
Sudah hampir dua bulan Papinya Meilin berada disalah satu Rumah Sakit di Singapore . Meilin dan Maminya juga hanya bertukar kabar melalui Telepon saja.
Pagi ini serasa Meilin sangat malas untuk bangun dari tempat tidurnya . Entah sudah berapa kali ia melirik Jam waker pada nakas didekat tempat tidurnya tersebut , namun ia tetap enggan untuk bangun . Dilihatnya kembali jam itu " ahhh... sudah pukul lima ternyata " gumannya .
Dan... masih di beberapa menit berikutnya , Meilin tetap bermalas malasan diranjangnya.
Ditariknya kembali selimutnya.
tok....
tok...
tok..
Terdengar Pintu kamarnya diketuk dari luar.
Mel....apakah kamu sudah bangun ?" panggil mbak Yanti dari luar kamarnya.
Ya mbak , sudah ." jawap Meilin dengan nada yang terlihat sangat malas .
Ayo bergegas sayang , ntar kamu terlambat sekolah lho ." kata mbak Yanti lagi.
Tidak biasanya Meilin masih dikamar pukul segini ." guman mbak Yanti.
Kasihan sekali Meilin , ia pasti sangat merindukan kedua orang tuanya ." gumannya lagi.
Tidak terasa air mata pengasuhnya itu menetes , mengingat bagaimana beratnya Meilin kecil kala itu melalui semua . Bahkan masa kecilnya Meilin yang hampir sering ditinggal oleh kedua orang tuanya.
Hanya pengasuhnyalah satu - satunya tempat Meilin berkeluh kesah , merengek , bercanda dan bermanja - manja.
Akhirnya Meilin pun bangun dan bergegas merapikan tempat tidurnya , lalu ia mandi.
Tidak sengaja sebelum ia masuk kekamar mandi , ia melihat photo Papinya , Maminya dan dia . Terpajang didinding kamarnya . Itu adalah photo bersama orang tuanya ketika masa kecilnya . ketika mereka berkunjung ke Korea , tanah kelahiran Maminya.
Air matanya pun seketika bergulir deras , mengenang semua kebersamaan itu .
Dari kecil ia sudah terbiasa ditinggal oleh orang tuanya , tetapi bukan dalam keadaan yang begini .
Ia mengambil photo itu , lalu memeluknya , dan air bening itu pun menetes kembali dari sendu matanya.
Pi...Mi...aku sudah sebesar ini sekarang , tapi kalian tidak tau bagaimana aku melalui semua ini . sangat sedikit waktu yang aku punya untuk bersama - sama dengan Papi dan Mami ." ucabnya lirih sambil memeluk photo mereka tersebut.
Tapi bagiku tidak masalah Mi , Pi , karena aku tau kalian bekerja untukku , untuk Masadepanku ." bisiknya lagi pada dirinya.
Tapi bukan dalam keadaan yang seperti ini . Biasanya setiap sore aku pasti berbincang - bincang dengan Papi , walau hanya melalu telepon , dan sekarang....
Pi....aku kangen dengar suaramu ." lirihnya dalam tangisnya pagi itu , mengusab lembut wajah pria tersebut dibingkai poto itu .
***
tok..
tok...
tok...
Pintu kamar Meilin diketuk lagi oleh mbak Yanti setengah jam kemudian.
Mel...apa kamu sudah siap - siap sayang ? sebentar lagi jemputanmu datang ." panggil mbak Yanti dari luar kamar , setengah berteriak.
Ya mbak , ni aku dah siap - siap kok ." sahut Meilin dari kamar nya.
Meilin membuka pintu kamar dan menjinjing tas ranselnya , kemudian melangkah kemeja makan.
Mbak , aku tidak serapan ya !" kata Meilin.
Iya sudah , Susunya saja diminum ya ." sahut mbak Yanti dengan ciri khas kelembutannya.
