
Assalamualaikum...
Happy Reading...
Seakan tau gejolak dalam batin Zara Arkan mengeratkan tautan jarinya dengan jari Zara. Seolah memberikan keyakinan pada Zara bahwa akan baik baik saja. Seolah memberikan pernyataan pada Zara bahwa dirinya memilih Zara.
"Maaf. Kalian sepertinya harus bicara tak baik sambil berdiri di jalanan begini. Mungkin baiknya kita cari tempat gimana?" kata Zara menyarankan. Dan disaat itu sepertinya Almira baru sadar bahwa dirinya tak hanya berdua dengan Arkan, Almira juga melihat betapa eloknya tautan jari jemari Arkan dengan jari jemari mungil wanita cantik yang belum ia ketahui siapa namanya dan apa hubungannya dengan Arkan.
"Sepertinya memang begitu." kata Almira mengiyakan seolah dirinya menuntut penjelasan dari Arkan.
"Tidak perlu Zara. Kita pulang." kata Arkan. Almira menatap Arkan tak suka, ketika ia melihat sepertinya Arkan enggan bertemu dengannya.
"Mas it's okay. Semuanya harus selesai agar gak selalu jadi bayang-bayang." kata Zara seakan meyakinkan Arkan bahwa dirinya baik baik saja.
Arkan hendak melawan Zara tapi dipikir lagi Zara juga benar mungkin memang Arkan perlu mengenalkan Zara dan Almira. Karena itu juga sempat menjadi permintaan Zara beberapa waktu lalu. Arkan berharap keputusan Zara untuk mengajak mereka bicara dan keputusan Arkan mengiyakan keinginan Zara tidak akan menjadi boomerang bagi rumah tangga mereka nantinya.
Mereka akhirnya memutuskan untuk duduk bersama disalahsatu tempat makan.
"Ada yang ingin kau bicarakan lebih dulu?" tanya Arkan pada Almira.
"Iya, Al cuma mau memberitahu pada abang. Kalau dulu Al pergi karena Al masih punya cita cita bukannya Al gak mau sama abang." kata Almira.
"Tapi sekarang cita cita Al sudah tercapai bang. Al sudah lulis S2, Al juga sudah menjadi dosen di salahsatu universitas disini." kata Almira menjelaskan tentang dirinya.
"Ada lagi?" tanya Arkan.
"Iya jadi sekarang Al sudah siap jika abang mengajak Al menikah. Kalau dulu Al memang sudah siap menikah tapi keluarga Al mau Al mengejar cita cita lebih dulu. Dan sekarang keluarga Al sudah menuntut Al untuk segera menikah." jelas Almira.
"Menikahlah jika memang kamu sudah siap." jawab Arkan.
"Iya jadi kapan mas ke rumah Al?" tanya Almira.
"Tapi bukan dengan saya." kata Arkan tegas.
"Hah maksud mas apa?"
"Iya maksud saya jelas. Silahkan kau menikah jika memang diri kau sudah siap. Tapi bukan dengan saya. Karena sekarang saya sudah memiliki wanita yang saya pilih untuk mendampingi hidup saya." kata Arkan sambil memegang tangan Zara yang bebas di atas meja lalu menautkan jari jemari mereka. Zara yang awalnya diam dengan perasaan yang tidak menentu kini ia memberanikan diri menatap Arkan yang sedang tersenyum ke arahnya.
"Oh iya saya lupa. Zara kenalkan ini Almira teman kuliah mas. Dan Almira kenalkan ini Zara ISTRI saya." kata Arkan menegaskan kata istri.
"Zara." kata Zara sambil mengulurkan tanyannya dengan senyum yang menghiasi bibirnya.
"Almira." kata Almira sambil menerima uluran tangan Zara dengan senyum yang dipaksakan.
"Al pikir mas menunggu Al. Ternyata hanya Al sendiri yang menunggu." kata Almira.
"Realistis saja Almira. Kau bukan penulis yang bisa seenaknya mengatur cerita hidup saya. Jadi kau tak berhak berbuat semaumu dan menentukan apa yang harus saya lakukan." kata Arkan tegas.
__ADS_1
"Kamu perempuan apa kamu tidak merasakan perasaanku?" kata Almira pada Zara.
