
Assalamualaikum...
Happy Reading...
Belum jauh Zara pergi handphone Zara bergetar.
'Mr. Cold Calling...'
Zara terkejut saat mendapat telepon dari Arkan. Bingung harus menjawab apa pada Arkan, Zara memutuskan untuk tidak menjawab telepon Arkan. Totalnya 3 kali Arkan menelepon Zara tapi tak ada satupun yang Zara jawab. Pikir Zara biarkan saja, Arkan taunya kan Zara lagi ngambek gara gara Arkan tidak mengizinkan Zara pergi.
Zara tak tau kalau sekarang Arkan sedang berada di rumah karena harus mengambil beberapa dokumen yang tertinggal di rumah. Sebenarnya niat Arkan menelpon Zara bukan karena Arkan tau Zara pergi diam diam. Arkan hanya ingin meminta tolong Zara untuk mengantarkan berkas tersebut melalui ojek online saja. Tapi saat 3 kali teleponnya tak dijawab Zara, Arkan memutuskan untuk menelepon rumah. Hasilnya Arkan tau kalau istrinya sedang tak di rumah. Oke setelah kembali ke rumah untuk mengambil barangnya Arkan kembali ke kantor. Arkan memutuskan untuk tak membahas hal ini sampai Zara sendiri yang jujur kepadanya.
Sebelum maghrib Zara sudah berada di rumah. Zara merasa bersyukur karena Arkan belum pulang. Hingga Isya Arkan belum juga pulang. Zara memutuskan untuk menelpon Arkan tapi nihil panggilannya tidak ada satupun yang di jawab Arkan.
"Ih sebel. Pasti balas dendam nih karena tadi teleponnya gak Zara jawab." kata Zara kesal sendiri. Zara juga mengirim beberapa pesan pada Arkan. Tapi hasilnya tidak ada satupun yang dibaca.
Pukul 21.45 Arkan baru sampai rumah.Zara yang sejak tadi menunggu Arkan sambil menonton langsung berdiri dan menghampiri Arkan.
"Assalamu'alaikum." kata Arkan saat Zara di depannya.
"Wa'alaikumsamalam. Mas kok baru pulang? Tumben sampe malam begini? Zara telepon gak diangkat. Zara chat juga gak ada yang dibaca." kata Zara setelah mencium tangan Arkan. Bukan menjawab Arkan malah langsung berjalan menuju ke ruang makan, untuk menyimpan apa yang ia bawa kemudian pergi ke kamar.
Zara merasa heran, bukannya tadi dirinya yang sedang marah lalu kenapa sekarang malah Zara yang didiamkan? Ah sudahlah mungkin suaminya hanya sedang lelah pikir Zara. Selesai membersihkan diri Arkan kembali turun dan menuju ruang makan. Zara yang dari tadi didiamkan hanya mengikuti Arkan. Arkan menyiapkan makanannya sendiri yang tadi ia beli sendiri sebelum pulang.
"Sini biar Zara yang siapin." kata Zara coba mengambil alih apa yang sedang Arkan kerjakan. Tapi ucapan Zara sama sekali tak mendapat tanggapan dari Arkan. Arkan tetap menyiapkan makan malamnya sendiri.
"Mas kok makan mie sih. Itu pedes banget juga kayaknya. Mas jangan dimakan lagi, udah nanti sakit lambung mas kambuh." kata Zara. Lagi lagi Arkan tak menanggapi. Zara yang kesal karena dari tadi tak ditanggapi Arkan langsung mengambil apa yang sedang Arkan makan.
"Udah mas ini pedas. Zara tahu mas gak bisa makan pedas. Kenapa sih maksa. Kalau sakit gimana coba." kata Zara sambil menjauhkan mangkuk tersebut dari Arkan.
Arkan tak membantah karena dirinya sendiri pun sudah merasa puas hanya dengan beberapa suapan. Arkan memilih kembali ke kamar tanpa mempedulikan Zara. Tak lama Zara menyusul Arkan ke kamar dilihatnya Arkan sedang duduk di sofa sambil mengoperasikan laptopnya.
"Mas kenapa? Ada masalah di kantor? Kok dari tadi aneh begini sih?" kata Zara saat sudah duduk disamping Arkan. Arkan kembali mendiamkan Zara dan tetap fokis pada laptopnya.
"Mas kenapa sih? Dari tadi Zara didiemin. Padahal kan Zara yang lagi ngambek. Kenapa jadi mas diamkan Zara." kata Zara.
Arkan masih belum mau mempedulikan Zara. Zara hanya bisa memarik nafas pelan. Ia masih sibuk dengan laptopnya.
