Biarkan Waktu

Biarkan Waktu
Part 21


__ADS_3

Happy Reading...


Setelah dari Rumah Sakit mereka langsung pulang. Belum masuk ke dalam rumah mereka langsung di sidang oleh sang mama yang terlalu antusias mendengar kabar cucu barunya.


Walaupun cucu dari mereka nantinya adalah cucu kedua di keluarga Arkan tapi tak mengurangi antusias keluarga Arkan terutama sang mama. Saat baru saja mereka memberitahu kalau Zara hamil mama langsung mengeluarkan sebuah perintah kalau Zara harus banyak istirahat dan jangan kecapean.


Arkan dan Zara sudah berada di kamar sekarang.


"Saya pergi ke kantor. Dan inget pesan saya. Kamu jangan cape cape, harus banyak istirahat, jangan lupa makan, minum susu, vitamin, jangan pergi keluar rumah tanpa saya, jangan pake high heels, jangan keseringan naik turun tangga dan jangan makan sembarangan terutama makanan pedas." kata Arkan memberikan petuah.


"Mas Zara ini cuman hamil bukan sakit keras kenapa banyak banget larangannya sih?" kata Zara terlalu kesal dengan sikap Arkan yang menurut Zara berlebihan.


"Saya tau. Tapi yang kamu kandung itu anak saya. Saya gak mau anak saya kenapa napa." jawab Arkan.


"Iya tapi bukan berarti Zara harus diam terus mas. Bosanlah kalau Zara cuman diam terus di kamar." protes Zara.


"Cukup turuti apa yang saya perintahkan jangan banyak membantah. Inget kata dokter kamu tidak boleh stres dan banyak pikiran." kata Arkan.


"Iya tapi dengan mas menerapkan banyak larangan itu yang membuat Zara stres mas. Mas percaya aja sama Zara, Zara tau batasan kok Zara juga gak akan memaksakan diri. Yang Zara kandung juga anak Zara." jawab Zara.


"Zara juga gak enak sama mama mas. Masa kerjaan Zara cuman sekedar makan tidur terus diem di kamar. Mas boleh deh larang Zara berkegiatan di luar rumah tapi jangan larang Zara berkegiatan di dalam rumah. Ada bude juga jadi pekerjaan rumah juga gak berat. Ayolah mas Zara juga gak akan maksain kalau Zara cape Zara istirahat." kata Zara bernegosiasi.


"Cukup lakukan apa yang saya katakan jangan membantah. Jangan buat mood saya hari ini rusak dengan pertengkaran tidak bermutu ini. Saya masih banyak pekerjaan di kantor. Kamu jaga diri baik baik kabari saya kalau kamu butuh sesuatu. Saya berangkat." kata Arkan mengulurkan tangannya untuk di cium Zara kemudian mencium kening Zara.


"Dasar suami dingin, otoriter dan miskin ekspresi." omel Zara saat Arkan sudah berjalan kearah pintu dan menjauhinya.


"Saya dengar Zara. Jangan terlalu benci dengan saya jika tidak ingin nanti anak kita akan 100% mirip saya." jawab Arkan kemudian menutup pintu.

__ADS_1


Hari hari setelah mengetahui Zara hamil menjadi sangat berbeda jika biasanya Zara selalu aktif berkegiatan seperti membantu pekerjaan rumah, memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Sekarang kegiatan Zara hanya menonton acara tv atau film, tidur, makan dan bermain handphone. Sangat membosankan, ditambah lagi sekarang tidak ada Sabiya yang sedang ikut dengan orangtuanya. Jujur Zara merasa tidak enak dengan mama mertuanya. Disini posisi Zara sebagai menantu juga masih tinggal di rumah mertua masa Zara cuman sekedar makan tidur. Walaupun Zara tau mama mertuanya tak pernah mempermasalahkan itu.


Tanpa sepengetahuan Arkan Zara masih suka memaksa membantu pekerjaan rumah. Karena Zara juga merasa fisiknya baik baik saja ia tak merasakan ada perubahan stamina dari sebelum ia dinyatakan hamil.


