Biarkan Waktu

Biarkan Waktu
Part 2


__ADS_3

Sesuai dengan rencana, malam ini ba'da isya kediaman keluarga pak Akbar sudah rama oleh rombongan kekuarga pak Zain. Mereka sudah siap  di taman samping yang sudah diatur sedemikian rupa. Tak menunggu lama  acara dibuka dengan lantunan ayat suci Alquran yang dibacakan oleh Ahkam.


Selanjutnya yaitu keluarga pak Zain yang diwakili oleh pak Zain sendiri menyampaikan kata sambutan yang isinya ucapan terimakasih atas sambutan baik dari keluarga pak Akbar untuk menerima kedatangannya dan juga menyampaikan niat dan tujuan keluarganya datang ke kediaman keluarga pak Akbar.


Pak Akbar juga memberikan kata sambutan yang isinya ucapan terimakasih karena sudah bersedia untuk berkunjung kemudian permohonan maaf apabila dalam penyambutan tamu ada yang kurang berkenan dan yang terakhir menanggapi niat baik yang diutarakan oleh keluarga pak Zain serta menghadirkan Zara ke tengah acara.


Beberapa menit para tamu undangan menunggu, akhirnya Zara muncul dari arah dalam rumah yang didampingi oleh Abizar adiknya. Kedatangannya sukses membuat beberapa orang tertegun tak terkecuali Arkan.


"Zara sini nak." kata bunda menuntun Zara untuk duduk diantara Ayah dan bunda dan juga dihadapan Arkan.


"Nah ini putri kami." kata pak Akbar memecah keterpakuan para tamu yang sedari tadi selalu memperhatikan Zara.


Melihat putranya masih terpaku menatap Zara, pak Zain langsung menyenggol lengan Arkan.


"Istigfar Abang belum saatnya." kata pak Zain berbisik pada Arkan yang berhasil membuat Arkan mengalihkan pandangannya dari Zara.


"Ayo nak sekarang giliran kamu mengutarakan niat baik keluarga kita datang kemari pada yang bersangkutan langsung." kata pak Zain lagi untuk menyambung Acara. Walaupun Arkan malas dan terpaksa tapi ia juga tak mau mengecewakan dan mempermalukam keluarganya terutama orang tuanya. Alhasil ia langsung menuruti apa yang diperintahkan oleh papanya.


"Assalamu'alaikum Wr. Wb. Selamat malam semuanya. Saya Arkan Zaini Adriansyah datang kemari bersama keluarga berniat untuk mengkhitbah putri dari bapak Akbar untuk menjadi pendamping hidup saya. Apakah saudari Zara bersedia?" kata Arkan tegas dengan wajah yang dibuat setenang urusan hati biar Arkan sendiri yang merasakan.


Perkataan Arkan disambut dengan senyuman kebahagiaan hampir dari seluruh pasang mata yang menyaksikan. Tapi lain halnya dengan Zara mendengar perkataan Arkan jantungnya mendadak memiliki ritme yang tak beraturan, tangannya mendingin dan gemetar. Zara bingung jika sebelumnya ia sudah yakin dengan satu jawaban tapi mengapa saat ini keyakinan itu seolah sirna ketika bisa ia lihat dengan jelas ada raut keterpaksaan dari lelaki yang hendak dijodohkan dengannya. Zara pikir bagaimana nantinya jika tali pernikahan dirajut dengan keterpaksaan walau sama halnya Zara juga merasa terpaksa tapi sebisa mungkin ia kesampingkan perasaan itu dengan perasaan ikhlas menerima.


"Zara, sudah dengarkan? Jadi gimana jawaban Zara?" tanya Ayah (Pak Akbar) berhasil menyadarkan Zara dari lamunannya.


"Za.. Za.. Zara." kata Zara terbata kemudian menghentikan ucapannya lali mengambil nafas sebanyaknya.


"Bismillah Iya Ayah Insya Allah Zara terima." kata Zara mencoba untuk tidak menampakan keraguannya.


Semua yang menyaksikan serentak mengucapkan 'Alhamdulillah' sambil menghembuskan nafas lega. Tak terkecuali Arkan walaupun sebenarnya apapun jawabannya tak berpengaruh pada Arkan tapi entahlah mendengar gadis itu menjawab ya menerima ada kelegaan di hatinya setidaknya Arkan pikir ia tidak mengecewakan keluarganya terutama kedua orangtuanya.


Mama Arkan langsung berdiri dari duduknya begitu juga dengan Zara, Mama Rani langsung memakaikan cincin pada jari manis Zara.


