Bilamana Hari Itu Tiba

Bilamana Hari Itu Tiba
SENYUM GENIT


__ADS_3

Meilin dan Hebrew tampaknya tidak menyadari mengapa teman - temannya memandang mereka dengan tatapan aneh.


"Ada apa ? " tanya Hebrew . Sembari mengangkat alisnya


"Genggam tanganku jangan pernah le-passs-kan ...." ledek seorang temannya , dengan nyanyian , sembari terus melihat kearah tangan Meilin dan Hebrew yang tampak masih bergandengan tangan.


Sontak Meilin dan Hebrew kaget melihat tangan mereka bergandengan , dan seketika mereka berdua langsung spontan menarik tangan msreka masing - masing dengan kasar dan tiba - tiba.


"Maaf Bu Mel...." ucap Hebrew , dengan wajah memerah.


Meilin pun hanya diam saja . Wajahnya juga tampak merah semua , ia sangat malu . Ia sungguh tidak menyadari akan kejadian itu.


"Kemarilah , mari duduk bersama dengan kami Nona . Abaikan pria breng- sek itu . " pinta seorang pria. Menatap Hebrew dengan tatapan menyelidik .


"Mmm..." Meilin pun kemudian duduk dibangku yang ditawarkan pria itu . Kebingungan masih tampak diwajah Meilin . Mengapa ia tampak tidak sadar bahwa Hebrew sedang menggandeng tangannya.


"Heiii Brother...apakah kau tidak bersedia mengenalkan teman Wanitamu ini ? " ledek seorang pria , yang tentunya masih bagian dari sekumpulan dari temannya dibawah tenda tersebut.


"Ouh ya , ya, ya...ini Ibu Meilin , Assistand Kakakku Robert di Hotelnya ." kata Hebrew masih sedikit gugup , terlihat masih tidak enak Hati dengan kejadian tadi.


Maaf , saya lupa mengenalkan diri saya . Nama saya Meilin..." ucap Meilin sambil menyalami teman - temannya Hebrew . Teman - temannya Hebrew juga mengenalkan diri mereka masing - masing kepada Meilin.


"Heiii Bung , dimana kau menyembunyikan Wanita secantik ini ? mengapa aku tidak bisa mengendusnya ?" canda salah satu pria itu lagi.


Mereka serentak sontak tertawa terbahak - bahak bersama . Keadaan disana tampak jadi sangat rame setelah kehadiran Meilin.


"Tidak perlu sungkan ya , anggap saja teman sendiri ." pinta seorang laki - laki , yang bagian dari kumpulan itu juga.


"Baik..." jawap Meilin , dengan senyuman yang menghanyutkan . Hati - hati . 😂😂😂😂


*


"Baiklah aku akan pergi berenang ." kata Meilin kepada Hebrew , setelah selesai mengenakan pakaian renangnya , beberapa jam setelah mereka bercanda gurau.


"Ingin aku temani ?" tanya Hebrew .


"Kau disini saja Bung , biar aku saja yang menemani Dek Meilin ." kata Josh , tiba - tiba nongol ntah darii mana , dan sedikit mendorong tubuh Hebrew.


"Hei Bung....mengapa kau kasar sekali...." sahut Hebrew geram.


"Kamu berdua kenapa sihhh ? " tanya Meilin , pura - pura tidak tau apa yang terjadi , lalu meninggalkan mereka disana.


Hebrew pun sontak berlari untuk mengejar Meilin , kemudian berjalan perlahan dibelakang nya , namun tampak ia tidak menyapa Meilin.


Seperti biasa ....


Meilin juga pura - pura tidak menyadari bahwa Hebrew mengikutinya.


Meilin tepat berada dibibir pantai , ketika ia sedang duduk diatas pasir.

__ADS_1


Ia pun terlihat tengah bermain dengan Pasir . Walaupun ia hanya sendirian disana , tetapi ia tetap tampak sangat riang , seperti anak - anak yang tengah sangat kegirangan bermain Pasir ditepi pantai itu.


Tidak begitu jauh dari tempat Meilin berada . Hebrew memperhatikannya dengan seksama .


Tampak beberapa laki - laki yang duduk tadi bersama dengan Meilin ditenda menghampirinya , secara bersamaan , ntah apa yang sedang direncanakan oleh sekumpulan pria tersebut.


"Bolehkah kami bergabung bersama denganmu Nona ?" tanya salah satu pria itu.


Mereka sejajar menyamping seolah olah sedang dihukum.


Meilin terseyum geli melihat tingkah mereka , dan lalu menganggukan kepalanya , tanda sejutu.


Mereka pun seperti anak - anak ketika bermain pada pasir itu.


Terlihat juga mereka mengubur teman - temannya didalam pasir secara bergantian , sama seperti kebanyakan yang dilakukan kebanyakan orang dipantai itu . Sementara Meilin terlihat tengah membangun istana , ya tentunya dari pasir juga.


Hebrew pun menghampirinya dan membantunya.


Namun tampaknya Meilin tidak menyadari kehadiran Hebrew didepannya . Kali ini sepertinya bukan pura - pura tidak tau.


Wanita itu tampaknya tengah sedang melamun , berhayal.


Ia membayangkan bahwa yang ada didalam istana pasir itu adalah dia , Maminya dan juga Papinya.


"Hmmm betapa aku merindukan mereka ." guman Meilin didalam Hatinya.