"Mas masih kerja? Padahal hari ini mas udah kerja sampe malam loh dan sekarang di rumah juga harus ngurusin pekerjaan lagi? Udah ya mas istirahat. Jangan diporsir nanti mas malah sakit. " kata Zara mencoba mengambil laptop di hadapan Arkan. Namun kecepatan Zara kalah cepat dengan Arkan yang memilih berjalan ke arah ruang kerjanya sambil membawa laptopnya. Zara kembali menghembuskan napasnya kasar. Ada apa sebenarnya dengan Arkan.
Zara menyusul Arkan ke ruang kerja. Sebisa mungkin Zara harus bisa membujuk Arkan untuk beristirahat. Sekuat apapun daya tahan tubuh Arkan. Tetap saja suaminya itu butuh istirahat.
"Mas kenapa sih? Mas marah sama Zara? Karena apa? Karena tadi Zara larang mas makan mie pedas itu? Atau karena sekarang Zara gangguin terus mas kerja?" tanya Zara. Tapi lagi lagi Arkan hanya diam.
"Maaf kalau mas gak suka sama apa yang Zara lakuin. Tapi ini juga kan buat kebaikan mas. Mas ingetkan kata dokter pas mas sakit, kalau mas itu gak boleh makan makanan yang terlalu pedas. Terus sekarang Zara suruh mas istirahat juga buat kebaikan mas." kata Zara. Arkan lagi lagi hanya diam. Zara yang sudah mulai kesal langsung menarik laptop di hadapan Arkan dan mematikannya. Arkan menatap tajam Zara. Zara tak peduli itu. Zara menarik tangan Arkan untuk kembali ke kamar. Tapi Arkan melepaskannya.
"Gimana rasanya?" tanya Arkan.
Zara langsung menoleh dan menatap Arkan yang berdiri dihadapannya.
"Gimana rasanya ketika apa yang kita bilang tidak didengarkan oleh orang lain. Padahal apa yang kita bicarakan juga untuk kebaikan orang itu sendiri?" kata Arkan mencoba tetap untuk tak terbawa emosi. Zara langsung mematung seakan ia sudah faham dengan apa yang dimaksud Arkan. Awalnya Arkan ingin mencoba mentoleransi kesalahan Zara jika saja Zara memilih untuk jujur dan menjelaskan baik baik pada dirinya. Tapi Arkan lihat Zara malah tetap dengan sikapnya yang seolah olah tidak terjadi apa apa.
"Sekarang kamu tau gimana rasanya? Ketika rasa peduli kamu diabaikan oleh orang lain?"
"Mas..." panggil Zara yang sudah menunduk.
"Kamu tau kan halal haram sebagai seorang istri? LALU APAKAH SEORANG ISTRI YANG PERGI TANPA SEIZIN SUAMI ITU DIBENARKAN?" kata Arkan dengan nada yang meninggi.
"Mas maaf." kata Zara dengan suara yang sangat pelan.
"Untuk apa? untuk kamu yang tidah patuh dengan ucapan saya atau untuk kamu yang berbohong pada saya?" tanya Arkan tegas.
"Dengar Zara, awalnya saya memilih mentoleransi kesalahan kamu seandainya kamu memilih jujur dan menjelaskan baik baik pada saya. Tapi kamu lebih memilih berbohongkan? Memilih pura-pura tidak tahu? Memilih diam seolah-olah tidak terjadi apa-apa." kata Arkan lagi.
"Mas maafin Zara." kata Zara dengan suara yang pelan sambil mencoba meraih tangan Arkan.
"DIAM!" bentak Arkan.
"Kalau tadi siang saya tidak pulang ke rumah dan tidak tahu kamu pergi tanpa seizin saya. KAMU PASTI GAK AKAN JUJURKAN?"
"Mas maafin Zara." kata Zara dengan suara yang bergetar dan air mata yang sulit ditahan.
__ADS_1
"Lebih baik sekarang kamu istirahat." tegas Arkan.
"Mas maafin Zara dulu." kata Zara sambil terisak.
"Pergi ke kamar dan tidurlah Zara. Saya tidak mau dibantah sekarang. Jika kamu tidak mau saya pedulikan maka kamu bisa anggap ini hanya kepedulian saya pada anak saya." kata Arkan lagi. Tak ingin memperparah keadaan Zara memilih tak membantah Arkan.
"Maafin Zara. Zara istirahat duluan. Mas jangan lama lama kerjanya mas juga harus istirahat." kata Zara dengan suara yang terbata karena tangisnya. Zara menarik tangan Arkan dan menciumnya kemudian pergi ke kamar.