Baik mbak ." kata Meilin , dengan sigab mengambil Susu yang sudah tersaji pada meja makan tersebut.
Ini serapannya dibawa saja kesekolah , nanti serapan disekolah ya ! " kata mbak Yanti lagi , sembari memasukkan serapan Meilin kedalam wadah.
Iya mbak , terima kasih !" kata Meilin tersenyum ,dan kembali meminum Susunya.
Tin....
Tin....
Tin....
Klakson Mobil terdengar diluar pagar rumah Meilin.
Jemputanmu sudah tiba Mel " ucab mbak Yanti sembari tergopoh - gopoh berlari keruang depan , kemudian membuka pintu utama.
Iya mbakkkkk " teriak Meilin .
Meilin tidak sempat lagi untuk memakai sepatunya . Ia pun mengambil sepatunya dari rak sepatu dan menenteng sepatu tersebut kemobil jemputannya.
Meilin terlihat sangat tergesa - gesa , dan berlari kecil kearah pintu pagar yang sudah dibuka oleh Mbak Yanti.
Mbak , Meilin berangkat sekolah ya ." kata Meilin pada mbak Yanti , yang berdiri tepat dibibir pintu pagar rumahnya.
Iya sayang ." sahut mbak Yanti tersenyum hangat .
Tunggu dulu Mell ." panggil mbak Yanti tiba - tiba.
Ada apa mbak ?" sahut Meilin kaget , setelah memutar tubuhnya melihat pada pengasuhnya kembali dan menghentikan langkahnya yang akan masuk kedalam mobil .
Di Bibirmu ada celemotan Susu tuh , dibersihin dulu sayang ." kata mbak Yanti , menunjuk pada bibirnya Meilin yang mungil.
Duhh...gimana ngebersihinnya , semua tangan sudah berisi ." timpal Meilin ngedumel.
Ishhh kamu itu ya , minum Susu saja masih belepotan begini , seperti anak kecil saja ." kata mbak Yanti , sembari berjalan kearah Meilin dan membersihkan noda Susu yang belepotan pada bibir gadis belia tersebut . Meilin pun nyengir oleh ulahnya pagi ini .
Sudah bersih , ayo masuk ke Mobil . " pinta mbak Yanti sambil mencubit manis pipi Meilin yang lembut dan kenyal itu.
Ehh Mel...banyak amat bawa tentengan , mau pindahan apa Sekolah ?" sapa Mick , sinis.
Pria yang tepat duduk disebelah bangkunya.
Meilin cuek pada pertanyaan iseng teman satu sekolahnya itu .Teman yang adalah juga tinggal disatu komplek dengannya . Mick adalah kakak kelasnya.
__ADS_1
Ia bergegas memakai sepatunya , dan juga kembali merapikan pakainya , yang ia rasa berantakan karena terburu - buru tadi.
Meilin mencoba melihat kearah jendela Mobil , yang sudah pasti terbuat dari kaca juga . Untuk sekedar berkaca , memastikan apakah masih ada yang aneh diwajahnya karena terburu - buru tadi . Sebelum ia kembali diledek oleh teman - temannya.
Sesampainya disekolah , seperti biasa Meilin langsung menuju ruangan kelasnya.
Aduhhh....pekik Meilin kaget , ketika melihat surat undangan dari sekolah yang tertinggal dilaci mejanya . Surat tersebut seharusnya diberikan kepada orang tuanya , agar turut serta mengambil rapot anaknya disekolah.
Ternyata Meilin tidak memasukkan surat itu kedalam Ranselnya.
Walaupun itu surat untuk orang tua ,
tetapi Orang Tua Meilin tidak pernah bisa hadir bersama dengan Meilin mengambil rapotnya . Orang Tuanya selalu di Walikan oleh mbak Yanti.
Aduhh , gimana ini , kok aku bisa lupa begini ya !" pekiknya lagi.
Mata Meilin nanar melihat kearah teman - temannya .
