Biarkan Waktu

Biarkan Waktu
Part 32


__ADS_3

Happy Reading...


Hari ini Arkan gunakan untuk quality time bersama keluarga kecilnya . Sekarang Arkan sedang mengajak Zayyan bermain air sambil mencuci mobil di halaman rumah. Bocah kecil yang baru berusia 18 bulan itu tampak sangat senang bermain air.


"Eyy seneng banget sih nak main air. Udahan yuk basah nanti masuk angin," kata Zara yang baru bergabung sambil membawa handuk untuk keduanya.


"Iyalah senang banget main air sama ayah ya nak. Sama bunda kan gak suka diajak main air," kata Arkan sambil membersihkan badan Zayyan yang terkena busa dari cairan sabun pencuci mobil.


"Jangan sok tau deh di rumah juga jarang," kata Zara.


"Jangan mulai deh Yang. Ini Aku lagi memperbaiki."


"Iya maaf. Udah deh, jangan kelamaan nanti masuk angin Zayyan nya."


"Sini dong ikut basah-basaha," kata Arkan sambil menyipratkan air ke arah Zara.


"Ih basah Mas Arkan. Zara udah mandi."


"Ayo nak udahan yuk."


"Nanana," kata Zayyan sambil menggeleng gelengkan kepala.


"Biar aja Bun, baru sebentar. Enggak akan masuk angin."


"Sebentar apa udah setengah jam juga. Lagian biasanya juga nyuci mobil di tempat pencucian enggak pernah di rumah."


"Ya kan hikmahnya nyuci mobil di rumah jadi bisa sekalian main sama Zayyan."


"Tapi anaknya itu nanti masuk angin mas. Itu udah basah semua sebadan-badan."


"Yaudah tanya Zayyannya deh mau sama ayah atau sama bunda."


"Zayyan udah yuk," kata Zara coba membujuk Zayyan.


"Zayyan mau sama ayah atau sama bunda?" tanya Arkan pada Zayyan.


"Yah," jawab Zayyan sambil memeluk erat kaki Arkan.


"Tuh denger kan maunya sama Ayah?" kata Arkan merasa dirinya menang.


"Oke. Zayyan mau sama Ayah ya. Berarti enggak usah minta minum susu sama bunda ya?" kata Zara.


"Nen.. Nen," kata Zayyan langsung melepaskan pelukannya pada Arkan dan berjalan cepat ke arah Zara.


"Da.. Nen.. Nen," kata Zayyan merengek.


"Yah gitu ancamannya yang Ayah enggak bisa kasih le Zayyan."


"Biar yang penting anakku enggak sakit karena kelamaan main air."


Arkan tidak menanggapi lagi, ia langsung melanjutkan cuci mobilnya. Sedangkan Zara langsung mengambil Zayyan lalu membungkus tubuh Zayyan dengan handuk.


"Zara yang menang wle," kata Zara sambil menjulurkan lidahnya dan bergegas meninggalkan Arkan.


"Yaiyalah ancamannya yang Mas enggak bisa kasih ke Zayyan," kata Arkan berteriak agar bisa didengar Zara yang sudah masuk ke dalam rumah.


Ba'da shalat dzuhur mereka sedang menemani Zayyan bermain di ruang keluarga.


"Lapar Yang," kata Arkan pada Zara.


"Yaudah makan dulu. Zara tadi udah masak sesuai permintaan Mas kok."


"Makan disini aja. Tolong ambilin dong."


"Sendiri enggak bisa?"


"Enggak Yang. Pengen diambilin sama istri."


"Yaudah sebentar Zara ambilin dulu."


"Makasih Bunda."


Zara kembali dengan membawa sepiring nasi dan segelas air putih.


"Nih Mas makan dulu."


"Masih main sama Zayyan Yang," kata Arkan yang masih asik bermain menyusun balok balok sesuai ukuran bersama Zayyan.


"Ya tadi siapa yang bilang lapar dan minta makan? Udah Mas makan dulu biar Zayyan sama Zara."

