Biarkan Waktu

Biarkan Waktu
Part 10


__ADS_3

Menghening sejak ucapan Zara tadi mereka berdua sama sama diam. Arkan masih tetap dalam posisinya memeluk Zara walau tak sekencang tadi.  Sedangkan Zara ia berusaha menetralkan kembali emosi dan perasaannya.


"Apa sebegitu fatal kesalahan yang saya buat?" tanya Arkan memecah keheningan.  Zara hanya diam.


"Saya sudah menduga semuanya pasti berawal karena malam itu. Apa kamu menyesal telah memberikannya pada saya? Saya melakukannya juga atas izin dari kamu." kata Arkan lagi.


"Zara gak pernah nyesel. Bagaimana pun juga itu hak mas dan kewajiban bagi Zara. Jujur Zara hanya kecewa,  Zara kecewa dengan diri Zara sendiri Zara sudah mengira jika kedepannya akan baik baik saja dan perlahan pernikahan ini akan membawa kebahagiaan.  Tapi Zara salah Zara terlalu mendahului Allah disini." jawab Zara.


"Saya minta maaf." jawab Arkan.


"Mas gak perlu minta maaf jika mas memang tidak merasa ada kesalahan yang mas lakukan."


"Kamu jangan menjadikan saya seolah orang yang tak bersalah. Jelas disini salah saya. Saya minta maaf tolong beri saya kesempatan untuk memperbaikinya, kita sama sama berjuang." kata Arkan.


"Mas jangan memaksakan Zara sekarang tau kalau di hati mas itu ada nama wanita yang mas harapkan. Percaya sama Zara keluarga kita gak akan baik baik aja, rumah tangga kita gak akan berdiri kokoh kalau dari kita sendiri masih menyimpan hal yang mungkin suatu saat akan menggoyahkan rumah tangga ini. Zara gak menyalahkan mas, Zara tau melepas yang berharga itu memang berat. Maka dari itu Zara pikir lebih baik kita mundur pelan pelan. Toh janji kedua orang tua kita juga sudah terlaksana. Janji mereka kan hanya sampai menjodohkan kita. Untuk urusan berjodoh berapa lama itukan hukan kuasa kita." kata Zara mencoba berbicara setenang mungkin.


"Percaya atau tidak ketika saya memutuskan untuk menerima kamu menjadi istri saya. Saya merasa yakin jika kamu mampu membuat saya melupakan kenangan kenangan dimasa lalu saya. Bagaimana tidak pertama kali saya melihat kamu tanpa kamu melakukan apapun kamu sudah bisa membuat saya sejenak melupakan yang lainnya. Kamu membuat saya aneh karena harus rela mengurusi pernikahan sendiri demi untuk mendapatkan sesuai yang diinginkan karena saya berharap menikah sekali dalam seumur hidup. Sesaat setelah ijab qobul saya ucapkan saya merasa perasaan saya dibuat tak menentu saya seperti melayang bahagia tanpa saya sadari bahwa pernikahan yang terjadi sebelumnya saya tolak mentah mentah." Arkan diam ia menghela nafas dan Zara air matanya menetes sejujurnya ia ingin melihat Arkan ia ingin melihat matanya apa ada kebohongan dari setiap kata yang Arkan ucapkan?  Tapi Zara terlanjur malu untuk membalikan badan dan menatap Arkan.


"Kamu tau tanpa kamu melakukan apapun kamu berhasil membuat saya banyak berharap dengan pernikahan ini. Bagaimana tidak sejujurnya awalnya saya hanya ingin pernikahan ini hanya untuk menepati janji kedua orangtua saya. Tapi entah apa yang saya rasakan hati dan pikiran saya menjadi berhatap pernikahan ini akan menjadi satu satunya dan selamanya bagi saya walaupun saya sadar awal pernikahan ini buka berasal dari dua insan yang saling mencintai. Tapi saya pikir rencana Allah itu selalu yang terbaik. Semakin melihat kamu menjalankan kewajiban kamu sebagai istri dengan baik semakin membuat saya malu dan takut tak bisa menjadi suami yang baik bagi kamu. Maka dari itu sejak beberapa waktu lalu saya mulai mengumpulkan keberanian untuk memulai dengan tindakan tindakan walaupun mungkin tak sepenuhnya kamu sadari." kata Arkan.


Pertama kalinya bagi Zara mendengar Arkan berbicara panjang lebar seperti itu bahkan Arkan sampai harus sering menarik napasnya karena terlalu panjang berbicara. Saat ini julukan dari Zara bahwa Arkan adalah pria yang irit bicara malam ini julukan itu tak berlaku.


"Tapi kebahagian mas buka pada Zara. Bahkan alam bawah sadar mas saja mampu memikirkan yang lain saat mas bersama Zara." jawab Zara pelan.

