
...Happy Reading......
Setalah kejadian beberapa waktu lalu, Arkan mendapat ujian melalui perusahaannya yang hampir bangkrut. Saat ini Arkan harus fokus untuk membangun kembali perusahaannya. Bantuan dana dari sang Papa berhasil membayar gaji karyawan yang tertunggak juga berhasil membayar hutang-hutang perusahaan. Arkan juga harus terbagi perhatiannya dengan mengurusi kasus mengenai perusahaan yang ia laporkan ke pihak yang berwajib. Arkan bahkan sering keluar masuk kantor polisi untuk dimintai keterangan.
Waktu Arkan banyak terbuang untuk mengurusi hal itu. Bahkan terkadang Arkan harus pulang larut malam ataupun sampai tidak pulang. Arkan sangat berambisi untuk sesegera mungkin bisa menstabilkan perusahaannya.
Ada ketakutan tersendiri dalam benak Arkan jika perusahaannya tak bisa kembali seperti posisi awal. Ada ketakutan jika kasus yang dihadapinya saat ini. Yang paling tidak bisa dipungkiri Arkan juga takut jika semua yang ia takutkan menjadi kenyataan, maka ia akan kehilangan segalanya bukan hanya harta bendanya. Tapi yang paling Arkan takutkan ia akan kehilangan keluarga kecilnya, Zara dan Zayyan. Arkan takut kehilangan mereka, karena mereka berharga.
Pukul 22.45 Arkan baru sampai di rumah. Zara yang semula berada di kamar, ketika mendengar suara mobil ia langsung melihatnya dari balkon dan setelah memastikan jika benar yang datang adalah suaminya. Zara bergegas turun untuk membukakan pintu.
Baru saja Arkan membuka tasnya untuk mencari kunci rumah tapi pintu sudah lebih dulu di buka oleh Zara.
"Loh kok belum tidur?" tanya Arkan.
"Assalamualaikum dulu mas," kata Zara lalu mencium tangan Arkan.
"Assalamualaikum. Kok belum tidur?" kata Arkan.
"Waalaikumsalam. Kalau udah Zara enggak di sini dong Mas," jawab Zara.
"Kenapa belum tidur?"
"Masuk dulu nanti nanya nya di dalem," kata Zara sambil menarik tangan Arkan untuk masuk lalu menutup dan mengunci pintu.
Zara membawa Arkan untuk segera ke kamar. Arkan langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Arkan keluar dari kamar mandi sudah dengan tampilan yang berbeda. Arkan menghampiri Zara yang sedang duduk selonjoran sambil membaca buku di atas tempat tidur. Arkan menidurkan dirinya dengan berbantalkan paha Zara. Entah kenapa akhir akhir ini berada di dekat Zara seperti posisi ternyaman baginya. Karena jujur saja ketakutan terbesar Arkan berada pada Zara, takut kehilangan.
Zara meletakan bukunya dan fokus pada Arkan.
"Udah makan?" tanya Zara. Arkan mengangguk.
"Makasih ya Mas." kata Zara.
"Untuk apa?"
"Semuanya."
"KAMU SUDAH BERJANJI TIDAK AKAN MENINGGALKAN SAYA ZARA!" kata Arkan dengan nada tingginya.
Arkan sekarang menjadi sangat berlebihan pada Zara.
"Siapa yang mau ninggalin Mas sih?" tanya Zara sambil mengelus pipi Arkan.
"Jangan berterimakasih lagi aku enggak suka. Itu tanggungjawab aku," jawab Arkan.
"Iya Zara tau. Tapi sebagai istri Zara juga harus bisa dong mengapresiasi apa yang udah mas lakukan buat keluarga kita. Biar mas juga tau kalau mas itu enggak pernah sendiri. Ada Zara dan juga Zayyan yang selalu mendukung Mas. Kami selalu jadi tim hore nomor satu buat Mas."
Arkan memejamkan matanya matanya menikmati tangan Zara yang sedang mengelus rambutnya. Berada di dekat Zara seperti memberikan ketenangan tersendiri bagi Arkan.
"Besok ikut ke kantor ya Yang, sama Zayyan juga."
"Nanti ke ganggu loh Zayyan lagi aktif banget pengennya lari lari terus."
