Biarkan Waktu

Biarkan Waktu
Part 26


__ADS_3

Happy Reading...


Sampai di Rumah Zara langsung membersihkan diri di kamar mandi yang ada di kamarnya dan Arkan membersihkan di kamar mandi yang ada kamar yang lain. Karena jika menunggu Zara, Arkan tidak akan sempat pergi ke masjid. Arkan pamit pergi ke masjid sedangkan Zara ia masih berdiam diri di kamar.


Setelah shalat isya, Zara pergi ke dapur untuk membuat susu lalu kembali ke kamar dengan membawa segelas susu. Niatnya Zara ingin membaca habis novel barunya malam ini. Tetapi sesuatu yang ada dalam pikirannya saat ini sungguh merubah moodnya menjadi hancur seketika.


"Sudah melamunnya?" tanya Arkan yang tidak Zara ketahui sejak kapan sudah berada di sampingnya.


"Siapa yang melamun, orang Zara lagi baca juga," elak Zara.


"Baca buku? Tapi saya lihat mata kamu daritadi sama sekali enggak melihat ke arah buku," kata Arkan datar. Zara tidak bisa mengelak. Iya memang sejak tadi Zara melamun. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya bahkan hingga merusak mood Zara hari ini. Menyebalkan sekali bagi Zara.


"Diminum dulu susunya, nanti dingin katanya enek kalau minum susu yang udah dingin. Habis itu, baru kamu ceritakan pada saya apa yang mengganggu pikiran kamu," kata Arkan sambil mengambil susu di atas meja dan menyerahkannya pada Zara. Tidak ingin berdebat Zara pun mengikuti saja apa mau Arkan.


"Kamu kenapa?" tanya Arkan dengan lembut.


"Zara capek, Zara mau tidur duluan ya," pamit Zara bermaksud untuk menghindari pembicaraan yang lebih jauh bersama Arkan.


"Enggak. Kita harus bicara dulu 5 atau 10 menit kita bicara gak akan merusak waktu tidur kamu," kata Arkan.


"Mas, serius Zara gak mood cerita. Zara capek, mau tidur," rengek Zara.


"Sebaiknya kita selesaikan dulu sebelum tidur. Apa yang mengganggu pikiran kamu?" tanya Arkan tanpa basa basi.


"Bicara sama saya, apa yang mengganggu pikiran kamu Zara?" tanya Arkan lagi. Zara diam beberapa saat Arkan juga ikut diam.


"Enggak ada apa apa."


Arkan menatap Zara dalam-dalam. Terlihat Zara memalingkan wajahnya menghindari tatapan Arkan.


"Mau coba bohong sama saya?"


"Zara harus bilang apa? Karena emang gak ada apa apa," kata Zara ngotot.


"Kalau bicara itu, tatap mata lawan bicara. Bisa kan?"


"Mas, serius Zara ngantuk."


Arkan tampak menarik napas dalam dalam.


"Saya yakin itu cuma alasan kamu saja supaya bisa menghindar."


"Mas," rengek Zara.


"Cerita, atau kita akan tetap seperti ini sampai pagi?"


Zara diam. Zara belum mau cerita. Zara takut, tapi suami yang ada di depannya ini terus terusan memaksa Zara untuk bercerita.


"Kalau Zara cerita, apa Mas bakal percaya sama Zara?"


"Saya harus dengar dulu bagaimana ceritanya, baru bisa menilai."


"Tuh kan, Mas gak yakin buat percaya sama Zara. Jadi buat apa Zara cerita sama orang yang gak bisa percaya sama Zara."


Arkan diam. Tampaknya benar, mood Zara hari ini sangat tidak baik. Jadi sebaiknya Arkan turuti saja mau Zara.


"Iya saya percaya. Percaya apapun yang bakal kamu ceritakan."


"Beneran?"


"Semakin cepat kamu cerita, maka semakin cepat juga kemungkinan dapat solusi dan kita bisa istirahat."


Arkan ini selalu saja tidak bisa diajak basa basi.


"Mas percaya kan kalau yang janin yang sekarang Zara kandung ini anaknya Mas Arkan?" tanya Zara dengan tiba tiba.


