
Setelah selesai memberikan perban pada semua luka - lukanya Meilin . Terlihat mereka semua duduk diruang keluarga itu.
Adrian , Beate , Robert , Hebrew dan Meilin . Mereka semua tampak diam , ruangan itu senyap , seperti tidak ada penghuninya.
"Hei Bung...apa yang terjadi pada Ibu Meilin ? " tanya Robert kepada Hebrew , membuka pembicaraan dengan suara tegas , tapi kali ini penuh dengan amarah .
"Saya terjatuh didepan rumah , ketika hendak naik kemobil , Pak Robert ." sahut Meilin , mendahului Hebrrew yang tengah hampir membuka mulutnya dan akan berbicara . Namun batal karena Meilin sudah lebih dahulu menjawab pertanyaan dari Robert.
"Hmmm..." Robert berguman .
Ada sesuatu yang mereka berdua sembunyikan !" bathin Robert , tidak percaya pada jawaban yang dilontarkan oleh Meilin.
"Baiklah anak - anak , Mommy akan kebelakang untuk mempersiapkan BBQ sebentar lagi .
"Istirahatlah sayang ." ucap Beate , sambil mengusap rambut Meilin dengan lembut . Kemudian meninggalkan mereka pada ruangan tersebut.
"Daddy akan menyusul Mommy ! " kata Daddy nya , lalu berjalan mengikuti Istrinya itu.
Tidak lama kemudian , Hebrew pergi tampa pamit pada mereka .Tidak tau kemana ia pergi .
Terdengar suara Mobilnya dari pekarangan rumah meraung - raung , seperti Singa yang tengah kelaparan , dan lambat laun suara itu menghilang.
"Maaf Pak Robert...bisa kah Bapak membantuku kekamar mandi ?
agar aku membersihkan kakiku ." ucap Meilin memandang kearah Robert.
Tampak Darah sudah mulai mengering pada kaki Meilin.
__ADS_1
"Baiklah , mari kubantu...." sahut Robert berdiri dan menjulurkan tangannya.
Meilin meraih tangan Robert , namun ia masih kesulitan untuk berdiri.
Karena Meilin tampak kesulitan berdiri , akhirnya Robert memutuskan sepihak . Tampa meminta persetujuan dari Meilin , Ia langsung membopong Meilin secara tiba - tiba . Meilin sangat kaget , dan sontak memeluk erat leher Robert.
Dada Robert memang sangat bidang , membuat Meilin nyaman menyenderkan kepalanya pada Dada bidang itu.
Jelas terdengar detakan Jantung Robert pada Telinga Meilin yang menempel pada Dada itu.
Robert membawa Meilin keluar dari ruangan itu . Menuju pada aliran air dari selang , selang yang biasanya digunakan Mommy nya untuk menyiram tanaman bunganya.
Dengan perlahan Robert menurunkan Meilin , dan tetap memeganginya , sampai benar - benar Meilin bisa berdiri sendiri . Namun lututnya tampak masih bergetar , tidak kuat menahan sakit itu.
Robert pun segera mengambil Bangku plastik yang tampak tidak jauh dari situ . Lalu kemudian meletakannya didekat Meilin , agar wanita itu duduk dibangku tersebut.
Meilin juga kesulitan membungkukkan tubuhnya untuk meraih lututnya , sekedar membasuh darah yang sudah mengering . Ia pun hanya menyiram air pada kakinya melalui selang itu.
Meilin hanya tampak diam saja , menikmati pemandangan itu .Tampaknya ia mulai menyukai sentuhan dari pria itu . Seperti saat ini , membersihkan darah - darah yang sudah mulai mengering tersebut.
"Baiklah , ini sudah bersih ." ucap Robert , kemudian memutar keran mematikan air yang masih mengalir.
Meilin kembali mencoba untuk berdiri , namun tampak lututnya masih terasa sangat sakit.
Wanita itu kembali mengulurkan tangannya kepada pria bertubuh kekar didepannya itu , meminta bantuan . Robert pun segera memeganginya . Dengan tinggi yang mungkin mencapai 180 CM , tidaklah sulit bagi Robert untuk membopong gadis tersebut.
"Aku sudah pernah terjatuh sebelumnya , dan lututku terluka , tetapi tidak sesakit ini . " ucap Meilin dengan nada yang rendah , menahan sakit , lalu kembali duduk , karena ia belum mampu untuk berdiri.
__ADS_1
Tampaknya hempasan dilututnya sangatlah kuat , pada tepi Aspal yang terlihat seperti bergerigi itu.
"Saya akan membantu Ibu Meilin ! " ucap Robert.
Kembali Pria itu mengulurkan tangannya pada Meilin.
Meilin menatap pada tangan dengan urat - urat yang terlihat menyembul itu . Meilin kembali meraih tangan itu dan mencoba untuk berdiri .
Meilin berdiri perlahan , lagi dan lagi , sampai ia dapat berdiri dengan sempurna . Lalu ia melangkah selangkah demi selangkah.
Diluar rumah terdengar suara raungan Mobil Hebrew kembali memasuki pekarangan parkir pada Rumah itu.
Meilin berhenti disalah satu sofa pada ruangan keluarga itu . Ia melihat Hebrew melangkah kearahnya , dan memberikan ia kantongan plastik.
"Kenakanlah ini ." ucapnya , menyerahkan kantongan tersebut.
Meilin membuka kantongan itu , dan melihat beberapa potong Daster didalamnya.
"Maaf jika kebesaran , sebab saya tidak mengetahui ukuran untuk pakaian Ibu Meilin ." ucap Hebrew lagi , dengan wajah yang masih sangat merasa bersalah atas kejadian siang itu.
Terlihat celana yang meilin kenakan basah dan juga sudah compang camping , juga banyak terdapat noda darah.
Robert memanggil Mommy nya , agar menemani Meilin mengganti pakaiannya . Terlihat Wanita itu berlari dari taman belakang Rumahnya.
"Momm , bisakah kau membantu Ibu Meilin untuk mengganti pakaiannya ? " ucap Robert.
"Baiklah , mari sayang ?" kata Beate , mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Karena kelelahan melihat Meilin berjalan tertatih - tatih . Tampa pamit lagi , Robert kembali langsung membopong tubuh Meilin menuju kamar tamu.
Seketika itu juga Hebrew sangat cemburu melihat pemandangan tersebut . Ia sungguh cemburu pada wanita yang bahkan bukan siapa - siapanya itu . Apa lagi Meilin kembali melingkarkan tangannya dileher Robert , seperti yang dilakukan tadi padanya . Sungguh ia ingin sekali menggigit tembok rumah mantannya sampai roboh , detik itu juga . Atau mencangkul diladang untuk menanam Jagung . Sekedar melampiaskan kecemburuannya.