"Nggak apa apa Yang. Mas tuh udah kehilangan waktu banyak banget buat Zayyan. Pas dia bener bener bisa bilang Ayah aja Mas enggak tau."
"Hmm yaudah. Tapi sekarang udah malam mas tidur ya biar besok segeran badannya."
"Yaudah tinggal merem," jawab Arkan seenaknya.
"Iya tapi jangan gini tidurnya. Mas pake bantal, Zara pegal, Zara juga mau tidur," kata Zara sambil mengangkat kepala Arkan. Arkan langsung membetulkan posisinya.
"Hadap sini dong Yang, hobi banget tidur munggungin suami," kata Arkan saat Zara hendak tidur memunggunginya.
"Enggak mau ah Mas suka usil."
Kali ini Arkan tidak mendebat ucapan Zara, ia lebih memilih mendekat sendiri merapatkan dadanya pada punggung Zara.
"Jangan lupa baca do'a ya sayang," kata Arkan di telinga Zara.
"Mas juga," kata Zara sambil mengelus tangan Arkan yang melingkar di pinggangnya.
"Love You," bisik Arkan di telinga Zara.
Zara yang sudah memejamkan matanya kembali membuka mata dan pasti wajahnya ini sekarang sudah memerah. Bukan pertama kalinya tapi tetap saja ada perasaan aneh saat Arkan mengucapkannya. Senang? Pasti. Tapi sejujurnya ada bagian diri Zara yang merasa tersentil. Bagaimana tidak Arkan sudah mengakui perasaannya tapi Zara?
"Kok enggak di jawab?" tanya Arkan saat tidak mendengar jawaban dari Zara. Enggak salahkan kalau Arkan menuntut hal yang sama?
"Yaudahlah," kata Arkan sambil melonggarkan pelukannya tapi masih tetap dalam posisi yang sama. Arkan memejamkan matanya dan mulai mencoba untuk tidur.
Sedangkan Zara hanya memejamkan matanya walaupun tidak tertidur. Saat suaminya itu sudah tertidur lelap, Zara merubah posisinya menghadap Arkan. Diamati oleh Zara wajah suaminya yang tampak tenang.
Entahlah dorongan darimana. Saat itu juga Zara berani mencium suaminya yang sedang tertidur.
"Zara lebih sayang sama Mas," jawab Zara di depan wajah Arkan sangat pelan karena Zara takut suaranya akan membangunkan Arkan nanti.
"Udah besok pagi enggak usah ngambek ngambek yaa udah Zara jawab kan," kata Zara sambil mengusap pipi Arkan yang sedang tertidur.
Paginya seperti biasa Zara yang bangun lebih dulu.
"Mas..." panggil Zara sambil mengusap pipi Arkan.
"Mas Arkan bangun," panggil Zara lagi.
"Mas Arkan bangun dong," kata Zara sambil sedikit mengguncang tubuh Arkan.
"Hmm."
__ADS_1
"Ayo bangun udah jam 02.30 ini."
Arkan membuka matanya perlahan.
"Jam berapa?" tanya Arkan
"02.30. Cepet mas bersih bersih terus shalat."
"Kamu duluan Yang. Mas masih ngantuk."
"Zara lagi enggak shalat. Cepet mas nanti keburu abis waktu shalat malamnya."
"Mas Arkan," panggil Zara saat Arkan kembali menutup matanya.
"Iya iya," kata Arkan sambil bangun dan bergegas ke kamar mandi.
Seperti biasanya saat Arkan hendak ke kantor Zara dan Zayyan selalu mengantarkan hingga ke teras rumah. Pamitan pagi ini bercampur dengan drama yang dibuat Zayyan. Mungkin karena beberapa hari ini bocah itu kurang memiliki waktu bersama Ayahnya, alhasil pagi ini Zayyan benar benar tak mau lepas dari Arkan.
"Zayyan sama bunda yuk. Ayahnya mau kerja dulu nanti siang ketemu ayah lagi ya. Yuk sini sama bunda," kata Zara sambil mengambil Zayyan dari Arkan. Tapi bocah yang berusia 2 tahun itu malah menepis tangan Zara dan memeluk erat leher Ayahnya.