Arkan mendudukan dirinya di kursi kerjanya berharap dengan duduk kemarahannya akan berkurang. Setelah merasa lebih baik Arkan memilih kembali menyalakan laptopnya yang tadi dimatikan Zara. Arkan terpaksa membawa pekerjaannya ke rumah karena sejak di kantor selain banyak pekerjaan lainnya Arkan juga merasakan tidak bisa berkonsentrasi penuh karena di kepalanya selalu terpikirkan kecemasannya pada Zara yang berakibat pada pekerjaannya yang tak bisa terselesaikan dengan cepat.
Sekitar pukul 02.00 pekerjaan Arkan baru benar benar selesai. Arkan meninggalkan ruang kerjanya dan kembali ke kamar. Ia melihat Zara sudah lelap dalam tidurnya Arkan mendekati Zara, membaringkan dirinya menyamping menghadap Zara. Walaupun lampu kamar sudah dimatikan dan hanya ada cahaya dari lampu tidur tapi Arkan masih bisa melihat jelas wajah Zara. Terlihat juga hidung Zara yang memerah yang tampak kontras dengan warna kulit Zara yang putih dapat dipastikan bahwa Zara sudah menangis. Arkan tak tau Zara menangis.
"Karena apa kamu menangis? Menyesali perbuatan kamu yang tidak patuh terhadap saya?" kata Arkan sambil menatap Zara dam mengusap pipinya pelan.
Arkan mendekatkan wajahnya ke wajah Zara dan mengecup lembut kening Zara kemudian beralih ke hidung Zara yang memerah.
"Anak kecil yang keras kepala." kata Arkan sambil memandang wajah Zara lalu kembali menciumnya. Arkan kemudian beralih fokus pada perut Zara.
"Maafkan ayah ya nak. Tadi ayah marah-marah sama bunda kamu. Abis bandel sih bundanya." kata Arkan mengelus perut Zara laku menciumnya. Zara menggeliat kecil saat Arkan mengelus perutnya. Arkan yang panik tidak mau ketahuan Zara. Ia langsung mengambil posisi tidur dengan membelakangi Zara.
Pagi harinya tidak banyak yang berubah Arkan masih dalam diamnya. Saat sarapan bersama Zara pun Arkan lebih memilih banyak diam.
"Mas hari ini pulang jam berapa? Jangan terlalu malam ya, Zara takut di rumah sendiri." kata Zara. Zara tidak bohong, Ia itu seorang penakut. Ketika Arkan pulang malam Zara memang di rumah sendiri karena bude atau asisten rumah tangga mereka tidak menginap ia datang pagi kemudian pulang saat menjelang maghrib.
"Sore." kata Arkan dan itu kata pertama yang Arkan ucapkan pagi ini.
"Saya berangkat. Assaalamu'alaikum." kata Arkan lagi.
"Wa'alaikumsalam. Mas hati hati." kata Zara setelah mencium tangan Arkan.
"Mas. Aduuh..." kata Zara sambil memegangi perutnya saat Arkan baru melangkah beberapa langkah. Arkan menoleh ke arah Zara lalu menghampirinya.
"Baby nya nendang katanya kenapa Ayahnya gak elus dia dulu." kata Zara sambil tersenyum. Pagi ini memang Zara tak merasakan Arkan yang mencium keningnya dan mengelus perutnya. Arkan mengerutkan keningnya ia tak percaya dengan perkataan Zara. Pikir Arkan mana ada janin berusia 8 minggu sudah bisa nendang nendang. Tapi Arkan tetap melakukan yang Zara minta. Arkan mengelus perut Zara. Tapi tidak dengan mencium kening Zara. Dan itu berhasil membuat Zara tersenyum miris. Wajah Arkan masih tampak sangat dingin dan datar ah menyebalkan pokoknya.
"Mas semangat kerjanya. Jangan marah. Maafin Zara." kata Zara sambil menatap wajah Arkan. Lalu tanpa diduga Zara berjinjit dan mencium rahang Arkan kenapa rahang? Karena itu yang tergapai oleh Zara walau sudah berjinjit. Tidak sampai tiga detik Zara yang malu sendiri langsung melesat ke dalam rumah. Arkan yang menyaksikannya hanya tersenyum simpul melihat tingkah Zara.
"Dasar Anak Kecil." kata Arkan sambil bergegas ke mobilnya.
"Terimakasih ya nak udah bisa jadi alasan bunda. Ayahnya dede itu wajahnya ngeselin banget tau nak dingin banget tapi ya sayangnya juga ganteng banget." kata Zara sambil mengelus perutnya.
Hari ini Zara memilih mengisi waktunya dengan membuat kue. Zara memang sangat suka bereksperimen di dapur. Baginya dapur itu sebuah tempat yang bisa mengekspresikan segala bentuk perasaan.