Hari ini tanpa sepengetahuan Zara Arkan pulang lebih cepat. Zara yang sedang berkutat di dapur menjadi panik sendiri ketika melihat Arkan sekarang sudah ada dihadapannya.


"Kurang jelas perintah saya? Perlu saya kurung kamu di kamar?" tanya Arkan dengan nada dinginnya. Zara hanya diam.


"Mama mana?" tanya Arkan.


"Mama ke kondangan katanya." jawab Zara pelan.


"Kamu ikut saya." kata Arkan menarik lengan Zara. Arkan menarik Zara keluar rumah kemudian membawa Zara pergi.


"Kita mau kemana?" tanya Zara takut. Arkan hanya diam.


Benerapa menit berada di perjalanan mereka sekarang sampai di sebuah halama rumah yang luas. Rumah dua lantai bercat putih dengan halaman yang luas dan rindang karena terdapat beberapa pohon yang berukuran besar dan kecil.


"Turun." kata Arkan.


"Ini rumah siapa?" tanya Zara.


Tanpa bicara Arkan berjalan ke arah pintu sebelah Zara membukakan pintu dan membuka sabuk pengaman Zara lalu menuntun Zara untuk keluar karena dari tadi Zara masih betah di dalam mobil.


Arkan membawa Zara masuk ke dalam rumah tersebut.


"Ini rumah siapa mas? Gak sopan loh mas langsung masuk aja begini." kata Zara.

__ADS_1


"Alasan kamu selalu membantah ketika saya suruh kamu beristirahat kan selalu karena tak dengan mama. Jadi sekarang kamu gak punya alasan lagi. Minggu depan kita pindah kesini. Ini rumah kita." jawab Arkan.


"Maksudnya?"


"Iya ini rumah kita. Kamu jangan berpikir rumah ini saya siapkan untuk saya dengan masalalu saya." kata Arkan seakan bisa membaca yang ada di otak Zara.


"Rumah ini saya desain sendiri dan pembangunannya baru mulai 6 bulan lalu. Saat kita menikah rumah ini sudah jadi. Awalnya saya ingin mengajak kamu tinggal disini. Tapi saya merasa belum yakin awalnya. Saya pikir sekarang mungkin sudah saatnya. Karena ini juga kewajiban saya sebagai suami untuk memberikan kamu tempat tinggal yang nyaman dan layak." kata Arkan.


"Mas maafin Zara." kata Zara.


"Kenapa kamu meminta maaf?"


"Zara takut mas tersinggung karena alasan Zara yang selalu mengatakan tak enak dengan mama. Maafin Zara bukan Zara bermaksud apa apa tapi jujur Zara segan dengan kebaikan mama sama Zara. Sebagai mertua mama itu sangat baik mas, Zara jadi tak enak hati sendiri kalau mengecewakan mama. Zara hanya ingin berusaha membalas kebaikan mama." kata Zara.


"Saya mengerti. Seharusnya saya yang minta maaf sama kamu. Katakanlah saya mengambil kamu dari keluarga kamu lalu membawa kamu masuk ke lingkungan keluarga saya yang mungkin sangat asing bagi kamu. Apalagi ketika kita sama sama belum bisa menerima. Ketika saya hanya perlu beradaptasi dengan kamu sedangkan kamu harus beradaptasi dengan saya dan keluarga saya. Saya tau bukan hal mudah untuk membaurkan diri menjadi satu dengan lingkungan baru. Tapi terimakasih kamu sudah berusaha. Sebenarnya saya sudah lama ingin mengajak kamu pindah kesini." ucapan Arkan sedikit di jeda. Arkan menarik Zara untuk duduk di sofa yang sudah tersedia.


"Tapi permasalahan kita selalu mengurungkan niat saya untuk mengajak kamu pindah kesini. Mungkin sekarang momennya." kata Arkan.


"Saya juga sudah beritahu mama papa juga ayah bunda kalau minggu depan kita pindah kesini. Mereka sudah setuju, sekarang giliran kamu. Apa kamu mau saya bawa tinggal disini?"


Zara diam, Zara masih terkejut Arkan si manusia dingin, otoriter dan miskin ekspresi itu kenapa bisa tiba tiba berubah begini?


***


To be continued...


See you next part...

__ADS_1


__ADS_2