"Au ain ama Ayah," kata Zayyan dengan bicaranya yang belum cukup jelas.
"Iya nanti main sama Ayah. Tapi nanti siang sekarang Zayyan temenin bunda dulu yuk."
"No No," kata Zayyan sambil menggoyangkan jari telunjuk nya.
Saat Zara hendak memaksa untuk yang ketiga kalinya bocah itu malah menangis kencang.
"Yaudah Yang kamu cepet siap siap segala peralatannya Zayyan. Kalian ikut aja."
"Mas jangan ngaco nanti malah ganggu. Mending sini Zayyannya, biar aja nangis juga paling bentar. Terus mas berangkat nanti siang Zara sama Zayyan baru ke kantor mas."
"Enggak akan ganggu Yang. Udah cepet kasian nih anaknya," kata Arkan sambil mencoba mendiamkan Zayyan.
"Mas sekarang aja enggak mau lepas kan. Terus apa bedanya sama nanti di kantor. Kalau di templokin terus mah gimana mas kerjanya coba."
"Bisa Yang udah cepetan bawa mainan Zayyan juga."
"Tapi mas..."
"Zara!" kata Arkan dengan nada dinginnya.
"Yaudah iya sebentar."
Zara bergegas masuk ke dalam rumah untuk bersiap. Untuk pertama kalinya Arkan pergi ke kantor membawa anak dan istrinya. Zayyan benar benar tidak mau lepas dari Arkan bahkan saat di mobil pun ia terus terusan menangis ketika harus lepas dari Arkan karena Arkan yang harus mengemudi.
"Wih tumben Arkan kerja bawa keluarga," kata Dirga saat masuk ke ruangan Arkan.
"Tuh liat aja lagi di templokin terus sama kembarannya," jawab Zara sambil menunjuk ke arah Arkan.
Sekarang posisinya Arkan sedang duduk di bawah sambil bermain bersama Zayyan. Benar kata Zara, sejak tadi Arkan sama sekali tidak bisa bekerja.
"Kurang Ajar," Kata Arkan sambil melemparkan salah satu mainan Zayyan ke arah Dirga.
"No no," kata Zayyan saat mainannya di lemparkan oleh Arkan.
"Mas mulutnya itu loh lagi sama anaknya juga," kata Zara sambil menyerahkan mainan yang tadi di lemparkan Arkan.
"Maaf Yang."
"Haha sukurin," ledek Dirga.
"Ngapain kesini? Ganggu banget."
"Nih tanda tangan. Terus abis makan siang ada pertemuan sama PT. Angin geluduk."
"Di Kantor kan enggak keluar?"
"Iya biasa di ruang rapat."
"Yaudah oke telpon aja kalau udah waktunya ya. Berkasnya kemarin yang barus si revisi udah beres kan?"
"Iya udah. Yaudah selamat quality time deh sama Zayyan. Balik ke rungan ya. Assalamualaikum," pamit Dirga.
Di ruangan kembali hanya ada mereka bertiga. Arkan kembali bermain bersama Zayyan. Sedangkan Zara, sibuk mengabadikan moment antara Ayah dan anak itu.
Hingga tidakbterasa, waktu sudah menunjukan pukul 11.30.
"Kita keluar yuk cari makan siang kalau enggak dari sekarang nanti macet jalannya," kata Arkan.
"Emang mau nyari kemana? Jangan jauh jauh lah di kantin aja atau delivery aja."
"Yaudah kalau gitu delivery aja deh bosan makanan kantin," jawab Arkan.
"Mau pesan apa?"
"Terserah kamu Yang. Tapi jangan pedas biar bisa dimakan Zayyan juga."
Setelah makanan yang dipesan datang mereka pun makan sama sama. Dan Zayyan bocah itu masih asik berlari mengelilingi ruang kerja Arkan.
"Zayyan mau makan enggak sini," panggil Arkan.
"No no," jawabnya sambil berlari tanpa arah tujuan.
Sedang asik asik makan tiba tiba terdengat suara tangisan yang menggelegar.
__ADS_1
"Astaghfirullah anaku," kata Zara sambil berlari menghampiri Zayyan.
"Ya Allah, sini nak sama Bunda. Mana yang sakit?" tanya Zara sambil memeluk Zayyan.
