
Meilin , Robert dan Hebrew tampak berjalan menuju parkiran Mobil yang terletak dibawah tanah itu .Pada Hotel tersebut melalui Lipt.
Tampak juga Meiilin diapit oleh dua Pria yang sama tampannya itu . Meilin bagaikan seorang Princess dan dikawal oleh dua Pangeran Kerajaan yang gagah perkasa . 😂
Kebahagian tampak terlihat di Wajah Hebrew. Ia sangat senang bisa berada didekat Meilin . Jantungnya sungguh tidak karuan tiap kali mencium aroma Parfum Meilin . Aroma yang sangat has sekali dipenciuman Hidung Hebrew . Walaupun Meilin tampak selalu tidak perduli akan keberadaannya , seperti tadi pagi.
Mereka juga sepertinya menikmati perjalanan tersebut . Karena disuguhkan oleh pemandangan Pantai yang sangat Exotis.
"Ibu Meilin...bisakah saya bertanya ?" kata Hebrew pada Meilin yang tepat berada duduk disampingnya.
"Iya...silahkan..." sahut Meilin , tampa menolehnya.
" Hadiah spesial apakah yang menarik diberikan pada seorang Wanita ? " tanya Hebrew.
"Maaf , untuk itu sungguh saya tidak tau !" sahut Meilin.
Terlihat sesekali Pak Robert memandang pada mereka berdua secara bergantian , melalui kaca Sepion Mobil tersebut.
"Misalnya ,Seperti pria yang pernah dekat dengan Ibu Meilin . Apakah yang ia beri pada Ibu Meilin ?" tanya Hebrew lagi , sesekali melirik Meilin.
Meilin pun tampak tersenyum geli mendengar pertanyaan tersebut.
"Baiklah , tentu Ibu Meilin tidak akan mengatakannya bukan ? " kata Hebrew lagi , terkekeh . Ada sedikit rasa cemburu didadanya , ketika mengatakan pria yang dekat pada wanita yang duduk disampingnya itu .
"Bisakah saya mengetahui apakah hal yang Ibu Meilin sukai ?" tanya Hebrew lagi.
Mmmm maksut saya ? ? ?" kata Hebrew , melanjutkan pembicaraannya dengan sedikit agak gugup . Dan menggaruk - garuk kepalanya yang mungkin saja gatal beneran .
"Maksut saya agar dapat insfirasi dari jawaban Ibu Meilin ." lanjutnya.
"Saya menyukai musik ." jawap Meilin singkat.
" ya , sudah tentu kamu suka musik , dan itu bukan hanya sekedar Hobby . Caramu memainkan Piano saat itu , sudah menyatakan kamu seorang Pianis yang luar biasa ." bathin Robert , diam - diam menguping pembicaraan mereka . Dan tampak sesekali memandang Meilin , masih dari Spion Kaca Mobil itu.
Tampak Hebrew berpikir sejenak , mendengar jawapan dari Meilin.
"Bukan kah ini jalan menuju rumah Daddy ?" bathin Hebrew lagi , dipikirannya yang lain.
"Mengapa Ibu Meilin diajak kerumah ? " tanyanya lagi pada dirinya sendiri.
Iya , memang benar , mereka sedang menuju rumah Daddy nya.
Baru kali ini Meilin diajak oleh Robert kerumah Orang Tuanya itu.
__ADS_1
Rumah yang berlantai dua tersebut tampak seperti rumah Arsitektur yang ada di Eropa .
Dengan Cerobong asap pada bagian utara pada rumah itu . Mungkin itu adalah ruang keluarga , atau Cerobong asap pada bagian dapur mereka.
Dengan susunan Batu Bata sebagai Tembok rumah , sangat rapi , menambah seni pada rumah tersebut.
View juga yang tampak langsung mengarah kepantai , membuat suasana rumah terlihat nyaman . Dan itu adalah nilai tambah pada rumah tersebut.
Tampak sepasang orang tua keluar dari rumahnya .Dengan senyum yang sangat ramah .Seolah - olah menyambut kedatangan seorang tamu yang istimewa.
Hebrew terlihat lebih dahulu turun dari mobil tersebut . Lalu disusul oleh Meilin dan Robert.
Robert mempersilahkan Meilin untuk berjalan lebih dahulu , dan kemudian Robert berjalan disamping Meilin.
Meilin menyalami kedua orang tua tersebut , dan orang tua tersebut mempersilahkan Meilin masuk kedalam Rumah nan megah tersebut.
"Apakah ada sesuatu yang tak kuketahui ? " tanya Hebrew entah sama siapa. Semua tiba - tiba menghentikan langkahnya .
"Apakah yang kau katakan bocah ? " sahut kakaknya tersebut.
"Hei Bung...bahkan acara dirumah pun aku tidak diberitahu ." kata Hebrew lagi , tampak kembali berjalan dibarisan paling belakang , dan melewati semua orang .
"Mereka memang selalu begitu ." ucap Daddynya pada Meilin dengan terkekeh lucu .
"Pak Robert yang tampak sangat tegas dan sangar pun , ternyata jika dirumah seperti anak - anak juga tingkah lakunya ." bathin Meilin merasa lucu , dan tersenyum melihat tingkah kedua kakak beradik itu.