__ADS_1


"Suapin aja. Biar tetap bisa sambil main," kata Arkan.


"Dih kayak Zayyan aja minta suapin."


"Yaudah enggak usah makan."


"Yaudah yang lapar juga mas nya bukan Zara."


"Yang atuh, tinggal suapin meuni hararese pisan sih," kata Arkan.


(Yang, tinggal suapin susah banget sih)


"Aaaa," kata Arkan sambil membuka mulutnya. Zara diam saja


"Jadi enggak mau? Yaudah enggak apa apa." kata Arkan dengan nada dingin dan wajah datarnya.


"Iya iya Zara suapin. Nih minum dulu." kata Zara sambil menyerahkan segelas air pada Arkan.


"Jangan pake sendok. Pake tangan aja Yang."


"Udah ah pake sendok aja."


"Yaudah enggak jadi makan."


"Ihh mas kenapa sih. Ih rewel banget," kata Zara yang mulai kesal dengan kelakuan Arkan.


"Enggak rewel kalau dari tadi cepat di turutin. Cuma minta suapi pake tangan susah emang?"


"Iya bentar Zara cuci tangan dulu."


Zara kembali lagi ke samping Arkan. Benar saja makanan belum disentuh sama sekali.


"Lama banget sih lapar nih," kata Arkan.


"Ya makan sendiri kalau keburu lapar."


"Udah ah ayo. Aaa," kata Arkan sambil membuka mulutnya.


Zara menyuapi Arkan walaupun dengan terpaksa dan sedikit kaku karena ini pertama kalinya Arkan menjadi kolokan seperti ini.


"Kamu enggak makan?"


"Sekarang aja."


"Ya gimana? Mas minta Zara suapin susah lah kalau sambil Zara makan."


"Kenapa susah. Tinggal sekarang aja makan bareng. Mau mas suapin juga. Sini," kata Arkan hendak menyomot nasi dari piring yang ada di tangan kiri Zara.


"Ih jangan kotor tangan mas belum cuci tangan," kata Zara sambil menjauhkan piringnya dari jangkauan Arkan.


"Ya mangkanya makan."


"Yaudah iya. Kenapa sih kelakuannya yang tukang maksa enggak perna berubah," kata Zara.


"Makan Zara!" tegur Arkan.


"Iya nih Zara makan!" kata Zara menyuapkan nasi dari piring yang sama.


Momen serba pertama. Pertama kali mereka benar benar quality time bertiga. Pertama kali Zara melihat sisi Arkan yang kolokan, Arkan hari ini mendadak bersikap seperti bayi yang bertubuh besar. Pertama kali Zara melakukan hal sederhana namun rasanya amat sangat bahagia.


"Nanti sore kita jalan jalan ya." kata Arkan.


"Kemana?"


"Keliling aja cari jajanan pake motor. Zayyan juga kan belum pernah naik motor."


"Yaudah. Nih satu suap lagi," kata Zara sambil menyuapkan tangannya ke mulut Arkan.


"Lagi?" tanya Zara.


"Tapi suapi lagi."


"Nih minum dulu." kata Zara sambil meyerahkan gelas pada Arkan.


"Yang sini deh deketan."


"Apa sih udah diam sebentar, Zara ambil lagi katanya mau lagi."


"Ih sini dulu sebentar."

__ADS_1


Zara yang sudah berdiri pun kembali membungkukan badannya ke arah Arkan.


Cup. Satu kecupan singkat mendarat di pipi Zara dan membuat pipi Zara memerah secara otomatis.


"Makasih ya sayang. Makanannya enak sekali."


Zara yang malu memilih untuk segera ke menghindar dari Arkan.


Sore harinya Arkan sudah memanaskan motor dan siap untuk mengajak Zara dan Zayyan jalan jalan.


"Yang siap belum?" teriak Arkan dari luar rumah.


"Apa sih mas teriak-teriak enggak baik tau," kata Zara yang baru keluar dari dalam rumah sambil menggendong Zayyan.