Kemudian ia menghapiri salah satu temannya yang tengah asik bermain Game di Handphone.
Nin , boleh kah aku pinjam Handphone kamu , ingin menelpon kerumahku " pinta Meilin dengan Wajah melas .
Tumben...ada apa Mel ?" sahut temannya sedikit bingung.
Aku lupa membawanya , dan lupa juga memberitahu pada Orang Tuaku ." jawap Meilin dengan muka sayu . Memperlihatkan surat undangan yang masih dipegangnya.
Ouhh , sudah ahh...
macam dunia mau kiamat saja ." canda temannya itu.
Nihh pakailah ." kata temannya itu lagi padanya , sambil memberikan Handphone miliknya.
Hallo...." sapa mbak Yanti diujung telepon.
Hallo...mbak ini Meilin ,
Meilin cuma mau ngasih tau mbak , Mbak hari ini datang kesekolah ya ?" ucab Meilin
Waduhh...ada apa Mel ? tumben !" kata mbak Yanti bingung.
Mbak , hari ini Meilin bagi rapot , tapi Meilin lupa bawa surat undangannya , lupa juga ngasih tau mbak Yanti ." timpal Meilin lagi , menjelaskan.
Oooooo " kata mbak Yanti panjang.
Ya sudah , mbak siap-siap dulu ya ." kata mbak Yanti lagi.
Baik mbak ." jawab Meilin dan menutup Teleponnya.
Terima kasih ya Nin ! " ucap Meilin , sembari menyerahkan kembali Handphone teman satu kelasnya itu.
Sama - sama Mel ." sahut temanyanya itu dengan senyuman yang sangat manis.
Temannya tersebut menatap pada Meilin yang sedang berjalan kembali kebangkunya , lalu mengikuti Meilin dan duduk tepat disebelahnya.
Mel..." sapa Nina .
Ehh iya Nin...ada apa ? " sahut Meilin , tersenyum.
Kamu ada masalah ya ? kok beberapa minggu ini kamu terlihat sangat murung ?" tanya Nina.
Ouhh...maaf ya , aku tidak bermaksut membuatmu sedih ." kata Nina sambil mengelus pundak Meilin.
Iya nin , terima kasih ya , kamu sudah perhatian ke aku " ucab Meilin lagi.
Iya Mel , jika kamu ingin cerita , cerita saja samaku , jangan ragu ya ." kata Nina , memberi semangat.
Terima kasih ya Nin... " jawab Meilin
*
Seperti biasa , jika pembagian rapot , Orang Tua Siswa- Siswi akan berdiri dibagian belakang , dan para Siswa - Siswi akan tetap duduk seperti biasa dibangku mereka masing - masing.
Meilin terlihat gusar , karena ia belum juga melihat mbak Yanti tiba disana .
Mungkin mbak Yanti sedikit telat ." dalam bathinnya , berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Kini tiba giliran nama Meilin yang dipanggil.
wanita itu sangat kaget mendengar namanya tersebut.
Seorang wanita maju kedepan mengambil rapotnya.
Hahhhhhh..... " Meilin tampak sangat kaget.
Sejak kapan Mami datang ?
kok aku tidak lihat ?
Mami kan di Singapore.
Lah... yang jaga Papi siapa ?
Atau Papi sudah pulang juga ?
Meilin bertanya - tanya dalam hatinya dengan kebingungan.
Ahhh wanita itu....walaupun sudah terlihat guratan diwajahnya , yang menandakan usianya sudah lebih setengah abad , namun ia tetap terlihat cantik dan smart ." guman Meilin dalam hatinya , memandang Ibunya tersebut penuh dengan kerinduan.
Ini kali pertama Orang Tua Meilin ikut mengambil Rapot Putri semata wayangnya itu.
Bukan tidak mau , hanya saja kesibukan Orang Tuanyalah yang mengakibatkan itu semua.
Setelah pembagian Rapot selesai , Meilin langsung menghapiri Maminya.