"Zara tak tau apa apa Almira. Kau tak harus menuntut penjelasan darinya. Jika bicara perasaan lebih berhak Zara yang bertanya kepada kau. Apa sebagai perempuan kau tidak mengerti perasaan Zara ketika wanita lain tiba tiba datang dan tak tau malu meminta suaminya untuk melamar dirinya?"
"Mas." kata Zara sambil mengusap lengan Arkan yang tampak mulai emosi.
"Tapi sekarang dia tau kalau suaminya pernah ingin menikahi wanita lain."
"Ya saya tak menutupi itu dari Zara. Dan kamu tau, luar biasanya Zara sangat mengerti saya dan sabar menghadapi saya. Terlalu bodoh saya jika harus melepaskan Zara demi orang yang telah menyia nyiakan saya." kata Arkan tegas.
"Apa kamu merasa menang?" tanya Almira pada Zara. Zara hanya diam bukan ia tak berani menjawab hanya saja Zara tak mau memperkeruh suasana.
"Jawab saya hei perempuan penggoda." kata Almira sambil menatap Zara tajam. Zara balas menatap Almira namun Zara mencoba tetap sabar dan tak dikuasai emosi. Lain Zara yang masih bisa sabar lain lagi dengan Arkan yang tak terima.
"Jaga bicaramu Almira. Tadi kau mengatakan kau sudah lulus S2 kan? Tapi sayangnya lisanmu tak mencerminkan jika kau wanita berpendidikan." kata Arkan menekankan suaranya. Arkan cukup tau diri untuk tak meninggikan suaranya karena mereka sedang berada di tempat umum.
Sebagai sesama wanita Zara bisa melihat jika ada kesedihan di mata Almira. Zara tau Almira sangat mengharapkan Arkan tapi disini posisi Zara lebih tinggi dari Almira Zara adalah istri Arkan ia lebih berhak atas Arkan.
Arkan sudah geram jika saja yang dihadapinya ini bukan wanita mungkin sejak tadi tangan Arkan sudah melayang untuk menyumpal mulut orang dihadapannya.
"Mbak Al Zara tau mbak Al masih mengharapkan mas Arkan. Tapi Zara yakin mbak Al bisa dapatkan yang lebih dari mas Arkan." kata Zara mencoba membesarkan hati Almira.
"Zara, kamu wanita saya juga wanita. Zara saya yakin usia kamu masih di bawah saya. Jalan kamu masih panjang Zara kamu harus punya cita cita jangan sampai langkah kamu hanya stop sebagai ibu rumah tangga Zara." kata Almira.
"Apa maksud kamu Almira?" kata Arkan menatap Almira. Almira mengabaikan Arkan.
"Kamu masih belia Zara. Kamu yang justru bisa mendapat yang lebih baik dari bang Arkan. Tolong lepaskan bang Arkan Zara." kata Almira dengan penuh harap. Tubuh Zara mendadak kaku. Wajah Arkan sudah memerah menahan emosinya.
"Stop Almira." kata Arkan dengan suara beratnya.
"Mbak maaf. Usia Zara mungkin di bawah mbak tapi disini posisi Zara lebih tinggi. Zara istri sahnya mas Arkan Zara lebih berhak atas mas Arkan. Kenapa baru sekarang mbak memperjuangkan mas Arkan kalau mbak sebegitu cintanya dengan mas Arkan? Mengapa bukan dulu saja mbak coba yakinkan orangtua mbak? Mengapa baru sekarang mbak ngemis ngemis pada Zara? Kenapa sekarang seolah Zara yang bersalah merebut mas Arkan dari mbak. Padahal jelas jelas mbak sendiri kan yang melepaskan mas Arkan." kata Zara yang mendadak berani berkata seperti itu. Arkan menatap Zara kagum ia tak menyangka Zara mempertahankannya. Tak salahkan jika Arkan beranggapan kalau Zara tadi mempertahankannya?
"Oke fine kalau kamu gak mau melepaskan abang Arkan. Tapi kamu maukah kamu berbagi abang Arkan dengan saya? " kata Almira pada Zara.
"Stop it Almira. Gila kau Almira tingkah laku kau sama sekali tak mencerminkan jika kau wanita berpendidikan."
"Al begini juga buat abang. Ayolah bang Al tau belum sepenuhnya abang melupakan Al kan?" tanya Almira.
