Biarkan Waktu

Biarkan Waktu
Part 14


__ADS_3

Assalamu'alaikum...


Happy Reading...


Hari ini terakhir mereka berada di pulau ini. Hubungan mereka juga sudah semakin baik sudah mulai terbuka satu sama lain. Ya walaupun meleka juga belum merasa memiliki perasaan yang lebih dari sekedar rasa nyaman. Zara sedang membereskan barang barang mereka.


Dari kemarin setelah permintaan Zara, Arkan menjadi mendiamkan Zara. Bagi Arkan keinginan Zara itu sangat sulit untuk ia terima. Karena menurut Arkan cukup aneh bagaimana tidak, selama ini Zara sulit percaya kepada apa yang Arkan lakukan karena Zara berpikir Arkan masih dengan bayang bayang masalalunya. Tapi sekarang Zara seolah meminta untuk Arkan membawa Zara ke masalalu milik Arkan. Jika bukan Zara yang mengatakan keinginan seperti itu mungkin Arkan sudah habis memakinya.


Sementara bagi Zara, ia juga berpikir berkali kali untuk bisa berlata begitu. Zara tau jika Arkan belum sepenuhnya melupakan walau Arkan selalu berkata seiring berjalannya waktu dan dengan adanya Zara semuanya akan mudah terlupakan. Menurut Zara antara Arkan dan Almira masih ada hal yang belum selesai. Zara rasa mereka perlu menyelesaikannya terlebih dahulu agar tak ada perasaan siapa yang menyakiti dan disakiti. Walaupun tidak menutup kemungkinnan keinginan Zara ini malah akan membuka peluang bagi Arkan mengingat masalalunya atau bahkan kembali pada masa itu. Tapi seharusnya jika Arkan konsisten dan bertanggungjawab Arkan tak akan melakukan itu.


Hari terakhir di pulau ini begitu membosnkan bagi Zara. Bagaimana tidak sampai malam hari ia dan Arkan tak pergi kemana mana. Arkan sibuk dengan handphonenya dan tak sekalipun mengajak Zara berbicara. Kesal dengan keadaan seperti ini setelah isya Zara memutuskan untuk langsung tidur.


Setelah beberapa jam menempuh perjalanan udara. Sekarang mereka sudah kembali berada di kota asal mereka. Dengan dijemput oleh sopir mereka sekarang sedang dalam mobil untuk perjalanan menuju ke rumah.


"Assalamualaikum." kata Mereka saat memasuki rumah.


"Waalaikumsalam." jawab beberapa orang dari dalam rumah.


"Eh kalian udah pulang. Gimana bang honeymoon nya seru? Udah ketauan hasilnya belum. Baguskan kalau langsung jadi. Nanti cucu papa yg kedua jadinya made in Lombok.?" kata Papa menggoda Arkan. Sejenak ucapan papanya membuat Arkan terpikir sesuatu. 'Ya mungkin jika Zara hamil hubungan mereka akan semakin membaik. Mereka juga akan semakin terikat bukan hanya dengan janji pernikahan dihadapan Allah melaikan juga terikat dengan amanah yang Allah berikan untuk mereka.' pemikiran Arkan membuat Arkan sedikit tersenyum dan berharap masa itu segera datang.


"Seger seger banget ya yang abis jalan jalan. Semoga gak lama lagi disini tumbuh makhlik hidup ya." kata Mama sambil mengusap perut rata milik Zara. Erk Zara menelan ludahnya susah. Zara melulakan hal itu, bagaimana jika Zara hamil tapi dalam kondisi mereka yang bel m benar benar saling mencintai, apa dengan hadirnya anak ditengah mereka akan membawa hubungan mereka jauh lebih baik?


"Hmm Insya Allah ma, pa. Mama dan Papa do'ain terus ya. Kami masih usaha, Arkan juga menunggu saat itu." kata Arkan. Perkataan Arkan terlontar sangat ringan dari bibir Arkan. Tapi berdampak besar bagi Zara. Pipi Zara sudah merah sekarang Zara malu. Tapi mendengar perkataan Arkan bolehkah Zara menyimpulkan kalau Arkan mengharapkan buah hati bersama Zara?


"Mas.." panggil Zara. Arkan tak menanggapi ia malah ingin menjauhi Zara sampai Zara harus menahan tangan Arkan.


"Mas maaf kalau permintaan Zara membuat mas kesal. Zara gak maksa mas kok. Tapi jujur Zara sangat berharap." kata Zara.


"Sudah selesai?" tanya Arkan sambil melepaskan pegangan tangan Zara di pergelangan tangannya.


"Buang jauh jauh keinginan kamu itu." jawab Arkan sambil meninggalkan Zara.


Sampai berhari hari setelah kepulangan mereka dari Lombok Arkan masih saja setia mendiamkan Zara. Sore hari ini Arkan pulang dari kantor dengan wajahnya yang pucat. Zara rasa Arkan kelelahan karena sepulang dari Lombok basoknya Arkan langsung bekerja.