Mi..." sapa Meilin , dan langsung memeluk Maminya . Seketika Ibu dan Anak itupun berpelukan , melepas rindu.
Ia sangat merindukan wanita itu , rindu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Kapan datang Mi ?" tanya Meilin bingung , setelah melepas pelukannya.
Baru saja tiba tadi sayang ." jawap Maminya, sambil mencubit kurum Meilin dengan gemas.
__ADS_1
Tadi mbak Yanti akan menyusul kamu kesekolah , bertepat sekali Mami sampai di Rumah . mbak Yanti menjelaskan pada mami , bahwa hari ini kamu bagi rapot .Jadi Mami memutuskan untuk kesini ." kata Maminya menjelaskan.
Ouhhhhh..." kata Meilin panjang, mengerucutkan bibir mungilnya.
Papi gimana Mi ? Papi ikut pulang kan? " tanya Meilin penasaran.
Belum sayang , Papi masih di Singapore . Belum juga ada tanda - tanda perkembangan pada Papimu , masih tetap seperti kemarin juga . Mami pulang karena sangat merindukanmu . Juga ada dokumen penting yang akan Mami mau urus sayang " kata Maminya menjelaskan lagi.
Seketika itu Meilin pun tertunduk lesu , mendengar penjelasan Maminya tersebut . Kembali sekali lagi harapannya pupus .
Sudah ahh sayang jangan begitu . Kamu yang semangat dong sayang ." hibur Maminya dengan logat Koreanya yang masih kental.
Iya mi ." jawap Meilin berat.
Meilin sadar , dia harus tegar dimata Maminya , agar tidak menambah beban bagi Maminya jika ia juga ikutan murung.
Mengapa Mami tidak ngabarin kita , kalo Mami mau pulang ?" tanya Meilin, mengalihkan pembicaraan.
Tidak apa sayang , Mami cuma mau kasih kejutan saja , pada Putri Mami yang sangat Mami rindukan ini ." kata Maminya , sambil mengelus - elus rambut Meilin yang terlihat sudah mulai panjang .
Mami mau ketemu Walimu dulu sayang , Mami belum kenal siapa Walimu ." pinta Maminya pada Meilin.
Memang , Semenjak Meilin masuk Kejuruan Menengah disana , semua urusan diserahkan pada mbak Yanti . Bahkan baru sekali ini Maminya menyempatkan datang kesekolah Meilin.
Hal itu membuat Meilin sedikit bahagia.
Kamu tunggu dikantin ya sayang . Mami akan berbincang - bincang dulu dengan Wali kelas mu ." pinta Maminya.
Baik Mi ." jawab Meilin nurut.
Meilin pergi ke arah kantin , dan Maminya kembali keruang kelas untuk bertemu Gurunya Meilin . Terlihat Walinya tersebut masih duduk diruang kelas Meilin , bersama dengan Orang Tua murit lainnya . Sekedar berbincang - bincang.
Mel...itu Mamah mu ?" tanya Nina
Iya Nin ." jawap Meilin.
Waw...Mamah kamu cantik banget ya , mirip Orang Korea gitu ." seru teman Meilin yang lainnya.
Iya , Mamiku memang bukan berkebangsaan Indonesia . Mamiku adalah berkebangsan Korea ." jawap Meilin lagi.
Ooooooo...sahut teman - teman Meilin serentak . Teman satu kelasnya yang nimbrung bareng-bareng dikantin tersebut.
Tadi kamu bilang bahwa Mamimu berada di Singapore !" tanya Nina dengan sedikit heran.
Iya Nin , Mamiku baru pulang tadi pagi.
Beliau juga tidak memberi kabar jika akan pulang hari ini ." jawap Meilin lagi menjelaskan.
Ouh begitu ." jawap Nina.
Kemudian Meilin membuka bekal serapannya.
Lalu menawarkannya pada teman - temannya.