Hebrew sadar akan itu , bahwa Wanita yang tepat berada dihadapannya tengah melamun.


"Tampaknya hari sudah sore ." guman Meilin , memandang pada Matahari diupuk barat.


"Waktu sungguh begitu sangat cepat berjalan.


Tidak terasa sudah sore , padahal rasanya baru saja aku berada dipantai ini ." gumannya dalam hati.


Meilin pun berjalan kearah pantai yang lumayan dalam , dan akan hendak berenang .


Ia meninggalkan teman - teman yang masih tengah asik bermain dengan pasir .


Teman - temannya yang baru ia kenal hari ini melalui Hebrew.


"Apakah kau ingin berlomba renang dengan ku ?" tanya seorang pria , yang adalah teman Hebrew tadi . Entah sejak kapan pria itu ada di sampingnya , atau tepatnya memperhatikannya sedari tadi.


Meilin tersenyum...


"Ayolah...." pinta pria itu lagi dengan mengumbar senyum , dan terus mengikuti Meilin.


Pria bertubuh atletis tersebut , dan tampak tidak ada setitik noda pun pada wajahnya . Pria itu sungguh menggoda jiwa renang Meilin . Jiwa renang Meilin pun meronta - ronta untuk segera menyetujui tantangan dari pria itu , dan ingin segera mengalahkan pria tampan yang ada disamping nya itu.


"Baik lah ." ucap Meilin dengan nada tenang. Berjalan kearah air yang semakin dalam .

__ADS_1


Mereka berdua sampai pada pembatas pantai , yang berbentuk bola yang mengapung.


Mereka sudah sepakat , perlombaan dimulai dari pembatas Pantai . Dan siapa yang lebih dulu sampai ketepi pantai , maka ia lah pemenangnya.


Lomba pun dimulai . tampak mereka pun berenang . Menggayuh Kaki dan Tangannya .Terlihat dua manusia itu sangat semangat , tidak ubah seperti Atlet renang.


Dari kejauhan juga tampak tepuk riuh teman - temannya pada Meilin , yang lebih dulu tiba ditepi pantai , seolah - olah mereka mengetahuii perlombaan renang itu.


Yaitu adalah Kompetisi antara Meilin dan Pria tersebut.


Para Pria itu sangat terkesima pada Meilin , karena sungguh mampu mengalahkan salah satu dari teman mereka itu.


Dengan napas yang terdengar ngos - ngosan Meilin berjalan menjauhi Air , yang tampak masih setinggi dadanya itu , dan meninggalkan pria tersebut , yang tengah masih berenang dengan deru napas yang juga tidak beraturan . Padahal pria itu adalah perenang terbaik dari pria - pria lainnya yang ada disitu.


Hebrew berdecak sangat kagum pada Meilin .


"Iya Tuhan ... Wanita apakah dia ini ?" guman Hebrew dalam hatinya , dan masih terus menatap Wanita itu.


"Dari segi aspek manapun , ia tetap nampak mempesona , dan tentu sangat mempesona hatiku..." ucap bathinnya lagi.


"Hei...kau sungguh luar biasa Nona , padahal pria itu adalah perenang hebat dibanding kita semua yang ada disini ." kata salah satu pria itu .


"Iya ..tapi kau mampu mengalahkannya ." tambah pria lainnya.


Meilin hanya tersenyum , dan tampak napasnya belum stabil dan masih terputus putus. Hingga ia malas untuk buka suara .


"Kau tangguh luar biasa Nona , aku menyerah atas kemenanganmu hari ini. . Aku sangat salut padamu ." ucap pria itu , setelah mereka berkumpul.


"Kau boleh meminta apa saja untuk hadiah kemenanganmu hari ini ." ucap pria itu lagi , yang masih terkagum - kagum dengan kelihaian Meilin didalam berenang.


Awalnya pria itu hanya bercanda mengajak Meilin berenang.


Ternyata Meilin membeli tawarannya itu . Pria itu sungguh merasa malu dikalahkan seorang Wanita , apa lagi Wanita semanis Meilin. Sungguh ia merasa harga dirinya sudah dibeli oleh seorang Meilin. Seketika itu rasanya ia ingin pergi bersembunyi kehutan bersama dengan Tarzan . Berdua , curhat .


"Ingat Tuan , kau punya utang atas ucapanmu itu , dan atas kekalahanmu hari ini ." kata Meilin , sambil mengedipkan matanya yang tampak secerah Sunset disore itu.


Meilin pun tersenyum genit , sembari menyipitkan matanya .


"Ahhh sial , wanita ini benar - benar menghancurkan hatiku.." guman pria itu dalam bathinnya.


Dan Ia pun tersenyum kecut pada Meilin , yang tampak langsung mengemas barang - barangnya pada Ransel kecil yang dibawanya.


Tampak Matahari sudah hampir tenggelam ketika mereka memutuskan untuk pulang.


"Apakah kau membawa kendaraan ? " tanya Hebrew pada Meilin , ketika mereka mulai berjalan menjauh dari pantai itu.


"Tidak..." sahut Meilin.


"Apakah kau tidak keberatan jika kuantar pulang ? " tanya Hebrew lagi , ia sungguh berharap Meilin menerima tawaran dari jasanya itu untuk mengantarkanya pulang.

__ADS_1


__ADS_2