__ADS_1


"Jika membuang dan melupakan masalalu yang menyakitkan itu semudah ombak menghapuskan tulisan dipasir pantai maka sudah saya lakukan sejak dulu. Jauh sebelum saya mengenal kamu. Tapi sialnya melupakan masalalu itu tak semudah itu makanya saya berharap hadirnya kamu bisa membantu saya sedikit demi sedikit membuang semua masalalu saya. Tolong jangan mundur ketika kita sama sekali belum merasakan kemajuan. Jangan roboh ketika kita sama sekali belum membangun.  Jangan berhenti ketika kita sama sekali belum melaju." kata Arkan lagi.


"Saya tak bisa menjanjikan banyak karena saya tak tau apa yang akan terjadi kedepannya.  Saya hanya akan berusaha membuktikan semampu saya dan bertanggungjawab terhadap janji dan perkataan saya." jelas Arkan lagi.


Zara diam ia tak tau lagi harus bagaimana Arkan sudah mencoba menjelaskannya bahkan yang tak Zara duga Arkan sedikit menceritakan apa yang Arkan rasakan pada Zara. Walau Zara yakin yang Arkan rasakan belum sampai pada tahap cinta begitu juga dengan apa yang Zara rasakan pada Arkan.


Merasa tak ada respon apapun dari Zara membuat Arkan sedikit kesal bagaimana mungkin seorang Arkan yang dingin dan irit bicara harus menurunkan egonya untuk bisa berbicara panjang lebar untuk menjelaskan sesuatu tapi tak mendapat respon sama sekali. Arkan menarik napas lalu menghembuskannya kasar. Sedangkan Zara ia masih tak tau harus menanggapi Arkan seperti apa,  Zara putuskan untuk menutup matanya mencoba tertidur siapa tau dengan tidur perasaan dan pikirannya bisa jauh lebih baik. Arkan mendekatkan kembali tubuhnya pada Zara ia juga semakin mengeratkan pelukannya pada Zara.


"Saya tau kamu belum tertidur. Tapi tak apa,  tidurlah maafkan saya." kata Arkan sambil mencium puncak kepala Zara lalu ia juga mencoba memejamkan matanya.


Sepulang shalat subuh berjama'ah di masjid Arkan langsung pergi ke dapur ia sudah hapal jika pagi pagi para wanita pasti sedang sibuk menyiapkan sarapan.


"Assalamualaikum..." sapa Arkan sambil memeluk Zara dari belakang lalu mencium kepala Zara yang tertutup jilbab."


"Masih pagi kali bang udah maen peluk peluk aja." kata Alisya.


"Iri ya. Mangkanya cepet suruh Hafidz pulang jangan terbang terus." kata Arkan. Sedangkan Zara ia sedang berusaha melepaskan diri dari pelukan Arkan dengan memukul punggung tangan Arkan yang melingkar di perutnya.


"Mas lepas." kata Zara pelan.


"Apa sih sayang udah biar aja dia mah cuma iri sama kita dia kan suaminya terbang terus." kata Arkan meledek Alisya.


Zara mematung sungguh ia kaget dengan perlakuan Arkan pagi ini. Bahkan sejak pembicaraan semalam Zara belum berbicara apa apa. Tapi Arkan sudah memulai pagi ini dengan tindakan yang drastis. Jujur Zara tak tau semuanya Arkan lakukan dengan tulus atau hanya sekedar formalitas karena statusnya sebagai suami.

__ADS_1


"Gak usah ribut pagi pagi bisa?" kata Mama pada kedua anaknya.


"Abang tuh ngeledek terus Ica." kata Alisya mengadu pada mamanya.


"Mas mending kesana deh gak usah ganggu di dapur." kata Zara.


"Nah bener tuh kak sana usir aja suami kakak itu." kata Alisya.


"Berisik." kata Arkan pada Alisya.


"Mas udah deh sana." kata Zara mengusir Arkan.


"Iya Arkan udah sana kamu gak usaha bikin rusuh dapur pagi pagi gini." kata mama ikut mengusir Arkan.


"Ini kenapa sih pada ngusir Arkan gini." kata Arkan.


"Mas udah cepet kesana." kata Zara menekankan ucapannya.


"Oke oke. Kamu jangan rindu yaa." kata Arkan sambil colongan mencium pipi Zara. Blush seketika pipi Zara memerah. Sedangkan Arkan ia sesegera mungkin pergi dari dapur ia merasa aneh sendiri dengan tingkahnya pagi ini. Jujur berperilaku seperti tadi membuat Arkan geli sendiri ada perasaan aneh yang tak Arkan ketahui pasti apa namanya yang jelas jantungnya berdetak cepat seperti saat dirinya selesai berlari maraton.  Arkan tau dan sadar langkah yang ia lakukan mungkin terlalu drastis. Tapi Arkan tak mau mundur ia sudah bertekad, jika dengan pergerakan yang perlahan Zara belum bisa melihat perubahan Arkan mungkin dengan perubahan seperti ini Zara bisa sadar kalau dirinya memang mau berusaha mencoba dan sudah sangat yakin untuk memilih Zara dan menjalankan kehidupannya bersama Zara.


***


**To be continued...

__ADS_1


See you next part**...


__ADS_2