"Nda. Tuh di citu bug tu akit nih. Aww," (Tuh di situ bug gitu sakit ini) kata Zayyan menjelaskan sambil berlinang air mata.
"Jagoan jangan nangis dong," kata Arkan sambil mengelus kepala Zayyan.
"Mangkanya kata bunda apa. Kalau jalan itu?"
"Piyan." (Pelan)
"Yaudah mana yang sakit?"
"Nih," katanya sambil menunjuk lututnya.
"Zayyan minum susu ya mau?"
"Au. Nih nen," kata Zayyan sambil menepuk dada Zara.
Zara menyusui Zayyan.
"Abis shalat Dzuhur Zara sama Zayyan pulang ya. Zayyan juga ngantuk paling abis minum susu nanti bobo," kata Zara.
"Tidurin disini aja Yang. Nanti pulangnya bareng. Insya Allah enggak akan sampe malem kok. Ya temenin yaa sampe pulang," bujuk Arkan.
"Tapi mas..."
"Ayo dong temenin suaminya kerja Yang."
"Ya Yang temenin Yaa," bujuk Arkan lagi.
"Yaudah. Mas makan lagi sana," kata Zara
Menunggu Arkan meeting Zara memilih untuk tidur di sofa bed bersama Zayyan. Tapi sebelumnya ia kunci dulu ruangan Arkan.
Sesuai perkataannya hari ini Arkan bekerja tidak sampai larut. Bahkan hanya sampai pukul 17.00 saja.
"Seneng loh Yang kerja ditemenin sama anak istri."
"Iya tapi enggak enak lah sama karyawan mas."
"Ya ya ya. Kamu kan selalu gitu mikirinya orang lain dulu," kata Arkan lalu kembali fokus ngengemudi.
"Ya jangan ngambek juga dong mas. Maksud Zara kan mas kerja itu harus profesional ya walaupun mas itu pemiliknya. Berarti kan mas harus bisa jadi contoh yang baik buat para karyawan mas."
"Mas jadi atasan yang baik aja masih di khianatin Yang sama karyawan," kata Arkan mengingan problem beberapa waktu lalu.
"Ah itu cuman beberapa aja. Buktinya masih banyak yang setia sama mas."
"Termasuk kamu nggak yang setia sama mas?"
"Mas itu kenapa sih."
"Enggak apa apa."
Sejenak di mobil menjadi hening.
"Yang katanya Alisya lagi hamil lagi yaa?"
"Iya udah 7 minggu. Mas tau?"
"Tau kemarin dia nanyain yang jualan asinan di kantin masih ada enggak pengen di bawain katanya."
"Terus mas bawain?"
"Iya mas yukjek in."
"Zayyan juga udah bisa loh Yang jadi Abang," kata Arkan.
"Maksud mas?"
"Iya kan Zayyan udah 2 tahun bisalah punya adik. Biar enggak kejauhan jarak usianya."
"Ya tapi enggak secepatnya juga mas. Zayyan juga masih Asi lagian belum 2 tahun juga masih 2 bulan lagi."
"Ya enggak apa apa dong."
"Nanti nantian aja ya belum siap Zara."
"Kenapa? Kamu enggak yakin ya sama mas? Enggak yakin kalau mas bakal mampu biayain kalian nantinya karena kondisi mas sekarang ini?"
"Mas itu kenapa sih mas selalu berpikir gitu ke Zara. Mas gak percaya sama Zara? Emang selama 2 tahun nikah Zara pernah nuntut apa sama mas? Jahat banget yaa Zara di mata mas. Zara itu kayak wanita matrealistis ya dimata Mas, yang mau nikah karena harta pasangannya terus saat pasangannya udah enggak menguntungkan lagi ditinggal deh."
"Bukan gitu maksudnya," kata Arkan sambil berusaha meraih tangan Zara.
"Mas mending fokus nyetir aja deh," kata Zara sambil memalingkan wajahnya.
"Yang dengerin dulu bukan gitu maksudnya."
"Mas fokus nyetir atau berhenti dan Zara sama Zayyan turun," kata Zara.
"Iya Oke."
...***...
__ADS_1
To be continued...
See you next part...