"Lama sih."


"Iya maaf tadi abis kasih Zayyan minum susu dulu."


"Yaudah yuk berangkat ya," kata Arkan.


"Keliling keliling aja kita main sambil jajan," kata Arkan dengan penuh semangat.


"Pelan-pelan aja. Jangan ngebut, tujuan kita kan jalan-jalan enggak dikejar waktu."


"Siap sayang."


Zayyan yang baru pertama kali naik motor terlihat sangat antusias. Mulutnya tidak pernah berhenti berceloteh, tangan mungilnya juga terkadang direntangkan, kemudian bertepuk tangan bahagia hingga akhirnya bocah kecil itu lelah sendiri dan tertidur di dada Zara.


"Kok sepi?" tanya Arkan.


"Cape dia udah kiyep-kiyep ngantuk. Apalagi kena angin sepoy-sepoy begini," kata Zara sambil mengusap usap kepala Zayyan yang tertutup oleh topi.


"Mas pulang aja yuk. Zayyan nya juga udah ngantuk. Mau hujan lagi."


"Yaudah tapi beli buat makan malam dulu yaa."


***


Pukul 22.00 mereka bertiga sudah berkumpul di atas tempat tidur. Arkan duduk bersandar pada kepala tempat tidur dan Zara duduk dengan posisi yang sama di samping Arkan. Arkan mengusap pelan pipi Zayyan yang sedang mengembung dan mengempis karena sedang menghisap  asupan nutrisinya.


"Makasih buat hari ini ya," kata Arkan sambil beralih menatap Zara.


"Zara yang harusnya makasih sama Mas. Karena hari ini mas udah bela belain enggak masuk kantor, biar bisa di rumah sama kami."


"Cuman sehari. Enggak akan bisa nebus waktu waktu yang udah lewat hampir 2 tahun ini," kata Arkan.


"Enggak apa apa mas. Zara ngerti kok mas kerja juga kan buat keluarga. Tapi kalau boleh Zara minta sama mas. Sisain minimal sehari waktu mas buat Zayyan. Dia sekarang mulai ngerti loh, dia udah bisa nyariin ayahnya."


"Pasti. Sekarang Mas lagi coba mempercayakan beberapa pekerjaan yang emanh bisa Mas delegasikan ke wakil mas. Karena mungkin kejadian beberapa waktu lalu juga teguran buat mas agar bisa lebih memperhatikan keluarga lagi."


"Kita sama sama harus banyak belajar lagi," kata Zara sambil mengusap pipi Arkan.


"Tidur yuk Zara ngantuk," kata Zara sambil merubah posisinya dan meletakan Zayyan di tengah tengah mereka dan bersiap tidur di samping Zayyan.


"Kapan Zayyan mulai belajar tidur di kamarnya sendiri sih Yang? Kalau gini kan kita jadinya berjarak."


"Idih enggak usah kolokan deh malu udah tua juga."


"Hah apa tadi? Siapa yang udah tua? Sembarangan," kata Arkan sambil mencubit hidung Zara.


"Ihh lepasin sakit hidung Zara," kata Zara sambil menyingkirkan tangan Arkan yang mencubit hidungnya.


"Haha merah Yang hidung kamu."


"Kelakuan mas sih."


"Yaudah sini sini biar enggak merah lagi," kata Arkan mendekatkan wajahnya ke wajah Zara lalu mencium hidung Zara.


"Lah kok malah pindah ke pipi juga merahnya."


"Ih mas udah ah cepet tidur," kata Zara sambil menarik selimut hingga menutup wajahnya untuk menyembunyikan wajah merahnya.


"Haha jangan ditutup semua Yang engap nanti."


"MAS ARKAN TIDUR."


"Oke oke. Selamat tidur." kata Arkan sambil mencium kening Zara yang tertutup selimut.


***

__ADS_1


Sampai jumpa di part selanjutnya...


__ADS_2