"Boleh Zara pijitin?" tawar Zara sambil menghampiri Arkan yang sedang duduk diatas ranjang sambil memijit sendiri kepalanya. Arkan masih saja kuat dengan diamnya. Tapi Zara tak tinggal diam, ia memilih untuk mengambil peppermint oil lalu mendekat pada Arkan. Zara menumpahkan beberapa tetes peppermint oil di telapak tangannya. Lalu menggosokkannya ke tengkuk Arkan sambil sedikit memijitnya. Aroma peppermint ditambah pijatan Zara membuat Arkan lebih rileks dan ingin memejamkan matanya.


"Jangan tidur mas. Ini nanggung maghrib. Mas mau shalat berjamaah di mesjid atau di rumah aja?" tanya Zara sambil terus memijat Arkan. Arkan melirik ke arah jam yang berada di dinding kamar. Kemudian ia langsung mengganti pakaiannya dengan baju koko lengkap dengan sarung, peci dan sajadah. Ia bergegas pergi ke mesjid karena waktu maghrib yang semakin dekat, Arkan pergi masih dengan mengabaikan Zara.


Masih dini hari Zara dibangunkan oleh suara gemericik air serti suara orang muntah muntah dari arah kamar mandi. Zara melihat Arkan sudah tidak ada disampingnya. Ia langsung menuju kamar mandi dan membuka pintunya yang tidak terkunci. Benar saja Arkan dengan wajah pucatnya sedang berdiri di depan washtapel sambil berusaha memuntahkan sesuatu. Zara berinisiatif membantu dengan memijat tengkuk Arkan. Setelah merasa lebih baik Arkan membersihkan mulutnya kemudian kembali ke tempat tidur.


"Zara buatin teh hangat ya." tawar Zara. "Lemon madu hangat aja." kata Arkan. "Yaudah Zara buatkan dulu." Zara pergi membuatkan minuman untuk Arkan dengan minuman hangat mungkin bisa sedikit menuegarkan Arkan. Zara kembali ke kamar dengan secangkir minuman di tangannya. Ia tak melihat Arkan di tempat tidur dan ternyata Arkan kembali muntah muntah lagi di kamar mandi. Wajahnya tampak semakin pucat dan tubuhnya juga lemas. Zara menuntun Arkan untuk berjalan kembali ke tempat tidur.


"Ini mas minum dulu. Siapa tau enakan." kata Zara sambil mengambil cangkir minuman lalu menyerahkannya pada Arkan. Arkan meminumnya sedikit lalu kembali menyerahkan pada Zara. "Lagi mas biar segeran." kata Zara. Arkan menggelen " Mulut saya gak berasa." kata Arkan. Zara tak membantah ia memilih meletakan gelasnya lalu kembali mendekat pada Arkan yang sedang menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang.


"Mas minum obat ya. Tapi harus makan dulu mas mau Zara buatin apa?" tawar Zara yang tak tega melihat Arkan lemas begitu.

__ADS_1


"Enggak." kata Arkan tegas. "Tapi mas..." kata Zara mencoba membantah.


"Stt udah diam saya pusing. Mending kamu coba pijat saya seperti kemarin. Kemarin rasanya lebih baik semoga sekarang sama." kata Arkan dengan lemas. Zara mengangguk lalu mengambil peppermint oil dan membalurkannya ke tubuh Arkan lalu memijatnya. Benar saja baru sebentar dipijat Arkan sudah memejamkan matanya. Zara mengendus tenang melihat Arkan sudah tertidur. Ingatkan Zara untuk melarang Arkan bekerja dan membawa Arkan ke dokter siang nanti.


Suara Adzan berkumandang. Zara baru saja membuka mata. Ia bergegas untuk membersihkan diri. Setelah itu barulah Zara membangunkan Arkan. Tak tega sebenarnya apalagi melihat wajahnya yang masih tampak pucat. Tapi mau tidak mau Arkan tetap harus menjalankan kewajibannya.


"Mas..." panggil Zara pelan. Mungkin karena tidurnya yang tak senyenyak biasanya baru satu kali panggilan Arkan sudah membuka mata. Malihat Zara yang sudah mengenakan mukena Arkan spontan langsung melihat jam dinding dikamarnya.


"Kenapa kamu gak bangunkan saya dari tadi? Saya jadi terlambat ke mesjid kan." kata Arkan.


"Iya maaf. Yaudah cepet mas siap siap Zara tunggu." kata Zara sambil menyiapkan alat shalat Arkan.


Selesai shalat subuh Arkan kembali merasakan tak enak dengan perutnya ia langsung berlari ke kamar mandi Zara mengikutinya di belakang. Rasanya Arkan ingin memuntahkan sesuatu. Tapi nyatanya tak ada apa apa yang keluar dari mulut Arkan. 


"Mas gak usah ke kantor ya,  terus nanti agak siangan kita ke dokter." kata Zara sambil memijat tengkuk Arkan yang masih setia berdiri di depan washtapel.


"Saya gak apa apa." kata Arkan lemah.


