambil berjalan ke arah ruang tengah.


***

__ADS_1


To be continued...


See you next part...


__ADS_2