Malam itu juga mereka langsung menentukan untuk tanggal pernikahan dan telah disepakati jika pernikahan akan diselenggarakan kurang lebih 2 bulan lagi tepatnya setelah Zara wisuda. Selesai menemtukan tanggal para tamu dipersilahkan untuk menikmati aneka hidangan yang telah disediakan. Kecuali Zara, ia lebih memilih melipir kearah gazebo Zara merenung sambil memandangi cincin yang baru beberapa menit lalu melingkar dijarinya memikirkan apakah keputusan yang ia ambil ini benar? Ia rasa masih ada keterpaksaan bisakah suatu saat rasa keterpaksaan itu terkikis atau justru semakin menebal dan menjadi boomerang untuk langkahnya kedepan. Entahlah Zara hanya bisa berdo'a dan menebalkan rasa percayanya jika semuanya akan baik baik saja.


"Hai. Assalamu'alaikum." Sapa seorang wanita yang menyadarkan Zara dari lamunannya.


"Eh Waalaikumsalam. Duduk." kata Zara sambil mempersilahkan wanita tersebut duduk.


"Kalau boleh aku tau kenapa kok kayaknya kakak melamun?" tanya wanita itu. Zara sedikit mengerutkan keningnya karena wanita itu memanggilnya kakak padahal jika dilihat sih sepertinya wanita berusia diatasnya apalagi melihat ia menggendong anak kecil yang ditaksir usianya muangkin 2 tahunan.


Sadar dengan keheranan Zara wanita itu memperkenalkan diri


"Hehe Aku Alisya adiknya abang Arkan dan ini Sabiya anaku usianya 30 bulan." kata Alisya menjelaskan.


"Oh iya. hai sabiya." kata Zara sambil menoel noel pipi sabiya.


"Hallo aunty." kata Alisya menirukan suara anak kecil dan disambut tawa oleh Zara.


"Kakak sudah makan?" tanya Alisya pada Zara.


"Ah jangan panggil kakaklah kita sepertinya sebaya." kata Zara

__ADS_1


"Hehe Aku justru lebih tua usiaku 23 tahun. Bolehkan aku panggil kakak itung itung membiasakan panggilan buat calon kakak ipar kan." kata Alisya.


"Yayaya terselah mama Sabiya saja lah." kata Zara yang dibalas dengan tawa oleh Alisya.


"Zara harus panggil kakak apa?" tanya Zara pada Alisya.


"Hmm panggil Ica aja itu panggilan aku sehari hari."


"Oke kakak Ica."


"Gausah pake kakak aku kan disini adek."


"Hmm sungkanlah hehe."


"Yaudah senyamannya kakak ipar saja."


Saat itu juga mereka langsung bisa saling mengakrabkan diri. Gadis kecil yang belum genap 3 tahun itu juga tampak nyaman dan anteng dalam gendongan Zara. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan interaksi mereka. Raut wajah yang sulit diartikan sungguh terlihat tegas diwajah Arkan.


"ekhem." deheman Hafidz adik ipar Arkan membuat Arkan menoleh kearahnya.


"Ada apa fidz?" tanya Arkan.


"Abang butuh waktu buat ngobrol dengan calon istri? Kalau butuh biar aku panggil Ica. Terus abang samperin deh kesana gak berdua kok kan ada Sabiya." kata Hafidz mencoba menebak kakak iparnya. Arkan hanya diam, tanpa kata lagi Hafidz langsung menghampiri Alisya.


"Assalamu'alaikum. Maaf mengganggu nih. Ica temenin abang dulu yuk." ajak Hafidz pada istrinya.


"Waalaikumsalam." jawab Ica dan Zara berbarengan.


"Kesana sebentar." jawab Hafidz asal.


"Zara boleh kan titip Sabiya dulu?" kata Hafidz lagi.


"Oh iya boleh." kata Zara yang masih memperhatikan Sabiya yang sudah mulai mengantuk dalam gendongannya.


"Mau kemana sih bang pake ninggalin Sabiya segala?" tanya Alisya.


"Udah Ah ayo sayang." kata Hafidz yang berhasil membuat Alisya malu malu sedangkan Zara merasakan telinganya panas.


Mereka pergi dari situ meninggalkan Sabiya dengan Zara. Saat sampai di depan Arkan.


"Tuh bang cepet manfaatkan situasi mumpung yang lain masih pada makan. Kalau enggak gercep nanti keburu pulang." kata Hafidz.


"Oh jadi Abang nyuruh Ica kesini cuma biar Abang Arkan nyamperin Zara?" tanya Ica yang mulai mengerti.


