
Orang - orang di Mall itu sibuk dengan diri mereka masing - masing.
Tidak ada tempat yang kosong . Semua tempat , sudut , ruangan , sangat ramai dipenuhi oleh orang-orang yang berlalu lalang .
Meilin tetap berjalan kelimpungan mencari Robert. Namun belum menemukannya juga.
"Aduhhh...perutku mual..." guman Meilin lagi.
Wajar jika kepalanya pusing dan merasa mual . Matanya sudah tampak lelah memandang kesemua arah ditempat itu , menyebabkan otot - otot matanya tegang , dan menghalangi peredaran darah .
Namun... ia tetab berusaha untuk tetap mencari Robert . Berharap menemukannya . Bahkan tampak ia hampir menangis. Sambil nemegangi perutnya yang sangat terasa perih .
Terdengar suara dari Post pengaduan , dalam bahasa Inggris pada Mall tersebut.
Panggilan itu meminta Meilin untuk segera datang pada Post pengaduan tersebut .
Meilin pun menanyakan pada orang disekitar , arah lokasi Post pengaduan itu . Setelah Meilin mendapatkan lokasinya , ia pun segera berjalan kearah yang dituju.
Tampak disana Robert berdiri menunggunya di Post pengaduan pada Mall itu . sembari meniup - niup tangannya yang terkepal . dengan raut wajah yang terlihat sangat kuatir dan bingung , mondar mandir seperti setrika .
Walaupun Meilin sudah dewasa , entah mengapa ia sangat takut ketika Meilin sudah tidak menggenggam tangannya lagi , tadi , setengah jam yang lalu.
Ia hanya sebentar melepas tangan Meilin , karena ingin menggambil Handphone yang berbunyi , tepat dikantong sebelah kanannya , Tepat ditangan yang menggenggam tangan Meilin . Untuk mengambil Ponsel tersebut , ia harus melepas tangan Meilin untuk sesaat.
Dalam hitungan detik , Meilin sudah entah dimana.
Meilin langsung memeluk Robert.
Ketika mereka sudah bertemu .
Wajah Meiilin pun tampak sangat pucat .
Robet pun melihat ketakutan yang sangat diwajah Meilin.
__ADS_1
Robert juga langsung meraih tangan wanita yang sangat ia cintai itu . Ketika Meilin sudah didekatnya , lalu memeluknya juga dengan sangat erat . Seolah - olah pelukan itu mengatakan "jangan pergi jauh lagi dariku , Aku tidak ingin kehilanganmu lagi , walau hanya sesaat "
Robert juga tampak menahan air matanya yang hampir menetes.
Ia mengecup kepala Meilin yang masih berada dalam pelukannya itu.
Meilin juga tampak menenggelamkan kepalanya didada bidang Robert . Ia tidak perduli pada keadaan disekitar itu , ia tetap memeluk Robert dengar erat.
"Aku sangat takut ." ucap Meilin , dengan suara yang bergetar.
"Kau sudah bersamaku ." Jawab Robert , mempererat pelukannya , menenangkan wanita itu.
"Maafkan aku ." ucap Meilin lagi , ketika sudah melepaskan pelukan itu.
"Tidak , kau tidak salah !" ucap Robert dan menyentuh pipi Meilin.
Ingin sekali pria itu mencium kening Meilin . ia seperti sangat merindukan wanita itu . Seolah - olah mereka berpisah sudah berpuluh - puluh tahun lamanya.
Ia sudah berniat akan melakukan itu , ketika sehabis menyatakan perasaan cintanya pada Meilin , diwaktu yang tepat.
"Kita kembali saja kekamar ." ucap Robert dan meggenggam erat tangan Meilin.
Meilin hanya nenganggukkan kepalanya.
Sesampainya di Hotel , Robert langsung mengantar Meilin kekamarnya , dan menemani sebentar disana.
"Jika kau merasa lapar , Teleponlah Restauran , kontaknya berada didekat telepon itu ." ucap Robert , memberitahu pada Meilin . Dan menunjuk pada arah telepon dalam kamarnya tersebut.
Dan lagi -lagi Meilin hanya tampak mengangguk saja.
"Apakah kau sudah merasa lebih baik ?" tanya Robert lagi .
Robert mengajaknya berbicara agar Meilin merasa sedikit tenang.
__ADS_1
"Iya , saya merasa sudah lebih baik ." ucap Meilin.
"Bisakah aku kembali ke kamarku ?" tanya Robert
"Iya tentu , aku akan baik - baik saja disini . " Sahut Meilin.
"Baiklah , ketuk saja pintu kamarku jika kau butuh sesuatu ." kata Robert lagi.
"Baik..." Jawab Meilin , menganggukkan kepalanya.
Meilin mengantar Robert sampai didepan pintu kamarnya.
"Robert ! " panggil Meilin dengan lirih dan suara yang masih bergetar.
Robert yang sudah berdiri didepan pintunya kembali menghampiri Meilin.
"Ada apa ? " tanya Robert sambil menyentuh lembut pipi Meilin .
Entah sejak kapan Meilin tampaknya sangat senang diberlakukan begitu.
"Terima kasih ." ucap Meilin , sambil memandang mata Robert.
Mata mereka pun kini saling beradu dan saling pandang .
Robert sungguh tidak kuat menahan tatapan mata Meilin yang sangat menyejukkan hatinya itu.
Benteng pertahanannya hampir saja runtuh . Ingin sekali didetik itu juga , Robert mengatakan bahwa betapa ia mencintai Meilin . Betapa ia tidak mau apa pun terjadi pada Meilin . Apalagi jika sampai kehilangan Meilin.
Akan tetapi...dia sudah menyiapkan rencana kapan akan mengungkapkan prasaannya itu . Sehingga ia mengurungkan niatnya pada saat sekarang ini.
"istirahatlah segera." ucap Robert dengan nada yang paling lembut , dan senyum yang paling manis , sambil mengusap Rambut Meilin dengan pelan.
Meilin pun menganggukkan kepalanya.
__ADS_1