*
Ikan itu sangat lucu ." ucap Meilin dengan girang . Jari telunjuknya yang mungil menunjjuk pada Ikan kecil-kecil berwarna merah cerah , yang ada didalam Kolam Ikan minimalis pada Rumah tersebut . Wajahnya tampak seperti anak kecil yang tengah kegirangan ketika melihat ikan - ikan kecil tersebut . Ketika mommy nya Robert mengajak Meilin berjalan - jalan mengelilingi taman , yang terletak dibelakang rumah mereka , dan tak sengaja melintasi kolam ikan tersebut yang tampak tidak begitu luas , tetapi lumayan banyak ikan- ikan kecil dan besar didalamnya dengan berbagai jenis.
"Jika hari libur , menginaplah disini sekali sekali . Lalu pada pagi hari , kamu boleh membantu saya memberi makan ikan - ikan tersebut ." canda Beate , sedikit menggoda Meilin.
beberapa menit yang lalu , Meilin tidak enak hati untuk menolak permintaan wanita tersebut , untuk menemaninya keliling taman kecil itu .
"Sering - sering lah bertandang kesini Ibu Meilin . Anggap saja Rumah sendiri . " ucap Wanita itu lagi , yang adalah bernama Beate , Mommy nya Robert.
"Baik Bu , dengan senang Hati ." ucap Meilin tersenyum pada Beate sambil merangkul tangannya . Terlihat ada kebahagiaan disana.
Walaupun Wanita itu sudah berusia kepala Enam , tetapi ia tampak masih strong dan enerjik . Kulit wajahnya juga hanya memiliki sedikit garis - garis halus , yang menandakan ia tidak terlihat setua umurnya.
"Maaf ya nak Meilin , saya mengundang anda pada jam kerja !" ucap wanita itu lagi , sambil mengelus - elus punggung tangannya Meilin.
"Tidak apa-apa Bu ." jawap Meilin lagi .
"Baiklah...jalan- jalannya sudah cukup ya Nona - Nona cantik ." seru Robert , sambil memeluk wanita itu dari belakang , lalu mencium wajah Ibunya tersebut.
__ADS_1
"Tidak kah ada waktu sedikit lagi untuk kami berbincang - bincang Pak General Manager ? " tanya Beate dengan candanya , sambil menyentuh wajah Robert , Anak Sulungnya itu.
"Kami harus kembali bekerja Nyonya , sebelum Owner kami memergoki kami sedang lari dari pekerjaan ." sahut Robert lagi pada Ibunya itu.
Meiilin sedikit mencuri pandang atas kemesraan ibu dan anak tersebut.
"Hmmm...ternyata Pak Robert terlihat sangat begitu manis ." bathin Meilin terkesima.
Ditempat kerja ia begitu sangat dingin . Tetapi dirumahnya ia sangat hangat pada keluarganya ." bathin Meilin lagi.
Tampak Meilin terpesona akan keramahan pria tampan yang berada didepannya itu , bersama dengan ibunya.
Wanita itu tampak tersenyum manis pada anak Sulungnya tersebut , menandakan betapa bangganya ia memiliki anak seperti Robert.
"Sering - seringlah mengajak Ibu Meilin kerumah kita nak ." kata wanita yang memiliki wajah kebarat - baratan itu , memandang pada Meilin , kemudian berpaling arah memandang Robert lagi secara bergantian.
"ya Mommyyyyy....lain kali aku akan aja Ibu Meilin lagi ya ." kata Robert , sambil mencium mesra kening wanita itu .
"Tetapi untuk detik ini kami harus kembali ke Hotel sekarang ." kata Robert lagi , tersenyum manis pada Ibunya itu.
*
Meilin pun berpamitan dengan Daddy nya Robert.
"Saya tidak melihat tuan Hebrew..." tanya Meilin melihat kearah ruang keluarga , tempat dimana Meilin meninggalkan tiga pria itu tadi , yang tengah berbincang - bincang , ketika Beate mengajaknya berkeliling taman pada rumahnya tersebut.
"Hebrew kembali ke Rumah Sakit , ada panggilan darurat dari Rumah Sakit , jadi ia tidak sempat untuk berpamitan ." kata Robert menjelaskan.
"Baiklah..." sahut Meilin.
Robertpun mencium kedua pipi wanita yang melahirkannya itu , lalu berpamitan.
Meilin dan Robert naik kemobil , lalu melambaikan tangan pada kedua orang tua tersebut.
Mobil itu pun melaju kearah Hotel , tempat dimana mereka bekerja.
"Betapa hangatnya Keluarga itu ! " guman Meilin dan melirik pada pria disampingnya itu .Ternyata Robert juga kebetulan akan memandang Meilin .Sontak mereka berdua kaget karena sudah saling pandang.
Dengan secepat Kilat mereka pun berpaling kembali , lalu masing - masing melihat kearah jalan.
"Jantungku tidak karuan menatap mata itu !" bathin Meilin
"Tatapan Bola mata berwarna Biru itu sangat mendebarkan jantungku ." bathinnya lagi , dengan jantung berdebar -debar.
Baru kali ini Meilin memandang matanya dengan jarak yang begitu sangat dekat.
__ADS_1
Bahkan Meilin merasakan tiupan napas Robert mengenai wajahnya dengan terasa hangat.