Ehhh aku bawa bekal ni , ada yang mau gak ?" tanya Meilin pada teman - temannya itu.
kok kamu bawa bekel banyak Mel ? " tanya salah satu temannya.
Iya nih , tadi aku tidak sempat untuk serapan , jadi dibawa kesekolah saja . Dan yang satunya lagi buat bekal siang ." jawap Meilin lagi.
Ayo kita makan rame - rame " pinta Meilin.
Teman satu kelasnya itupun bersama - sama melahap bekal yang dibawa oleh Meilin tadi . Nasi goreng dilahap tampa mengenakan sendok 😃😃
Dari semua Siswa , tampak hanya Meilin saja yang membawa bekal makanan dari rumah . Tidak seperti temannya yang lainya yang diberikan uang saku.
Meilin juga selalu dapat uang saku setiap minggu .Tetapi ia tidak menggunakannya untuk Uang jajan . Ia lebih memilih bawa bekal saja , dan menabung uangnya.
Orang Tuanya juga sudah membiasakan Meilin untuk membawa bekal dari rumah.
Selain terjamin kebersihannya , juga masakan mbak Yanti sangat enak , sekalipun cuma nasi goreng . Jadi Meilin tidak keberatan dengan aturan dan peraturan Maminya tersebut.
Setelah selesai melahap bekalnya Meilin , sambil menunggu Orang Tua mereka berbincang - bincang dengan Wali kelas mereka , anak - anak remaja itu juga terlihat sedang berbincang - bincang di Kantin . Disana juga tampak sangat ramai oleh Siswa-siswi lainya , yang baru menerima Raport .
Ada yang memperlihatkan nilai mereka kepada teman - teman mereka dengan sombongnya . Ada pula yang cuek dengan nilai - nilai mereka yang berwarna merah.
Sesama teman disana saling mengobrol.
Tetapi bagi Meilin untuk sekarang ini itu tidak penting . Walaupun ia berada diantara teman -temannya , tetapi pikirannya jauh melayang pada Papinya yang masih berada di Singapore.
Bagaimana keadaan Papinya ?
Siapa yang menjaganya di Singapore?
Ahhhh... Sesaknya hati ini " bathin Meilin.
Namun ia tidak bisa melakukan apapun.
Ia hanya seorang remaja yang masih dalam tanggungan penuh Orang Tuanya.
Dan sekarang ini ia juga harus tunduk dan patuh pada apa yang Maminya katakan.
Walaupun selama ini Meilin adalah anak yang tidak pernah membangkang , dan selalu nurut pada apa kata Orang Tuanya .Tetapi saat ini ia harus sangat menjaga perasaan Maminya . Untuk sekedar bertanya pun ia tidak berani .
Meilin...ayo sayang...kita pulang ." ajak Maminya.
Meilin kaget dengan kedatangan Maminya yang tiba - tiba . Kedatangan maminya disana membuyarkan lamunannya.
Ehhh iya Mi , Ayo ." jawap Meilin singkat.
Meilin pamit dulu ya Mi pada supir bus jemputan Meilin ." kata Meilin menegaskan pada Maminya.
Tidak perlu sayang , tadi Mami sudah bertemu Pak Johan ." Maminya menjelaskan , bahwa Maminya sudah pamit membawa Meilin pulang pada supir Bus jemputan sekolah Putrinya itu.
Baik Mi ." jawap Meilin nurut.
Teman - teman aku balik lebih dulu ya , sampai ketemu dikelas tiga ." kata Meilin dengan senyum hambar.
Namun , ia tidak pernah menyangka PERTEMUAN ITU TIDAK AKAN PERNAH TERJADI , PERTEMUAN DIKELAS TIGA .
Okeh..." jawap teman - temannya sambil mengangkat jempolnya masing masing , kemudian mereka saling melambaikan tangan.
__ADS_1
Maminya Meilin tersenyum pada teman - teman Meilin , tanda menyapa dan pamit.
Meilin dan Maminya bergegas keparkiran Mobil.