Zara hanya bisa terdiam ia tak menyangka bertemu dengan Almira akan menjadi serumit ini. Awalnya Zara kira hanya Arkan yang masih mengharapkan Almira sesangkan Almira sudah bahagia dengan hidupnya. Tapi ternyata tidak, Almira juga masih mengharapkan Arkan dan Arkan? Entahlah lelaki itu terlalu pandai untuk membolak balik perasaannya. Zara tak tau keputusan apa yang akan Arkan berikan atas permintaan Almira itu. Zara takut, Zara tak mau mendengarnya.
"Zara pikir kalian perlu waktu berdua tanpa Zara." kata Zara sambil berdiri lalu pergi meninggalkan mereka.
Melihat Zara yang sudah pergi Arkan semakin geram dengan Almira.
"Kau..." kata Arkan dengan siara tertahan. Ia cukup menjaga perasaan Almira dengan tidak membentaknya di depan umum.
Arkan pergi, ia berjalan cepat untuk mengekar Zara. Akhirnya Arkan melihat Zara yang sedang turun di eskalator. Tak peduli dengan tanggapan orang Arkan berlari mengejar Zara. Arkan berhasil menghentikan langkah Zara setelah menuruni eskalator.
__ADS_1
"Lepas." kata Zara sambil menghentakan cengkraman tangan Arkan dipergelangan tangannya. Tapi Arkan tak melepaskannya Arkan menuntun Zara dan membawanya ke parkiran.
Jalanan di sore hari ini sangat ramai karena bertepatan dengan jam pulang kantor dan bubaran para pekerja. Dalam mobil mereka berdua sama sama diam. Belum sampai di rumah Adzan maghrib sudah berkumandang. Tanpa persetujuan Zara, Arkan menepikan mobilnya di salah satu masjid. Zara turun lebih dulu lalu memasuki masjid dan diikuti Arkan.
Sampai di rumah Zara turun terlebih dahulu lalu masuk, melihat mama, Alisya dan Sabiya sedang berkumpul di ruang keluarga Zara bergabung dengan mereka. Sedangkan Arkan ia memilih langsung masuk ke kamar.
"Arkan kenapa?" tanya Mama pada Zara.
"Cape kali ma." jawab Zara.
"Kalian gak kenapa kenapa kan?" tanya mama yang mulai curiga.
"Hehe enggak kok. Yaudah Zara ke kamar dulu ya ma, ca. Dadah Biya." kata Zara berpamitan agar mama tidak semakin jauh bertanya tentang dirinya dan Arkan.
Saat di kamar Zara tidak melihat Arkan tapi Zara yakin suaminya itu sedang berada di kamar mandi.
Selesai sama sama membersihkan diri Arkan dan Zara melaksanakan shalat Isya berjamaah. Mereka bisa dibulang jarang shalat berjamaah karena Arkan tau aturan jika laki laki itu wajib shalat di mesjid.
Zara hendak pergi meninggalkan kamar namun terlebih dahulu Arkan menghalanginya.
"Tunggu saya perlu bicara dengan kamu." suara barinton Arkan berhasil menghentikan Zara.
"Duduk." perintah Arkan tegas.
"Mas bicara aja Zara denger kok." kata Zara masih dengan posisi yang sama.
"Saya bilang duduk Azzara Nissa Muzaki."
Mendengar Arkan menyebutkan namanya lengkap membuat Zara merasa ketakutan. Zara duduk di dekat Arkan.
"Kenapa kamu malah mau meninggalkan saya dengan Almira Zara?" tanya Arkan dengan suara yang sudah tampak biasa.
"Sebelumnya kamu membela saya mempertahankan saya di depan Almira. Tapi kenapa kemudian kamu seakan luluh dengan permintaan Almira?" tanya Arkan lagi.
"Zara bisa lihat mas dia sangat berharap sama mas."
"Terus kamu mau apa? Membuang saya dari hidup kamu dan bembiarkan saya bersama Almira? Itu mau kamu Zara?" tanya Arkan.
"Kamu buat saya bisa melupakan Almira. Tapi setelah itu kamu dorong saya untuk menghampiri Almira?"
"Zara cuman mau kalian selesaikan masalah kalian agar tak ada yang merasa menyakiti dan disakiti." jawab Zara dengan suaranya yang bergetar.
"Lalu dengan begini apa kamu puas?" tanya Arkan berapi api.
***
To be continued...
__ADS_1
See you next part...
Terimakasih 💕💕💕