"Mbak. Tadi mas Arkan nelpon bude." kata bude yang baru selesai mengangkat jemuran.
"Oh iya. Mas Arkan bilang apa bude?"
"Mas Arkan cuman nanya apa mbak Zara ada di rumah? Terus nanya mbak Zara ngapain aja."
"Bude jawab apa?"
"Ya bude jawab kalau mbak Zara di rumah bude juga bilang kalau mbak Zara lagi buat kue." jawab bude.
"Bude bilang Zara lagi di dapur sama mas Arkan?" tanya Zara panik.
"Iya. Tapi mbak tenang bude udah bilang kalau kasian mbak Zaranya kayaknya bosen kalau cuman diem aja. Dan mas Arkan juga kayaknya ngerti." jawab bude.
"Yaudah bude. Makasih ya. Zara juga udah selesai bikin kuenya. Itu kuenya ada di toples di meja makan. Ada dua toples. Nanti yang satu toples buat bude ya. Zara ke kamar ya bude." pamit Zara.
"Iya mbak." jawab bude.
Sampai di kamar, Zara langsung mendial nomor telepon Arkan lalu langsung meneleponnya.
"Semarah itu ya mas Arkan sama Zara. Sampai gak mau telepon langsung sama Zara." kata Zara sambil menunggu panggilannya tersambung pada Arkan.
"Assalamualaikum." sapa Zara karena Arkan yang enggan menyapa lebih dulu.
"Wa'alaikumsamalam." jawab Arkan datar.
"Maafin Zara. Zara tadi abis bikin kue." kata Zara. Arkan hanya diam namun tanpa terlihat oleh Zara Arkan disebrang sana sedang tersenyum merasa gemas dengan Zara yang sepertinya sangat takut jika Arkan marah.
"Mas udah makan siang?" tanya Zara.
__ADS_1
"Belum." jawab Arkan singkat.
"Tapi ini udah jam makan siang mas. Mas lagi sibuk ya?" tanya Zara.
"Ya." jawab Arkan singkat.
"Mau Zara anterin makan siang gak? Sekalian Zara bawain kue yang tadi Zara buat." tawar Zara.
"Gak usah." tegas Arkan.
"Yaudah iya. Tapi mas harus makan." kata Zara.
"Hm." jawab Arkan.
"Padahal Zara tadi abis masak..." Zara langsung dia. Ia menyadari kesalahannya lagu.
"Bu.. Bude kok yang masak." ralat Zara dengan gugup.
"Jangan bohong lagi. Saya tau kalau bude gak pernah masak. Tapi kamu yang selalu masak." kata Arkan.
"Mas maaf. Tapi emang Zara seneng kalau masak. Zara gak cape kok. Justru kalau Zara diem aja Zara malah pusing. Maafin Zara tapi bener deh Zara cuman masak aja. Yang lainnya bude yang kerjain." jawab Zara.
"Oke. Kirimkan saya makanan dan kue yang kamu buat." pinta Arkan.
"Hah?" tanya Zara yang terkejut.
"Cepat." perintah Arkan.
"Iya iya. Mau sama Zaranya juga enggak?" tanya Zara.
"Gak usah." jawab Arkan singkat.
"Ish. Mas masih marah sama Zara?" tanya Zara.
"Kamu tau kalau emosi manusia ketika sedang lapar itu akan mudah meningkat?" tanya Arkan.
"Iya iya yaudah Zara siapin dulu. Assalamualaikum." kata Zara mengakhiri teleponnya.
"Waalaikumsalam."
Kurang lebih 30 menit makanan yang Zara kirimkan baru sampai pada Arkan.
Baru saja Arkan mau menyuapkan makanannya tiba tiba handphone Arkan bergetar.
'Mine Calling...'
"Apa?" jawab Arkan ketus karena acara makannya terganggu.
"Assalamualaikum." kata Zara.
"Waalaikumsalam. Kenapa?" tanya Arkan.
"Udah sampai belum makanannya?" tanya Zara.
"Sudah." jawab Arkan singkat.
"Oh gitu yaudah selamat makan mas." kata Zara.
"Hmm." kata Arkan.
"Mas maafin Zara." kata Zara masih berusaha meminta maaf pada Arkan. Tak ada tanggapan apapun dari Arkan. Terdengar suara Zara menarik nafas dan menghembuskanya kasar.
"Yaudah deh. Selamat makan Mr. Cold. Assalamualaikum." kata Zara.
"Waalaikumsalam." jawab Arkan.
Arkan tersenyum setelah menutup teleponnya. Ia tak sabar ingin segera pulang ingin melihat usaha apalagi yang akan dilakukan Zara.
***
To be continued...
__ADS_1
See you next part..