"Astaghfirullah. Maksud kamu apa bicara seperti itu Zara? Janin yang kamu kandung itu anugerah dari Allah, amanah yang harus kita jaga. Sempat-sempatnya kamu berpikir begitu," kata Arkan dengan nada yang meninggi. Arkan tidak bermaksud membentak Zara. Arkan hanya terkejut dengan pertanyaan yang tidak akan pernah ia duga akan keluar dari mulut Zara. Bukan menjawab Zara malah menangis. Arkan yang merasa bersalah karena sudah berbicara dengan nada tinggi pada Zara, langsung menarik Zara kepelukannya, diusapnya punggung Zara pelan pelan.


"Saya tahu sejak tadi siang kamu sudah tidak baik baik saja. Ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu," kata Arkan sambil mengusap punggung Zara.

__ADS_1


"Cerita semuanya sama saya ada apa sebenarnya, apa yang kamu rasakan sampai bisa-bisanya kamu berpikiran seperti itu," kata Arkan hendak melepaskan pelukannya tapi Zara malah memeluknya dengan erat.


"Tadi.."


"Tadi itu Zara, Zara," kata Zara terbata.


"Zara ketemu mbak Almira."


"Almira?"


Zara mengangguk.


"Dia bilang apa?"


"Mbak Al nanya sama Zara, Apa Zara yakin kalau anak yang Zara kandung ini anak Mas Arkan?"


"Mas percaya kan sama Zara? Demi Allah ini anak Mas Arkan. Zara enggak pernah main-main di belakang mas. Zara juge belum pernah menikah sebelumnya. Kalau mas gak percaya mas boleh cek semua cctv di rumah ini. Lihat apa pernah Zara bawa masuk orang ke dalam rumah." kata Zara sambil terisak.


"Cukup Zara, jangan kamu menangis karena dia. Dia senang jika tahu melihat kamu lemah dan menangis begini."


"Iya Zara emang lemah Mas. Dan sekarang Zara dan posisi Zara akan semakin melemah setelah Mbak tau kalau kita menikah karena perjodohan dan kita pernah sama sama menolak ini. Dan mbak Al juga bilang kalau dia semakin percaya diri kalau mas memang belum sepenuhnya melupakan dia."


"Terus kamu percaya begitu saja dengan ucapan dia."


"Zara berusaha buat menganggap ucapan Mbak Al seperti angin lalu. Tapi Zara gak bisa. Mbak Al benar kan? Kita sampai di titik ini karena perjodohan. Zara juga gak pernah tahu apakah Mas Arkan udah benar-benar bisa terima Zara atau belum. Apalagi setelah kedatangan Mbak Al. Tapi yang paling buat Zara sedih dan sakit hati, ketika dia ragu kalau janin yang Zara kandung ini anaknya Mas Arkan,"


"Zara juga takut kalau nanti setelah anak kita lahir, gak menutup kemungkinankan kalau Mas Arkan akan membawa anak kita pergi dan mas memilih untuk melanjutkan hidup bersama Almira lagi. Karena Zara tahu kalau Mas belum..."


Arkan geram ingin iya berkata kasar. Tapi sebisa mungkin ia menahan ucapannya.


"Apa sejahat itu saya di mata kamu?" tanya Arkan memotong ucapan Zara. Arkan mendengar jelas Zara semakin terisak. Arkan melepaskan paksa pelukan Zara, ia mengangkat wajah Zara agar menghadapnya.


"Saya bodoh kalau lebih memilih orang yang meninggalkan saya. Daripada orang yang berjuang bersama sama dengan saya," kata Arkan sambil mengusap air mata Zara.


"Membangun cinta dalam sebuah rumah tangga itu bukan sebulan dua bulan. Tapi sepanjang kita hidup bersama makan sepanjang itu pula kita harus selalu bersama sama membangun cinta," kata Arkan sambil mencium satu persatu mata Zara.


"Tadi kamu minta sama saya, supaya saya percaya sama kamu kan?"


Zara mengangguk.


"Sekarang saya yang minta kamu untuk percaya pada saya. Ingat Zara sampai kapanpun masalalu itu tidak akan pernah menang. Karena masalalu akan selamanya berada dibelakang."


"Kamu jangan menangis, anak saya pasti bisa merasakan kalau ibunya menangis," kata Arkan sambil menghapus air mata Zara.


"Kamu masih sering berhubungan dengan Almira?" tanya Arkan.


Zara mengangguk.


"Sesering apa?"


"Cuma sesekali, itu juga kalau mbak Al yang lebih dulu mengirimi Zara chat tapi kadang Zara gak bales."


