Bilamana Hari Itu Tiba

Bilamana Hari Itu Tiba
CEMBURU


__ADS_3

Setelah selesai memberikan perban pada semua luka - lukanya Meilin . Terlihat mereka semua duduk diruang keluarga itu.


Adrian , Beate , Robert , Hebrew dan Meilin . Mereka semua tampak diam , ruangan itu senyap , seperti tidak ada penghuninya.


"Hei Bung...apa yang terjadi pada Ibu Meilin ? " tanya Robert kepada Hebrew , membuka pembicaraan dengan suara tegas , tapi kali ini penuh dengan amarah .


"Saya terjatuh didepan rumah , ketika hendak naik kemobil ,  Pak Robert ." sahut Meilin , mendahului Hebrrew yang tengah hampir membuka mulutnya dan akan berbicara . Namun batal karena Meilin sudah lebih dahulu menjawab pertanyaan dari Robert.


"Hmmm..." Robert berguman .


Ada sesuatu yang mereka berdua sembunyikan !" bathin Robert , tidak percaya pada jawaban yang dilontarkan oleh Meilin.


"Baiklah anak - anak , Mommy akan kebelakang untuk mempersiapkan BBQ sebentar lagi .


"Istirahatlah sayang ." ucap Beate , sambil mengusap rambut Meilin dengan lembut . Kemudian meninggalkan mereka pada ruangan tersebut.


"Daddy akan menyusul Mommy ! " kata Daddy nya , lalu berjalan mengikuti Istrinya itu.


Tidak lama kemudian , Hebrew pergi tampa pamit pada mereka .Tidak tau kemana ia pergi .


Terdengar suara Mobilnya dari pekarangan rumah meraung - raung , seperti Singa yang tengah kelaparan , dan lambat laun suara itu menghilang.


"Maaf Pak Robert...bisa kah Bapak membantuku kekamar mandi ?


agar aku membersihkan kakiku ." ucap Meilin memandang kearah Robert.


Tampak Darah sudah mulai mengering pada kaki Meilin.

__ADS_1


"Baiklah , mari kubantu...." sahut Robert berdiri dan menjulurkan tangannya.


Meilin meraih tangan Robert , namun ia masih kesulitan untuk berdiri.


Karena Meilin tampak kesulitan berdiri , akhirnya Robert memutuskan sepihak . Tampa meminta persetujuan dari Meilin , Ia langsung membopong Meilin secara tiba - tiba . Meilin sangat kaget , dan sontak memeluk erat leher Robert.


Dada Robert memang sangat bidang , membuat Meilin nyaman menyenderkan kepalanya pada Dada bidang itu.


Jelas terdengar detakan Jantung Robert pada Telinga Meilin yang menempel pada Dada itu.


Robert membawa Meilin keluar dari ruangan itu . Menuju pada aliran air dari selang , selang yang biasanya digunakan Mommy nya untuk menyiram tanaman bunganya.


Dengan perlahan Robert menurunkan Meilin , dan tetap memeganginya , sampai benar - benar Meilin bisa berdiri sendiri . Namun lututnya tampak masih bergetar , tidak kuat menahan sakit itu.


Robert pun segera mengambil Bangku plastik yang tampak tidak jauh dari situ . Lalu kemudian meletakannya didekat Meilin , agar wanita itu duduk dibangku tersebut.


Meilin juga kesulitan membungkukkan tubuhnya untuk meraih lututnya , sekedar membasuh darah yang sudah mengering . Ia pun hanya menyiram air pada kakinya melalui selang itu.


Meilin hanya tampak diam saja , menikmati pemandangan itu .Tampaknya ia mulai menyukai sentuhan dari pria itu . Seperti saat ini , membersihkan darah - darah yang sudah mulai mengering tersebut.


"Baiklah , ini sudah bersih ." ucap Robert , kemudian memutar keran mematikan air yang masih mengalir.


Meilin kembali mencoba untuk berdiri , namun tampak lututnya masih terasa sangat sakit.


Wanita itu kembali mengulurkan tangannya kepada pria bertubuh kekar didepannya itu , meminta bantuan . Robert pun segera memeganginya . Dengan tinggi yang mungkin mencapai 180 CM , tidaklah sulit bagi Robert untuk membopong gadis tersebut.


"Aku sudah pernah terjatuh sebelumnya , dan lututku terluka , tetapi tidak sesakit ini . " ucap Meilin dengan nada yang rendah , menahan sakit , lalu kembali duduk , karena ia belum mampu untuk berdiri.

__ADS_1


Tampaknya hempasan dilututnya sangatlah kuat , pada tepi Aspal yang terlihat seperti bergerigi itu.


"Saya akan membantu Ibu Meilin ! " ucap Robert.


Kembali Pria itu mengulurkan tangannya pada Meilin.


Meilin menatap pada tangan dengan urat - urat yang terlihat menyembul itu . Meilin kembali meraih tangan itu dan mencoba untuk berdiri .


Meilin berdiri perlahan , lagi dan lagi , sampai ia dapat berdiri dengan sempurna . Lalu ia melangkah selangkah demi selangkah.


Diluar rumah terdengar suara raungan Mobil Hebrew kembali memasuki pekarangan parkir pada Rumah itu.


Meilin berhenti disalah satu sofa pada ruangan keluarga itu . Ia melihat Hebrew melangkah kearahnya , dan memberikan ia kantongan plastik.


"Kenakanlah ini ." ucapnya , menyerahkan kantongan tersebut.


Meilin membuka kantongan itu , dan melihat beberapa potong Daster didalamnya.


"Maaf jika kebesaran , sebab saya tidak mengetahui ukuran untuk pakaian Ibu Meilin ." ucap Hebrew lagi , dengan wajah yang masih sangat merasa bersalah atas kejadian siang itu.


Terlihat celana yang meilin kenakan basah dan juga sudah compang camping , juga banyak terdapat noda darah.


Robert memanggil Mommy nya , agar menemani Meilin mengganti pakaiannya . Terlihat Wanita itu berlari dari taman belakang Rumahnya.


"Momm , bisakah kau membantu Ibu Meilin untuk mengganti pakaiannya ? " ucap Robert.


"Baiklah , mari sayang ?" kata Beate , mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Karena kelelahan melihat Meilin berjalan tertatih - tatih . Tampa pamit lagi , Robert kembali langsung membopong tubuh Meilin menuju kamar tamu.


Seketika itu juga Hebrew sangat cemburu melihat pemandangan tersebut . Ia sungguh cemburu pada wanita yang bahkan bukan siapa - siapanya itu . Apa lagi Meilin kembali melingkarkan tangannya dileher Robert , seperti yang dilakukan tadi padanya . Sungguh ia ingin sekali menggigit tembok rumah mantannya sampai roboh , detik itu juga . Atau mencangkul diladang untuk menanam Jagung . Sekedar melampiaskan kecemburuannya.


__ADS_2