Bilamana Hari Itu Tiba

Bilamana Hari Itu Tiba
LAGI LAGI


__ADS_3

Kesehatan Pria satu - satunya kepercayaan dari Meilin itu pun sudah lumayan pulih , dan Dokter sudah memberi ijin untuk membawanya pulang ke Rumah.


Namun, kesehatannya belum sepenuhnya membaik , Pria tersebut masih tetap harus chek up ke Rumah Sakit setiap minggu .


Pria itu hanya bisa melakukan kegiatan kecil di rumah , Olah Raga misalnya . Atau sebelum tidur....


pasti bermain Piano dengan Gadisnya itu.


Pukul berapa ntar kamu pergi sayang ?" tanya Maminya , ketika mereka sedang serapan bersama dimeja makan , keesokan harinya , sepulangnya Albert dari Rumah Sakit.


Pukul sebelas siang mi ." jawab Meilin


Sepertinya Albert mewariskan hobby musiknya pada anaknya.


Ketika Meilin baru menginjak usia tiga tahun pun , ia sudah terlihat jatuh cinta pada Musik , terutama Piano .


Piano adalah salah satu alat musik yang cukup populer di Dunia .  Alat musik ini ternyata sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu.


Bagaimana sejarah penemuan piano ini?


Penemu Piano Berasal dari Italia.


Penemu Piano bernama Bartolomeo Cristofori . Orang Italia yang lahir pada 4 Mei 1655 dan wafat pada tahun 1731.


Dengan dukungan Prince Ferdinando de Medici , sejak tahun 1700 Cristofori pun mulai merancang alat musik yang diinginkannya itu. Lalu ditahun 1720 , Cristofori berhasil menyelesaikan dan merealisasikan idenya untuk membuat Piano.


Banyak yang kagum setelah melihat hasil karyanya , salah satunya adalah seorang jurnalis Italia bernama Scipione Maffei , dan tentunya juga Meilin , sigadis belia.


Ketika Meilin yang masih Balita melihat sang Ayah memainkan Piano , ia pun ikut juga dengan menekan balok - balok hitam putih pada benda tersebut .


Dan tampak kedua orang tuanya pun mendukung penuh kesukaan wanita itu pada musik.


Albert mendatangkan langsung sebuah Piano istrumen buatan  Russia untuk Putri tercintanya itu . Dan juga Gitar dari Portugal.


Hari-hari Meilin dihabiskan hanya untuk bermain musik jika Weekend atau sepulang sekolah .Tentunya ia juga tetap gemar berenang disore hari . Tidak ketinggalan , sang Ayah pasti selalu mengantarnya kekolam renang paporitnya tempat biasa ia berenang . Kegiatan itu biasa ia lakukan jika orang tuanya tidak berpergian Keluar Negri atau Keluar Kota . Prianya itu pasti menyempatkan sedikit waktu untuk mengantar Putrinya tersebut.


Dimata pria itu Meilin tetaplah masih seorang anak kecil , yang belum bisa untuk dilepas sepenuhnya.


***


Selesai serapan pada pagi itu , Meilin pun bersiap - siap mengemas barang - barangnya yang akan dibawa ke pestival.


Pukul tiga sore , Bus dari pihak penyelenggara tersebut menjemput Meilin . Ia mengikuti pestival musik seprovinsinya , yang diadakan di Luar Kota tempat tinggalnya.


Gadis cantik itu pun sudah menunggu dipintu Gerbang pada Komplek Perumahan mereka.


Memakan waktu seminggu Meilin berada diluar kota.


Sekembalinya ia ke rumah , ia tidak menemukan seorangpun disana.


Wanita itu berpikir "mungkin Mami , Papi dan Mbak Yanti sedang berbelanja ke Mall atau sekedar jalan-jalan"


Meilin yang baru tiba dirumah tidak ambil pusing akan hal itu . Setibanya dirumah Ia langsung beranjak untuk mandi . Setelah selesai membersihkan dirinya , ia langsung kekamar untuk istirahat . Sesaat ia langsung terlelap.


ishhh , sudah gelap rupanya ." guman Meilin , ketika tiba - tiba terbangun karena mendengar Azan Mahrib dari Masjid yang tidak jauh dari Rumahnya.


