Bilamana Hari Itu Tiba

Bilamana Hari Itu Tiba
SINGAPORE 2


__ADS_3

Meilin segera membuka pintu Mobil Sport itu , setelah tiba diKost - kostsan nya .Dan bersiap untuk turun.


"Ibu Meilin...." sapa Robert tiba - tiba.


"Iya pak ." sahut Meilin kembali membalikkan tubuhnya dan kembali berpandangan lagi pada Robert.


"Apakah Ibu Meilin bersedia menemani saya minggu depan , keacara undangan teman saya yang akan menikah di Singapore ?" tanya Robert , berharap Meilin menjawap "Bersedia "


Meilin terdiam sejenak , mendengar kata Singapore . Ia teringat lagi pada Papinya.


Di Negara itu terakhir kali ia  memandang wajah Papinya yang sepertinya tertidur lelap , dan enggan untuk bangun .


Dan di Negara itu juga Papinya menghembuskan napas terakhirnya . Detik - detik ketika harapan Meilin yang sebesar gunung itu papinya akan pulih.


Dan setiap hari Meilin menunggu kabar kepulangan Papinya itu dari Negara tersebut , dan berharap mereka kembali bisa bermain Piano dan bernyanyi bersama lagi.


Papinya memang pulang kembali ke Indonesia .Tetapi pulang membawa duka yang mendalam baginya . Bukan membawa senyuman yang Meilin harapkan.


Dan luka itu masih tergores hingga sekarang.


"Bu Mellll...


Bu mellll..." sapa Robert beberapa kali , karena tampak melihat Meilin terdiam.


"Iya Pak...maaf .." sahut Meilin.


"Bagaimana Bu ? ya sekalian kita liburan disana ." kata Robert lagi.


"Baik Pak , tidak masalah " jawab Meilin.


"Mungkin kita juga akan ke Malaysia , juga Thailand ." kata Robert lagi.


"Baiklah , saya ikut saja Pak ." ucap Meilin.


"Oke , besok pagi akan saya beri dekripsi untuk perjalanan kita disana ." kata Robert lagi .


"Ok pak..." ucap Meiilin lagi.


Meilin pun turun dari mobil itu dan langsung menuju kekamarnya.


Ia tidak menoleh lagi pada Robert . Bahkan lupa untuk sekedar mengucapkan terima kasih , atau sekedar basa basi mengatakan "hati hati ".


Kata - kata Singapore masih terngiang - ngiang di Telingannya . Itu juga kali terakhir Meilin jalan - jalan bersama dengan Maminya di Negara itu . Atau sedikit bercanda dikalutnya hati mereka , karena Albert belum juga sadarkan diri , Papinya Meilin.


"Mihh ." ucap Meilin , dengan suara yang seperti tercekik ditenggorokan.


Sesampainya di Kostnya , ia langsung membaringkan tubuhnya ditempat tidur.

__ADS_1


Diraihnya Photo Mai Hwa yang berada dimeja dekat dengan tempat tidurnya . Meilin pun memandangi Photo keluarga itu.


"Mihh.....apa kau tidak merindukanku ?" ucap Meilin lagi.


Setiap hari minggu Meilin pasti akan menelepon pada Tetangga di Rumah Neneknya yang berada di Kampung halamanya . Meilin selalu bertanya , apakah tampak maminya kembali datang kedesa itu lagi.


Tetapi sampai sekarang maminya tidak pernah datang untuk menemuinya lagi , sudah hampir Empat Tahun berlalu.


"Mih....mengapa kau setega ini .


Kau tau aku tidak memiliki siapapun lagi. Keluarga , atau bahkan sanak Saudara . Tetapi kau tega menelantarkan aku seperti ini.


Apakah nalurimu sebagai Wanita tidak perduli akan kesedihan Wanita yang telah kau terlantarkan ini ?" lirihnya lagi , dengan Mata yang sudah berkaca - kaca . Bagaimanapun caranya untuk menahan Air Mata itu untuk tidak menetes , tetap saja ia tidak kuasa bila sudah mengenang semua mengenai Ibunya itu.


"Apakah rasa cintamu sebagai Ibu sudah tidak ada lagi ? sekali pun aku bukan berasal dari Rahimmu ? " tangis Meilin pecah . Ia ingat bagaimana saat - saat Maminya mengatakan bahwa Meilin bukanlah anak kandung mereka . Tepat tiga hari setelah pemakaman Papinya . Tetapi Meilin adalah anak yang di Adopsi dari salah satu kerabat Papinya , ketika masih tinggal di Bandung.


Kejadian itu tepat Dua Puluh Empat tahun yang lalu . Ketika Papa kandung Meiilin kecelakaan , ketika hendak pulang dari Jakarta , menghadiri rapat Perusahaan . Ia pulang dengan terburu - buru , karena Istrinya akan segera melahirkan , yaitu  melahirkan Meilin.


Prediksi Dokter Kandungan saat itu Istrinya akan melahir kan dua minggu lagi . Itu sebabnya Papanya Meilin memaksa untuk ikut dalam Rapat itu , yang memakan waktu Lima hari diluar kota.


Tetapi itu hanya prekdisi , dan prediksi itu  meleset . Istrinya melahirkan tepat sehari lagi ketika ia akan kembali ke Bandung.


Mendapat kabar Istrinya akan segera melahirkan dan sudah berada di Rumah Sakit ,


ia memutuskan untuk segera pulang ke Bandung , dan menyerahkan semua pekerjaannya di Jakarta pada Sekretarisnya . Berharap ia bisa menemani Istrinya saat bersalin.