"Mana hp kamu?" tanya Arkan. Zara menyerahkan hp nya.


"Mas mau apa?"


"Saya mau blokir supaya enggak ada lagi akses dia untuk mengganggu kamu," kata Arkan sambil mengotak-atik handphone Zara.


"Mas mau janji sama Zara?" tanya Zara. Arkan menatap Zara dengan serius.


"Mas jangan bertemu sama mbak Almira lagi bisa?" tanya Zara ragu-ragu.


"Sejak awal kita menikah memang siapa yang mau bertemu Almira? Kamu kan yang ingin bertemu dia," kata Arkan.


"Iya maaf Zara kira mbak Almira bakal jadi orang yang bersahabat. Yaudah sekarang mas janji sama Zara kalau mas gak akan lagi bertemu Almira," pinta Zara.


"Kenapa begitu?"


"Karena ketika mas gak bisa janji sama Zara untuk gak bertemu lagi sama Mbak Almira. Makan Zara semakin susah untuk percaya diri kalau Mas Arkan akan terus berusaha untuk membangun rumah tangga bersama Zara."

__ADS_1


"Takut juga ya kamu kehilangan saya?" kata Arkan dengan penuh percaya diri.


"Bukan gitu, Zara gak bisa bayangin aja kalau nanti anak Zara lahir ditengah keragu-raguan ayahnya, mau memilih ibunya atau mantan terindahnya. Zara juga gak bisa bayangin kalau nanti Mas Arkan akan bawa pergi anak Zara dan memilih hidup sama mbak Almira sedangkan Zara.. Astaghfirullah. Naudzubillah.." kata Zara sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


"Jadi bukan cemburu?" tanya Arkan. Zara menggeleng cepat.


"Yah. Padahal saya beharapnya kamu cemburu kan tandanya kamu cinta sama saya." kata Arkan.


"Emang kalau Zara tanya apa mas cinta sama Zara mas bakal bisa jawab?"


"Bisalah."


"Apa jawabannya?"


"Menurut kamu apa?"


"Ya mana Zara tau."


"Ya saya cintalah. Buktinya tumbuhkan dia disini." kata Arkan sambil mengelus perut Zara.


"Ngaco."


"Ngaco apa coba, ya bener dong."


"Terserah mas deh."


"Gak bad mood lagi dong?" Zara menggeleng.


"Bagus. Mangkanya kalau ada apa apa itu cerita jangan dipikirin sendiri. Kamu itu jangan banyak pikiran, jangan stres. Harusnya bahagia terus biar dia juga bahagia," kata Arkan lagi-lagi mengelus perut Zara.


"Tadi pas Zara lagi ngobrol sama mbak Almira dia nendang-nendang terus loh mas."


"Bagus dong jadi kalau besar nanti dia tau siapa yang harus ditendang," jawab Arkan asal.


"Ih mas jangan begitu. Gak boleh kesel berlebihan sama orang."


"Mas tumben loh banyak ngomong hari ini," kata Zara yang dibalas tatapan tajam oleh Arkan.


"Mas Arkan bawel hari ini," kata Zara pelan.


"Coba bilang sekali lagi. Saya gak dengar."


"Mas bawel hari ini," kata Zara lebih keras.


Arkan tidak menjawab apa apa. Tapi Arkan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Zara seolah akan memberi hukuman pada Zara. Saat sudah semakin dekat, Arkan merapatkan keningnya dengan kening Zara.


"Saya hukum kamu nanti. Sekarang saya lapar. Saya butuh tenaga buat menghukum kamu."


"Mas lapar? Sebentar Zara masakin dulu ya."


"Gak usah. Ini masih jam 20.30 belum terlalu malam. Kita makan diluar aja," kata Arkan.


"Gak mau nanti ketemu dia lagi."


"Hei, menurut kamu dia sipa sampai bisa berkeliaran ada dimana mana?"


"Ayo saya lapar." kata Arkan sambil berjalan meninggalkan Zara.


"Mulai deh dingin dan kaku kaya balom es lagi. Aturan tadi pas lagi bawel Zara formalin biar awet," gerutu Zara.


"Cepat Zara. Jangan malah ngedumelin suami sendiri," kata Arkan.


"Yaudah mas duluan. Zara pakai kerudung dulu."


"Lima menit," kata Arkan yang kemudian benar benar keluar dari kamar.


...----------------...


Sampai Jumpa Lagi...

__ADS_1


__ADS_2