Kemudian ia bangun dan menyalakan semua lampu , kemudian berjalan kearah telepon rumah , mencoba untuk menghubungi Ponsel Maminya , melalui telepon rumah tersebut


Dijaman yang sudah terlihat modern ini , setiap orang sudah pasti memiliki Handphone . Namun wanita penyuka musik itu belum juga memiliki benda pipih tersebut . ya.. begitulah cara orang tuanya mendidik Meilin dengan cara mereka . Dan Meilin tidak keberatan akan hal itu . Baginya Handphone tidaklah begitu penting.


Sehingga jika teman- teman satu kelasnya ingin menghubungi nya , sekedar ingin bertanya soal Pekerjaan Rumah , atau yang dikenal dengan sebutan "PR", terpaksa harus menghubungi wanita berparas cantik itu melalui Telepon rumah.

__ADS_1


Di seberang sana Maminya menjawab


"Hallo"


Hallo mi , mami dimana ? kok belum juga pulang ?" tanya anaknya tersebut.


iya sayang , maaf.


Mami lupa meninggalkan pesan dirumah ." sahut wanita itu.


Pukul berapa mami pulang ? " tanya Meilin lagi , segera ingin tau .


Begini sayang...dua hari yang lalu papimu kembali masuk Rumah sakit nak , karena tidak sadarkan diri lagi . Jadi ..Mbak Yanti ikut serta menemani Mami sayang . Bahkan Sampai sekarang Papimu belum jga sadar sayang . itu sebabnya Mami tidak ingat meninggalkan pesan untukmu sayang , karena mami terburu - buru saat itu ." menerangkan pada Meilin.


(Biasanya jika Mami dan Papinya pergi beserta Pengasuhnya , Maminya selalu menulis Pesan melalui Kertas , dan meletakkannya di Meja makan . itu sudah menjadi kebiasaan mereka).


Gimana mi ? Dokter bilang apa ? " tanya Melin buru - buru , dengan mata yang sudah berkaca kaca dan bibir yang bergetar.


Tadi hasil Lab papi sudah keluar nak ." jawab wanita itu lagi.


Papi harus kita bawa berobat ke Singapore sayang , dikarenakan peralatan medis disini tidak lengkap . Pihak Rumah Sakit sedang mengurus semua Dokumennya sayang ." Maminya menerangkan lagi.


Mi...apakah Meilin boleh ikut , please ?" rajuk Meilin pada maminya .


Tidak sayang...kamu harus sekolah . Jika papi mengetahui kamu tidak sekolah , ia akan sangat marah dan kecewa padamu . " jawap maminya.


Meilin akan ke Rumah Sakit mi ." pinta Meilin lagi dengan menahan tangis.


Iya sayang , tetapi besok saja ya , setelah kamu pulang sekolah . Ini sudah malam , jam besuk sudah tidak ada lagi ." jawap maminya .


Baik mi , jangan lupa makan ya mi ." pintanya lagi dengan sangat.


Kamu juga ya , besok serapan dulu baru berangkat sekolah .


Kamu harus vocus belajar nak , sebentar lagi kamu ujian ." pinta maminya diujung telepon.


Iya mi ." jawap Meilin singkat.


Sungguh Meilin tidak bisa tertidur . Ia terus menerus memikirkan papinya .


Betapa tidak , satu minggu Meilin meninggalkan rumah , karena mengikuti pestival musik tersebut . Ia berharab setibanya dirumah akan bercerita pengalamannya mengenai pestival musik tersebut , ia sungguh tidak sabar akan hal itu.


Namun semua diluar dugaannya.


Kerinduannya tidak terobati.


Walaupun sudah menjadi hal biasa Ayah dan Ibunya meninggalkannya sampai berminggu - minggu , tapi ntah mengapa , saat ini ia benar - benar hanya ingin bersama kedua orang tuanya itu.


Ya Tuhan...seandainya aku tidak ikut ke Pestival itu , pasti aku bisa merawat Papi sepulang Sekolah.


Mami pasti tidak memiliki waktu untuk merawat papi . Semenjak Papi sakit , Mami mengambil alih semua pekerjaan ." guman Meilin dalam Hatinya.