"Iya. Soalnya Abang Arkan dari tadi fokus merhatiin kalian terus." jawab Hafidz.


"Sok tau." jawab Arkan hendak pergi ke arah lain yang bukan menghampiri Zara.


"Ett Abang mau kemana? Bener kata Abang Hafidz Abang mending samperin Zara, paling enggak kenalan lah hehe." kata Alisya.


"Enggak belum mahram juga." jawab Arkan spontan.

__ADS_1


"Ih kan ada Sabiya gak berduan. Sekalian nanti Abang ambil Sabiya dari Zara ya. Udah ah ayo Abang Hafidz kita biarkan sejoli ini." kata Alisya menarik tangan Hafidz.


Sedangkan Arkan hanya menggerutu kesal.


Hingga beberapa menit Arkan masih tetap dalam posisinya. Arkan masih ragu untuk menghampiri Zara setidaknya Arkan butuh alasan jika nanti Zara bertanya mengapa dirinya ada disana. Setelah dipikirkan oke iya putuskan untuk menghampiri dan jika ditanya alasannya maka Arkan akan menjawab untuk mengambil Sabiya.


"Assalamu'alaikum." kata Arkan saat sudah berada didekat Zara.


"Waalaikumsalam." jawab Zara. Setelah ini hanya keheningan yang menemani mereka Arvan maupun Zara belum ada yang mau memulai pembicaraan. Sedangkan Sabiya sudah tertidur nyenyak dalam gendongan Zara.


"Bapak kesini mau jemput Sabiya kan? Nih Sabiya nya udah tidur." kata Zara membuka pembicaraan sambil terus memandangi Sabiya yang sangan menggemaskan.


"Hah. Eh iya. Tapi sebenarnya tadi saya habis angkat telepon." kata Arkan yang nampat gugup karena alasan yang sudah ia pikirkan dapat tertebak oleh Zara dan juga tunggu apa tadi Zara memanggilnya apa? Bapak? Dikira Arkan setua itu kali. Zara hanya menggangguk tanpa menoleh.


"Boleh saya duduk." kata Arkan yang dari tadi masih setia berdiri. Zara langsung menoleh ia sama sekali tak tau jika dari tadi Arkan hanya berdiri.


"Silahkan." kata Zara singkat sambil menggeser duduknya. Arkan pun langsung mendudukan dirinya.


Hening kembali menemani keduanya.


"Apa alasan kamu mau menerima perjodohan ini?" tanya Arkan tiba tiba. Tubuh Zara tiba tiba kaku, jawaban apa yang harus Zara ucapkan.


"Gak mungkinkan kamu menerima tanpa alasan." kata Arkan lagi.


"Hmm." jawab Zara dengan gumamannya.


"Jadi apa alasannya?" tanya Arkan lagi.


"Entah masuk akal atau tidak tapi alasan Zara hanya tidak ingin mengecewakan orangtua Zara dan juga tidak ingin mereka berdosa karena mengingkari janji yang sudah mereka buat." jawab Zara.


"Oke. Alasan kita kurang lebih sama hanya sama sama karena orang tua. Semoga apa yang menjadi alasan kita tak akan menyakiti diri kita sendiri nantinya." jawab Arkan.


"Waktu 2 bulan itu masih panjang. Apapun bisa terjadi, kalau bapak mau membatalkan Zara sama sekali gak keberatan." entah keberanian dari mana Zara menjawab begitu.


"Lihat disana orangtua saya dan orangtua kamu tampak sangat bahagia harus saya setega itu merusak kebahagiaan mereka?" tanya Arkan. Lagi lagi Zara hanya bisa diam.


"Tenang saja bagaimana pun nantinya  Insya Allah bertanggungjawab dengan apa yang telah saya putuskan." jawab Arkan.


"Yasudah ini sudah malam. Sebentar lagi juga mungkin keluarga saya pulang, sini Sabiya biarkan dengan saya." Arkan mengambil Sabiya dari gendongan Zara.


"Oh iya saya lupa tadi saya diberitahu mama kalau lusa ada agenda bertemu dengan WO dan saya diperintah untuk datang bersama kamu. Semoga kamu gak keberatan karena ini perintah mama." kata Arkan.


"Ta..tapi."


"Kalau kamu keberatan kamu protes sendiri dengan mama ya. Saya malas berdebat dengan mama. Saya permisi Assalamualaikum." kata Arkan sambil melangkah pergi.


"Waalaikumsalam." jawab Zara pelan.


'Lelaki miskin ekspresi.' kata Zara bergumam sendiri.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2