"Mas tolong ya dengerin Zara. Sehari aja mas istirahat di rumah. Kemarin pulang dari Lombok mas kan langsung kerja."


"Kemarin saya udah libur lama." kata Arkan.


"Iya oke Zara tau. Tapi liburan kemarin kan dipake buat jalan. Badan mas juga butuh istirahat. Please sehari aja." kata Zara. Arkan menarik nafas berat kemudian mengangguk mengiyakan keinginan Zara. Iya memang Arkan juga tak memungkiri badannya sangat lemas tapi ia pikir tak selemah itu sampai harus bolos ke kantor.


"Ayo mas balik ke tempat tidur aja. Istirahat lagi. Nanti Zara buatkan sarapan buat mas minum obat." kata Zara. Arkan menurut entahlah pagi ini Arkan seperti tak punya tenaga untuk membantah Zara.


Zara sedang di dapur hendak menyiapkan sarapan untuk Arkan.


"Mau buat apa nak?" tanya Mama.


"Ini ma, Zara mau buat soup buat mas Arkan." kata Zara.


"Arkan sakit?"


"Iya ma kecapean kayaknya." kata Zara.


"Iya anak itu memang suka gila kerja gak merhatiin diri sendiri." kata mama.


"Iya Ma tapi hari ini udah Zara suruh biar gak ke kantor dulu biar istirahat."


"Arkan mau?" Zara mengangguk mengiyakan pertanyaan mama.


"Tumben dia mau nurut. Biasanya sebelum bener bener pingsan anak itu gak pernah mau bolos kerja." kata Mama. Zara hanya diam.


"Alhamdulillah sekarang udah ada kamu istrinya yang ngurusin dan merhatin dia. Makasih ya nak. " kata Mama.

__ADS_1


"Mama gak usah makasih sama Zara inikan emang kewajiban Zara." kata Zara. Mama mengangguk faham.


"Oh iya biasanya kalau gak enak badan Arkan suka minum teh jahe atau madu jahe nak. Coba nanti tolong dibuatkan ya." kata mama.


"Iya ma. Nanti Zara buat."


Hampir 30 menit Zara berkutat di dapur menyiapkan sarapan untuk Arkan. Setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam Zara masuk ke kamar. Disana ia melihat Arkan sedang berbaring. Kening Arkan tampak berkeringat Zara menyeka keringat dikening Arkan, Zara merasa jika Arkan demam. Merasakan ada yang bergerak di keningnya Arkan spontan membuka matanya.


"Maaf Zara bangunin mas ya?" kata Zara saat melihat Arkan membuka mata. Arkan menggeleng "Saya gak tidur." jawab Arkan lemah.


"Mas sarapan dulu ya abis itu minum obat." kata Zara. Arkan hanya mengangguk patuh.


"Mas mau sarapan di meja makan atau di kamar?" tanya Zara.


"Badan saya lemas. Kamu mau gendong saya turun ke meja makan?"


"Oke Zara ambilkan sarapan mas dulu." kata Zara berlalu menghindari perdebatan.


Tak sampai 5 menit Zara kembali ke kamar.


"Nih mas makan dulu. Tadi kata mama kalau mas gak enak badan suka minum teh jahe atau madu jahe. Ini Zara buatin sup sama madu jahe." kata Zara sambil menyerahkan nampan pada Arkan.


"Tangan saya lemas." kata Arkan sambil menunjukan tangannya. Arkan tidak mengada ngada entah kenapa tangannya menjadi lemas dan tremor sekarang.


Dengan telaten Zara menyuapi Arkan sambil sesekali menyeka keringat di dahi Arkan dan Zara merasakan suhu tubuh Arkan yang sedikit meninggi. Selesai sarapan Zara langsung memberi Arkan obat.


"Kamu sarapan dulu." kata Arkan pada Zara yanh sedang membereskan bekas makan Arkan. Zara membiarkan Arkan sendiri di kamar sementara dirinya membantu mamanya menyelesaikan pekerjaan rumah.


"Gimana Arkan?"


"Udah sarapan tadi ma. Udah Zara kasih obat juga. Sekarang Zara biarin istirahat dulu paling nanti juga ngantuk kena reaksi obat." kata Zara.


"Kamu sana temani Arkan aja nak. Dia suka manja kalau sakit mama biarin aja ada Alisya sama bude yang bantuin mama." kata Mama.


"Tapi ma.." kata Zara hendak membantah.


"Gak apa apa udah sana temani Arkan." Zara menurut ia kembali ke kamar. Dilihatnya Arkan sedang tertidur , Zara meraba kening Arkan.


"Masih demam." kata Zara berdialog sendiri. Zara berinisiatif untuk mengambil kompresan. Ia mengompres Arkan sambil sesekali mengusap dan memijit kepala Arkan. Tanpa Zara tahu sebenarnya Arkan tak tidur. Ia sejak tadi menikmati perlakuan Zara.


***


To be continued...


See you next part...

__ADS_1


__ADS_2