Argghhhhh....aku memang tidak berguna ." bisiknya lagi , dengan suara yang hampir terdengar.


Kasihan Mami , ia harus bekerja dan juga merawat papi ." gumannya lagi dalam hati. Dan kini bulir - bulir air bening pun keluar dari Bola Mata Coklatnya , membayangkan betapa berat hari - hari yang sedang dijalani Maminya sekarang.


Ia tidak bisa tertidur , karena memikirkan Prianya tersebut.


Sampai akhirnya matanya menyerah juga , dan ia kemudian terlelap.


Keesokan sorenya sepulang sekolah ,  ia langsung ke Rumah Sakit.

__ADS_1


Ia sudah membawa persiapan baju ganti dari rumahnya.


Sesampainya di Rumah Sakit , wanita itu bertanya langsung pada Front Office.


Maaf Suster , saya ingin membesuk pasien yang bernama Pak Albert !" tanya Meilin dengan gusar . Sembari meremas jemarinya .


Tunggu sebentar ya Mbak ? " pinta Suster.


Meilin menunggu dengan harap - harap cemas.


Mbak..." terdengar suara sang suster memanggilnya.


Iya suster ." jawapnya lagi dengan cepat .


Pak Albert sudah diterbangkan ke Singapore tadi pagi pada pukul sebelas siang Mbak , karena keadaannya yang sudah memburuk ." kata - kata sang suster tersebut bagai pedang yang menusuk Ulu Hatinya.


Tidak tau apa yang tengah dipikirkan oleh Meilin.


Ia hanya terdiam . Mulutnya seolah - olah tidak menemukan kata - kata lagi untuk berbicara menjawab suster tersebut.


Ia mematung , terenyak.


Mbak ...


Mbak..." sapa sang Suster.


Iya sus ." jawabnya kaget.


Baiklah sus , terima kasih ." katanya lagi.


Dengan hati yang sangat berkecamuk , Meilin meninggalkan Rumah Sakit tersebut dan langsung pulang ke rumah nya . Dengan perasaan hancur dan sangat sedih .


Keadaannya sungguh tidak baik , ingin rasanya ia berteriak , melampiaskan kesesakan didadanya .


Wajar Maminya tidak memberi kabar padanya , karena memang ia tidak memiliki Ponsel.


Mami...seandainya kau memberi ijin padaku untuk menggunakan benda itu !" bathinnya menahan sesak .


Sesampainya di rumah , ia membuka pintu utama pada rumah tersebut , dan ia sudah mendapati Mbak Yanti ada disana.


Mbak..." sapa Meilin pada Mbak Yanti yang tengah mengepel lantai.


Iya mel ..." jawap Yanti , yang sudah tiba dirumah sedari pagi.


Ibu bilang Meilin harus tetap sekolah ya , selama Ibu di Singapore ." kata Yanti , menyampaikan pesan dari Nyonya nya itu , ditengah obrolan mreka .


Baik mbak ." jawap Meilin menunduk , menahan tangis.


Mbak , Papi baik - baik saja kan ?" tanyanya dengan mata berkaca - kaca.


Iya Mel , Bapak pasti baik - baik saja , Berdoa ya ." sahut pengasuhnya itu , menenangkan Meilin , kemudian mengusab lembut rambut remaja yang diasuhnya itu , diasuh dari ia dikandungan Ibunya.


Meilin spontan memeluk wanita itu dengan menangis hingga sesenggukan . Ia melampiaskan rasa yang bahkan ia sendiri tidak tau apa namanya .


Ia sudah menganggap pengasuhnya tersebut seperti kakaknya sendiri , segala keluh kesahnya tampa ragu ia sampaikan pada wanita itu.


Pengasuhnya itu tau betul sifat Meilin yang begitu rapuh , dan juga cengeng.


Karena dari Meilin masih berada dikandungan Ibunya , sang pengasuhnya tersebut sudah ikut bekerja pada mereka . Hingga bayi mungil itu lahir . Dan tentunya ia masih bekerja pada keluarga Albert itu sampai sekarang.


Bahkan Mbak Yanti lebih faham sikab dan sifat Meilin dibanding kedua Orang Tuanya.

__ADS_1


__ADS_2