#FLASH BACK#


Mendapat kabar Istrinya akan segera melahirkan dan sudah berada di Rumah Sakit ,


ia segera memutuskan untuk pulang ke Bandung . Dan menyerahkan semua pekerjaannya yang di Jakarta kepada Sekretarisnya . Berharap ia bisa menemani Istrinya terkasihnya disaat persalinan.


Sementara saat itu , Ibu kandung dari Meilin yang akan segera bersalin itu , hanya ditemani oleh Asssistand rumah tangga mereka , yang sudah bekerja dua bulan bersama pasangan suami istri muda tersebut.


Tetapi nasib berkata lain.


Mobil Track yang mengalami rem blong kala itu , menabrak beberapa Mobil yang berada didepannya , termasuk Mobil Papanya Meilin.


Papanya Meilin seketika meninggal ditempat , karena terjepit dibangku Mobil . Sementara supirnya selamat . Karena terpelanting keluar dari Mobil tersebut.


Kecelakaan beruntun itu merenggut nyawanya.


Ketika Ibu Kandungnya Meilin yang baru saja selesai bersalin mendengar kabar itu , sontak syok . Syok itu mengakibatkan Ibunya pendarahan hebat , dan tidak sadarkan diri. Pendarahan itu pun menjadi malaikat maut bagi wanita yang baru saja melahirkan anak pertamanya tersebut.


Meilin kecil yang baru lahir itu tidak memiliki siapa pun lagi.


Pun Dikehidupan pertamanya yang bahkan baru dimulai beberapa menit yang lalu ia sudah mendapat gelar pertamanya , juga . Yaitu YATIM PIATU .

__ADS_1


Ia seorang diri , tampa Ayah dan Ibu diruang Bayi itu , disalah satu Rumah Sakit Swasta di Kota Bandung tersebut.


Seharusnya ia merasakan hangatnya dekapan Ibu dan Ayahnya.


Tetapi dalam  hitungan Jam , Meilin kecil kehilangan itu semua . Bahkan ia belum merasakan ASI  pertama dari Ibunya.


Tangisannya disore itu seolah - olah mewakili kepergian kedua Orang Tuanya tersebut.


Kerabat dari Papanya Meilin , yang adalah Papinya Meilin , mengetahui peristiwa memilukan tersebut.


Setelah selesai melayat dari Rumah Duka ,


Mai Hwa dan Albert memutuskan untuk menjenguk Bayi itu ke Rumah Sakit.


Melihat binar Indah di Mata Meilin yang berwarna Coklat itu , membuat Hati Mai Hwa jatuh cinta padanya . Mai Hwa pun mendekap Bayi mungil itu.


Mereka yang sudah sangat lama menikah , tetapi belum juga dikaruniai seorang anak , menjadi sangat ingin memiliki Bayi Yatim Piatu tersebut.


Pasangan yang belum dikarunia buah hati itu pun kemudian memutuskan untuk mengadopsi Bayi itu.


Kemudian mereka mengajukan Kepengadilan untuk mengadopsi Meilin , yang adalah anak dari kerabat dekatnya mereka.


Dan Mbak Yantilah , Assistand rumah tangga dari Orang Tua kandung Meilin itu , yang berada saat itu dipersalinan Meilin juga , menjadi saksi tangisan  Bayi mungil itu pecah , ketika detik - detik orang tuanya akan meninggalkannya untuk selama-lamanya . Bayi merah tersebut seolah - olah meratapi nasipnya kala itu yang tidak memiliki siapa pun lagi . Dan Mbak Yantilah yang mengetahui awal mula cerita hidup Meilin , yang baru akan dimulai saat itu.


Hal itu jugalah yang membuat Mbak Yanti berinisiatif memutuskan , untuk mengajukan dirinya pada Albert dan Mei Hwa untuk menjadi pengasuhnya Meilin


Tampak binar mata Mai Hwa sangat bahagia , melihat Bayi kecil itu yang sudah resmi mereka adopsi . Terlebih lagi kebahagian diwajah Albert . Ia tampal begitu sangat bahagia , ketika mendengar tangis Meilin yang begitu sangat kencang didalam Rumah mereka.


Kedua mahluk Tuhan yang paling sempurna itu tampak sangat menyayangi Meilin . Hanya saja Aktivitas kerja merekalah yang memaksa untuk tidak bisa bersama dengan Meilin senantiasa . Dan terpaksa meninggalkan Meilin pada pengasuhnya tersebut , yang juga sudah menganggab Meilin kecil seperti anaknya sendiri.


Setelah Papinya Meilin meninggal dunia ,


Maminya memutuskan untuk kembali ke Korea , untuk memperpanjang lagi ijin tinggalnya di Indonesia.


Namun , kepergian wanita setengah abat itu yang pulang ke Korea , yang katanya hanya untuk mengurus memperpanjang ijin tinggalnya di Indonesia lagi , adalah kepergiannya yang sangat panjang , bahkan sampai sekarang tidak pernah kembali lagi.


Sampai Neneknya Meilin meninggal dunia pun , Mai Hwa tidak mengetahuinya.


Setelah Neneknya meninggal , Meilin kembali menjadi anak sebatang kara "lagi".


Meilin juga menitip pesan pada tetangganya , dikampung Neneknya itu . Bilamana Mommy nya kembali kesana "lagi", agar segera menghubungi Meilin.


Sungguh...sudah Tujuh tahun berlalu , Meilin masih tetap menunggu kepulangan Wanita yang sudah menjadi Ibunya tersebut .


Ia tidak pernah putus asa untuk menunggu kepulangan Wanita tercintanya itu . hingga BILAMANA HARI ITU TIBA , akhir hayat nya .


#FLASHBACK off

__ADS_1


__ADS_2