
Dua bulan sudah berlalu , sekembalinya Meilin dari seminar itu.
Tampak Yuyun baru tiba dibilik mereka sepulang bekerja pada pukul tiga sore.
" Mell..aku diterima kerja di Jakarta ." kata Yuyun kepada Meilin . Yang tengah bermalas - malasan seperti biasanya ditempat tidur , karena sedang off day.
" Apa ?" sontak Meilin terbangun dengan wajah yang tegang dan kaget.
"Sejak kapan kau membuat lamaran kerja ke Jakarta Yun ? " tanya Meilin.
"Sudah seminggu yang lalu . Pada saat itu kau tengah berada diluar kota . Kau tau sendiri bahwa kau tidak memiliki Ponsel , bagaimana caraku mengabari mu ?" sahut Yuyun menjelaskan.
"Trus... kau akan meninggalkan aku disini ? sendiri ?" tanya Meilin , dengan raut wajah sedihnya .
Yuyun terdiam . Dia tau itu sangat berat bagi Meilin. Pun Yuyun tidak memiliki kata - kata yang tepat untuk menjawap pertanyaan itu.
Untuk sekarang ini hanya Yuyun yang dia punya . Dan sekarang Yuyun juga akan pergi meninggalkannya . Sama seperti Maminya.
Pastilah Meilin berpikir Yuyun akan pergi dan tidak akan pernah kembali lagi , sama seperti yang Maminya lakukan padanya setelah Papinya meninggal.
" Baiklah , aku juga tidak boleh egois . Itu juga adalah untuk masa depanmu .Mungkin juga yang telah kau impikan selama ini ." ucap Meilin lagi , dengan muka masam , dan kembali tiduran dengan memunggungi Yuyun.
"Maafkan aku Mel ." ucap Yuyun dalam hatinya.
"Mel..apakah kau sudah makan ? aku bawa makanan nihh !" tanya Yuyun pura - pura semangat . sambil membuka plastik kantongan yang dia bawa barusan.
Terlihat wanita itu hanya diam saja dan pura - pura tidur.
__ADS_1
Keesokan paginya . Seperti biasa , mereka bangun dan membuat serapan .Tetapi tetap seperti semalam . Saling diam . diam . dan diam. "ngit ngit ngit... " hanya terdengar suara nyamuk .
Ketika mereka berangkat kerja pun , mereka tampak tetap saling diam dan diam. lagi lagi Hanya suara deburan ombak yang terdengar mewakili kesunyian itu .
"Aku jalan ya ." ucap Yuyun , setelah mengantar Meilin ketempat kerjanya . seperti biasa yang mereka lakukan tiap pagi .
" Iya , hati - hati ." jawap Meilin datar , tampa menoleh lagi pada Yuyun.
Yuyun pergi ketempat kerjanya hanya untuk mengurus surat resignnya saja . Selebihnya ia hanya pamit pada teman - teman kerjanya disana .
Meilin melangkah masuk keruangannya , setelah absen . Ia berjalan dengan langkah gontai . Ucapan Yuyun masih terngiang - ngiang ditelinganya.
Pagi itu Meilin hanya tampak melamun saja dimeja kerjanya . Tampa mengerjakan apapun .
Pun waktu Sudah menunjukan pukul Dua siang , namun perutnya tetap tidak terasa lapar , padahal tadi pagi serapan cuma sedikit.
"Mengapa semua orang - orang yang kusayangi meninggalkan aku ?" ucap Meilin lirih , menyeka air matanya yang tampak sudah mengalir.
Tampaknya ia sangat tidak bersemangat untuk kerja.
Bahkan Briefing yang dilakukan pagi itu pun ia tidak hadiri .
Telepon diruangannya berbunyi , membuyarkan lamunannya , dan itu dari ruangan Robert.
" Bukan kah Pak Robert berada diluar kota ?" bathin Meilin , ia sangat kaget dengan panggilan telepon dari ruangan Robert tersebut. Kesedihannya hari itu membuatnya mengabaikan semua .
"Haloo selamat siang pak ! " sapa Meilin.
__ADS_1
"Hallo Ibu Meilin selamat siang juga ." sahut Robert.
"Tolong ibu keruangan saya sebentar
. " pinta Robert dari ujung telepon.
"Baik Pak ." jawap Meilin menutup telepon itu.
Dengan sangat malas Meilin beranjak dari bangkunya dan melangkah keluar ruangannya . Lalu mengetuk pintu ruangan Robert . setelah terdengar jawapan "masuk" dari dalam ruangan itu , Meilin pun membuka pintu dan masuk keruangan tersebut .
"Ibu Meilin , tolong Dokumen ini diselesaikan beserta materinya ya . hari senin kita akan Meeting ." pinta Robert , yang tampak begitu sibuk me-ngechek ulang Dokumen yang akan diserahkan pada Meilin.
"Baik Pak ." ucap Meilin , tampa semangat.
"Apakah Ibu Meilin sedang sakit ?" tanya Robert , ketika melihat wajah Meilin yang tampak sangat tidak bersemangat itu .
"Hanya sedikit tidak enak badan Pak ." jawap Meilin , menunduk , menahan air matanya.
"Apakah Ibu Meilin ingin saya antar ke Dokter ?" tanya Robert lagi , terlihat sangat kuatir.
"Tidak perlu pak , terima kasih . Sedikit istirahat besok , pasti saya akan pulih lagi ." sahut Meilin , tersenyum . Senyum terpaksa.
"Baiklah jika begitu . Kabari saya segera jika Ibu Meilin tidak bisa ikut meeting hari senin ." kata Robert lagi.
"Baik pak ." sahut Meilin.
Kemudian pamit dan berlalu dari ruangan itu
__ADS_1